STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 25 November 2012

Infiltrasi Israiliyat Dalam Tafsir Al-Qur’an

A. Pendahuluan
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi manusia agar selalu berada di jalan lurus, yaitu jalan yang mengantarkannya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Realitas sejarah membuktikan bahwa sampai hari ini urgensi Al-Qur’an masih  (dan akan selalu) menempati posisi sentral dalam kehidupan manusia, bahkan senantiasa menjadi inspirator, pemandu dan pemadu berbagai gerakan dan aktifitas umat Islam dalam sejarahnya.
Sebagai petunjuk, Al-Qur’an harus dipahami, dihayati dan diamalkan oleh manusia yang beriman kepadanya. Namun dalam kenyataannya tidak mudah untuk memahami Al-Qur’an, bahkan oleh sahabat-sahabat Nabi sekalipun yang secara umum menjadi saksi atas turunnya wahyu. Tidak jarang mereka berbeda pendapat atau saling bertanya dalam memahami suatu ayat. Karena itu Rasulullah saw mengemban tugas untuk menjelaskan (mubayyin) maksud yang terkandung dalam  firman Allah itu.
Di masa Rasulullah, umat Islam tidak menemui kesulitan dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Mereka dapat langsung meminta penjelasan dari Rasulullah saw. Akan tetapi setelah wafat beliau, banyak umat Islam yang menemui kesulitan untuk memahaminya, meskipun mereka memakai dan mengetahui bahasa Arab. Hal ini karena tidak jarang Al-Qur’an mengandung pesan-pesan yang belum bisa dijangkau oleh alam pikiran orang-orang Arab waktu itu.

Untuk memahaminya, mereka lalu mencari hadits-hadits Rasulullah saw, karena mereka berkeyakinan bahwa beliaulah satu-satunya orang yang paling banyak mengetahui makna-makna wahyu Allah. Di samping itu mereka mencoba mencari penjelasan dari ayat-ayat lain yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memahaminya. Cara-cara seperti ini kemudian dikenal dengan tafsir bil ma’tsur.
Langkah selanjutnya yang mereka tempuh ialah menanyakannya kepada sahabat yang menyaksikan asbabun-nuzul ayat. Dan manakala mereka tidak menemukan jawaban dalam keterangan Nabi (hadits) atau sahabat yang memahami bentuk konteks ayat-ayat tersebut, mereka melakukan ijtihad dan berpegangan pada hasil ijtihadnya ini, khususnya mereka yang mempunyai kapasitas intelektual yang memadai, seperti Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas, Ubay bin Ka’b dan Abdullah bin Mas’ud.
Selain bertanya kepada para sahabat senior sebagai sumber informasi bagi penafsiran Al-Qur’an, mereka juga bertanya kepada sahabat-sahabat dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah masuk Islam. Terutama pada ayat-ayat yang bercerita tentang umat-umat terdahulu. Hal itu mereka lakukan lantaran sebagian masalah dalam Al-Qur’an memiliki persamaan dengan yang ada dalam kitab suci mereka, terutama berbagai tema yang menyangkut umat-umat terdahulu. Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah umat-umat terdahulu secara ringkas dan global untuk tujuan mengambil pelajaran dan teladan. Sedangkan Taurat menceritakannya dengan panjang lebar dan detail. Demikian pula Injil.[1]
Penafsiran seperti itu terus berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dan kebutuhannya akan urgensi Al-Qur’an sebagai “petunjuk” bagi kehidupan. Sampai-sampai tanpa disadari bercampurlah hadits-hadits sahih dengan israiliyat. Kehadiran israiliyat dalam penafsiran Al-Qur’an itulah yang menjadi polemik di kalangan para ahli tafsir Al-Qur’an. Karenanya tulisan ini mencoba mendiskusikan terma israiliyat, perkembangan dan keberadannya dalam tafsir, pengaruh dan alternatif jalan keluarnya yang sedapat mungkin bisa dikemukakan.
B. Pengertian israiliyat
Secara etimologis, israiliyat   ( الإسرائيليات)adalah bentuk jama’ dari israiliyah الإسرائيلية , yakni bentuk kata yang dinisbatkan pada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani, isra yang berarti hamba dan il yang bermakna Tuhan. Dalam perspektif historis, Israil berkaitan erat dengan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as, di mana keturunan Ya’qub di sebut Bani Isra’il. Israil merupakan gelar Nabi Ya’qub.[2] Selanjutnya Israil diidentikkan dengan Yahudi.
Secara terminologis, israiliyat merupakan sesuatu yang menyerap ke dalam tafsir dan hadits di mana periwayatnya berkaitan dengan Yahudi dan Nasrani, baik menyangkut agama mereka atau tidak. Dan kenyataannya kisah-kisah tersebut merupakan pembauran dari berbagai agama dan kepercayaan yang masuk ke jazirah Arab yang dibawa oleh orang-orang Yahudi setelah mereka masuk Madinah di masa-masa Jahiliyyah.[3]
Formulasi tentang israiliyat di atas terus berkembang di antara para pakar tafsir Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Bahkan di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa israiliyat mencakup informasi-informasi yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam “manuskrip” kuno dan hanya sekedar sebuah manipulasi yang dilancarkan oleh musuh Islam yang diselundupkan pada tafsir dan Hadits untuk merusak akidah umat Islam dari dalam. Cerita itu seperti kisah Gharaniq, kisah Zainab binti jahsy dan Kisah perkawinan Rasulullah dengan Zainab. 
Meskipun israiliyat banyak diwarnai oleh kalangan Yahudi, kaum Nasrani juga turut ambil bagian dalam konstelasi penafsiran versi israiliyat ini. Hanya saja dalam hal ini kaum Yahudi lebih populer dan dominan. Karena kaum Yahudi lebih diidentikkan lantaran banyak di antara mereka yang akhirnya masuk Islam. Disamping karena kaum Yahudi lebih lama berinteraksi dengan umat Islam.
C. Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyat
Infiltrasi kisah israiliyat dalam tafsir Al-Qur’an dan Hadits tidak lepas dari kondisi sosio-kultural masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Pengetahuan mereka tentang israiliyat telah lama masuk ke dalam benak pikiran keseharian mereka, sehingga tidak bisa dihindari interaksi kebudayaan Yahudi dan Nasrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian menjadi Jazirah Islam itu.
Sejak tahun 70 M kaum Ahli Kitab yang mayoritas orang-orang Yahudi itu telah berimigrasi secara besar-besaran ke Jazirah Arab untuk menghindari tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh Titus, seorang panglima Romawi. Dan mereka juga sering melakukan perjalanan, baik dari arah barat maupun timur. Dengan demikian peradaban mereka banyak mempengaruhi orang-orang Timur dan begitu pula sebaliknya.[4]
Sementara itu bangsa Arab di masa Jahiliyah juga banyak melancong ke negeri lain. Al-Qur’an menginformasikan bahwa orang suku Quraisy mempunyai dua waktu perjalanan. Musim dingin ke negeri Yaman dan musim panas ke negeri Syam yang kebetulan kedua negeri itu banyak dihuni oleh kaum Ahli Kitab, terutama orang-orang Yahudi. Kondisi ini terus berlanjut hingga datang Islam.[5]
Kondisi dua kebudayaan itu (Islam dan Yahudi) melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbeda hingga tidak jarang terjadi dialog antara keduanya. Mereka saling bertukar pikiran ikhwal masalah-masalah keagamaan. Bahkan Rasulullah saw sendiri sering diberi pertanyaan oleh kaum Yahudi, terutama menyangkut keabsahan beliau sebagai Nabi dan Rasul. Akan tetapi karena keabsahan nubuwwah dan risalah Islam berikut kitab suci Al-Qur’an dapat membuktikan secara konkret, maka Rasulullah saw dapat menarik sebagian dari mereka masuk Islam, semisal Ka’b Al-Akhbar, Abdullah bin Shuria dan Abdullah bin Salam. Nama yang disebut terakhir ini adalah “ulama” kaum Yahudi yang telah banyak menangkap adanya indikasi nubuwwah Muhammad dalam kitab Taurat. Pengetahuannya yang mendalam tentang agama Yahudi menjadikan dirinya menduduki posisi penting dan terpandang di kalangan Yahudi dan –sesudah masuk Islam- di kalangan Islam.[6]
Pada masa Rasulullah, israiliyat  tidak banyak berkembang dalam penafsiran Al-Qur’an, sebab hanya beliaulah satu-satunya penjelas (mubbayyin) berbagai masalah yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sahabat bisa bertanya langsung kepada beliau perihal isi dan maksud Al-Qur’an. Meskipun demikian, Rasulullah tidak melarang pada umat Islam untuk menerima atau menyebarkan informasi dari Bani Israil. Hal ini tampak dari sabda beliau:
" بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً ، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ"  أخرجه البخارى
Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan sampaikanlah dari Bani Israil dan itu tidak suatu dosa. Barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, sebaiknya ia mengambil tempat duduknya dari api neraka”. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari).
Demikian pula dalam hadits lain beliau bersabda:
" لا تصدقوا أهل الكتاب و لا تكذبوهم و قولوا أمنا بالله وما أنزل إلينا"  أخرجه البخارى
“Janganlah kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan (pula) mendustakannya, dan katakanlah ‘Kami beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada Kami’”. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari),
Dari pemahaman hadits di atas, Rasulullah saw juga memberi peluang atau kebebasan pada umatnya  untuk mengambil riwayat dari kaum Ahli Kitab. Hadits pertama boleh jadi mengandung petuah atau suri teladan. Sedangkan hadits kedua merupakan penangguhan pengakuan maupun penolakan atas cerita Ahli Kitab untuk tidak diterima begitu saja sebelum diteliti.
Dari abstraksi di atas dapat ditarik kesimpulan  bahwa israiliyat sebenarnya sudah muncul dan lama berkembang di kalangan bangsa Arab jauh sebelum Rasulullah saw lahir, yang kemudian terus bertahan di masa Rasulullah. Hanya saja pada waktu itu israiliyat belum menjadi khazanah dalam penafsiran Al-Qur’an.
Permasalahan yang muncul adalah bahwa sepeninggal Rasulullah saw, tidak seorang pun berhak menjadi penjelas (mubayyin) wahyu Allah. Karena itu jalan yang ditempuh olah para sahabat ialah –dengan ekstra hati-hati- melakukan ijtihad sendiri, manakala kemudian mereka menjumpai masalah tersebut, seperti kisah-kisah nabi atau umat terdahulu. Hal ini terjadi mengingat kadang-kadang ada persamaan antara Al-Qur’an, Taurat dan Injil. Hanya saja Al-Qur’an terkadang berbicara secara ringkas padat (i’jaz), sementara Taurat dan Injil berbicara secara panjang lebar (ithnab).
Sumber-sumber israiliyat yang terkenal di kalangan Yahudi ialah: Abdullah bin Salam, Ka’b Al-Akhbar, Wahb bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Sementara di kalangan sahabat ialah: Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Amr bin Ash. Mereka ini adalah nara sumber kedua. Penting dicatat disini bahwa Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin Ash, serta sahabat lain meriwayatkan israiliyat dalam kapasitas ijtihad. Artinya, bahwa keyakinan para sahabat akan kesungguhan Islam-nya kalangan Yahudi yang masuk Islam, membuat mereka menerima sebagian riwayat dari kalangan Yahudi yang telah masuk Islam tersebut. Mereka bersikap terhadap “mantan” Yahudi ini sebagaimana dengan kaum muslimin lain, diterima riwayat dan kesaksiannya. Karena dalam kapasitas ijtihad, maka setiap riwayat mereka tentang israiliyat yang tidak sejalan dengan ajaran Al-Qur’an harus kita tolak. Berbicara dalam hal agama, lebih-lebih tafsir Al-Qur’an, sebagaimana yang pernah dikatakan Umar bin Khathab, “Semua manusia dapat diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah saw, karena Al-Qur’an diwahyukan kepada beliau”.[7]
Pada masa sahabat inilah israiliyat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja dalam menerima riwayat dari kalangan Yahudi dan Nasrani pada umumnya mereka sangat ketat. Mereka hanya membatasi pada sekitar kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang diterangkan secara global dan Nabi sendiri tidak menerangkan kepada mereka mengenai kisah-kisah tersebut. Di samping itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsisten dan konsekwen pada ajaran yang diterima dari Rasulullah saw, sehingga ketika menjumpai kisah-kisah israiliyat yang bertentangan  syariat Islam, dengan serta merta mereka menolaknya. Sebaliknya apabila kisah-kisah itu benar merekapun menerimanya. Dan apabila kisah-kisah itu diperselisihkan keberadaannya, mereka menangguhkan (mauquf).
Para sahabat menerima kisah-kisah israiliyat, karena ada legitimasi dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, di samping keinginan mereka untuk mengetahui dan memperluas nuansanya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dan lagi pula “ruh” Al-Qur’an itu sendiri mempunyai kesamaan dengan kitab-kitab samawi sebelumnya. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak menghapus secara total ajaran kitab-kitab samawi yang ada, melainkan hanya meluruskan kembali kitab-kitab itu yang telah banyak diselewengkan oleh pengikut-pengikutnya.
أفتطمعون أن يؤمنوا لكم وقد كان فريق منهم يسمعون كلام الله ثم يحرفونه من بعد ما عقلوه وهم يعلمون (البقرة :75)
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Al-Baqarah: 75).
Di sini dapat kita nyatakan bahwa tidak semua kisah israiliyat itu ditolak semua tanpa alasan. Asalkan sudah memenuhi kriteria yang disepakati (mujma’ alaih) oleh para mufassir dan sesuai dengan ruh Al-Qur’an, jalur periwayatannya shahih, serta diterima akal sehat secara obyektif dan rasional, ia bisa diterima.
Namun yang paling disayangkan adalah pada periode tabi’in, dimana sering terjadi penafsiran atau periwayatan yang tidak selektif, dalam artian bahwa banyak periwayatan hadits tidak melalui “kode etik metodologi penelitian” sebagaimana diterangkan dalam ilmu-ilmu hadits. Akibatnya banyak muncul periwayatan dalam penafsiran Al-Qur’an yang terkena infiltrasi (tasarrub) israiliyat. Tokoh penting yang banyak meriwayatkan israiliyat dalam periode ini di antaranya ialah: Ka’b Al-Akhbar dan Wahb bin Munabbih.
D. Israiliyat dalam Kitab Tafsir
Pada perkembangan selanjutnya, masa pasca Tabi’in merupakan masa pengkodifikasian (tadwin) tafsir Al-Qur’an. Banyak karya tafsir dihasilkan oleh para ulama periode ini. Di antaranya adalah Tafsir Al-Muqatil (150 H), Tafsir Al-Farra’ (207), Tafsir Ath-Thabari (310), Tafsir Ats-Tsa’labi (427 H), Tafsir Ibnu Katsir (774 H) dal lain-lain. Namun karena di antara tafsir-tafsir ini tidak mencantumkan sanad secara tegas, maka tercampurlah antara riwayat yang shahih dan yang tidak shahih. Dalam kondisi seperti inilah akhirnya banyak kitab tafsir yang memuat kisah-kisah israiliyat.
Keberagaman kitab tafsir yang memuat israiliyat itu berbeda kuantitas dan kualitasnya antara satu kitab dan kitab lainnya. Ada yang memberi komentar dan ada juga yang tidak memberi komentar. Dalam hal ini Muhammad Husain Adz-Dzahabi dalam kitab “Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadits” telah mengklasifikasi kitab tafsir yang “memunculkan” kisah-kisah israiliyat yang rangkumannya sebagai berikut:
1.      Kitab yang meriwayatkan israiliyat lengkap dengan sanad, tapi ada sedikit kritikan terhadapnya. Kitab yang termasuk dalam klasifikasi ini yaitu tafsir Ath-Thabari yang berjudul Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an.
2.      Kitab yang meriwayatkan israiliyat lengkap dengan sanad, tapi kemudian menjelaskan kebatilan yang ada dalam sanad tersebut. Termasuk dalam klasifikasi ini yaitu tafsir Ibnu Katsir yang berjudul Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim.
3.      Kitab yang meriwayatkan israiliyat dengan menuliskannya begitu saja, tanpa menyebut sanad atau memberi kritik, atau tidak menjelaskan mana riwayat yang benar dan mana yang salah. Kitab yang termasuk dalam kategori ini yaitu Tafsir Muqatil bin Sulaiman.
4.      Kitab yang meriwayatkan israiliyat tanpa sanad, dan kadang-kadang menunjukkan kelemahannya atau menyatakan dengan tegas ketidak-sahihannya, tapi dalam meriwayatkan terkadang tidak memberikan kritik sama sekali, kendati riwayat yang dibawanya itu bertentangan dengan syariat Islam. Kitab yang masuk dalam klasifikasi ini yaitu tafsir Al-Khazin yang berjudul Lubab At-Ta’wil fi Ma’ani At-Tanzil.
5.      Kitab yang meriwayatkan israiliyat tanpa sanad dan bertujuan menjelaskan kepalsuan atau kebathilannya. Tafsir ini sangat keras mengkritik israiliyat. Kitab yang termasuk dalam klasifikasi ini yaitu tafsir Al-Alusi (1270 H) yang berjudul Ruh Al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an wa sab’i Al-Matsani.
6.      Kitab tafsir yang menyerang dengan keras para mufasir yang menuliskan israiliyat dalam tafsirnya. Begitu kerasnya serangan ini sampai-sampai pengarang kitabnya berani melontarkan tuduhan yang tidak selayaknya pada pembawa kisah israiliyat ini, walaupun mereka terdiri para sahabat terpilih dan para tabi’in.[8] Meskipun demikian, pengarang kitab ini juga terperangkap dalam situasi serupa dalam artian bahwa tanpa disadari ia menampilkan pula kisah israiliyat. Dalam klasifikasi ini yaitu tafsir susunan Rasyid Ridha (1354 H) yang berjudul Al-Manar.
Demikian keberadaan israiliyat serta klasifkasi tafsir yang mencantumkannya. Klasifikasi ini diambil dari hasil penelitian Muhammad Husain Adz-Dzahabi yang selayaknya mengundang para pakar tafsir untuk mengkajinya lebih mendalam. Hal ini perlu dilakukan mengingat pengaruh yang ditimbulkan oleh masuknya kisah-kisah israiliyat ini besar sekali.
E Pengaruh Israiliyat
Sudah barang tentu infiltrasi israiliyat ke dalam penafsiran Al-Qur’an, terutama yang bertentangan dengan prinsip dasarnya, banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam. Diantaranya adalah:
1.      Merusak akidah Islam. Kisah Nabi Dawud as dengan isteri panglima, Uria dan kisah Nabi Muhammad saw dengan Zainab binti Jahsyi yang dikemukakan oleh Muqatil dan Ibnu Jarir, dapat dikatakan sangat mendiskreditkan pribadi nabi yang maksum, karena menggambarkan nabi sebagai pemburu nafsu sex.
2.      Memberi kesan bahwa Islam itu agama khurafat, takhayul dan menyesatkan. Hal ini tampak pada riwayat Al-Qurthubi ketika menafsirkan firman Allah:
الذين يَحْمِلون العرشَ ومَن حوله يسبّحون بحمد ربهم (المومن :7)
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya” (Al-Mukmin: 7)
Bahwa malaikat pembawa arsy itu kakinya berada di bumi yang paling bawah, sedangkan kepalanya menjulang ke arsy.
3.      Riwayat-riwayat tersebut hampir-hampir menghilangkan rasa kepercayaan pada sebagian ulama salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabiin, seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Ka’b dan Wahb bin Munabbih.
4.      Memalingkan perhatian umat Islam dalam mengkaji soal-soal keilmuan Islam. Dengan hanyut menikmati kisah-kisah israiliyat, umat Islam dapat berpaling dari yang mendasar dari pesan Al-Qur’an. Misalnya soal nama anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu tongkat Nabi Musa dan ukuran kapal Nabi Nuh. Andai saja cerita-cerita ini bermanfaat, tentu al-Quran telah menjelaskannya.
Dan yang paling memprihatinkan adalah bahwa pengaruh israiliyat dalam penafsiran Al-Qur’an dapat menimbulkan sikap apriori peminat ilmu tafsir terhadap kitab tafsir, lantaran khawatir bahwa semua kitab itu berasal dari sumber yang sama.
F. Alternatif pemecahan masalah
Untuk menghilangkan sikap apriori tersebut, maka dirasa perlu adanya langkah-langkah alternatif pemecahan masalah untuk menghadapi realitas di atas. Paling tidak pemecahan masalah tersebut hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:
1.      Harus kritis dan selektif terhadap riwayat israiliyat, sehingga dapat memilah riwayat yang sesuai dengan dasar Al-Qur’an, sesuai dengan kriteria periwayatan yang shahih dan diterima oleh akal sehat.
2.      Riwayat yang diterima tersebut hanya diambil sesuai kebutuhan, atau bisa dipakai sebagai hujjah menghadapi polemik yang dilancarkan kaum Yahudi dan Nasrani.
3.      ke–mujmal-an Al-Qur’an yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw (berdasarkan hadits shahih) seperti putra yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim as adalah Nabi Ismail. Seorang mufassir tidak boleh menanggapi sumber israiliyat yang mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq.
4.      Terhadap israiliyat yang oleh Ibnu taimiyah dan Ibnu Katsir masuk kategori harus didiamkan (maskut ‘anhu) sebaiknya dihindari, karena akan menimbulkan kesan seakan-akan riwayat tersebut merupakan penjelas terhadap makna firman Allah atau merupakan rincian dari kemujmalannya.
5.      Melakukan seleksi kitab-kitab tafsir dari pengaruh atau susupan kisah-kisah israiliyat.
G. Penutup
Demikianlah israiliyat menyerap ke dalam kitab-kitab tafsir. Meskipun ada ketetapan dari Nabi saw bahwa tidak semua israiliyat merupakan riwayat yang bathil, tetapi hendaknya seorang mufassir atau peminat tafsir hati-hati dalam menyikapinya. Alangkah baiknya jika seorang mufassir menahan diri untuk tidak memperluas sesuatu yang dianggap keluar dari garis Al-Qur’an dan Hadits dan lebih berkonsentrasi memikirkan hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sikap seperti ini tidak diragukan lagi merupakan perbuatan yang bijaksana dan lebih selamat.
Hanya Allah Yang Maha Tahu.


Daftar Pustaka
Ash-shaawi, Al-Maliki, Hasyiyah ‘alaa Tafsir Al-Jalalain (Beirut: Dar El-Fikr, tt)
Dr. Abdul Ghani Abdul Khaliq, Ar-Rad ‘alaa Man Yunkiru Hujjiyat As-Sunnah, (Kairo: Maktabah As-Sunnah, 1989) cet. 1
Dr. Muhammad Bultaji, Dirasaat fi At-Tafsir, (Kairo: Maktabah Asy-Syabab, 1989)
Dr. Syaikh Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Difaa’ ‘an As-Sunnah, (Kairo: Maktabah As-Sunnah, 1989) cet. 1
Manna’ Al-Qaththaan, Mabahits fi Uluum Al-Qur’an (Riyadh:Mansyuraat Al-Ashr Al-Hadits, tt)
Muhammad Al-Ghazali, Kaifa Nata’aamalu ma’a Al-Quran, (Manshurah: Dar Al-Wafaa’ li Ath-Thiba’ah: 1992) cet. 3
Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadits (Kairo: Majma’ Buhuts Islamiyyah, 1985)



[1] Manna’ Al-Qaththaan, Mabahits fi Uluum Al-Qur’an (Riyadh:Mansyuraat Al-Ashr Al-Hadits, tt) hlm. 354.
[2] Ash-shaawi, Al-Maliki, Hasyiyah ‘alaa Tafsir Al-Jalalain (Beirut: Dar El-Fikr, tt) Juz 1 hlm. 35
[3] Manna’ Al-Qaththaan, Mabahits fi Uluum Al-Qur’an (Riyadh:Mansyuraat Al-Ashr Al-Hadits, tt) hlm. 354.
[4] Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadits (Kairo: Majma’ Buhuts Islamiyyah, 1985) hlm 13
[5] ibid, hlm 15
[6] ibid hlm 83
[7] Dr Muhammad Bultaji, Dirasaat fi At-Tafsir, (Kairo: Maktabah Asy-Syabab, 1989) hlm 57.
[8] Banyak ulama yang sangat menyayangkan sikap Rasyid Ridha yang sangat keras mengomentari para sahabat dan tabiin yang meriwayatkan israiliyat. Sikap yang seharusnya tidak terjadi buat ulama sekelas Rasyid Ridha. Kritik atas sikap Rasyid Ridha ini selengkapnya bisa di baca Difa’ ‘an As-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadits karya Muhammad Husain Adz-Dzahabi dan buku-buku lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar