STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 24 Januari 2013

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH

A.      Pendahuluan
Serangkaian peristiwa telah mengantar Bani Umayyah dalam mengukir sebuah sejarah  peradaban Islam. Dengan berakhirnya masa pemerintahan Ali bin Abi Tholib, maka berakhir pula masa khilafah, yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk pemerintahan dinasti yaitu  kerajaan, yaitu dinasti Bani Umayyah.
Sebutan Daulah Umayyah berasal dari nama “Umayyah  ibn ‘Abdi Syam ibn Abdi Manaf, salah seorang pemimpin suku Quraisy pada zaman Jahiliyyah. Bani Umayyah baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW berhasil menaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah).[1]
B.       Rumusan Masalah
1.         Kapan dan Siapa sajakah Khalifah  Bani Umayyah?                                            
2.         Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Umayyah?
3.         Bagaimana sistem pemerintahannya?                           
4.         Apa penyebab runtuhnya Dinasti Bani Umayyah?
                                                         
C.      Pembahasan      
1.    Masa Pemerintahan Bani Umayyah dan para Khalifahnya
Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb Umayyah. Bani Umayyah berdiri selama 90 tahun (40 – 132H/661 -750M), beribukota di Damaskus.
Daulah  Umayyah  diperintah  oleh 14 orang khalifah. Mereka itu adalah: Mu’awiyah (41 H/661), Yazid I (60/680), Mu’awiyah  II (64/ 683), Marwan I (96/683), Abdul Malik (65/685), Walid I  (86/705), Sulaiman (96/715), Umar II (99/717), Yazid II (101/720), Hisyam (105/724), Walid II  (125/743), Yazid  III (126/744), Ibrahim (126/744), dan Marwan II (127-132/744-759).[2]  
2.    Perkembangan  Islam pada Masa  Dinasti Umayyah
Islam pada masa Dinasti Umayyah  banyak  mencapai  kemajuan,  perkembangan serta mampu memperluas  wilayah  kekuasaan, Ini  berlangsung  pada masa pemerintahan khalifah  Walid bin Abdul Malik. Pada awal pemerintahan Muawiyah bin  Abi Sufyan telah mengadakan  perluasan  wilayah  kekuasaan  hingga  daerah  sebelah  timur  India  dengan  mengutus  Mushallab  bin Abu  Sufrah dan  wilayah  barat  hingga  Byzantium,  di bawah  pimpinan  Yazid  bin Muawiyyah.  Selain  itu juga  berhasil menguasai  Afrika Utara.
Dalam usaha perluasan wilayah ke Byzantium ada tiga motivasi bagi Muawiyyah untuk menguasainya, yaitu:
1.    Byzantium merupakan basis agama Kristen Ortodok,  yang  sangat berbahaya bagi perkembangan agama Islam.
2.    Orang-orang Byzantium sering mengadakan perampokan sampai ke daerah Islam.  
3.    Byzantium merupakan wilayah yang mempunyai kekeyan yang melimpah.        
Pada masa pemerintahan berikutnya dibawah kekuasaan Walid bin Abdul Malik, berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai Afrika Utara yaitu ke Magrib al-Aqsho dan Andalusia (Spanyol). Atas kegigihan dan keberanian Musa bin Nushair dalam menguasai wilayah tersebut maka beliau diangkat oleh Walid sebagai gubernur untuk wilayah Afrika Utara. Dan ia terus melanjutkan usahanya dalam memperluas wilayah Islam sampai tepi lautan Atlantik dengan di pimpin Thariq bin ziad yang di bantu oleh Gran Julian. mereka juga diutus  untuk merebut wilayah Andalusia dan tepatnya pada tahun 711 M Thariq mendarat di sebuah Selat yang sekarang di sebut sebagai Selat Jabal Thariq atau Selat Gibraltar.           
Keberhasilan ini membuat peta perjalanan sejarah baru bagi umat Islam. Sebab satu persatu wilayah yang di lewati Thariq dapat dengan mudah di kuasainya, seperti kota Cordova, Granada dan Toledo, sehingga Agama Islam tersebar ke berbagai penjuru. Islam juga mampu memotivasi para pemeluknya untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang social, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya, sehingga di bawah kekuasaan Islam, Andalusia mampu mencapai puncak kejayaan.                                 
Selain dalam memperluas wilayah kekuasaan, Dinasti Umayyah juga mengalami perkembangan dalam bidang kebudayaan di bandingkan dengan perkembangan pada masa sebelumnya, yaitu pada masa Khulafaur Rasyidin. Demikian pula perkembangan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dengan baik. Diantara kebudayaan Islam yang mengalami perkembngn pada masa ini adalah seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan, seni ukir, dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia, dan Arab. Salah satu dari bangunan itu adalah masjid Damaskus yang di bangun pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik dengan hiasan dinding dan ukiran yang sangat indah. Contoh lain adalah bangunan masjid-masjid di Cordova yang terbuat dari batu pualam.[3]                                        
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan agama saja, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu kedokteran, filsafat, astronomi, ilmu pasti, ilmu bumi, ilmu sejarah, dan sebagainya. Kota yang menjadi pusat pusat kajian ilmu pengetahuan antara lain adalah Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova, Granada, dan lainnya. Dengan Masjid sebagai pusat pengajarannya, selain madrasah atau lembaga pendidikan yang ada.
3.    Sistem pemerintahan pada masa Daulah Umayyah
Pemindahan kekuasaan kepada Muawiyah mengakhiri bentuk demokrasi, kekhalifahan menjadi monarchi heridetis (kerajaan turun temurun), yang diperoleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Penggantian khalifah secara turun  temurun dimulai dari sikap Mu’awiyah yang mengangkat anaknya, Yazid, sebagai putera mahkota. Sikap Mu’awiyah seperti ini  dipengaruhi oleh keadaan Syiria selama dia menjadi gubernur disana. Dia memang bermaksud mencontoh monarchi heridetis di Persia dan kekaisaran Byzantium.[4]
Pada masa Abdul Malik ibn Marwan, jalannya pemerintahan di tentukan oleh empat  departemen pokok (diwan). Keempat departemen (kementrian) itu adalah:
1.    Kementrian Pajak Tanah (diwan al-kharraj) yang tugasnya mengawasi departemen keuanagan
2.    Kementrian Khatam (diwan al-Khatam) yang bertugas merancang dan mengesahkan ordonasi pemerin pemerintah.
3.    Kementrian Surat Menyurat (diwan al-Rasail), di percayakan untuk mengontrol permasalahan di daerah – daerah dan semua komunikasi dari gubernur –gunernur.
4.    Kementrian urusan perpajakan(diwan al-mustagallat).
4.    Penyebab Runtuhnya Dinasti Umayyah
Kejayaan Bani Umayyah berakhir pada masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz (Umar II). Pemerintahannya hanya bertahan 2 tahun 5 bulan    Sepeninggal Umar II kekhalifahan mulai melemah dan akhirnya hancur. Para khalifah pengganti Umar II selalu mengorbankan kepentingan umum untuk kesenangan pribadi. Perselisihan antara para putera mahkota serta perselisihan diantara para pemimpin daerah (gubernur) merupakan sebab-sebab lain yang membawa kehancuran kekuasaan Bani Umayyah. Abu al-Abbas mengadakan kerja sama dengan kaum Syi’ah. Pada tahun 750 M pertempuran terakhir antara pasukan Abbasiyah yang di pimpin oleh Abu Muslim al- Khurasani dan pasukan Muawiyah terjadi di Irak. Tidak lama kemudian Damaskus jatuh ke tangan kekuasaan Bani Abbas.
Sebab-sebab runtuhnya dinasti umayyah
          Sebab Utama
1.      Terjadi persaingan kekuasaan di dalam anggota keluarga bani umayyah
2.      Tidak ada pemimpin politik dan militer yang handal yang mampu menjadikan kekuasaan dan menjaga keutuhan Negara
3.      Muncul berbagai gerakan perlawanan
4.      Serangan pasukan Abu Muslim Al- Khursani dan pasukan Abul Abbas
1.      Sebab Umum
a)      Sistem pemerintahan khalifah menjadi kerajaan
b)      Pengkhianatan kesepakatan di daumatul jandal
c)      Menyalahi perjanjian madain antara muawiyah dan Hasan bin Ali
d)     Pengangkatan putra mahkota lebih dari satu
2.      Sebab Khusus
a)      Pertentangan keras antara kelompok mudariyah yaitu kelompok arab yang menempati irak dengan kelompok himariyah yaitu kelompok arab selatan yang menempati wilayah suriah. Persaingan mencapai puncaknya, karena para khalifah bani umayyah cenderung memihak hanya kepada satu kelompok.
b)      Ketidak puasan sejumlah orang islam non arab. Mereka dari kalangan mawali yaitu bangsa yang di kalahkan dan ikut memajukan dinasti umayyah namun mereka tidak mendapat kedudukan dan hak bernegara tidak di kabulkan. Sedangkan orang arablah yang mendapat fasilitas dari penguasa bani umayyah.
c)      Kemewahan dan keborosan di kalangan istana.
d)      Terbentuknya dinasti umayyah tidak terlepas dari konflik-konflik politik. Kaum syiah dan khowarij semakin berkembang menjadi gerakan oposisi kuat yang sewaktu-waktu dapat meruntuhkan dinasti umayyah. Gerakan bani abbasiyah yang semakin kuat dan tidak tertandingi, akhirnya dapat menggeser kekuasaan dinasti umayyah.[5]
1.      Sebab intern
a)         Khalifah memiliki kekuasaan absolut
b)         Gaya hidup yang mewah
c)         Tidak ada ketentuan yang tegas mengenai sistem pengangkatan khalifah
2.      Sebab ekstern
a)         Konflik Islam dan Kristen
b)        Tidak adanya ideology pemersatu
c)         Kesulitan dalam ekonomi
d)        Keterpencilan
e)  Banyaknya gerakan pemberontakan  selama masa-masa pertengahan hingga akhir pemerinyahan bani umayyah
f)         Pertentangan antara arab utara (arab mudariyah ) dan arab selatan (arab himariyah) [6]
D.      Kesimpulan
1.      Dinasti bani umayyah didirikan oleh muawiyah bin abu sofyan bin harb bin umayyah dinasti umayyah berdiri selama 90 tahun (40-132 H/661-750 M), beribukota di damaskus.
2.      Islam pada masa dinasti umayyah mencapai banyak kemajuan di segala bidang terutama dalam perluasan wilayah.
3.      Sistem pemerintahan dinasti umayyah mengakhiri bentuk demokrasi dari khalifah sebelumnya yang menjadi monarki.
4.      Runtuhnya dinasti umayyah di sebabkan oleh banyak sebab, diantaranya sebab umum dan khusus, sebab ekstern dan intern dan ada juga sebab utama
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,Murwat. 2006.  Sejarah kebudayaan Islam. Jepara: ALKAUTSAR.
Hafid,Abdullah.2010.  Sejarah kebudayaan Islam. Solo: CV.AM-INSHOFI.
Maryam,Siti dkk. 2002. Sejarah Peradaban Islam.Yogyakarta: LESFI.
Diakses tanggal 28 Desember 2011


[1] Siti maryam, dkk, Sejarah peradaban Islam, (Yogyakarta: Lesfi, 2002): 68.
[2] Ibid, hlm.69
[3] Abdullah hafid, sejarah kebudayaan islam, (Solo: CV.AM-INSHOFI, 2010): 34.
[4] Siti maryam,dkk, sejarah peradaban islam, (Yogyakarta: LESFI, 2002): 71.
[5] Murwat Abdullah, sejarah kebudayaan islam, ( Jepara: ALKAUTSAR, 2006): 23-24.
[6] http://sindydwija.blogspot.com/2010/11/runtuhnya-dinasti-umayyah-di-andalusia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar