STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 31 Mei 2012

Manajemen Komponen-komponen Sekolah/Madrasah

A.    Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan pendelegasian otoritas pengambilan keputusan untuk mengelola sumber daya yang ada di tingkat sekolah seperti keuangan, kurikulum, serta profesionalisme guru.
Konsep manajemen berbasis sekolah ini dimunculkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan dari topdown yang ada selama ini yaitu:
1.      Kepala sekolah tidak memiliki kewenangan yang cukup dalam mengelola sumber daya sekolah yang dipimpinnya.
2.      Kemampuan manajemen kepala sekolah pada umumnya rendah, terutama pada sekolah negeri.
3.      Pola anggaran yang diberlakukan tidak memungkinkan guru mengajar secara professional.
4.      Minimnya peran serta masyarakat untuk ikut bertanggung jawab dan mengelola sekolah.
Dengan demikian, pendekatan system ini menekankan perlunya seluruh komponen sekolah dan masyarakat yang tergabung dalam dewan sekolah berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sekolah, sehingga segala keputusan yang berkaitan pengelolaan sekolah dibuat oleh mereka yang memiliki akses paling besar terhadap informasi setempat dan mereka bertanggunga jawab atas pelaksanaan keputusan. Ini berarti, manajemen berbasis sekolah dalam implementasinya harus melalui pendekatan budaya sekolah.
B.     Elemen-elemen Sekolah/Madrasah
1.      Budaya Sekolah
Budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yang dipraktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Alasan para penilik dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah ialah:
·         Pendekatan budaya lebih menitik beratkan faktor manusia daripada faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana, bukan struktur atau peraturan legal.
·         Pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karena itu, pendekatan budaya memprioritaskan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu dalam perubahan yang bersifat legal-formal.
·         Pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap ini akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan diantara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme.
2.      Dewan Sekolah
Disamping budaya sekolah, elemen yang sangat penting dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah dewan sekolah atau komite sekolah. Dewan sekolah, seperti yang telah dik,emukakan diatas, merupakan pemegang otoritas pengelolaan pendidikan. Dewan sekolah ini beranggotakan komponen sekolah dan masyarakat yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan paling besar akses informasinya terhadap masyarakat setempat.
Manajemen berbasis sekolahdengan pendekatan budaya sekolah dan optimalisasi dewan sekolah diharapkan menumbuhkan bibit-bibit unggul dan SDM yang dapat menata pendidikan sekaligus menata bangsa, yang selama ini dalam kondisi babak belur.
3.      Kurikulum Berbasis kompetensi Lokal
Dalam persaingan global, agak perlu menengok kembali, potensi lokal (daerah) dalam mendayagunakan pendidikan agar tampil prima dan mampu bertarung dalam persaingan global, apalagi di era otonomi daerah yang membuka lebar kran demokrasi, partisipasi dan multikulturalisme.
Penyeragaman dan pemusatan sudah menjadi istilah yang kuno. Keunikan dan potensi local mesti lebih banyak digali dan diserap oleh dunia pendidikan, agar para lulusannya lebih mampu mendayagunakan potensi daerah supaya masyarakat menjadi lebih sejahtera.
Tidak seperti kecenderungan yang terlihat sekarang, karena tidak ada kekhasan dan keunikan masing-masing lembaga, semuanya nyaris serba sama dan seragam, lantas terjadi persaingan yang tidak sehat. Dalam konteks pendidikan brpotensi likal ini, meskipun berbagai lembaga pendidikan sama-sama memiliki status sebagai akademi, institute, atau universitas, namun pada lokasi dengan latar budaya dan kondisi alam yang berbeda, setiap lembaga pendidikan tersebut mesti memiliki “ciri khas dan keunikan” masing-masing, sekaligus menyiratkan keluwesan dan diversifikasi. Keunikan/kekhasan tersebut lebih lanjut bisa berupa kekhasan yang didasarkan pada penguasaan keilmuan ataupun didasarkan keunikan local/daerah.
C.    Manajemen komponen-komponen Sekolah/Madrasah
Manajemen personalia berfungsi untuk menyiapkan tenaga yang menangani proses pendidikan, terutama guru/ustadz/dosen, manajemen kesiswaan berfungsi untuk menyiapkan peserta didik sebagai peserta aktif dalam proses pendidikan, manajemen kurikulum berfungsi berfungsi untuk menyiapkan bahan yang akan diajarkan guru/ustadz/dosen dan dipelajari siswa/santri/mahasiswa, manajemen keuangan berfungsi untuk menyiapkan biaya, sedangkan manajemen sarana-prasarana berfungsi untuk menyiapkan tempat berlangsungnya proses pendidikan.
a.       Manajemen Personalia Sekolah/Madrasah
Proses pendidikan tidak akan berhasil dengan baik tanpa peran guru. Secara institusional, kemajuan suatu lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh pimpinan lembaga tersebut daripada oleh pihak lain. Akan tetapi, dalam proses pembelajaran, guru berperan paling menentukan melebihi metode atau materi.
Peranan guru sangat penting bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau meningkatkan mutu pendidikan, atau sebaliknya, bisa juga menghancurkannya.
Manajemen personalia memiliki tujuan tertentu yang berorientasi pada optimalisasi sistem kerja dalam lembaga pendidikan. E. Mulyasa mengatakan bahwa manajemen personalia atau tenaga kependidikan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil yang optimal, namun dengan tetap dalam kondisi yang menyenangkan.
Tujuan tersebut mengupayakan adanya keseimbangan antara proses bekerja dengan situasi kerja. Pendayagunaan tenaga pendidikan secara efektif dan efisiensi tersebut merupakan pemanfaatan tenaga sehingga bisa bekerja secara maksimal dan produktif sekaligus menekankan pemborosan.
Selanjutnya, manajemen tenaga kependidikan (Guru dan personel) mencakup tujuh komponen yaitu :
1.      Perencanaan pegawai
2.      Penggadaian pegawai
3.      Pembinaan dan pengembangan pegawai
4.      Promosi dan mutasi
5.      Pemberhentian pegawai
6.      Kompensasi Penilaian pegawai
Tujuh komponen ini dilaksanakan secara tertib, urut, dan berkesinambungan sehingga harus melalui tahap-tahap yang telah ditentukan.
b.      Manajemen Kesiswaan Sekolah/Madrasah
Manajemen kesiswaan adalah pengelolaan kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik mulai dari awal masuk (bahkan, sebelum masuk) hingga akhir (tamat) dari lembaga pendidikan.
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran disekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib, teratur, serta mampu mencapai tujuan pendidikan sekolah.
Oleh karena itu, manajemen kesiswaan pendidikan  bisa dilihat dari segi tahapan dalam masa studi di sekolah/madrasah dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu :
1.      Tahap penerimaan siswa baru (tahap penyaringan)
2.      Proses pembelajaran (pemprosesan)
3.      Persiapan studi lanjut atau bekerja (pendistribusian).
c.       Manajemen Kurikulum Sekolah/Madrasah
Dalam kasus pendidikan di Indonesia, problem paling besar yang dihadapi bangsa ini bukan problem kurikulum, meskipun bukan berarti kurikulum tidak menimbulkan problem. Masalah kesadaran merupakan problem yang paling besar, yaitu lemahnya kesadaran untuk berprestasi, kesadaran untuk sukses, kesadaran untuk meningkatkan SDM, kesadarn untuk menghilangkan kebodohan, maupun kesadaran untuk berbuat yang terbaik.
Kurikulum dalam dunia pendidikan memiliki ciri-ciri tertentu. Al-Syaibani  mencatat ciri-ciri tersebut sebagai berikut :
1.      Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode, alat, dan tekniknya.
2.      Memiliki perhatian yang luas dan kandungan yang menyeluruh.
3.      Memiliki keseimbangan antara kandungan kurikulum dari seni, kemestian, pengalaman dan kegiatan pengajaran yang beragam.
4.      Berkecenderungan pada aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kwjuaraan dan bahasa asing untuk perorangan maupun bagi mereka yang memiliki kesediaan, bakat, dan keinginan.
5.      Keterkaitan kurikulum dengan minat, kemampuan, kebutuhan, dan perbedaan perorangan di antara mereka.
Pengembangan kurikulum pada tingkat, mulai dari tingkat kelas sampai tingkat nasional. Urutan tingkat tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
1.      Pengembangan kurikulum pada tingkat guru kelas.
2.      Pengembangan kurikulum pada tingkat kelompok guru dalam suatu sekolah.
3.      Pengembangan kurikulum pada tingkat pusat guru.
4.      Pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah.
5.      Pengembangan kurikulum pada tingkat nasional.
Selanjutnya, Hamalik menyatakan bahwa pengembangan kurikulum harus dikaitkan dengan perkembangan komponen yang mendasari perencanaan dan pengembangan kurikulum. Komponen-komponen itu adalah :
1.      Perkembangan tujuan pendidikan.
2.      Perkembangan teori belajar.
3.      Perkembangan siswa.
4.      Perkembangan kultur.
5.      Perkembangan bentuk kurikulum yang digunakan.
Keterkaitan antara komponen ini penting untuk menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan dalam proses pembelajaran sehingga terdapat relevansi antara orientasi kurikulum dengan kebutuhan dalam masyarakat. Pada akhirnya, kurikulum itu dapat ikut mengantarkan keberhasilan pendidikan.
Adapun pada tahap pelaksanaan kurikulum menurut panduan manajemen sekolah meliputi tahap perencanaan, pengorganisasian, dan koordinasi, pelaksanaan, serta pengendalian.
Ada tiga indikator pembelajaran unggulan, yaitu:
1.      Dapat melayani semua siswa.
2.      Semua anak mendapatkan pengalaman belajar semaksimal mungkin.
3.      Proses pembelajaran sangat bervariasi bergantung pada tingkat kemampuan anak yang bersangkutan.
d.      Manajemen Keungan sekolah atau Madrasah
Keuangan dan pembiyaan merupakan pontensi yang sangat menentukan dalam penyelengaraan pendidikan.Kedua hal tersebut merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan-kegiatan, proses belajar mengajar disekolah bersama komponen-komponen lainnya
Ada dua hal yang menyebabkan timbulnya perhatian yang besar kepada keuangan yaitu,:
1.      Keuangan termasuk kunci penentu kelangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan.kenyataan ini mengandung konsekuensin bahwa program-program pembaruan atau pengembangan pendidikan bisa gagal dan berantakan manakalah tidak di dukung oleh keuangan yang memadai
2.      Lazimnya uang dalam jumlah besar sulit sekali didapatkan khususnya bagi lembaga pendidikan swasta yang baru berdiri. Dana sangat terkait dengan kepercayaan. Jika ingin mendapatkan dana dari BP3 atau masyarakat, sekolah harus memiliki program yang bagus sehingga masyarakat yakin program-program tersebut dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat.
Tanggung jawab pendanaan pendidikan, terutama menyangkut madrasah diniyah, taman pendidikan al-quran, dan pesantren hingga sekarang ini masih belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah pusat atau daerah. Baru sebatas masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lembaga-lembaga tesebut dengan memberi bantuan. Jadi, amanat UU tentang sistem pendidikan nasional pasal 46 ayat 1 tesebut masih belum dilaksanakan secara memadai oleh pemerintahan pusat maupun pemerintah daerah sebagai sumber keuangan dalam konteks pendidikan.
            Sumber keuangan atau pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan dalam 3 sumber, yaitu :
1.      Pemerintahan, baik pemerintahan pusat, daerah maupun keduanya bersifat umum dan khusus serta diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan.
2.      Orang tua atau peserta didik.
3.      Mayarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.
Sementara itu, dilihat dari segi penggunaan sumber dana dapat dibagi menjadi dua.
·         Anggaran untuk kegiatan rutin , yaitu gaji dan biaya operasional sehari-hari sekolah.
·         Anggaran untuk pengembangan sekolah.
D.    Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta media pengajaran.Adapun prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah, dan jalan menuju sekolah.
Sarana dan prasarana pendidikan dalam lembaga pendidikan sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin sesuai ketentuan-ketentuan seperti ini :
·         Lengkap, siap dipakai setiap saat, dan awet.
·         Rapi, indah, bersih, anggun, dan asri dan menyejukkan pandangan dan perasaan siapapun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan.
·         Kreatif, inovatif, responsif, dan variatif sehingga dapat merangsang timbulnya imajinasi peserta didik.
·         Memiliki jangkauan waktu pengguna yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghindari kecenderungan bongkar pasang bangunan.
·         Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosial, religius seperti musholla atau masjid.
Oleh karena itu, sarana dan prasarana sekolah/madrasah seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan memiliki daya tarik yang khas. Jika terjadi demikian maka posisi lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangat lah tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi jika sarana prasarana ini mendapat perhatian besar dari pihak-pihak terkait mulai dari tahap perencanaan hingga perawatan.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Manajemen personalia berfungsi untuk menyiapkan tenaga yang menangani proses pendidikan, terutama guru/ustadz/dosen,
·          manajemen kesiswaan berfungsi untuk menyiapkan peserta didik sebagai peserta aktif dalam proses pendidikan,
·         manajemen kurikulum berfungsi untuk menyiapkan bahan yang akan diajarkan guru/ustadz/dosen dan dipelajari siswa/santri/mahasiswa,
·          manajemen keuangan berfungsi untuk menyiapkan biaya,
·          manajemen sarana-prasarana berfungsi untuk menyiapkan tempat berlangsungnya proses pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar