STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 11 November 2011

PRINSIP-PRINSIP METODE MENGAJAR AL-QUR’AN HADITS

BAB I.
PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah
Mengingat mengajar pada hakekatnya merupakan upaya guru dalam menciptakan situasi belajar yang harmonis dan menyenangkan, maka diharapkan mampu menumbuhkan berbagai kegiatan belajar mengajar guru dengan perkataan lain proses belajar mengajar merupakan proses intraksi edukatif antara guru dengan siswa dengan menciptakan suasana belajar mengajar yang memberi respons terhadap usaha guru tersebut oleh sebab itu metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar bagi siswa.
            Untuk dapat memilih metode yang tepat guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip metode pengajaran, banyak para ahli berpendapat tentang prinsip-prinsip metode mengajar. Untuk itu kami akan mengangkat masalah prinsip-prinsip metode mengajar Al Qur’an Hadits.

  
BAB II
 PEMBAHASAN
PRINSIP-PRINSIP METODE MENGAJAR AL-QUR’AN HADITS

A. Pengertian Metode Mengajar Al-Qur’an Hadits
            Sebelum membicarakan prinsi-prinsip metede mengajar Al-qur’an hadits, terlebih dahulu perlu dibicarakan pengertian metode mengajar.
            Prof. DR. Ramayulis (2001 : 2) berpendapat bahwa metode adalah  cara atau jalan yang harus ditempuh atau dilalui untuk mencapai tujuan tertentu dan metode mengajar adalah jalan yang harus dilalui untuk mengajar anak-anak supaya dapat mencapai tujuan belajar dan mengajar.
            Menurut Drs. A. Muardi Chatib dan Drs. Paimun dalam buku Metodik Al-Qur’an Hadits (1982/1983 : 39) metode mengajar adalah alat atau cara untuk mencapai tujuan pengajaran, artinya tidak jauh beda dengan pendapat Prof. DR. Ramayulis.1
            Sedangkan pengajaran Al-quran Hadits adalah kegiatan menyampaikan materi ilmu Al-quran Hadits didalam proses pendidikan. Jadi metode mengajarkan Al-quran Hadits adalah memberikan tuntunan tentang jalan yang harus ditempuh didalam kegiatan menyampaikan materi ilmu Al-quran Hadits kepada anak didik.2


B. Prinsip-prinsip Metode Mengajar Al-Qur’an Hadits
            Prinsip disebut juga dengan asas atau dasar, asas adalah kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak dan sebagainya dalam hubungannya dengan metode mengajar Al-quran Hadits, berarti prinsip yang dimaksud disini adalah dasar pemikiran yang digunakan dalam mengaplikasikan metode mengajar Al-quran Hadits.
Tujuan yang ingin dicapai dalam metodelogi pengajaran Al-quran Hadits khususnya adalah tercapainya efisiensi didalam proses belajar mengajar  Al-quran Hadits. Efisiensi di sini dimaksudkan suatu prinsip didalam pendidikan dan pengajaran dimana diharapkan hanya terdapat pengorbanan yang sedikit mungkin, tetapi dapat mencapai hasil yang seoptimal mungkin. Pengorbanan yang dimaksud meliputi faktor tenaga, waktu, alat dan biayanya.
Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan metode mengajar Al-qur’an Hadits adalah :
  1. Mengetahui motivasi, kebutuhan dan minat anak didiknya.
  2. Mengetahui tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan sebelum pelaksanaan pendidikan.
  3. Mengetahui tahap kematangan, perkembangan serta perubahan anak didik
  4. Mengetahui perbedaan-perbedaan individu didalam anak didik.
  5. Memperhatikan kepahaman dan hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, pembaharuan dan kebebasan berfikir
  6. Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik.
  7. Menegakkan “ Aswah Hasanah”.

Sedangkan menurut Muhtar Yahya ada 4 prinsip :3
  1. At-Tawassu’ fil magashid la fi alat
Adalah prinsip yang menganjurkan untuk menuntut ilmu sebagai tujuan dan bukan sebagai alat
  1. Mura’tul isti’dad wa thab’i
Sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecendrungan anak didik.
  1. At-tadarruj fi talqien
\           Al-Ghazali menyebutkan “Berilah pelajaran kepada anak didik sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.
  1. Min al-mahsus ila al-ma’qul
Tidak dapat dibantah bahwa setiap manusia merasa lebih mudah memahami segala sesuatu yang dapat ditangkap didalam oleh panca indranya. Sedangkan yang bersifat hissi apalagi hal-hal yang bersifat irrasional, kemampuan akal sulit untuk menangkapnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa prinsip-prinsip metode mengajar ada 5 yaitu :4
  1. Prinsip motivasi dan tujuan belajar
  2. Prinsip tarap kematangan dan perbedaan individual
  3. Prinsip peluang pengalaman praktis
  4. Prinsip integragrasi pemahaman dan pengalaman
  5. Prinsip proses belajar mengajar fungsional dan menggembirakan
Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip metode mengajar tidak brdiri sendiri melainkan saling berhubungan satu sama lain.
Ada lagi pendapat tentang prinsip-prinsip metode mengajar yaitu :
a. Motivasi
Seorang pelajar harus menimbulkan motivasi anak menurut crider, motivasi adalah sebagai hasrat, keinginan dan minat yang timbul dari seseorang dan lansung ditunjukan kepada suatu objek.
            Sedangkan menurut S. Nasution motivasi murid adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
            Selanjutnya menurut W.H. Burton membedakan dua jenis motivasi yaitu motivasi instrinsic dan extrinsic.

b. Aktivitas    
            Kalau ditinjau dari ilmu jiwa anak, maka anak yang normal selalu bertindak dengan tingkatan perkembangan umur mereka. Ia mengadakan reaksi-reaksi terhadap lingkunganya atau adanya aksi dari lingkungan maka ia melakukan kegiatan atau aktivitas.
c. Minat dan Perhatian
            Menurut Crow and Crow minat diartikan sebagai pendorong yang menyebabkan individu memberikan perhatian kepada seseorang, sesuatu atau kepada aktivitas-aktivitas tertentu.
            Dalam mengajarkan bidang studi Al-quran Hadits seorang guru harus menghubungkan materi Al-qur’an Hadits yang diajarkanya dengan pusat minat anak melalui observasi, asosiasi dan ekspressi.

D. Keperagaan
            Pada sekolah tradisioanal murid-murid hanya mendengarkan ucapan guru, mengulang kembali dan menghafalnya. Sehingga mereka tidak tahu pengertian yang sebenarnya sehingga sering menimbulkan verbalisme, munculah seorang Tokoh J. Amos Comenius dengan bukunya “Didaktica Magma”, beliau menganjurkan pelajaran hendaklah menggunakan alat peraga yang cukup dalam metode mengajar agar mudah dalam mengajar dalam mengajar proses pembelajaran.

E. Individual
            M. J. Langevel dalam bukunya “Beknopte Paedagoggiek” menjelaskan bahwa manusia itu adalah makhluk individual, social, etis. Individu adalah manusia, orang yang memiliki pribadi sendiri dan karakteristik sendiri. Ditengah-tengah komunitas masing-masing memiliki perbedaan individual. Al-qur’an menegaskan adanya perbedaan struktur dan setatus social, adanya perbedaan individual menunjukan pula adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, dituntut guru agar tau kondisi dan metode yang tepat dalam belajar.

F. Pengulangan
            Pengajaran memerlukan banyak mengulang, pengulangan bahan yang telah dipelajari akan memperkuat hasil belajar. Syaibany menyatakan bahwa Al-qur’an banyak melakukan pengulangan maka yang dapat dijadikan dalil untuk memperkuat operlunya prinsip pengulangan dalam mengajar.

G. Ketauladanan
            Sejak pase-pase awal kehidupan manusia banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang sekitarnya, khususnya dari orang tuanya. Al-qur’an telah memberikan contoh bagaimana manusia belajar lewat meniru kisah tentang Qabil yang dapat mengetahui bagaimana mengukburkan mayat saudaranya Habil yang telah dibunuhnya, diajar oleh Allah dari meniru seekor burung gagak yang menggali-gali tanah guna menguburkan bangkai seekor burung gagak lainnya. Kecendrungan manusia untuk meniru belajar lewat peniruan, menyebabkan ketauladanan menjadi sangat pentingnya dalam proses mengajar, Rosulullah adalah suri tauladan yang baik bagi umat islam.

H. Pembiasaan
            Pembiasan adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik. Kebiasaan adalah tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi.
 BAB III
KESIMPULAN

            Metode adalah cara atau jalan yang harus ditempuh atau dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Metode mengajar adalah jalan yang harus dilalui untuk mengajar anak-anak supaya dapat mencapai tujuan belajar mengajar. Pengajaran Al-qur’an Hadits adalah kegiatan menyampaikan materi ilmu Al-qur’an Haditsdidalam proses pendidikan. Jadi metode mengajar Al-qur’an Hadits adalah memberikan tuntunan tentang jalan yang harus ditempuh didalam kegiatan menyampaikan materi ilmu Al-qur’an Hadits kepada anak didik.
            Adapun prinsip-prinsip metode mengajar Al-qur’an Hadist banyak sekali pendapat dari para Tokoh pendidikan, dan dapat kami simpulkan bahwa prinsip metode mengajar adalah motivasi, kebutuhan, dan minat yang disesuaikan, adanya prinsip tujuan, kematangan, perbedaan individu, pembawaan anak, kemampuan anak.Semua prinsip-prinsip itu harus diperhatikan atau deiketahui oleh seorang guru dalam mengajar Al-qur’an Hadits maupun pelajaran yang lain.
 
DAFTAR PUSTAKA

Chatib, Muardi dan Paimun, Metodik Al-qur’an Hadits Direktirat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag 1982/1983.
Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Penerbit Ciputat Pers Jakarta Tahun 2002.
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam Penerbit Kalam Mulia Tahun 2001.
Mansyur, Strategi Belajar Mengajar. Penerbit Depag. Tahun 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar