STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 23 Oktober 2012

Memperbarui Kehidupan dengan Masa Lalu (Iqamatuddin Perspektif Shirah)

Oleh: Sufairi Janwadi 
Perbaruilah kehidupanmu dengan mempelajari sejarah.
Keniscayaan Kebangkitan
            Semenjak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah enam abad silam, ummat islam merasakan ketidak jelasan status. Mereka kehilangan cahayanya kecuali hanya sedikit saja yang tersisa, itu pun sangat redup. Yang masih jelas dalam pandangan mereka bahwa islam hanyalah sederet tata cara rukuk dan sujud, zakat dan puasa, haji serta ritual-ritual lainnya. Krisis identitas keislaman melanda timur hingga barat tanah kaum muslimin  seiring menuanya dunia. Sudah menjadi tabiat sejarah bahwa ketika sebuah peradaban melemah, maka peranannya di dunia ini akan digantikan oleh peradaban yang kala itu dianggap kuat dari segi ketercakupannya dalam menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Maka ketika islam sudah mulai tertatih, peradaban baratlah yang memegang peranan penting di panggung sejarah manusia.
Namun demikian peradaban islam adalah peradaban yang tidak akan pernah hilang. Kendati ia semakin lemah tapi tidak akan sampai mati. Hal itulah yang disampaikan oleh Dr.Raghib As-Sirjani dalam bukunya yang berjudul Ummatun Lan Tamut (judul terjemahannya: Islam Is Never Die). Ummat islam akan tetap eksis walau dalam selemah-lemah keadaannya, dan akhirnya akan bangkit lagi. Islam akan kembali tegak, dengan perkasa memimpin kembali kehidupan manusia menuju keemasannya.
Bukti riil tentang datangnya kebangkitan islam kini semakin jelas terlihat. Ummat islam semakin bergairah mengkaji islam, semakin banyak shaf-shaf di masjid dan isinya tidak hanya orang-orang tua tapi juga para pemuda bahkan anak-anak. Wanita-wanita muslimah semakin banyak yang menggunakan jilbab, bahkan sekolah-sekolah umum sekarang banyak yang mewajibkan siswi-siswi mereka yang mulim untuk menutup aurat. Kampus-kampus mulai mengembangkan kajian terhadap sistem islam, mulai dari ekonomi islam sampai politik islam, mahasiswa dengan semangat mereka yang khas telah mendongkrak perkembangan yang pesat terhadap perkembangan pemikiran islam. Semakin terlihat upaya kaum muslimin untuk menegakkan agama mereka. Berbagai organisasi bermunculan, mulai dari organisasi islam yang memfokuskan diri dalam pelayanan sosial masyarakat sampai partai-partai politik islam, tidak ketinggalan pula peran para pemuda muslim yang semakin menyadari akan pentingnya peran mereka untuk menegakkan kembali agama ini. Bahkan tidak hanya kaum muslimin saja yang mulai tertarik dengan islam tapi mereka yang nashrani, hindu, budha bahkan atheis juga mulai memperbincangkannya. Islam telah menjadi agama yang mengalami pertumbuhan tercepat akhir-akhir ini. Ada yang menyebutkan bahwa situs-situs islam di internet dikunjungi oleh sekitar 2 juta pengunjung setiap harinya. Bukankah semuanya itu sebagai bukti bahwa islam sedang merangkak naik menu kegemilangannya untuk kali yang kedua.
Mengapa Kembali kepada Shiroh (Sejarah)?
Sebagai agama yang sempurna, islam tidak melupakan tentang pentingnya analisa sejarah. Anjuran untuk analisa  sejarah ini sendiri merupakan hal yang disebut ketika menyebutkan tentang pertarungan peradaban. Ketika terjadi pengusiran terhadap Yahudi Bani Nadhir yang diceritakan dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Hasyr ayat 2, Allah mmerintahkan kepada meraka untuk mengambil ‘ibroh dari peristiwa itu.
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ (2)
Artinya: Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi ‘ibroh (pelajaran), hai orang-orang yang mempunyai pandangan (Q.S.Al-Hasyr:2)
Dalam Tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa perintah mengambil ‘ibroh itu adalah perintah untuk memikirkan (menganalisa) sebab kejadian tersebut dan akibat bagi pelaku. Analisa shiroh yang dilakukan ummat islam sebagaian besarnya hanya dilakukan seputar hukum-hukum fiqih terkait kewajiban syar’i yang merupakan ritual ibadah seperti sholat, wudlu, tayammum, puasa, haji saja. Padahal analisa terhadap sejarah ini sangat penting untuk strategi sosial yang masuk dalam unsur penegakan dien. Sangat sedikit buku-buku shiroh yang menjelaskan secara detail tentang ‘ibroh yang terkandung dalam perjalanan keemasan islam.
Perhatian kepada sejarah sangat berpengaruh kepada tindakan perencanaan masa depan, pengalaman-pengalaman sebelumnya akan memberikan data yang cukup sebagai bahan untuk perancangan tindakan sampai tahap eksekusi tindakan. Sebenarnya hal ini sudah dipahami oleh setiap orang secara tidak langsung, bisa kita lihat dari ejekan terhadap orang yang terjatuh di tempat yang sama dua kali, ini berarti dia tidak berhasil menganalisis sejarah kejatuhan sebelumnya. Sehingga katika menginginkan kebangkitan itu menjadi nyata maka deperlukan percontohan dari kebangkitan sebelumnya. Oleh karena itu peran sejarah masa lalu adalah sebuah keharusan yang mengisi pemikiran-pemikiran para aktivis pergerakan islam sehingga kemenangan yang sudah pasti itu bisa semakin cepat jadi nyata.
Dalam Kitab Ar-Rahiqu Al-Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan dua peranan Shirah Nabawiyah bagi ummat islam yaitu:
1.        Memahami peribadi Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wasallam, menelusuri kehidupan dan suasana hidup beliau.
Hal ini akan memberikan bukti nyata bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam menjalani kehidupan beliau atas wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala  sehingga manusia dapat meneladani kehidupan beliau yang begitu unggul dan luar biasa, dan menjadikannya sebagai dasar hidupnya. Jika manusia ingin mencari suatu contoh terbaik yang bersifat universal, mereka akan mendapatkan semuanya dalam kehidupan Rasulullah Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam, maka jelaslah mengapa Allah menjadikan Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh (uswah) bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu menjadi contoh yang paling baik untuk (menjadi ikutan) kamu". (Al-Ahzab [33] :21)
Perjalanan hidup Rasulullah Muhammad salla lahu 'alaihi wasallam akan membantu dalam memahami isi kandungan Al-Qur'an, karena banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang diuraikan dan ditafsirkan oleh kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah hidup Rasulullah Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Sehingga setiap Muslim dapat mengumpulkan berbagai hal tentang pengetahuan keislaman, baik yang bersangkutan dengan 'aqidah, hokum Islam maupun aturan-aturan lainnya. Lebih tegas lagi bahwa  kehidupan Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam merupakan satu gambaran dengan dimensinya yang jelas bagi prinsip-prinsip dan hukum-hukum Islam.
2.        Memberikan kepada para pendidik/pendakwah Islam meneladani dan mengajar dengan mengikuti sistem pendidikan dan pengajaran yang baik karena Rasulullah Muhammad SallaLlahu 'alaihi Wasallam sendiri adalah sebagai pendidik, penasihat, guru dan pertunjuk yang utama.
Bagi para aktifis pergerakan, pembaharu yang ingin mewujudkan kembali kejayaan islam maka mungkin menghilangkan begitu saja sistem dan mekanisme yang baik itu, tapi akan senantiasa mempelajari sistem-sistem pengajaran (tarbiyah) yang terbaik semasa Rasulullah SallaLlahu 'alaihi wasallam.
            Faktor yang menjadikan sejarah hidup Rasulullah SallaLlahu 'alaihi wasallam mewujudkan kedua hal tersebut adalah kerana sejarahnya lengkap meliputi seluruh aspek kehidupan, baik segi kemanusiaan maupun kemasyarakatan, baik sebagai individu yang baik dengan karakternya tersendiri maupun sebagai seorang anggota masyarakat yang bergelut dengan nilai-nilai pada masyarakatnya.
Shirah Nabawiyah menghidangkan kepada kita contoh utama bagi seorang pemuda yang baik; yang kepribadiannya terpercaya di kalangan keluarga dan sahabatnya; seorang manusia yang menyeru ummat manusia ke jalan Allah secara lemah-lembut dan bersopan-santun; seorang pejuang yang mengorbankan seluruh usaha dan tenaga demi menyampaikan seruan Allah, seorang kepala negara yang menjalankan pemerintahan dengan cakap dan pintar, seorang suami yang halus pergaulannya, seorang ayah yang teliti dan bijak menyempurnakan kewajibannya terhadap anak dan isteri, seorang panglima perang yang cerdas, penuh dengan strategi-strategi jitu, dan seorang muslim yang lurus lagi bijak memberikan dedikasinya kepada Allah, keluarga dan sahabatnya (Radiyallahu 'anhum ajma'in). Tidak diragukan lagi bahawa mempelajari sejarah hidup Rasulullah Muhammad Sallallahu 'alaihi Wasallam ialah memahami semua sudut kemanusiaan.
            Semuanya itu sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi ummat islam seperti masa lalunya, ketika ia berjaya.
Kondisi Kaum Muslimin Saat Ini
            Ketika berbicara tentang ahwal (keadaan) kaum muslimin saat ini maka yang tergambar jelas adalah adanya beberapa kelemahan yang kemudian dalam beberapa masa menjadi semakin memprihatinkan. Kaum muslimin dipenuhi oleh kelemahan-kelemahan yang menyesakkan, hingga sulit mengangkat kepala, ummat tidak bangga dengan dengan gelar kemuslimannya. Mulai dari kekacauan konsep aqidah akibat tercampurnya dengan paham-paham aqidah jadi-jadian dan rekayasa musuh, hingga permasalahan sosial dan ekonomi yang sangat pelik.
Ketika kita menelusuri berbagai kejadian dalam kehidupan kaum muslimin dapat dilihat bahwa seluruhnya merupakan kekalahan yang bertubi-tubi yang diawali dari runtuhnya Dinasti Turki Utsmani dan jatuhnya palestina dan diproklamirkannya palestina pada tahun 1948. Kemudian terjadi serangan besar-besaran terhadap Mesir dan Suriah  yang melumpuhkan transportasi udara mesir dan dimenangkan oleh Israel pada Oktober 1967.
            Bukan hanya kekalahan dalam politik dan militer, tapi juga kekalahan dalam mempertahankan identitas ajaran islam dari gebrakan bertubi-tubi pemikiran barat telah melemahkan kualitas internal ummat islam, kaum muslimin jauh dari pola pikir islami. Kebobrokan pola pikir ini kemudian merealita dalam praktek-praktek keji dan kebiadaban moral. Hal ini tidak hanya merasuki taraf masyarakat muslim awam namun juga sampai pada pemimpin-pemimpin mereka yang  merampas hak-hak kaum muslimin dan meninggalkan kemiskinan dan hutang yang melimpah. Bahkan para cendekiawan juga tidak sedikit yang telah dilumuri oleh pikiran-pikiran nyeleneh tentang agama mereka sendiri hingga tidak ada yang diwariskan kepada ummat kecuali kebodohan dan kepincangan wawasan dan kesesatan yang nyata.
            Kenyataan lainnya yang merupakan pokok yang harus diperhatikan adalah terkotak-kotaknya kaum muslimin oleh batasan territorial dan nasionalisme yang telah diselewengkan dari makna sebenarnya, sehingga terlihat seorang muslim tidak lagi tertarik membahas keadaan saudaranya hanya karena mereka berada di Negara yang berbeda.
Optimisme Akan Kebangkitan
            Melihat realita yang ada maka seolah tidak aka nada harapan lagi bagi islam untuk sekedar berdiri apalagi berlari meraih tampuk kepemimpinan dunia. Namun dari sisi lainnya kaum muslimin terlihat mulai bangkit sedikit-demi sedikit. Dan optimism tentang kebangkitan itu harus semakin dihujamkan. Ummat Islam adalah ummat yang akan terus ada selama-lamanya. Dia akan selalu ada hingga dunia ini tutup usia. Bahkan ketika beberapa peradaban yang mati itu lenyap hingga hanya meninggalkan kisah, maka islam tidak akan lenyep seperti mereka. Beberapa nash Al-Qur’an menjelaskan hal ini dengan jelas. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 143:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 143)
            Ummat islam telah dijadikan sebagai ummat yang menjadi saksi sejarah pergulatan kekuatan yang ingin menguasai dunia. Merupakan sunnatullah bahwa setiap kekuasaan itu dipergilirkan, peradaban yang satu diganti dengan peradaban yang lain lalu hilang hingga diganti oleh peradaban baru yang memimpin pentas sejarah kemudian lenyap hingga akhirnya siklus itu ditutup oleh kebangkitan islam.
            Ketika Khilafah Islam runtuh, ia tidak hilang tapi tetap ada walau tertatih. Dia hanya turun dari panggung untuk kemudian menunggu giliran mengguncangkan panggung kembali. Itulah bedanya islam dengan Romawi yang kini hanya puing-puing bangunan, juga Persia yang sekarang hanya cerita. Begitulah keistimewaan ummat ini.Ummat yang tampil di panggung sejarah dua kali. Dia hanya turun panggung sebentar untuk menyaksikan pementasan dari ummat yang lain, dan itu menjadi referensi yang bagus untuk tampilnya yang ke dua.
            Rasulullah juga telah mengabarkan tentang kemampuan bertahan yang luarbiasa dari ummatnya dalam banyak hadits beliau. Tidak kurang dari Sembilan belas (19) shahabat yang meriwayatkan kabar tentang survivenya kaum muslimin hingga kebangkitan itu datang. Bahkan kabar ini menurut penelitian sejumlah ulama hadits telah mencapai derajat hadits mutawatir, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ As-Shirah Al-Mustaqim Mukhalafatu Ashabil Jahim, Imam As-Syuyuti dalam Qatful Azhar Al-Mutanashirah, Imam Kattani dalam Nazhmul Al- Mutanashir fi Hadits Al-Mutawatir. Diantara riwayat tersebut adalah riwayat dari Mughirah Bin Syu’bah bahwa Rasulullah bersabda:
لَنْ يَزَالَ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى النَّاسِ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ
Artinya: Akan senantiasa ada satu kelompok dari ummatku yang meraih kemenangan sampai datang kepada mereka perkara Allah sementara mereka tetap dalam keadaan meraih kemenangan. (HR. Bukhary, Kitabul I’tisham, hadits no.6767, dan Muslim Kitabul Imarah, hadits no. 3545)
            Sudah jelaslah bahwa ummat islam akan tetap survive dalam setiap keadaan hingga tamatnya pementasan di panggung sejarah, dan ementasan itu ditutup dengan tampilnya islam dengan gemilang. Tapi perjalanan menuju semuanya itu tidak akan pernah mudah, bagaimana perjalanannya itulah yang akan kita pelajari dari sejarah.
Penegakan Agama Perspektif Shiroh
            Sejarah adalah sesuatu yang selalu berulang. Sejak dahulu kala dongeng selalu memberitakan bahwa kebaikan akan selalu menang. Kebaikan secara luas adalah apa yang dirasakan pada masa itu relevan menjawab berbagai masalah yang ada. Dalam istilah Al-Qur’an, kebaikan sering disebutkan dengan kata ma’ruf. Ma’ruf sendiri secara bahasa berarti sesuatu yang dikenal. Jika diterjemahkan secara bebas dengan mengaitkan terhadap situasi dan keadaan, maka ma’ruf adalah situasi dan kondisi penyelesaian yang memiliki kesesuaian dengan problematika dan tantangan yang ada. Sehingga perintah amar ma’ruf sebenarnya adalah perintah untuk menyelesaikan realita persoalan ummat dengan berbagai cara yang efktif dan efisien mewujudkan maslahat.
            Jika melihat fenomena terakhir dari kondisi kehidupan manusia yang semakin rumit, maka mulai muncul keraguan dengan sistem yang diciptakan oleh peradaban barat. Sistem ekonomi libera ternyata tidak terlalu efektif bagi beberapa kalangan, sistem politik yang ada sekarang ini juga tidak terlalu efisien untuk menyelesaikan masalah yang menimpa rakyat, yang ada malah menambah pembahasan yang menunjukkan semakin banyaknya masalah. Sehingga masyarakat mulai mecari-cari alternatif penyelesaian masalah yang lebih ma’ruf, lebih sesuai untuk masalah yang ada. Ini memberikan kesempatan bagi kaum muslimin untuk menawarkan konsep solusi yang lebih tepat menjawab berbagai masalah. Pamor sistem islam mulai naik, agama islam semakin terasa menuju proses penegakannya.
            Kembali kepada tabiat sejarah yang selalu berulang, kebangkitan ke dua ini adalah proses copy-paste konsep dari proses kebangkitan awalnya.
Analisis Shiroh Nabawiyah
            Melihat shirah nabawiyah maka ada dua fase umum yang dilalui Rasulullah beserta para shahabat beliau yaitu:
1.        Fase Makkiyah
Fase Makkiyah adalah masa awal pengenalan islam kepada manusia, yang telah lama melupakan konsep yang sebelumnya dibawa oleh Ibrahim a.s. Secara garis besar ada tiga tahapan yang lebih rinci pada fase makiyah ini, yaitu:
a.         Tahap dakwah secara rahsia tiga tahun.
b.         Tahap syi’ar dan keterbukaan dakwah kepada penduduk Makkah. Berawal dari tahun keempat Kerasulan pada akhir tahun ke sepuluh.
c.         Tahap ketiga keluar ke sekitar Makkah dan penyebaran di kalangan mereka, bermula dari penghujung tahun kesepuluh hingga ke hijrah Rasulullah.
Adapun strategi dakwah yang dilakukan dalam fase ini yaitu:
a.         Memulai penyebaran prinsip ajaran islam
Setelah turunnya wahyu maka sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan adalah menyampaikan risalah islam kepada manusia. Tugas ini merupakan tugas yang sangat berat, namun yang diserahi tugas ini adalah seorang pria pilihan yang dikondisikan hati, pikiran, fisik, dan perilakunya sebelumnya. Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang saat itu berusia 40 tahun, seorang pemuda terpercaya dan dihormati oleh masyarakatnya dan tersohor akan kebaikannya. Seorang pemuda yang pernah menjadi pemberi solusi yang luarbiasa atas masalah besar yang menimpa masyarakat makkah saat itu, peletakan hajar aswad batu hitam yang sacral bagi masyarakat. Masalah yang hampir menimbulkan perang suku itu selesai dengan damai dan memuaskan.
Perintah penyampaian ini bukan tanpa arahan dan rancangan strategi. Ketika melihat urutan turunnya ayat-ayat pada awal kenabian maka akan terlihat disana sebuah rancangan strategi dan konsep pelaksanaan yang jelas.
Ayat yang pertama kali diturunkan (menurut pendapat yang masyhur) adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya: [1] Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. [2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. [3] Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. [4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. [5] Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S.Al-Alaq:1-5)
Kelompok ayat yang kedua diturunkan dengan selang beberapa hari (atau 2,5 tahun menurut pendapat yang lainnya) tahun setelah itu yaitu Surat Al-Muddatsir ayat 1-7 :
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)
Artinya: [1] Hai orang yang berkemul (berselimut), [2] bangunlah, lalu berilah peringatan!  [3] dan Tuhanmu agungkanlah, [4] dan pakaianmu bersihkanlah, [5] dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, [6] dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.  [7] Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Q.S.Al-Muddatsir:1-7)
          Beberapa hal yang bisa dilihat di sini adalah pada urutan penurunan kelompok ayat tersebut, perintah awalnya adalah membaca kemudian perintah untuk menyampaikan. Perintah membaca diberikan sejak awal padahal Muhammad shallalahu alaihi wa sallam adalah seorang yang ummiy (Buta aksara) dan itu bukannya tanpa hikmah. Hikmah pertama adalah untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan ciptaan Muhammad, karena tidak mungkin seorang yang buta aksara bisa menyusun kalimat seindah itu tanpa belajar tentang kesastraan dan berbagai macam hal yang bisa dipelajari dengan membaca. Hikmah ke dua dari perintah membaca di awal kenabian ini sering tidak diperhatikan oleh para aktivis pergerakan kebangkitan, yaitu bahwa sebelum melaksanakan gerakan maka diperlukan proses pembacaan terhadap segala hal yang terkait dengan gerakan apa yang akan dilaksanakan, kalau dalam istilah modernnya adalah bahwa proses membaca di awal aktifitas ini adalah analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treat).
          Dari proses awal ini terdapat setidaknya dua konsep pergerakan yang bisa menjadi acuan penegakan kembali agama islam pada masa sekarang ini yaitu:
-            Para penggagas kebangkitan itu adalah mereka yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh ummat sehingga mereka mendapatkan kedudukan di hadapan masyarakat sebagai seseorang yang dianggap mampu memberikan solusi dalam permasalahan mereka. Yang mampu menempati posisi ini adalah para intelektual yang merupakan hasil dari perguruan-perguruan tinggi.
-          Pewujudan kebangkitan hendaknya diawali dengan analisis kondisi dan situasi dunia islam maupun keadaan kaum non muslim, mengetahui potensi kaum muslimin dan musuh-musuh mereka serta serta siapa yang bisa diajak untuk berserikat. Dengan kemampuan analisis ini maka akan memunculkan rancangan gerakan yang tepat dan efektif.
-          Kebangkitan ini dapat diwujudkan dengan penyesuaian antara perintah Langit dengan keadaan riil di bumi. Sehingga tidak hanya pegang teguh terhadap hukum peraturan Qur’ani secara buta namun bagaimana menyetarakannya dengan realita kondisi yang tengah berlangsung. Kesesuaian inilah yang merupakan akar berbagai gerakan yang dilakukan sehingga tidak terkesan jumud (beku) atau juga tidak terlalu cair, tapi moderat (wasath).
b.         Membentuk tim penyebaran jaringan
Dakwah sirriyah dimulai dari keluarga dan sahabat terdekat Rasulullah. Dari Khadijah binti Khuwailid isteri beliau sendiri, kemudian Abu Bakr bin Abu Kuhafah. Ada hal yang sangat penting yang dilakukan pada tahapan ini, yaitu perekrutan Abu Bakr sebagai satu dari simpul jejaring sosial yang memperluas jangkauan untuk meningkatkan kuantitas. Sehingga bergabunglah Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidaillah, Sa'd bin Abi Waqqash dan Zubair bin Al-'Awwam.
Di antara yang terawal juga ialah, Bilal bin Rabah al-Habsyi, kemudian Abu Ubaidah 'Amir bin al-Jarah dari Bani al-Harith bin Fihr, Abu Salamah bin Abdul al-Asad al-Makhzumi, al-Arqam bin Abu al-Arqam al-Makhuzmi, Utsman bin Maz'un dan dua saudaranya Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin al-Harith bin al-Mutalib bin Abdul Manaf, Said bin Zaid al-Adawi al-Urus dan isterinya Fatimah bin al-Khattab al-Adwiah adik perempuan Umar Ibni al-Khatab, Khabbab bin al-Arat, Abdullah bin Mas'ud al-Huzali dan banyak lagi yang lainnya, mereka adalah orang-orang yang pertama masuk islam (al-Sabiqun al-Awwalun). Mereka seluruhnya adalah keturunan Quraisy, Ibnu Hisham telah menghitung mereka sebanyak empat puloh orang.
c.         Penguatan Struktur secara Rahasia
Setelah mendapatkan pengikut yang cukup banyak, dimulailah pengorganisasian rahasia. Diadakan pertemuan di rumah Arqam bin Abil Arqam. Dimulailah pembinaan secara intens terhadap jamaah kecil itu yang terdiri dari tidak lebih dari 40 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Penanaman aqidah dilakukan secara mantap sampai terbentuknya karakter yang kuat dalam diri para assabiqunal awwalun. Aktifitas penguatan kualitas individu kader dan soliditas jamaah dilakukan melalui pertemuan tersebut. Hal itu terus berlangsung bahkan hingga dakwah mulai dilakukan secara terang-terangan.
Benih dari sebuah pergerakan memiliki sifat yang lemah dan rentan terhadap berbagai keadaan yang sulit dan ancaman dari luar. Diperlukan penguatan-penguatan dan penataan di berbagai segi untuk bisa tetap bertahan. Maka sebisa mungkin haruslah menghindari hal-hal yang akan menghancurkan benih kecil yang masih rapuh tersebut. Yang bisa dilakukan adalah memberikan kekuatan yang dibutuhkan yaitu suplemen-suplemen yang akan menguatkan individu setiap anggota jamaah dan suplemen penguat jamaah itu sendiri.
Ini dilakukan dengan rahasia dan dalam konteks individu. Apa yang menjadi tujuan adalah tegaknya sebuah jamaah golongan mukmin yang bersatu dalam persaudaraan dan sanggup tolong menolong, bekerja menyampaikan risalah Muhammad dan membela perjuangannya.
d.        Menjauhi Bentrokan dan Medan Perang.
Pembentukan kualitas internal tidak akan berjalan maksimal jika dalam pelaksanaannya bayak hantaman dari luar. Maka sebisa mungkin pergesekan dengan elemen internal harus dihindari.
e.         Membangun Militansi
Militansi yang dimaksudkan di sini adalah bagian dari kualitas individu setiap anggota jamaah. Karakter militan yang dibentuk adalah:
-            Loyalitas (al-wala’) terhadap peraturan-peraturan Ilahiah yang merujuk kepada Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan serta arahan, instruksi, dan keputusan Rasulullah.
-            Pengingkaran (al-Bara’) terhadap segala hal yang dilarang oleh Allah dan rasulnya.
Dalam mewujudkan militansi ini dilakukan penanaman keimanan yang kuat dalam hati kaum muslimin. Rasulullah terus membuat pertemuan dengan mereka, memberikan pertunjuk kepada mereka. Wahyu turun tanpa terputus-putus lagi, yaitu setelah terturunnya awal surah Al-Muddatsir. Ayat-ayat urah yang turun pada fase mekkah ini merupakan ayat-ayat yang pendek-pendek, struktur ayatnya indah dan sederhana, rentak-rentaknya adalah lembut, seni susunannya sesuai dengan tuntutan suasana yang damai, bertemakan pembersihan jiwa dan mengecam kerja-kerja pencemaran diri dengan noda-noda dunia. Mengambarkan keindahan syurga dan keburukan neraka bagaikan tertera di hadapan mata kepala, membimbing manusia mukmin dalam satu suasana yang berbeda dari suasana masyarakat saat itu.
Dengan keimanan yang kuat itulah muncul pribadi-pribadi yang setia, walaupun terjadi berbagai intimidasi terhadap mereka, bahkan sampai pada pembunuhan.
f.          Menggali Potensi Kader
Dalam penguatan struktur yang masih dirahasiakan tersebut, tidak hanya proses takwin (pembentukan) yang dilakukan, tapi juga menilik potensi yang sudah ada dalam diri jamaah untuk dimanfaatkan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Karena yang akan dibentuk adalah manusia yang sebelumnya memang memiliki potensi pribadi masing-masing maka itu merupakan kekuatan yang tidak boleh disia-siakan. Ada berbagai pembagian tugas terhadap shahabat beliau. Zait bin Tsabit sebagai tim penulis Al-Qur’an, Mus’ab bin Umair sebagai tenaga pengajar yang diutus ke madinah, Abu Bakr dan beberapa pebisnis lainnya menjadi donatur tetap dalam setiap agenda dakwah, dan banyak tugas-tugas yang lainnya dibagikan kepada masing-masing shahabat sesuai dengan potensinya. Dengan langkah ini maka kualitas individu semakin terasah dan potensi jamaah juga semaikn meningkat.
g.         Menggali Basis Sumber daya Alam
Ketika internal jamaah sudah mulai menguat, dilakukan juga pendekatan-pendekatan untuk memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada, termasuk di dalamnya adalah kondisi sosial politik masyarakat arab pada waktu itu. Semuanya digunakan untuk mempertahankan posisi sosial kaum muslimin di makkah.
2.        Fase Madaniyah
Seiring dengan pertahanan sosial di makkah, dilakukan juga persiapan awal untuk basis masyarakat dan basis territorial di luar makkah. Ini dilakukan dengan perencanaan yang sangat baik dengan pembagian peran serta pembagian konsentrasi massa yang tepat. Dalam fase madaniyah ini juga terjadi beberapa proses yang menentukan dalam penegakan dienul islam, yaitu:
a.         Proses pembentukan basis masyarakat pendukung
Sebelum terjadinya hijrah, Madinah yang pada saat itu masih bernama Yatsrib memang telah dipersiapkan sebagai basis masyarakat yang kuat. Ini dimulai dari masuk islamnya penduduk madinah yang sedang menjalankan ibadah haji di makkah. Sehingga setelah kembali ke madinah berita tentang agama islam tersebar, dan semakin banyak yang berbaiat.
Momen inilah yang digunakan untuk pembentukan basis sosial di lokasi yang relative aman, dan memang kondusif untuk melakukan hal itu. Mulailah pembinaan basis masyarakat ini dengan pengiriman para pengajar ke Madinah, salah satunya adalah Mush’ab bin ‘Umair. Basis ini sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan yang lebih besar kepada pertumbuhan islam.
b.         Pembentukan basis territorial
Selain basis masyarakat, dipersiapkan pula madinah sebagai daerah territorial baru sebagai tempat tegaknya agama islam. Dengan adanya wilayah kekuasaan maka posisi islam akan semakin kuat.
c.         Pemanfaatan potensi pendukung
Tidak hanya kaum muslimin madinah yang dipersiapkan, tapi juga konsep kerjasama dengan kaum non muslim yang didup di madinah juga dilakukan. Kemapanan masyarakat dan wilayah serta hubungan kerjasama dengan kelompok non muslim dimulai dengan disepakatinya piagam madinah. Proses merangkul pihak di luar kaum muslimin ini perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas masyarakat baru dan wilayah baru tersebut.
d.        Penataan Negara
Dengan masyarakat dan wilayah maka lengkaplah elemen pembentuk sebuah Negara. Itulah Negara Madinah. Tunas peradaban baru pemimpin dunia. Mengapa harus ada Negara madinah? Karena dengan keberadaannya sebagai sebuah Negara akan menguatkan posisi di hadapan pihak-pihak internasional termasuk makkah, Romawi, Persia, dan yang lainnya.
e.         Pelaksanaan dakwah secara utuh dan menyeluruh.
Salah satu imbas positif yang merupakan titik tolak dari perubahan wajah dunia adalah diterapkannya islam secara menyeluruh di madinah. Islam telah tegak, berdiri dengan kokoh.
Posisi kaum Muslimin Saat ini dalam Refleksi Masa Lalu
            Sebuah kalimat yang sangat indah dari seorang tokoh pembaharu pemikiran ummat, Imam Malik mengatakan: Ummat ini tidak akan berjaya kembali kecuali dengan apa yang dimiliki generasi awal mereka. Sekali lagi ada kesadaran akan pengulangan sejarah. Kejadian 14 abad yang lalu itu akan kembali terjadi dan itu harus jika kita ingin kembali menegakkan agama ini seperti pada generasi awalnya.
            Untuk merefleksi sejarah itu ke dalam kehidupan nyata masa kini maka harus diketahui dahulu posisi ummat saat ini dalam perspektif shiroh. Apakah pada masa makkiyah atau madaniyah. Apakah dalam proses pembentukan basis sosial atau dalam pembentukan Negara?
            Untuk menentukan posisi tersebut, maka kita haru mengetahui kondisi riil kaum muslimin saat ini dan kondisi masyarakat di luar ummat islam. Semuanya itu dilihat dari segi aqidah, intelektual, kekuatan ekonomi, strata sosial, kemantapan posisi politik, yang semuanya itu menggambarkan sejauh mana penerapan syariat itu dapat terlaksana.
            Dalam hal ini terdapat berbagai gambaran tentang kondisi kaum muslimin:
1.        Kelemahan Aqidah
Semakin tua usia ummat islam, ternyata aqidah semakin tidak diperhatikan. Banyak factor yang menyebabkan hal ini. Yang pertama adalah kurangnya ketertarikan ummat islam terhadap agamanya sendiri, mereka lebih suka membahas pemikiran-pemikiran barat yang sarat dengan konspirasi menjatuhkan ummat islam. Aqidah-aqidah menyimpang pun semakin beragam. Ketiak aqidah yang menjadi pondasi kehidupan ummat islam rapuh maka kaum muslimin akan kehilangan control terhadap aktifitasnya, yang membuahkan kesemrawutan bidang-bidang lainnya dalam kehidupan. Sebab ke dua adalah perencanaan musuh-musuh islam untuk menjauhkan islam dari agamanya, sehingga islam tinggal nama, aqidahnya tidak jelas kebenarannya.
2.        Kelemahan Intelektual
Intelektual yang sangat dibutuhkan untuk menjadi problem solver bagi ummat kini entah kemana. Kemerosotan kualitas dalam bidang pendidikan terjadi bukan karena kurangnya jumlah sekolah, atau kurangnya guru dan dosen. Tapi lebih pada pembahasan kualitas pembelajaran. Jual beli gelar, suap-menyap untuk kelulusan tes, hingga kesemrawutan pengelolaan pendidikan menyebabkan menurunnya kualitas itu di Indonesia.
3.        Kelemahan Ekonomi
Ummat islam juga kehilangan kegemilangan ekonominya. Sistem ekonomi islam kini diletakkan pada urutan ke sekian dalam upaya penyelesaian masalah ekonomi, bahkan oleh ummat islam sendiri.
4.        Kelemahan Politik
Posisi politik ummat islam yang diwakili oleh Negara-negara arab di mata dunia tidak terlalu kuat. Hanya untuk membebaskan satu Negara seperti palestina dari cengkraman beberapa juta warga Israel saja belum dapat terwujud, telah lebih dari 60 tahun. Kondisi politik Negara-negara islam di dunia memang tidak pada posisi strategis.
5.        Kelemahan Sosial
Kelemahan sosial juga terjadi, baik pada internal maupun hubungannya dengan eksternal ummat islam. Internal ummat islam dikacaukan oleh melemahnya akhlak yang merupakan kekuatan sosial kaum muslimin, sedangkan menyangkut hubungannya dengan eksternal ummat islam adalah semakin renggangnya ummat kepada hubungan sosial yang membawa maslahat dengan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang bisa diajak bekerja sama.
Dewasa ini, alhamdulillah, kelemahan-kelemahan itu pada akhirnya telah memberikan kesadaran pada ummat islam untu memperbaikinya. Para pemikir islam mulai memikirkan system pendidikan dengan cara yang lebih baik, mencoba mengurangi kekurangan dan keburukan yang terjadi dalam pengelolaan pendidikan, dengan upaya dakwah. Tidak hanya itu, para pemuda muslim juga sudah mulai menyadari hal tersebut dan berusah untuk mengubah dengan kemampuan mereka. Sistem Ekonomi dan politik pun mulai melirik system islam. Sengan sedikit gerakan yang tepat dan efektif maka seluruh permasalahan itu akan segera diselesaikan.
Dengan deikian bisa disimpulkan bahwa pada saat ini ummat islam menempati ketiga proses dalam siroh masa lalu yaitu:
1.        Proses pembinaan kualitas agama dan intelektual ummat
Pengetahuan akan agamanya dan ilmu pendukung dalam realita kehidupan sangat dibutuhkan oleh ummat. Sehingga keduanya harus diselaraskan, karena akan mempengaruhi elemen lainnya dalam kehidupan ummat.
2.        Proses Penguatan Sosial, Ekonomi dan Politik islam
Ketiga elemen ini sangat menentukan eksistensi setiap masyarakat, tanpa ketiganya maka tidak ada masyarakat yang bisa bertahan lama. Sehingga ummat islam haruslah memiliki kekuatan ketiganya.
3.        Proses Awal pembentukan Negara Islam
Sebuah kemustahilan penerapan islam secara meyeluruh tanpa adanya kedudukan yang jelas tentang syariat islam itu di hadapan masyarakat. Padahal penerapan islam secara menyeluruh adalah bukti riil tegaknya agama ini kembali. Maka keberadaan Negara adalah niscaya untuk kebangkitan islam.
            Setelah mengetahui posisi ummat saat ini maka yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan proses-proses yang lainnya sehingga perjalanan sejarah itu kembali tergambar jelas dalam kehidupan sekarang ini.
Penutup
            Ummat islam adalah ummat yang tidak pernah mati. Dan peradaban islam adalah peradaban yang akan tampil dua kali dan untuk menutup perputaran peradaban anak manusia. Maka tidak ada kata pesimis dan putus asa tentang kebangkitannya. Kembali tegaknya islam ini adalah sebuah kepastian, dan kita sebagai kaum muslimin yang menentukan cepat atau lambatnya terwujud.
            Dalam proses perwujudan kembali kepemimpinan dunia oleh islam, ada mutiara yang masih sering terlupakan untuk dikaji. Mutiara perjalanan manusia pilihan beserta sahabatnya untuk menegakkan Agama yang mulia ini. Shiroh adalah harta yang tidak ternilai yang menceritakan tentang kejayaan dan kehancuran untuk dianalisis oleh kecerdasan-kecerdasan generasi yang muncul setelahnya. Dan ia akan terus berulang, sampai akhirnya dunia ini tutup usia.
            Maka jangan pernah melupakan sejarah, begitu pesan dari para pemikir ummat yang peduli tentang kebesaran dan kebangkitan ummat ini. Sejarah adalah cermin yang bayangannya bisa diraih untuk dilukis kembali menjadi nyata dalam perputaran roda kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar