STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 23 Oktober 2012

KEKOKOHAN AQIDAH MEMBENTUK GURU PROFESIONAL

Oleh: Sufairi Janwadi
Pengertian Aqidah
Dalam bahasa Arab kata aqidah diartikan sebagai sesuatu yang diikat oleh hati dan jiwa manusia. Sering pula disebut sebagai hal-hal yang diyakini dan dipatuhi manusia. Sedangkan secara istilahiy, aqidah diartikan sebagai tashdiq (pembenaran) terhadap sesuatu dan diyakini tanpa ada keraguan atau kebimbangan, semakna dengan kata al-iman.
Hasan Al-Banna mendefinisikan aqidah sebagai: hal-hal yang harus dibenarkan oleh hati, tenang bagi jiwa dan keyakinan yang tidak dapat digoyahkan oleh keraguan atau bercampur dengan kebimbangan.
Hubungan Aqidah dengan Amal Perbuatan (aktifitas)
Hubungan antara aqidah dan amal adalah bagaikan pohon dengan buahnya, dari itulah dalam banyak ayat Al-Qur’an, amal perbuatan selalu dikaitkan dengan keimanan. Seperti ayat-ayat berikut ini:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah:25)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl:97)
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam:96)
            Jadi, aqidah yang merupakan keyakinan yang kuat di dalam hati akan memberikan pengaruh pada setiap amal (aktifitas) seorang muslim. Sehingga ketika ingin memperbaiki aktifitas untuk menjadi lebih baik maka perlu ditinjau lagi kualitas aqidah yang ada di dalam hati. Karena itu pulalah aqidah selalu dikaitkan dengan akhlak (perbuatan).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia buruk maka buruklah seluruh jasad, ingatlah bahwa ia adalah hati. (H.R.Bukhary)
            Hadits tersebut dicantumkan oleh Imam Bukhary dalam shahihnya pada Bab Mengambil yang Halal dan Menjauhi Syubhat. Jadi jelaslah bahwa segala aktifitas yang dilakukan erat kaitannya dengan kualitas apa yang ada di dalam hati yaitu aqidah. Baik buruknya perbuatan ditentukan oleh kualitas hati.
            Terkait dengan permasalahan pendidikan, maka aktifitas yang dimaksud adalah bagaimana para penggiat pendidikan, khususnya guru beraktifitas dengan aktifitas yang baik dalam menjalankan tugasnya. Amaliyah sebagai seorang pendidik akan mencerminkan sekokoh apa aqidah yang ada di dalam hati.
Aqidah Islam Membentuk Guru Profesional
Aqidah akan membangun semangat kerja dan pola hidup yang dinamis. Hal ini karena aqidah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hubungan antara Allah sebagai pencipta dan manusia sebagai makhluk yang diciptakan. Makhluk harus tunduk patuh kepada Al-Khalik (Sang Pencipta). Ini adalah hubungan cinta dimana Allah sangat mencintai mereka hingga mengirimkan Rasulnya untuk menunjuki jalan yang benar, dan sudah sepantasnyalah makhluk mencitai Penciptanya.
Hubungan lain antara makhluk dengan Khaliknya adalah makhluk menjalankan perintah sang Khalik. Allah pun menyiapkan surga sebagai imbalan bagi mereka yang durhaka dan neraka bagi mereka yang durhaka. Dengan memahami hakikat hubungan ini maka timbullah semangat untuk senantiasa beramal dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Hal ini benar-benar dipahami oleh mereka yang shalih. TGKH. Zainuddin Abdul Madjid mencantumkan sebuah kalimat yang indah dalam Hizib Nahdlatul Wathan  yaitu:
واجعلنا من عبادك المجاهدين المخلصين
Dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang mujahid (bersunguh-sungguh) dan ikhlas
Maka dapat disimpulkan bahwa berawal dari aqidah yang kuat, akan terwujud dalam seluruh kehidupan seorang muslim. Dengan mengharapkan imbalan dari Allah maka tidak layak bagi setiap muslim untuk menyia-nyiakan setiap waktu dan kesempatannya kecuali dalam rangka bersungguh-sungguh dalam ibadah hingga akhir dari kehidupannya husnul khotimah.
Ini juga berlaku dalam profesi sebagai seorang guru. Dalam menjalankan tugasnya yang ikhlas karena Allah maka seorang guru akan terus-menerus meningkatkan kualitas dirinya, hingga akhirnya dia menjadi guru yang professional. Karena aktifitas yang dilakukan sebagai guru juga merupakan ibadah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi, dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berhasil jika mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental maupun social dalam proses pembelajaran. Keterlibatan peserta didik ini sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman dan penanaman konsept yang tepat kepada siswa. Pembelajaran konvensional yang hanya menggunakan komunikasi satu arah sudah dianggap tidak efektif, pembelajaran harus lebih kompleks dari hanya mendengarkan ceramah saja. Di samping itu, profesionalisme seorang guru juga dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri. Sedangakan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik.
Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan keteladan beliau berhasil mendidik pribadi-pribadi muslim yang luar bisaa sehingga ummat islam bisa menjadi Ustadziatul-Alam (Soko Guru Peradaban). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang keteladanan Rasulullah:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S.Al-Ahzab:21)
Secara ringkas, guru professional adalah guru yang mampu menjalankan peran sebagai berikut
1.        Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh panutan dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah, Beliau menjadikan Al-Qur’an sebagai standar kepribadian.
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن
Artinya: Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata, aku mendatangi Aisyah dan berkata kepadanya: Wahai Ummul Mukminin, ceritakan kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau berkata: akhlak beliau adalah Al-Qur’an. (HR.Ahmad, dalam Musnad Ahmad no.23460)
2.        Guru sebagai Pengajar
Guru membantu peserta didik untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. Dalam sejarah perkembangan dakwahnya, Rasulullah dalam membentuk kepribadian para sahabat memberikan pengajaran yang banyak melalui perbincangan beliau dengan para sahabat, juga melalui khutbah-khutbah beliau. Bahkan tidak hanya itu, setiap prilaku beliau juga merupakan pengajaran yang berharga bagi orang-orang di sekitarnya.
3.        Guru sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Islam mengajarkan untuk selalu seimbang (tawazun) dalam kehidupan. Sehingga guru pun dituntut untuk tidak hanya membimbing peserta didiknya dalam hal perkembangan pengetahuan, tapi juga dalam seluruh potensi yang dimilikinya baik itu pengetahuan, fisik, moral, maupun spiritual.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
Artinya: Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (Q.S. Ar-Rahman: 9)
Ayat ini menegaskan supaya setiap muslim senantiasa seimbang dalam setiap hal, tidak berat sebelah. Tidak mengurangi timbangan terhadap sesuatu, dan melebihkan sesuatu yang lain.
4.        Guru sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi pada kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan seorang peserta didik tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar, dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
Dalam menjalankan fungsi ini, seorang guru hendaklah memberikan keteladanan. Karena bimbingan pelatihan akan lebih mudah dicerna jika langsung dalam taraf aplikatif.
5.        Guru sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Menjadi guru pada tingkat mana pun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran pun meletakkannya pada posisi tersebut.
Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad-Daariy ra, sesungguhnya nabi saw bersabda, "Agama itu nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umumnya mereka." (H.R. Imam Muslim, Riwayat ini disebutkan pada Kitab Arba’in An-Nawawi no.7)
Rasulullah sendiri senantiasa siap memberikan nasehat kepada siapapun yang meminta nasehat kepada beliau. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw, "Berilah nasehat kepadaku". Nabi saw bersabda, "Jangan marah." Beliau mengulanginya beberapa kali dan bersabda, "Jangan marah."
(H.R. Imam Bukhari, dalam Arba’in An-Nawawi hadits no.16)
6.        Guru sebagai Pembaharu (Innovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini peserta didik yang memiliki jarak kehidupan di bawah guru akan mendapatkan berbagai hal baru dari guru mereka, baik dari cara pandang dan pola pikir maupun hal-hal baru lainnya.
Sebagai seorang pembaharu, Raulullah telah berhasil memperbaharui cara pandang para sahabatnya, serta pola pikir mereka. Umar bin Khattab radiyallahu anhu sebelum masuk islam sangat membenci Rasulullah, namun setelah masuk islam dan dibina oleh Rasulullah, beliau menjadi pembela islam yang gagah berani.
7.        Guru Sebagai Teladan
Guru adalah teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan maka pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik dan orang di sekitarnya.
8.        Guru sebagai Pendorong Kreativitas
Kreatifitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu. Ia sendiri adalah kreator dan motivator yang berada di pusat proses pendidikan. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik sehingga peserta didik akan menilainya bahwa dia memang kreatif, tidak melakukan sesuatu secara rutin saja.
9.        Guru sebagai Pembangkit Pandangan
Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan pada peserta didiknya. Mengembang fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini. Guru tahu bahwa dirinya tidak akan mampu membangkitkan pandangan tentang kebesaran pada peserta didik jika ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu para guru perlu dibekali dengan ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya akan mengenal pula kebesaran Allah yang menciptakannya.
10.    Guru sebagai Emansipator
Karena benda yang digarap bukan benda mati sebagaiman yang digarap oleh pemahat, maka guru berkewajiban untuk mengembangkan potensi peserta didik sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang kreatif. Untuk itu dia memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, memberikan balikan, memberikan kritik dan sebagainya, sehingga mereka merasa memperoleh kebebasan yang wajar.
Salah satu tradisi keislaman yang mencerminkan prilaku ini adalah musyawarah. Dalam musyawarah, setiap peserta dituntut untuk mengeluarkan alternatif kebenaran yang mereka yakini, tidak ada yang mendekte dan memaksakan kehendak sehingga setiap orang merasa bebas untuk menuangkan kreatifitas berpikir mereka.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S.Ali Imran: 159
11.    Guru sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang sangat penting. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar atau proses untuk menetapkan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
Sebaik-baik teladan dalam kehidupan muslim adalah Rasulullah, dan tidak ada yang terlewat dari ajaran beliau tentang seluruh perkara kehidupan ini. Beliau adalah evaluator yang luar biasa bagi para sahabatnya. Beliau senantiasa mengevaluasi sahabat-sahabat beliau sehingga mengetahui dengan pasti kualitas dan kemampuan mereka. Dengan tepat beliau memberikan tugas kepada sahabatnya, memilih utusan-utusan ke berbagai daerah untuk mengajarkan islam, memilih pemimpin pasukan, dan sebagainya.
12.    Guru sebagai Kulminator
Guru adalah yang mengarahkan proses belajar secara bertahap darei awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran sebagai kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator.
Setiap bertemu dengan sahabatnya, Rasulullah senantiasa menanyakan keadaan mereka, bukan hanya keadaan fisik tapi juga keadaan keimanan mereka, semangat mereka hingga keadaan yang menyangkut permasalahan pribadi. Ini dilakukan sebagai evaluasi untuk mengetahui perkembangan para shahabat. Hal yang sangat luar biasa adalah beliau sangat paham tentang karakter tiap-tiap sahabat beliau. Hingga beliau bisa memberikan solusi jawaban yang sesuai dengan kondisi individu, seperti riwayat yang menyebutkan beberapa orang yang bertanya kepada Rasulullah tentang amal yang paling afdlal (utama), jawaban beliau terhadap masing-masing penanya berbeda tergantung dari keadaan si penanya.
Jadi setiap saat guru harus mengadakan pmantauan terhadap perkembangan peserta didiknya. Dalam buku Menjadi Guru Profesional, Dr. E. Mulyasa, M.Pd menge-mukakan tujuh kesalahan yang sering dilakukan oleh guru dalam mengajar, yaitu:
1.    Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran
Dalam prekatiknya, dengan berbagai alas an, banyak guru yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau melakukan pembelajaran sehingga guru mengajar tanpa persiapan.
2.    Menunggu peserta didik berprilaku negatif
Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah. Bisaanya, guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika rebut, tidak memperhatikan, atau mengantuk di kelas, sehingga menunggu peserta didik berprilaku buruk. Kondisi tersebut seringkali mendapatkan tanggapan yang salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapaktan perhatian maka harus berbuat salah, berbuat rebut atau mengganggu, serta perbuatan indisiplin lainnya
 3.    Menggunakan Destructive Discipline
Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang dilakukannya, tidak jarang guru memberikan hukuman melampaui batas kewajaran pendidikan (malleducative), dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.
4.    Mengabaikan perbedaan peserta didik
Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang kleluarga, latar belakang ekonomi, dan lingkunngan membuat peserta didik berbeda dalam aktivitas, kreatifitas, intelegensi dan kompetensinya. Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi cirri kelasnya, dari cirri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran.
5.    Merasa paling pandai
Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik di sekolah usianya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dibandingkan dirinya.
6.    Tidak adil (diskriminatif)
Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil sehingga merugikan perkembangan peserta didik dan ini terutama kesalahan yang paling sering dilakukan guru, terutama dalam penilaian. Banyak guru yang menyalah-gunakan penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau bahkan sebagai ajang untuk menyalurkan kasih saying di luar tanggungjawabnya sebagai guru.
7.    Memaksa hak peserta didik
Memaksa hak peserta didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai akibat dari kebisaaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakan memaksakan bahkan mewajibkan siswa untuk membeli buku tertentu sangat patal seta tidak bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan bisa saja, tetapi kalau memaksakan maka akan menimbulkan tekanan bagi siswa yang tidak mampu.
 Kesalahan-kesalahan ini tidak akan terjadi manakala guru memiliki aqidah islamiyah yang benar dan kokoh. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
Artinya : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...
(At-Taubah :111)
 Kita dengan Allah adalah ibarat penjual dan pembeli. Seorang penjual tentunya akan memberikan yang terbaik untuk mendapatkan harga yang pantas dari pembelinya. Bagaimana mungkin seorang yang mengharapkan surga dan rahmat Allah tidak berupaya melakukan perbaikan-perbaikan dalam aktifitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar