STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 25 September 2012

MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS(Sebuah Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)

A. Pendahuluan
Tahun ajaran baru belum lagi mulai, tetapi sekolah kami sudah membuka pendaftaran siswa baru. Setiap kali dibuka, respon masyarakat terhadap sekolah kami kian meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah orang tua yang mendaftarkan putra-putrinya untuk mengikuti tes ujian masuk yang setiap tahunnya mengalami grafik kenaikan. Respon yang begitu besar itu membuat kami harus bersyukur dan merenung, karena sebagai sekolah swasta umum kami harus bersaing dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya yang jumlahnya sudah puluhan. Dari sekian banyak sekolah yang ada, sekolah kami, SMP Labschool Jakarta menjadi pilihan favorit dari para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Mengapa sekolah kami yang dipilih dan tidak yang lain? Apa nilai unggulnya? Dan mengapa mereka begitu antusias, padahal untuk bisa bersekolah di sekolah kami membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan sampai puluhan juta rupiah? Keunggulan apa yang dimiliki oleh sekolah kami? Fasilitaskah? Jelas tidak, karena sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dan canggih. Prestasi dalam Ujian Nasional? Tidak juga, karena sekolah kami hanya menempati posisi rata-rata saja di Indonesia. Di DKI Jakarta saja, sekolah kami hanya menempati posisi sepuluh besar sekolah swasta dalam Ujian Nasional 2007. Lalu apa sih yang unggul dan menarik dari SMP Labschool Jakarta? Apakah sistem pendidikannya? Ataukah proses pembelajarannya yang berbeda dengan sekolah lain?
Dari hasil wawancara dengan para orang tua siswa dan juga para siswa SMP Labschool Jakarta, ternyata jawabannya selain memiliki budaya organisasi dan budaya kerja, SMP labschoool Jakarta mempunyai budaya sekolah yang tetap eksis dan semakin disempurnakan. Mempunyai misi dan visi yang jelas yaitu sekolah yang mempersiapkan pemimpin masa depan yang bertakwa, berintegritas tinggi, mempunyai daya juang yang kuat, mempunyai kepribadian yang utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi.
Salah satu keunikan dan keunggulan yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya adalah budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sekolah kami unggul dan favorit di masyarakat. Keberadaannya sudah menjadi buah bibir. Para orang tua akan berusaha dengan segala cara menyekolahkan anaknya ke tempat kami walaupun dalam ujian tes tertulis, putra-putrinya tidak diterima karena terbatasnya kelas dan tempat yang ada di sekolah.

B. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis
Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. SMP Labschool Jakarta mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian misi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Budaya sekolah yang telah diciptakan dan tetap eksis di SMP Labschool Jakarta selama 15 tahun Labschool berdiri adalah :
budaya salam, dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling mengucapkan salam dan berjabat tangan,
upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat,
Penasehat akademis atau pertemuan wali kelas dengan para siswanya setiap Senin pagi untuk berbagi informasi, juga pertemuan antara wali kelas dengan pimpinan sekolah
Tadarus dan kebaktian setiap Senin dan Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai dan dipimpin oleh wali kelas,
Seragam sekolah yang berbeda setiap hari Kamis dan Jum’at,
Sholat berjamaah di masjid sekolah pada saat jam istirahat,
Olah raga Jum’at pagi dengan mengelilingi kampus UNJ,
Lima hari belajar (Senin-Jum’at) dari pukul 06.30 s.d. 15.30,
Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk melatih bakat jurnalistiknya,
Dialog interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah seks sampai teknologi terbaru, Lintas juang untuk mendidik siswa menjadi calon pengurus OSIS,
Studi Kepemimpinan Siswa untuk melatih kepemimpinan siswa menjalankan organisasi,
Studi Amaliah Ramadhan mendidik siswa dalam kegiatan pesantren ramadhan,
Pelepasan siswa yaitu melepas siswa kelas sembilan yang telah lulus dari sekolah,
Buku tahunan adalah buku yang merekam kegiatan siswa dari mulai masuk sampai lulus sekolah, POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) adalah kegiatan orang tua siswa yang menunjang kegiatan sekolah dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan,
budaya bersih adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri,
Kegiatan praktek ibadah adalah kegiatan keagamaan siswa yang dinilai oleh guru agama masing-masing,
PHBI dan Nasional adalah kegiatan hari besar keagamaan dan nasional,
melakukan Doa sebelum/sesudah belajar dipimpin oleh kepala sekolah melalui pengeras suara yang diletakkan di setiap kelas, Doa bersama juga dilakukan sebelum pelaksanaan UNdan US bersama dengan seluruh orang tua siswa kelas IX
Labs channel yaitu kegiatan siswa di jam istirahat dengan menjadi penyiar radio sekolah,
Labs TV yaitu kegiatan siswa yang meliput kegiatan sekolah dan merekamnya dalam televisi sekolah, Budaya disiplin dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas bila terlambat dan melakukan pelanggaran tata tertib sekolah,
budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas adalah siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tepat waktu, dan berharap mendapatkan pahala dari Allah,
budaya Kreatif yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya, Mandiri & bertanggung jawab yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru,
Pentas Seni (Pensi) melatih siswa melaksanakan kegiatan bernuansa seni baik kesenian tradisonal maupun kesenian modern atau yang sedang ’ngetren’ saat ini,
Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada siswa tentang warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan, Kunjungan Industri yaitu mengenalkan siswa tentang kegiatan-kegiatan yang ada di industri atau pabrik yang berkaitan dengan mata pelajaran sains dan ekonomi,
SAKSI (Studi dan Apesiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia) yaitu kegiatan kesiswaan yang mengundang sekolah lain di Indonesia untuk bersama-sama berlatih kepemimpinan dengan nara sumber dari KOSTRAD TNI AD di Pusat latihan Perang Sangga Buana Karawang Jawa Barat,
Career Day yaitu kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh yang sukses dalam meniti karirnya,
Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah /kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (ada sekitar 34 jenis ekskul yang terangkum dalam buku panduan ekskul), dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga antar kelas untuk unjuk gigi di hari Jum’at.
Dengan motto Iman, Ilmu, Amal, Kreatif dan Berprestasi SMP Labschool Jakarta menjadi sekolah yang unggul dan berkualitas. Banyaknya tamu yang datang berkunjung dari lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia ke sekolah kami ( ± 4 lembaga) untuk melakukan studi banding setiap bulannya, membuat kami agak merasa tersanjung dan juga banyak belajar dari mereka dengan kunjungan balasan. SMP Labschool Jakarta sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.
Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT, dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach.
Alasannya: Pertama, pendekatan budaya lebih menitikberatkan faktor manusia di atas faktor-faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana. Sesuai dengan pepatah man behind the gun, manusia adalah faktor yang menentukan keberhasilan perubahan, bukan struktur atau peraturan legal. Kedua, pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karenanya, pendekatan budaya menomorsatukan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu sebelum perubahan yang bersifat legal-formal. Ketiga, pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap menerima dan saling hormat akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama, dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme yang membawa perubahan sehingga mengubah nilai-nilai lama yang menghambat dengan nilai baru yang mendukung MBS.
Dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, berinisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Bab II pasal 2 (1) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.Sekolah di Labschool telah memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran.
Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah Labschool yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional.
Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya SMP Labschool Jakarta akan menjadi Sekolah Bertarap Internasional (SBI) dengan membuka kelas bilingual yang telah berjalan beberapa tahun belakangan ini.
Pengelola sekolah membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Pimpinan sekolah atau kepala sekolah boleh datang silih berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya.
Melalui budaya organisasi, Labschool terus menata kembali status kelembagaan, struktur organisasi, komitmen civitas akademika, aturan kepegawaian dan kesejahteraan, penggunaan teknologi dengan menempatkan hot spot di tiap sudut sekolah agar siswa dapat online ke internet melalui laptop pribadinya, sistem pemeliharaan fasilitas yang berbasis ICT, pengembangan program dan layanan pendidikan, dan sumber keuangan sekolah.
Suatu sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa yang selalu disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Bapak Arief Rachman, serta mengacu pada 4 tingkatan kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial (EC).
Budaya sekolah harus dapat mencakup akademik, nonakademik, kerohanian, kesenian, keolahragaan, dan kemasyarakatan. Guru, orang tua, dan siswa harus menyatu menjadi tree in one yang memiliki tugas dan komitmen bersama untuk menggali dan menyuburkan budaya sekolah agar tetap eksis dan mencapai kesempurnaan. Budaya sekolah akan subur bila orang tua siswa dilibatkan dalam menjunjang kegiatan kesiswaan. Melalui kegiatan Indonesian Parenting Forum, orang tua diberi kesempatan melakukan kegiatan sekolah. Karena kegiatan inilah Mendiknas, Bambang Sudibyo mau meluangkan waktunya membuka Seminar nasional yang diselenggarakan oleh POMG SMP Labschool Jakarta pada 12 Mei 2007 di Shangrila Hotel Jakarta.
Kegiatan POMG telah menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Hasilnya, POMG dapat mengumrohkan para guru ke tanah suci Mekah, Rekreasi guru dan keluarga, Studi banding ke sekolah di luar negeri, mengkreditkan laptop tanpa bunga kepada guru, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kesejahteraan para guru.
Tanpa peran dari POMG, sekolah akan terasa seperti sayur tanpa garam. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan pengurus yayasan pembina Universitas Negeri Jakarta.
Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan akademik dan kesiswaan, keteladan guru, dan prestasi siswa adalah tiga hal yang menyuburkan budaya sekolah.
Dari mulai masuk di kelas tujuh, para siswa sudah dibekali dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Portofolio siswa sudah terekam dengan rapi dari mulai masuk hingga pada saat keluar dan lulus dari sekolah. Siswa terus dibekali dengan kegiatan Buku Tahunan dan Pelepasan lulusan kelas sembilan yang memotret tentang portofolionya selama belajar di SMP Labschool Jakarta. Kegiatan-kegiatan itu telah menjadi budaya sekolah yang tetap eksis dan menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga karakter atau watak siswa SMP Labschool Jakarta dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu telah menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama sekolah di SMP Labschool Jakarta.
Karena budaya sekolah itulah yang tertanam di hati para siswa. Hampir bisa dikatakan seratus persen sekolah kami jauh dari narkoba, merokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit kenakalan pelajar lainnya. Sekolah kami menjadi contoh dan teladan bagi sekolah lainnya dalam mengembangkan budaya sekolahnya. Siswa terbaik akan terukir namanya dalam batu prasasti yang selalu diperebutkan sampai dengan angkatan kelima belas. Alumni SMP labschool Jakarta selalu menyebar ke sekolah-sekolah SMA favorit papan atas.Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya kegiatan belajar mengajar yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebuat adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, dan Antar Golongan (SARA) sehingga terbangun tata krama yang sistematik dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. C.
Penutup
Budaya sekolah yang harus diciptakan selain hal-hal tersebut di atas adalah budaya unggul dan mampu bersaing di dunia global. Memiliki daya juang yang tinggi, tanpa kehilangan jati diri suatu bangsa, dan tak mengenal kata ’putus asa’. Sekolah harus dapat melestarikan budaya lokal dengan tetap mengikuti tren budaya global yang berkembang, misalnya bahasa daerah, gamelan, dan tarian tradisional perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Tetapi tidak dapat kita pungkiri pula bahwa penguasaan bahasa asing, band, dan modern dance harus juga dipelajari sebagai budaya global yang disukai remaja saat ini.Karena itu, nuansa religius di sekolah dengan pelaksanaan tadarus dan kebaktian sebelum pembelajaran dilaksanakan harus dijadikan aktivitas rutin di hari Senin dan Kamis. Membudayakan salam dan saling menegur dengan bahasa yang ramah harus menjadi fenomena yang biasa. Budaya keteladanan, kedisiplinan, dan kerja sama, baik orang tua, guru, dan siswa harus terus dikembangkan dan memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah.
Melalui kegiatan Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) atau komite sekolah, para orang tua telah diberikan kesempatan untuk berperan membantu program-program yang dibuat oleh sekolah sehingga dapat membawa nama baik sekolah di masyarakat. Rendahnya mutu pendidikan kita saat ini disebabkan oleh lemahnya komitmen warga sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan sehingga akan berdampak pada rendahnya peran serta dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan baik secara moril maupun materiil.Kredibilitas sekolah di mata masyarakat, akuntabilitas kinerja sekolah, dan sigma kepuasan orang tua siswa harus sudah terbentuk, sehingga membawa sekolah memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Bertakwa, kreatif, disiplin, lima hari belajar, fleksibel, toleransi, kerja keras, mandiri, dan jujur adalah contoh sebagian budaya sekolah yang telah diciptakan. Guru, orang tua, dan siswa harus dapat bekerja sama menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis di tengah era derasnya globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing. Mempunyai integritas, menjunjung kejujuran, dan memiliki potensi unggul tanpa kehilangan jati diri. Budaya sekolah dapat dimulai dari hal kecil seperti penataan kelas dan ruang guru, serta pemasangan hasil karya siswa, foto-foto, dan moto. Penataan tempat duduk siswa yang berpusat pada guru harus diubah menjadi tempat duduk yang mendorong interaksi antarsiswa sehingga mereka dapat belajar dengan aktif, kreatif, dan menyenangkan. Hasil karya siswa yang berupa gambar, karangan, puisi, dan kerajinan harus dipasang di ruangan kelas dan tempat-tempat terbuka di sekolah untuk mendorong kebanggaan berprestasi. Nama-nama siswa berprestasi ditulis diprasasti sekolah. Foto-foto ilmuwan serta karya-karyanya perlu juga dipajang guna merangsang motivasi belajar siswa. Sekarang ini, keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah dan dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja, sehingga melahirkan sigma kepuasan di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
DAFTAR ACUAN
  • http://www.depdiknas.go.id/
  • http://www.kompas.co.id/
  • http://www.republika.co.id/
  • http://www.mediaindonesia.co.id/
  • Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi. 3- cetakan.1. – Jakarta : Balai Pustaka 2001
  • Makalah Seminar Nasional, Arief Rachman, 2007, Peran Orang tua dalam Mempersiapkan Remaja Menuju Masa depan Sukses, Jakarta, 12 Mei 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar