STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 13 April 2013

Urgensi Pendidikan Islam dalam Upaya Penanaman Spiritual Quotient pada Anak

Demikian pentingnya pendidikan Islam dalam upaya penanaman kecerdasan spiritual (spiritual quotient), sehingga bukan secara kebetulan bila ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. berkaitan dengan urgensi pendidikan, yakni iqra’, perintah membaca sebagaimana firman Allah swt dalam QS. al-Alaq (96) : 1-5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini, mengandung pesan tentang dasar pendidikan yang memuat pesan-pesan pentingnya kecerdasan spiritual. Dalam hal ini, Nabi Saw. yang ummi melalui ayat tersebut, ia diperintahkan untuk belajar membaca. Yang dibaca itu objeknya bermacam-macam, ada ayat-ayat yang tertulis (ayah Alquraniyah), dan ada pula pula ayat-ayat yang tidak tertulis (ayah al-kawniyah).
Hasil yang ditimbulkan dengan usaha belajar membaca ayat-ayat qur’aniyah, dapat menghasilkan ilmu agama seperti fikih, tauhid, akhlak dan semacamnya. Sedangkan hasil yang ditimbulkan dengan usaha membaca ayat-ayat kawniyah, dapat menghasilkan sains seperti fisika, biologi, kimia, astronomi dan semacamnya. Dapatlah dirumuskan bahwa ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qur’aniyah dan kawniyah, harus diperoleh melalui proses belajar membaca.
Kata iqra’ atau perintah membaca dalam ayat di atas, terulang dua kali yakni pada ayat 1 dan 3 karena menurut penulis bahwa, perintah pertama penekanannya adalah pengenalan kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta atas segala sesuatunya, termasuk alam dan manusia. Sedangkan pada perintah yang kedua  menekankan bahwa sumber segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan Yang Maha Tahu segalanya, sehingga implikasinya adalah sesuatu ilmu dipandang benar apabila dengan ilmu itu ia sudah sampai mengenal Tuhan (ma’rifatullah).
Untuk mengenal Tuhan dengan segala ciptaan-Nya, apa yang terbentang di seluruh jagat dan alam raya ini sebagai ayat-ayat Allah swt. juga perlu dibaca oleh manusia guna ma’rifatullah. Maka dari itu Tuhan memberikan kepada manusia alat-alat potensial yang dapat mencerdaskan manusia sebagaimana di dalam QS. al-Nahl (16): 78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(78
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Klausa لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا dalam ayat di atas mengandung makna bahwa setiap anak di saat dilahirkannya, tidak mengetahui sesuatu tentang sedikit pun, dan untuk mengetahui yang tidak diketahuinya itu, maka Allah swt. memberikan alat potensial untuk mencerdaskan dirinya berupa al-sam’u (pendengaran), al-abshara (penglihatan), dan al-afidah (hati untuk memahami).
Kata al-sam’u dan al-abshar dalam arti indera manusia, ditemukan dalam Alquran secara bergandengan sebanyak tiga belas kali. Kata al-sam’u selalu digunakan dalam bentuk tunggal, dan selalu mendahului kata al-abshar. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa al-sam’u sebagai salah satu alat indera manusia memiliki posisi penting bagi manusia itu sendiri dalam memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan. Setelah kedua kata tadi, disebutkan lagi al-af’idah yang juga merupakan bentuk jamak. Ini berarti bahwa banyak pengetahuan yang dapat diraih setiap orang, namun sebelumnya ia harus menggunakan pendengarannya dan penglihatannya terlebih dahulu secara baik.
Allah swt. memberi pendengaran, penglihatan dan hati kepada manusia, agar dipergunakan untuk merenung, memikirkan, dan mem-perhatikan apa-apa yang ada disekitarnya. Kesemuanya ini, merupakan motivasi bagi segenap umat manusia untuk mencari ilmu pengetahuan melalui jalur pendidikan, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sejak kecilnya sampai berusia lanjut. Hal ini, didasarkan atas ungkapan yang oleh sementara pakar pendidikan dianggap sebagai hadis Nabi saw., yaitu Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Lebih dari itu, ditemukan pernyataan Nabi saw. yang mensejajarkan orang yang menuntut ilmu dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Redaksi hadis tersebut, adalah:
Dari Anas bin Malik berkata : Rasulullah saw. bersabda : Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka yang bersangkutan berada di jalan Allah sampai ia kembali dari kegiatan menuntut ilmu. (HR. Turmuziy)
Di samping nas-nas yang berkenaan dengan urgensi pendidikan dalam hal upaya penanaman spiritual quotient sebagaimana yang telah disebutkan, masih banyak ditemukan firman Allah swt., maupun hadits Nabi saw. yang secara implisit sangat sejalan dengan nas-nas tersebut. Itu berarti bahwa pendidikan Islam bagi setiap anak dalam upaya peningkatan dan pengembagan kecerdasan spiritualnya merupakan kewajiban.
Pendidikan Islam di samping sebagai kewajiban, mutlak dibutuhkan oleh setiap anak muslim untuk kepentingan eksistensinya. Jadi pendidikan Islam dengan upaya penanaman kecerdasan spiritual tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama di saat memasuki era globalisasi yang penuh tantangan. Bahkan kalau ditinjau dari sudut agama, pendidikan Islam yang menekankan aspek kecerdasan spiritual tersebut memiliki format pemeliharaan, pemanfaatan, dan pengembangan fitrah kemanusian dalam mengantisipasi krisis spiritual di era globalisasi, karena inti pendidikan yang diajarkan Islam adalah untuk pemenuhan jati diri manusia atau esensi kemanusiaan di hadapan Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar