STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 13 Maret 2012

STRATEGI PEMBELAJARAN TAROKIB

Pada pembahasan materi strategi pembelajaran tarokib di tingkat dasar, menengah dan lanjut, kami akan membahas terlebih dahulu tentang definisi dari tema tersebut. Definisi strategi berasal dari bahasa yunani yang berarti ilmu perang atau panglima perang, maka strategi adalah suatu seni merancang operasi dalam peperangan (Iskandarwassid:2009).

Definisi pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Dimyati, dkk:2005). Sedangkan menurut Knirk bahwa pembelajaran adalah setiap pembelajaran yang dirancang guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dalam konteks belajar-mengajar.

► Definisi tarokib adalah Seperangkat pola penataan kata dalam sesuatu bahasa.
Sedangkan strategi pembelajaran atau bisa disebut dengan teknik pengajaran adalah operasionalisasi metode. Karena itu, teknik pengajaran itu berupa rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang pada prakteknya akan diperankan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas guna mencapai dan merealisasikan tujuan pembelajaran (Abdul Hamid, dkk: 2008).
Pendapat lain mengatakan dalam konteks pembelajaran bahwa strategi menurut Gagne (1974) berarti proses pembelajaran yang menyebabkan peserta didik berpikir untuk memecahkan masalah dalam mengambil keputusan (Iskandarwassid: 2009).

Strategi pembelajaran tarokib itu sendiri,dalam beberapa lembaga pendidikan seringkali dipisahkan menjadi dua, yaitu pembelajaran nahwu dan shorof. Keduannya memiliki karakteristik materi yang bebebeda. Dengan demikian, jika keduannya berdiri sendiri, maka strategi pembelajarannya tentu akan berbeda (Imam: 2009).

Kemudian arti tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim dalam materi pembahasan ini sebenarnya memiliki banyak arti, sesuai dengan konteks yang dimaksud pada tingkatannya, karena pada tiap-tiap tingkatan MI, MTs, MA dan marhalah jami’ah itu juga memiliki pembagian dalam tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim. Namun di sini kami lebih menspesifikasikan tingkat mubtadi’ setara dengan SD/MI, tingkat mutawasith setara dengan SMP/Tsanawiyah, begitu pun dengan tingkat mutaqoddim yakni setara dengan SMA/Aliyah.

Dari beberapa definisi arti di atas, telah kita ketahui arti strategi pembelajaran secara umum dan khusus, sehingga para pakar bahasa mengatakan bahwa mempelajari gramatikal merupakan media untuk mengevaluasi kalam dan kitabah seseorang وسيلة التقويم. pEserta didik dituntut untuk menghafal kaidah-kaidah dengan urutan secara tradisional yang terdapat dalam keseluruhan kitab nahwu dan shorof tanpa melihat kebutuhan peserta didik, sehingga hasilnya peserta didik hanya menguasai struktur bahasa Arab tanpa mengetahui cara mengimplementasikannya secara praktis.
Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid, baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.
Pada perkembangan terkini, pengajaran gramatikal mulai berubah pola ajar dengan mengaitkannya degan kebutuhan riil bahasa keseharian peserta didik yaitu berkisar pada pola-pola (uslub) yang digunakan dalam teks wacana, teks istima’ atau membahas kesalahan-kesalahan yang ada pada hasil karangan peserta didik. Pengajaran gramatika yang berdasarkan kebutuhan ini dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh peserta didik. Pola terakhir ini mendorong peserta didik untuk belajar qowaid secara sungguh-sungguh dan memiliki akses langsung bagi peserta didik dalam menentukan kata dan menyusun kalimat (zainuddin, dkk:2005)

Terdapat dua model pembelajaran nahwu yang dikenal dengan metode qiyasi dan istiqro’i. metode qiyasi ini diawali dengan menyajikan kaidah-kaidah dulu kemudian menyebutkan contoh-contoh’, sedangkan metode istiqroi merupakan kebalikan dari metode qiyasi, yakni pengajaran dimulai dengan menampilkan contoh-contoh kemudian disimpulkan menjadi kaidah-kaidah nahwu.
Adapun strategi dan langkah pembelajaran nahwu sesuai dengan dua metode diatas dalam penerapannya secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:


Penerapan metode qiyasi
1. Guru memulai pelajaran dengan mengutarakan tema tertentu.
2. Menjelaskan kaedah-kaidah nahwu
3. Meminta siswa untuk memahami dan menghafal kaidah-kaidah nahwu
4. Mengemukakan contoh-contoh yang berkaitan dengan kaidah
5. Memberikan kesimpulan pelajaran
6. Siswa diminta mengerjakan soal-soal latihan

Penerapan metode istiqroi
1. Guru memulai pelajaran dengan menentukan topik tertentu
2. Menampilkan contoh-contoh kalimat yang berhubungan dengan tema
3. Siswa diminta untuk membaca contoh-contoh tersebut
4. Guru menjelaskan kaidah nahwu yang terdapat dalam contoh
5. Guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang kaidah-kaidah nahwu
6. Siswa diminta untuk mengerjakan latihan-latihan
(Abdul Hamid, dkk:2008)

Contoh metode istiqro’I:
الأشجار في البستان (contoh ini adalah contoh susunan mubtada’ khobar, guru menjelaskan contoh tersebut dan menyuruh siswa untuk memperhatikan isim yang ada di awal kalimat yang bergaris bawah tersebut, dan guru menjelaskan bahwa kalimat yang ada diawal kalimat tersebut adalah mubtada’, sedangkan kalimat yang setelahnya adalah khobar).

Metode istiqroi ini dapat di terapkan di tingkatan SD/MI,SMP/ MTS dan SMA/MA, akan tetapi pada tingkatan mahasiswa, metode yang biasa digunakan terlebih dahulu adalah metode qiyasi meskipun mahasiswa tersebut belum pernah belajar tarokib.

Pemerolehan Sintaksis
Dalam bidang sintaksis, anak mulai berbahasa dengan mengungkapkan satu kata (bagian kata). Kata ini, bagi anak, sebanarnya hanyalah merupakan kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, ia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat. Seandainjya anak tersebut bernama Andi dan yang ingin dia sampaikan adalah Andi mau pipis, dia akan memilih di (untuk kata Andi), mo (untuk kata mau), dan pis (untuk kata pipis).
Chaer (2003) meringakas beberapa teoti yang terkait dengan pemerolehan Sintaksis. Pertama yaitu teori tata bahsa Pivot yang menerangkan bahwa anak cenderung menggunakan kata-kata fungsi yang bercirikan sebagai berikut:
 Terdapat pada awal atau akhir kalimat
 Jumlanya terbatas
 Jarang memunculkan kata baru
 Tidak muncul sendirian
 Tidak muncul bersamaan dalam satu kalimat, dan
 Selalu merrujuk pada kata-kata lain.
Teori kedua yaitu hubungannya tata bahasa nurani yang dikemukakan oleh Mc Neil. Mengatakan bahwa ucapan anak meskipun terdiri dari dua kata juga memiliki struktur kalimat yang menunjukkkan urutan Subjek-Verbal dengan posisi Objek sebagai opsional.
Ketiga yaitu hubungan tata bahasa dan informasi situasi yang berpijak dari teori Bloom bahwa hubungan tata bahas merujuk pada konteks atau informasi situasi berjumlah cukup. Hal ini disebabkan ketaksaan gabungan kata yang dihasilkan anak.
Keempat, teori kukulatif komplek yang dikemukakan Browm yang menyatakan bahwan pemerolehan sintaksis anak dimulai dari morfem yang dikuasai. Pada anak-anak hubungan-hubungan semantic tidak selalu sejalan dengan hubungan yang dir=terapkan oleh penutur dewasa.


Daftar Pustaka

• Hamid, Abdul, dkk. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab . Malang: UIN Press
• Imam makru. 2009. Strategi pembelajaran bahasa arab aktif. Semarang: Need’s press
• Iskandarwassid, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa.Bandung: Rosdakarya
• Zaenuddin, dkk. 2005. Metodologi dan Strategi Alternatif. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar