STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 10 November 2011

TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA

Diantara tokoh-tokoh Pendidikan di Indonesia adalah:

1.        RADEN AJENG KARTINI (1879-1904)

Raden Ajeng (RA) Kartini lahir di Mayong (Jepara), pada tanggal 21 April 1879. Hari kelahiranya ini sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Kartini. Beliau terkenal sebagai seorang tokoh yang dengan gigih memperjuangkan emansipasi wanita, yakni suatu upaya memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat sejajar dengan kaum pria.
Jenis sekolah yang dirintis dan didirikan oleh RA Kartini adalah:
1.         Sekolah Gadis di Jepara, dibuka tahun 1903.
2.         Sekolah Gadis di Rembang. (Hasbullah, 2001: 262).
Pada dasarnya apa yang dicita-citakan dan dilakukan oleh Kartini hanyalah sebagai perintis jalan, yang nantinya harus diserahkan oleh Kartini-kartini baru. Pada awalnya, pergerakan wanita dilakukan secara perseorangan, dan R.A. Kartini (1879-1904) adalah pelopornya. Setamat dari E.L.S. pada usia 12 tahun terus dipingit dan tidak melanjutkan sekolah karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu. Meskipun demikian tidak memadamkan semangatnya untuk maju. Ia banyak belajar dari membaca buku dan surat menyurat dengan teman dan kenalanya. Atas bantuan ikhtiyar teman dan kenalanya seperti Ovink Soer dan lain-lainya, pingitan menjadi longgar. Kartini berhasrat menjadi guru untuk anak-anak perempuan para bupati yang diusulkan oleh Abendanon, tetapi gagal karena gagasan sekolah tersebut ditolak pemerintah kolonial Belanda, berdasarkan penolakan dari para bupati. Beasiswa belajar di negeri Belanda yang berhasil diajukan oleh van Kol untuk Kartini dan Rukmini, adiknya, juga tidak dapat dilaksanakan. Meskipun banyak mengalami kekecewaan. Kartini berhasil membuka Sekolah wanita yang pertama di Indonesia. (Redja Mudyahardjo, 2001:285).

R.A. Kartini meninggal dalam usia cukup muda yaitu empat hari setelah melahirkan, tepatnya tanggal 17 September 1904. (Hasbullah, 2001: 262).

2.        RADEN DEWI SARTIKA (1884-1947)

Raden Dewi Sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884. sebagaimana halnya dengan RA. Kartini, Dewi Sartika juga merupakan seorang tokoh wanita yang menyalurkan perjuanganya melalui pendidikan.
Cita-cita Dewi Sartika yaitu mengangkat derajat kaum wanita Indonesia dengan jalan memajukan pendidikanya. Sebab ketika itu masyarakat cukup menghawatirkan, dimana kaum wanita tidak diberikan kesempatan untuk mengejar kemajuan. Untuk merealisasikan cita-cita pendidikanya, maka pada tahun 1904 didirikanlah sebuah sekolah yang diberi nama “Sekolah Istri”. Ketika pertama dibuka sekolah ini mempunyai murid sebanyak 20 orang, kemudian dari tahun ke tahun terus bertambah. Dan pada tahun 1909 baru dapat mengeluarkan out putnya yang pertama dengan mendapat ijazah. Pada tahun 1914 Sekolah Istri diganti namanya menjadi “Sakola Kautamaan Istri”. (Hasbullah, 2001: 263).

3.        ROHANA KUDUS 91884-1969).

Rohana Kudus dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1884 di Kota Gedang, Sumatera Barat. (Hasbullah, 2001: 263).
 Beliau adalah seorang wanita Islam yang sangat taat menjalankan ajaran agamanya, dengan giat sekali mempelopori emansipasi wanita. Ia seorang pendidik wanita yang berusaha untuk memperbaiki nasib kaum wanita Indonesia, disamping itu juga ia adalah seorang Guru Agama, Guru Kerajinan wanita, serta seorang wartawan wanita pertama di Indonesia.
Usaha-usaha Rohana Kudus adalah:
1.         Tahun 1896 saat usianya baru 12 tahun, sudah mengajar teman-teman gadis di kampungnya dalam bidang membaca dan menulis, huruf Arab dan Latin.
2.         Tahun 1905 mendidikan “Sekolah Gadis” di Kota Gedang, yang kemudian pada tahun 1911 diubah namanya menjadi “Sekolah Kerajinan Amai Satia”.
3.         Tahun 10 Juli 1912 ikut melahirkan sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Wanita dengan nama “Soenting Melajoe” di Padang. (Hasbullah, 2001: 264).

4.        KI HAJAR DEWANTARA (1889-1959)

Ki Hajar Dewantara yang sebelumnya bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. putera dari KPH. Suryaningrat, dan cucu dari Pakualam III, yang meninggalkan kebangsawananya untuk terjun dalam pergerakan kemeerdekaan Indonesia dan berjuang memperbaiki nasib rakyat. Ki hajar Dewantara masuk Sekolah Dokter Jawa di jakarta sampai tingkat  II, dan meninggalkan sekolah tersebut kembali ke Yogyakarta, karena kesulitan biaya. (Redja Mudyahardjo, 288).
Beliau adalah tokoh yang sangat berjasa di bidang pendidikan, dan beliaulah yang mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tahun 1922. dikarenakan jasanya yang sangat besar tersebut, maka sampai sekarang hari lahirnya yaitu 2 Mei diperingati sebagai Pendidikan Nasional.
Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922, pada mulanya bernama “National Onderwijs Institut Taman Siswa” di Yogyakarta. Secara lengkap bagian-bagian pendidikan pada Perguruan Taman Siswa ini adalah:
1.         Taman Indria (setingkat dengan TK).
2.         Taman Anak (setingkat kelas I-III sekolah Rendah).
3.         Taman Muda (setingkat kelas IV-VI sekolah Rendah).
4.         Taman Dewasa (setara SMP).
5.         Taman Madia (setara SMA).
6.         Taman Guru B-1 (mendidik calon guru untuk Taman Anak dan Taman Madia).
7.         Taman Guru B-2.
8.         Taman Guru B-3 (mendidik calon guru untuk taman Dewasa) Taman Guru B-3 ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A untuk Jurusan Ilmu Pasti dan Alam, dan Bagian B untuk Jurusan Budaya.
9.         Taman Guru Indria (mendidik anak wanita yang ingin manjadi guru pada Taman Indria).
Asas-asas pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, sebagai berikut:
1.         Asas kemerdekaan.
2.         Asas kodrat alam.
3.         Asas kebudayaan.
4.         Asas  kebangsaan.
5.         Asas kemanusiaan. (Hasbullah, 2001: 265).
Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Beliau telah memberikan karya terbaiknya kepada nusa dan bangsa. Semboyan “Tut Wuri Handayani” diabadikan sebagai lambang dan semboyan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Ki hajar Dewantara pernah menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabinet presidentil I, 19 Agustus 1945- 14 November 1945. ( Hasbullah, 2001: 295).
Tujuan Pendidikan menurut Beliau adalah: sebagai proses pembudayaan kodrat alam setiap individu yang kemampuan-kemampuan bawaan untuk dapat mempertahankan hidup, yang tertuju pada pencapaian kemerdekaan lahir dan batin, sehingga memperoleh keselamatan dalam hidup batiniah . ( Ki Hajar Dewantara, 1952: 24).

5.        MOHAMMAD SYAFEI ( 1899-1969)

Mohammad Syafei lahir di Kalimantan pada tahun 1899. perjuangan beliau juga dititikberatkan pada bidang pendidikan.
Pada tahun 1922 beliau menjadi guru pada Sekolah Katini di Jakarta, dan sejak itu aktifitasnya di bidang pendiikan terus bertambah. Sebagai seorang tokoh pendidikan, Mohammad Syafei berjasa besar dalam mendirikan sekolah yang diberinama “Indonesische Nederlanshe Shool” atau yang lebih dikenal dengan sebutan INS, di Kayuttanam Sumatera Barat. (Hasbullah, 2001: 266).
Sementara itu INS yang kemudian merupakan singkatan dari “Indonesian National Scholl”, menitikberatkan pendidikanya kepada dunia kerja. INS menyelenggarakan pendidikan dalam jenjang:
1.         Ruang Bawah, yakni setara dengan sekolah Rendah atau Sekolah Dasar. Lama pendidikanya 7 tahun.
2.         Ruang Atas, yakni setara dengan sekolah menengah, lama pendidikanya 6 tahun.
Adapun tujuan sekolah yang diselengagarakan oleh Mohammad Syafei adalah:
1.         Mendidik anak-anak agar mampu berpikir secara rasional.
2.         Mendidik anak-anak agar mampu bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh.
3.         Mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang berwatak baik.
4.         Menanamkan rasa persatuan. (Hasbullah, 2001: 267).
Pada zaman kemerdekaan yaitu tahun 1952, sebagai penghargaan pemerintah terhadap usaha-usaha Mohamm, meninggal dunia pada tanggal 5 Maret 1969. Meskipun beliau sudah tiada tapi jasa-jasanya dibidang pendidikan tidak akan terlupakan, apabila para lulusan INS tersebar ke berbagai pelosok tanah air, yang tentu saja kiprahnya sangat besar bagi pembangunan bangsa dan negara.
       Pendidikan menurut Syafei memiliki fungsi membantu manusia keluar sebagai pemenang dalam perkembangan kehidupan dan persaingan dalam penyempurnaan hidup lahir dan batin antar bangsa. ( Thalib Ibrahim, 1978: 25).  

6.                  KIAI HAJI AHMAD DAHLAN (1869-1923)

Ahmad Dahlan merupakan salah seorang tokoh Islam yang sangat giat memperjuangkan kemajuan umat Islam melalui bidang pendidikan. Dia adalah seorang tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogyakarta. ( Hasbullah, 2001: 268).
K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dari KH. Abubakar bin Kyi Sulaiman, khatib di masjid besar (Jami’) Kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri haji Ibrahim, seorang penghulu. (Zuhairini, 2004: 199).
Setelah ia menamatkan pendidikan dasarnya di suatu madrasah dalam bidang nahwu, fiqh dan tafsir di Yogyakarta, ia pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan ia menuntut ilmu di sana selama satu tahun. Salah seorang gurunya Syekh Khatib. Sekitar tahun 1903 ia mengunjungi kembali ke Makkah dan kemudian menetap disana selama dua tahun.
Sepulang dari Makkah yang pertama ia telah bertukar nama dengan Haji Ahmad Dahlan. Tiada berapa lama kemudian ia menikah dengan Siti Walidah putri Kyai Penghulu Haji Fadhil. (Amir Hamsyah W.S. 1968: 70)   
 K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) mendirikan Muhammadiyah pada 18 Nopember 1912. Muhammadiyah merupakan organisasi keagamaan yang mengadakan pembaharuan dalm kehidupan beragama berdasarkan Islam. Oleh karena itu, salah satu cita-citanya adalah melepaskan agama Islam dari adat istiadat kebiasaan yang jelek, supaya agama Islam dapat menyelaraskan diri dengan perubahan zaman, tetap bersifat muda dan menghindarkan diri dari kelemahan dan keburukan. Untuk mencapai hal tersebut, dipandang perlu sekali hal ikhwal agama Islam jangan hanya boleh diketahui dari pendapat alim ulama dari zaman dahulu yang tersohor, tetapi sebaliknya setiap muslim/muslimat harus dapat langsung mengarahkan sendiri hal ikhwal itu ke sumber asalnya, yaitu ke Kitab Suci Al-Qur’an, firman Tuhan yang dinyatakan melalui Nabi Muhammad.  (Redja Mudyahardjo, 2001: 280).
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yaitu:
1.         Umat Islam tidak memegang tuntutan al-Qur’an dan Hadits Nabi, sehingga menyebabkan perbuatan Syirik, bid’ah dan khurafat makin merajalela serta mencemarkan kemurnian ajaranya.
2.         Keadaan umat Islam sangat menyedihkan akibat penjajahan.
3.         Kegagalan institusi pendidikan Islam untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman, sebagai akibat dari isolasi diri.
4.         Persatuan dan kesatuan umat Islam menurun, sebagai akibat lemahnya organisasi Islam yang ada.
5.         Munculnya tantangan dari kegiatan misi Zending yang dianggap mengancam masa depan umat Islam.
   Ahmad dahlan mempunyai harapan agar guru-guru sekolah dapat meneruskan isi pelajaranya kepada murid-murid mereka pula. Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh K.H. Ahmad Dahlan kelihatanya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Budi utomo, sebagai bukti dari saran mereka agar ia membuka sebuah sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen tradisional yang terpaksa ditutup, apabila kyai yang bersangkutan meninggal. ( Deliar Noer, 1982: 87).
\ Tujuanya adalah: Terwujudnya manusia muslim, berakhlak, cakap, percaya kepada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara.
Tentang jenis-jenis sekolah yang dikembangkan adalah sebagai berikut:
1.         Sebelum Merdeka:
a.     Sekolah umum; TK, Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun.
b.    Sekolah Agama; Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Muallimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballighin (SPG Islam) 5 tahun.
2.         Sesudah Merdeka
Setelah Indonesia merdeka perkembangan pendidikan Muhammadiyah semakin pesat. Pada dasarnya ada 4 jenis lembaga pendidikan yang dikembangkanya, yaitu:
a.     Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya.
b.    Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu Madrasah Ibtidaiyah, MTs dan Madrasah Aliyah.
c.     Jenis sekolah atau madrasah khusus Muhammadiyah, itu Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabligh dan Pondok Pesantren Muhammadiyah.
d.    Perguruan Tinggi Muhammadiyah, ada yang umum dan ada yang berciri khas agama. Untuk perguruan tinggi umumnya di bawah pembinaan Kopertis Depdikbud, sedangkan perguruan tinggi agama di bawah pembinaan Kopertais Departemen Agama. (Redja Mudyahardjo, 2004: 282).
KH. Ahmad Dahlan meninggal dunia pada tanggal 25 Februari 1923, dalam usia 55 tahun, dengan meninggalkan sebuah organisasi Islam yang cukup besar dan disegani karena ketegaranya. (Zuhairini, 2004: 202).

7.         K.H. HASYIM ASY’ARI (1871-1974)

Organisasi keagamaan yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari ini bernama Nahdlatul Ulama (NU). N.U adalah organisasi keagamaan yang dipimpin oleh para ulama, dan berorentasi tradisional. Maksud perkumpulan N.U. adalah memegang teguh salah satu mazhab dari madzhab  Imam yang berempat, yaitu : 1. syafi’I, 2. maliki, 3. Hanafi, 4. Hambali, dan mengerjakan segala yang menjadikan kemaslahatan untuk agama Islam. (Redja Mudyahardjo, 2001; 282). 
 Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Pebruari 1871 di Jombang Jawa Timur. Beliau berjasa besar dalam mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926. Di samping mendirikan NU, KH. Hasyim Asy’ari dalam rangka merealisasikan cita-citanya, mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang pada tahun 1899. Mula-mula ia belajar agama Islam pada ayahnya sendiri Kyi Asy’ari. Kemudian ia belajar ke pondok pesantren di Purbolinggo, kemudian pindah lagi ke Plangitan, Semarang, Madura, dan lain-lain. (Zuhairini, 2004, 202).
Sewaktu ia belajar di Siwalan panji (Sidoarjo) pada tahun 1891, Kyi Ya’kub yang mengajarnya tertarik kepada tingkah lakunya yang baik dan sopan santunnya yang halus, sehingga ingin mengambilnya sebagai menantu, dan akhirnya ia dinikahkan dengan putri Kyainya itu bernama Khadijah (tahun 1892). Tidak lama kemudian ia pergi ke Makkah bersama istrinya untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim selama satu tahun, sedang istrinya meninggal disana. (Zuhairini, 2004: 203).
Pada kunjungan yang kedua ke Makkah ia bermukim selama delapan tahun untuk menuntut ilmu agama Islam dan bahasa Arab. Sepulang dari Makkah ia membuka pesantren untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuanya, yaitu Pesantren Tebuireng di Jombang (Pada tanggal 26 Robi’ul Awal tahun 1899 M).
Pembaharuan Tebuireng yang pertama ialah dengan mendirikan Madrasah Salafiyah (tahun 1919) sebagai tangga untuk memasuki tingkat menengah pesantren Tebuireng.
Pada tahun 1929 KH Hasyim Asy’ari menunjuk KH Ilyas menjadi kepala Madrasah Salafiyah. (Mahmud Yunus, 1979: 235). Dengan demikian KH Ilyas dapat melaksanakan hasratnya untuk memperbaharui keadaan dalam pesantren Tebuireng menurut cita-cita pendirinya KH. Hasyim Asy’ari.
Setiap bulan Sya’ban para kyai dari berbagai daerah mengunjungi pesantren Tebuireng untuk belajar selama satu bulan. Sebagai ilustrasi tentang pengakuan terhadap keahlianya. Dapat disebutkan bahwa seorang bekas gurunya pada tahun 1933 berkunjung ke Tebuireng untuk mendengarkan/mengikuti pelajaran yang ia berikan. (Deliar Noer, 1982; 250).
Sementara itu NU tidak saja bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan, tetapi sangat memperhatikan pada masalah-masalah pendidikan. Apalagi di NU ada satu bidang yang khusus menangani masalah pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan NU.
Adapun tujuan pendidikan Ma’arif adalah:
1.         Menumbuhkan jiwa pemikiran dan gagasan-gagasan yang dapat membentuk pandangan hidup bagi anak didik sesuai dengan ajaran Ahlussunah wal Jama’ah.
2.         Menanamkan sikap terbuka, watak mandiri, kemampuan bekerja sama dengan pihak lain untuk lebih baik, ketrampilan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.         Menciptakan sikap hidup yang berorentasi kepada kehidupan duniawi dan ukhrawi sebagai sebuah kesatuan.
4.         Menanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ajaran yang dinamis. (Hasbullah, 2001: 270).
N.U mengadakan ikhtiar anatar lain:
1. Mengadakan perhubungan di antara ulam-ulama yang bermazhab tersebut    diatas.
2  Memelihara kitab-kitab sebelum dipakai untuk menagajr supaya diketahui apakah kitab itu termasuk kitab-kitab Ahli Sunnah wal Jama’ah atau kitab-kitab Ahli Bid’ah.
3. Berikhtiyar memperbanyak madrasah-madrasah yang berdasarkan agama Islam.
4. Menyiarkan agama Islam berdasarkan pada madzhab tersebut di atas dengan jalan apa saja yang baik.
5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masjid-masjid, surau-surau dan pondok-pondok, begitu juga dengan hal ikhwal anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin.
6. Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tidak dilarang oleh syara agama Islam.
                Basis pendidikan N.U. adalah Pesantren. Meskipun demikian N.U. menyelenggarakan madrasah dan Sekolah Umum. (Redja Mudyahardjo, 2001:283).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar