STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 26 Oktober 2011

PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA MASA ANAK- ANAK

A.     Pengertian
Masa anak – anak dimaksudkan sebelum masa remaja, yaitu sebelum berumur + 12 tahun, dimana masa tersebut sebenarnya mengandung 3 periodesasi perkembangan yaitu:
Ø Umur 0 – 2 tahun disebut masa vital.
Ø Umur 2 – 6 tahun disebut masa kanak- kanak
Ø Umur 6 – 12 tahun disebut masa sekolah
Masa ini merupakan masa perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya anak normal dan sehat, maka selama enam bulan pertama bertambah kurang lebih dua kali lipat dari berat badannya sewaktu lahir. Masa ini adalah masa dimana anak banyak membutuhkan pertolongan dari orang tua. Usaha orang tua ini akan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis dan juga pembentukan pribadi anak.
B.     Ciri Perkembangan Fisik Dan Psikis Keagamaan Anak- Anak
Masa kanak – kanak merupakan perkembangan psikis yang terbesar. Masa ini oleh Kohnstamm dinamakan masa esthetis dimana anak mengalami perkembangan pengamatan indera yang terbesar. Masa ini anak mulai sadar akan Akunya dan mulai mengenal antara dirinya dan orang lain. Masa ini oleh orang barat disebut dengan masa Trotz atau individualisme yang pertama, yaitu suatu masa dimana anak menunjukkan kecenderungannya untuk keras kepala, menolak perintah atau saran dari orang lain.[1]
Secara umum, ciri- ciri perkembangan adalah:
Ä  Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (tinggi dan berat badan) dan aspek psikis (bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berfikir)
Ä  Terjadinya perubahan proporsi menyangkut aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi menuju realitas)
Ä  Menghilangnya tanda- tanda fisik dan psikis yamg lama (hilangnya rambut halus dan gigi susu, hilangnya masa  mengoceh, merangkak dan bertindak impulsif)
Ä  Munculnya tanda- tanda fisik dan psikis yang baru (pergantian gigi dan berkembangnya curiosity)[2]
Selain itu agama masa kanak – kanak membawa ciri masa kanak – kanak dalam menampakkan pasang surut kognitif, afektif dan volisional. Perkembangan religius dalam diri anak merupakan bagian untuk memperkembangkan pribadi dan wataknya sendiri ditengah – tengah lingkungan yang mengancam untuk menelan dan menghancurkan identitas personal.  Berikut adalah merupakan ciri pokok/ sifat agama masa kanak- kanak:
1.       Orientasi Egosentris : agama tidak dapat mengharap agama pada masa kanak- kanak. Ide anak- anak tentang Tuhan pada awalnya, dibentuk dalam gambaran orang tua dalam kerangka kebutuhan kanak- kanak untuk menghadapi lingkungan yang mengancam.
2.       Kekonkretan Antropomorfis yaitu dimana kata – kata dan gambaran keagamaan diterjemahkan kedalam pengalaman.
3.       Eksperimentasi, Inisiatif, Spontanitas : agama cenderung berbentuk teologis yang tak teramalkan dan individualistis.[3]
Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan, beserta ciri- cirinya sebagai berikut:
a.       Masa Kanak-Kanak Awal
§  Sikap reseptif meskipun banyak bertanya
§  Pandangan ke-Tuhanan yang dipersonifikasi
§  Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam
§  Hal ke-Tuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya)
b.   Masa Kanak-Kanak Akhir
§  Sikap reseptif yang disertai pengertian
§  Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional
§  Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral[4]
C.     Perkembangan Keagamaan Pada Anak – Anak.
Para ahli sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan dapat dibagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Tahapannya adalah sebagai berikut:
a.       Pertama, masa kanak- kanak sampai 7 tahun:
§  Sikap keagaman reseptif meskipun banyak bertanya
§  Pandangan ke-Tuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan)
§  Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau partisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
§  Hal ke-Tuhanan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf kemampuan kognitifnya yang masih bersifat egosentric (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya)
b.   Kedua, masa kanak usia sekolah:
§  Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian
§  Pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya.
§   Penghayatan secara rohaniah makin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral[5]
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama pada anak- anak itu melalui beberapa fase. Dalam bukunya Development Of Religious On Children ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak itu melalui 3 tingkatan yaitu:
³ The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3- 6 tahun, konsep Tuhan lebih dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, hingga dalam menanggapi masalah agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng yang kurang masuk akal.
³ The Realistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga sampai usia adolesense. Ide keTuhanan anak sudah mencerminkan konsep yang berdasarkan kepada kenyataan. Keagamaan di dasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep keTuhanan yang formalis.
³ The Individual Stage (Tingkat Individu)
Anak sudah mempunyai kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan mereka . konsep keagamaan individualistis ini terbagi atas 3 golongan, yaitu:
§  Konsep keTuhanan yang konvensional & konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
§  Konsep keTuhanan yang lebih murni dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal.
§  Konsep keTuhanan yang bersifat humanistik. Agama menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini dipengaruhi faktor intern yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa pengaruh luar yang di alaminya.[6]
Keagamaan pada anak mungkin benar bahwa tidak akan ada agama bermakna pada anak-anak (Kupky, 1928), jika kita merujuk pada sebuah sepenuhnya berkembang (matang atau diinternalisasi) jenis kehidupan beragama. Dalam rangka untuk memiliki, Äúmore dikembangkan, Au jenis kehidupan beragama, orang pertama-tama harus psikologis lebih dikembangkan. Namun, keagamaan pada anak - anak dalam arti tertentu. Agama, seperti aspek kehidupan lainnya, adalah pengembangan dari usia dini.
persepsi,bahasa,artisimbol:mekanismekognitif
.
Ada berbagai teori diajukan untuk menjelaskan perubahan perkembangan. Menonjol di antara mereka adalah model perkembangan kognitif yang diperkenalkan oleh Jean Piaget psikolog swiss. Kebanyakan dari beberapa model tahap perkembangan agama yang ada saat ini adalah keturunan intelektual Piaget, AOS pengertian umum pembangunan manusia, karena itu, walaupun beberapa gagasannya dapat dimodifikasi oleh penelitian berikutnya, ini akan membantu bagi Anda untuk memiliki gagasan umum bagaimana ia melakukan studi dan pandangannya mengenai proses perubahan dari masa kanak-kanak sampai dewasa.[7]
D.     Faktor Yang Mempengaruhi Keagamaan Pada Anak – Anak
Selama masa kanak – kanak awal, anak hidup pada tingkat rasa dan petunjuk kognitif saat kemampuan verbal dan konseptual tumbuh. Pengalaman awal dan emosional dengan orang tua dan orang – orang dewasa merupakan dasar di atas bangunan keagamaan di masa yang akan datang. Mutu afektif hubungan tersebut adalah pengajaran sadar dan kognitif .
Keberhasilan pendidikan anak sampai masa awal kanak-kanak terutamanya ditentukan oleh pihak keluarga, kerana banyak dilakukan oleh keluarga dan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan bermula pada masa pertengahan kanak-kanak, anak mendapatkan pendidikan di sekolah maka strategi pendidikan yang diterapkan oleh negaralah terutama menentukan pencapaian tujuan pendidikan anak sesuai yang digariskan Islam atau tidaknya. Selain keluarga dan negara, pihak lain yang berperanan dalam pendidikan anak adalah masyarakat.[8]
E.     Metode Penanaman Nilai – Nilai Agama Pada Usia Anak –Anak.
Nilai – nilai ajaran agama dalam kehidupan seorang anak sebelum bersekolah, akan memberikan pengaruh yang positif dalam tabiat anak tersebut, hingga ia menjadi dewasa.
Pada akhir masa anak- anak, sebagian besar mengembangkan kode moral yang dipengaruhi oleh standar moral kelompoknya & hati nurani yang membimbing perilaku sebagai pengganti pengawasan dari luar yang diperlukan pada waktu anak masih kecil. Sekalipun demikian, pelanggaran dirumah, sekolah dan lingkungan tetangga masih sering terjadi. Rasulullah menganjurkan shalat dan memisahkan tempat tidur untuk anak, “ Perintahkanlah Anak- Anak Kalian Mengerjakan Shalat Pada Usia Tujuh Tahun, Pukullah Mereka Karena Meninggalkan Shalat Pada Usia Sepuluh Tahun, Dan Pisahlah Di Antara Mereka Dalam Tempat Tidur”(HR Ahmad dan Abu Daud.
Orang tua harus terus mengawasi dan menemani perkembangan jiwa dan mental anak. Karena jika anak shaleh, orang tuanya pun yang akan memetik hasilnya. Hadits Rasul: “Bila Anak Adam Meninggal Dunia, Maka Terputuslah Amalnya Kecuali Tiga Perkara Yaitu Sedekah Jariyah, Ilmu Yang Bermanfaat Dan Anak Shaleh Yang Mendoakannya” (HR Muslim)
Berkaitan dengan pendidikan dan penanaman akhlak pada anak, Rasulullah SAW bersabda “ Didiklah Anak – Anak Kalian, Sesungguhnya Mereka Diciptakan Menjadi Generasi Yang Berbeda Dengan Generasi Zaman Kalian” (HR Tirmidzi)[9]
Ruang lingkup dan cakupan pendidikan agama islam untuk anak diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cermat dalam memilih materi dan strategi pendekatan yang tepat. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa tingkat pemehaman anak adalah terbatas. Setidaknya terdapat dua kelompok besar bidang pengembangan dalam pendidikan agama islam untuk anak, yaitu bidang pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan moral dan nilai – nilai agama.[10]
F.      Simpulan Dan Penutup
Masa kanak- kanak merupakan periode yang dinamis secara psikologis bagi perkembangan religius. Anak – anak mempunyai kemampuan untuk meniru perilaku orang dewasa dan agama beserta lembaga- lembaganya seyogyanya menyediakan model- model cara hidup dan perilaku yang anak dapat menirunya. Tetapi anggung jawab lembaga tidak terbatas disitu. Pengalaman religius anak lebih penting dan bertahan lama terjadi pada tingkat yang mendalam dan personal, dan mempunyai ciri- ciri anak yaitu egosentris, antropomorfisme konkret, dan eksperimentasi. Seharsnya lembaga tersebut menyediakan model dalam menyampaikan bahan informasi sesuai dengan tingkat dan daya tangkap anak.



DAFTAR PUSTAKA

Anshari M. Hafi. 1991.Dasar- Dasar Ilmu Jiwa Agama. Surabaya: Usaha Nasional
Crapps Robert W..1994. Perkembangan Kepribadian & Keagamaan. Yogyakarta: Kanisius
Hartati Netty, dkk. 2004. Islam dan Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada
http://akhmadsudrajat.wordpress.com
http://www.anak ciremai.com
http://www.tadikaislam.com
Jalaluddin. 1996. Psikologi Agama.  Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Palouztzian Raymond F.. 1996. Invitation To The Psychology Of Religion. Preinted In The United States Of America
Wahid Abdul. 2008. Isu –Isu Kontemporer Pendidikan Islam. Semarang: Need’s Press



[1] M. Hafi Anshari, Dasar- Dasar Ilmu Jiwa Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1991, hlm 69
[2] Netty hartati, dkk, Islam dan Psikologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, hlm 15
[3] Robert W. Crapps, Perkembangan Kepribadian & Keagamaan, Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm 15- 22
[5] http://www.anak ciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tenang-moral-dan_02.html, tanggal 19 november 2009
[6] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, hlm 66- 67
[7] Raymond F. Palouztzian, Invitation To The Psychology Of Religion, Preinted In The United States Of America, 1996, Hlm 82 - 84
[9] Netty hartati, dkk, op.cit, hlm 36 - 39
[10] Abdul Wahid, Isu –Isu Kontemporer Pendidikan Islam, Semarang: Need’s Press, 2008, hlm 258 - 259

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar