STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 14 November 2011

HARUSKAH MANUSIA DIDIDIK?

Sobar Alghazal
ABSTRAK
Bila pendidikan diartikan upaya sadar berupa memberi bantuan yang berpengaruh dari pihak dewasa kepada anak yang dianggap belum dewasa, sehingga ia dapat hidup pada masanya, maka pendidikan telah melekat pada manusia sejak mula kejadiannya yang diciptakan oleh Allah Swt Awj. Karena itu, pendidikan merupakan tindakan khas manusia, yakni aktivitas mendidik dan dididik hanya memungkinkan bagi dan hanya kepada manusia. Dengan demikian manusia harus mendidik dan dididik. Keharusan mendidik dan dididik pada manusia itu, bila dirujukkan kepada ketetapan Allah Swt Awj yang tanpa turut terlibat dan tidak melibatkan pihak manusia itu sendiri, maka ia merupakan kesemestian, yang justru semua aktivitas bahkan  keberadaan manusia apapun tanpa kecuali, adalah pendidikan. Namun bila keharusan itu dirujukkan kepada ketetapan Allah Swt Awj yang memberi ruang dan peluang terlibat dan melibatkan pihak manusia, maka ia merupakan tuntutan yang justeru berkaitan dengan kemampuan atau daya-dapat manusia sendiri, sehingga tidak semua aktivitas dan keberadaan manusia itu adalah pendidikan. Untuk itu, apakah manusia harus dididik? Sangat tergantung kepada posisi dan mendudukan manusia itu sendiri. Bila manusia didudukan sebagai yang tak berdaya dan tidak berkuatan bahkan ia tidak ada, yang-ada hanyalah Allah Swt Awj semata, maka manusia selamanya dan selama dikatakan ada harus dididik. Namun bila manusia didudukkan sebagai yang berdaya dan berkekuatan selaras dengan pemberian Allah Swt Awj, maka manusia itu harus (dituntut) untuk dididik selama masih memungkinkan untuk dididik. Ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur'an, Al-Hadits, Ijma', dan Qiyas mendudukan manusia sebagai yang dilahirkan pada posisi memiliki fitrah bertempatkan di bumi yang menantang dan mengundang manusia itu berjuang dalam rangka menyelesaikan keberadaannya itu, maka manusia harus dididik selama memungkinkan dan selama ia perlu akan pendidikan tersebut. Selebih dan sekurangnya serta segalanya yang bertautan dengan manusia tersebut ada pada Allah Swt Awj.

KATA KUNCI: Harus, Manusia, dan Dididik

PENDAHULUAN
Objek atau sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan itu sendiri pada dasarnya bermaksud membantu manusia untuk mengembangkan dan membuahkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan itu merupakan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan dasar untuk menjadi manusia.

Untuk itu tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan harus dan dapat secara benar dan tepat tujuan, manakala tindakan mendidik dari pihak yang melaksanakan pendidikan itu meliliki dan bertolak dari gambaran yang jelas tentang hakikat manusia itu; dan dari hakikat manusia itulah kita dapat menandaskan bahwa manusia itu harus dididik, sekaligus melakukan pendidikan yang seharusnya dilakukannya.

PENGERTIAN HARUS
Makna yang terkadung dalam terma harus, dapat ditangkap esensinya manakala diacukan kepada istilah must dan should be. Istilah must dan should be secara ontologis - kosmik - antropologis menyentuh persoalan dasar dan ajar pada wilayah keberadaan manusia. Kedua istilah tersebut secara aksiologis juga bersentuhan dengan perilaku manusia baik yang seharusnya maupun yang apa adanya; dan secara epistemologis berkaitan dengan masalah pengetahuan manusia.

Must secara etimologis dapat diartikan mesti. Istilah mesti ini menunjukkan adanya sifat jabari, keterpaksaan taat atau kemerundukan, seperti air senantiasa dan selamanya mengarah ke arah bawah, sehingga alam atau sunnatullah mengatur demikian. Manusia ditilik dari mesti ini, baik sisi jasmaniah maupun ruhaniyahnya ada yang terkenai ketetapan ini, sehingga tidak ada ruang dan peluang untuk dididik; dengan pendidikan yang diartikan sebagai perekayaan dari luar. Jadi manusia seperti makhluk lainnya sudah umgebung atau umwelt (manusia karungkup atau terkutat oleh ketetapan alam, sehingga tak mampu mengelak darinya),  seperti rasa lapar merupakan suatu yang mesti yang menuntut mesti pula makan. Namun, apakah setiap lapar bagi manusia mesti makan, atau makan itu mesti dari tuntutan lapar; di sinilah harus tidak mesti diartikan mesti, tapi dapat diberi arti should be yang mengandung unsur pilihan dan pertimbangan dari pihak manusia tersebut, seperti manusia yang lapar harus menahan tidak makan alatan tidak ada makanan yang seharusnya dimakan, umpamanya ada makanan itu namun berkaitan dengan kaidah halal dan haram atau makanan tersebut milik orang lain, demikian pula manusia makan bukan semata-mata lapar, namun karena  boleh jadi tuntutan budaya dan sosial seperti demi penghormatan.

Harus dalam artian should be ini senantiasa tak dapat lepas dan dilepaskan dari dapat, sehingga tuntutan itu bersangkutan dengan kemampuan. Di sini terdapat ruang dan peluang manusia harus dalam arti mesti dididik, di mana tindakan pendidikannya mesti selaras dengan bahwa tuntutan dan kemampuan senantiasa berpadu adalah mesti. Di mana dengan pendidikan iu manusia tahu, mau, dan mampu meneliti alam (Mirkwel), mengerjakan alam (Wirkwelt), dan bekerjasama dengan alam (Mitwelt), sehingga manusia tidak sekedar Umgebung atau Umwelt sebagai yang mesti, tetapi juga sekaligus Mirkwelt, Wirkwelt, dan Mitwelt sebagai yang harus.

Manusia sebagaimana makhluk selainnya terkutat oleh alam (Umgebung atau Umwelt) merupakan dasar, yakni ketetapan sunnatullah yang tak dapat dielekkan. Dasar ini bersifat universal, dalam artian berlaku untuk seluruh makhluk di alam ini dan bagi alamnya itu sendiri. Namun Mirkwelt, Wirkwelt, dan Mitwelt hanya berlaku bagi manusia, karena itu ada kemungkinan untuk dikembangkan melalui pendidikan, ini merupakan dasar spesifik bagi manusia. Dasar ini merupakan harus dalam aratian must. Sedangkan manakala manusia dibandingkan dengan makhluk lain; di mana manusia di samping Umgebung atau Umwelt juga Mirkwelt, Wirkwelt, dan Mitwelt, sedangkan makhluk lain hanya Umgebung atau Umwelt saja, maka bagi manusia hal itu adalah harus dalam arti should be. Untuk itu, Mirkwelt, Wirkwelt, dan Mitwelt mengandung dan mengundang manusia mengembangkan dirinya itu melalui pendidikan, adalah ajar. Dari sinilah manusia harus dan dapat  dididik dan/atau mendidik.

Pengetahuan  aposteriori dan a priori berkaitan dengan konsep harus yang mengandung arti must dan should be termaksud. Di mana pendidikan aposteriori (pengetahuan yang diperoleh dari teralami) suatu yang harus  (should be) yang harus (mesti) dididikan atau diajarkan; ini adalah pengetahuan ajar. Sedangkan a priori (pengetahuan yang tak teralami) merupakan hal sudah terdapat sejak primodial, sehingga termasuk pengetahuan yang harus (must) yang tak dapat dididikan atau bukan hasil belajar, maka tak harus  dididik manusia dalam kerangka perolehan pengetahuan tersebut.

MANUSIA
Manusia selaras dengan terma yang terdapat dalam ajaran Islam (insan, nas, basyar) adalah makhluk Allah Swt Awj yang multidimensional lagi unik. Makhluk jasmani dan ruhani yang berkhalifah di bumi dan berhamba kepada Allah Swt Awj. Manusia ditilik dari hal ini harus dididik.

DIDIDIK
Istilah dididik ini bertolak dari pandangan bahwa manusia adalah makhluk terbuka atau serba kemungkinan. Karena itu manusia harus dan dapat dididik untuk menjadi manusia.

KESIMPULAN
Manusia selaras dengan ajaran Islam dan sunnatullah (Al-Qur'an dan Al-Kauniyah), adalah homo educandum dan homo educabile (makhluk yang harus dan dapat dididik).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar