STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 04 Juni 2011

FILSAFAT ILMU

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perbincangan mengenai filsafat ilmu baru mulai merambak di awal abad kedua puluh, namun Francis Bacou dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad kesembilan belas dapat dikatakan sebagai peletak dasar filsafat ilmu dalam khazanah bidang filsafat secara umum. Sebagai ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian yang besar terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam hal ini ada semacam kekahawatiran dikalangan para ilmuwan dan filosof, termasuk juga kalangan agamawan, bahwa alam beserta kemajuan Iptek dapat mengancam eksistensi umat manusia, bahwa balam beserta isinya. Para Filosof terutama melihat ancaman tersebut muncul lantaran pengembangan Iptek berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosifisnya seperti landasan ontologis dan aksiologis yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan Iptek yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi Iptek sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan conceru terhadap kebahagiaan umat manusia sangat diperlukan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian filsafat ilmu ?
2. Bagaimana objek material dan formal filsafat ilmu ?
3. Bagaimana implikasi mempelajari filsafat ilmu ?
C. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui apa pengertian dari filsafat ilmu itu sendiri
2. Untuk mengetahui bagaimana filsafat ilmu memiliki objek material dan formal.
3. Untuk mengetahui bagaimana implikasi dari mempelajari filsafat ilmu tersebut.
D. MANFAAT PEMBUATAN MAKALAH
Untuk mengetahui landasan bagi filsafat ilmu dan meletakkan kembali peran dan fungsi Iptek serta permasalahan selintas tentang filsafat ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Ada berbagai definisi filsafat ilmu yang dihimpun oleh The Liang Gie[1] disini hanya akan dikemukakan empat pendapat yang dianggap paling representatif.
1. Robert Ackermann : Filsafat ilmu adalah sebuat tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.
2. Lewis White Beck : Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
3. Cornelius Benjamin : Filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan Filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, dan pranggapan-pranggapan, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual.
4. May Brodbeck : Filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
Keempat definisi tersebut memperlihatkan ruang lingkup atau cakupan yang dibahas di dalam filsafat ilmu, meliputi antara lain : (1) Komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu, (2) Sifat dasar ilmu pengetahuan, (3) Metode ilmiah, (4) Pranggapan-pranggapan ilmiah, (5) Sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Diantara faktor-faktor itu, yang paling banyak dibicarakan terutama adalah sejarah perkembangan ilmu, metode ilmiah dan sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan fikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Metode ilmiah para umumnya diartikan sebagai prosedur yang dipergunakan oleh para ilmuan dan pencarian sistematis terhadap pengetahuan baru dan peninjauan kembali pengetahuan yang telah ada.[2]

Namun, acapkali ilmuan di dalam aktivitas ilmiahnya itu terjebak ke dalam sikap pemujaan yang berlebihan terhadap metode. Sikap yang demikian ini dinamakan metode latri, yaitu menganggap metode sebagai tujuan yang hakiki dari sebuah proses ilmiah. Padahal metode ini hanya sekedar saran untuk mendapatkan kebenaran ilmiah.
B. OBJEK MATERIAL DAN FORMAL FILSAFAT ILMU
Filsfat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang ilmu yang lain, juga memiliki objek mateial dan objek formal tersendiri. Objek material atau pokok bahasan filsafat ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Disini terlihat jelas perbedaan yang hakiki antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan, Pengetahuan itu lebih bersifat umum dan didasarkan ata pengalaman sehari-hari, sedangkan Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat khusus dengan ciri-ciri sistematis, metode ilmiah tertentu, serta dapat diuji kebenarannya. Semua menusia terlibat dengan pengetahuan sejauh ia hidup secara normal dengan perangkat inderawi yang dimilikinya, namun tidak semua orang terlibat dalam aktivitas ilmiah, karena ada prasyarat yang harus dimiliki seorang ilmuwan. Prasyarat-prasyarat itu meliputi antara lain :
1. Prosedur ilmiah yang harus dipenuhi agar hasil kerja ilmiah itu diakui oleh para ilmuan lainnya.
2. Metode ilmiah yang dipergunakan, sehingga kesimpulan atau hasil temuan ilmiah itu bisa diterima entah sementara atau seterusnya oleh para ilmuwan, terutama bidang ilmu yang sejenis.
3. Diakui secara akademis karena gelar atau pendidikan formal yang ditempuhnya.
4. Imuwan harus memiliki kejujuran ilmiah sehingga tidak mengklaim hasil temuan ilmuwan lain sebagai miliknya.
5. Ilmuwan yang baik juga harus mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) yang besar, sehingga senantiasa tertarik pada perkembangan ilmu yang terbaru dalam rangka mendukung profesionalitas keilmuannya.
6. Objek formala filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan, maka landasan pengembangan ilmu pengetahuan itu dapat digambarkan sebagai berikut :
C. IMPLIKASI MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU
  1. Bagi seseorang yang mempelajari filsafat ilmu di perlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealaman secara garis besar, demikian pula seorang ahli ilmu kealaman perlu memahami dan mengetahui secara garis besar tentang ilmu sosial. Sehingga antara ilmu yang satu antara lainnya saling menyapa, bahkan dimungkinkan terjalinnya kerja sama yang harmonis memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.
  2. Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading” yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya mengaitkannya dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat di lepaskan dari kontesk kehidupan sosial-kemasyarakatan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Filsafat ilmu di perlukan kehadirannya di tengah perkembangan Iptek yang di tandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu pengetahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, maka para ilmuan akan menyadari keterbatasan dirinya dan tidak terperangkap ke dalam sikap organisasi intelektual. Hal yang lebih di perlukan diri di kalangan ilmuan, sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi ke ilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia.
B. SARAN
1. Kita sebagai para ilmuwan harus bisa memecahkan masalah serta mencari hakikat yang sebenarnya.
2. Penulis berharap saran dan pendapat demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSAKA
Mustansyir Rizal dkk, 2001, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
Bakker, A.,1992, Ontologi Atau Melabisika Umum, Kanisius, Yogyakarta.
Liek Wilardjo, 1998, “Filsafat Ilmuan Kealaman”, dalam Internship Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.
The Liang Gie, 1996, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.


[1] The Liang Gie, 1996, h.57-59
[2] Ibid, h. 110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar