STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 14 November 2011

NABI DAN KITAB SUCI MENCUKUPI NAMUN KENABIAN DAN TANZIL PETUNJUK SUCI TAK PERNAH MEMADAI

ABSTRAK
Seluruh keperluan alam beserta isinya telah terukur cukup, maka hal ini menjadi sebab Allah Swt Awj tidak perlu lagi mengadakan kitab suci atau mengangkat nabi baru. Karena itu akan sia-sia penemuan formulasi kitab suci baru atau pembangkitan nabi baru. Namun dimensi praksis tidak lepas dari dialektika antara kemapanan dengan pengubahan, sehingga sisi kenabian mesti tetap bangkit, demikian pula kitab suci terus tanzil.

PENDAHULUAN
Muhammad Al-Ghazali pada saat menjelaskan mengenai Jaddidu Imanakum (Perbaharuilah Iman Kalian), menyinggung masalah wahyu (dalam hal ini Al-Qur'an). Beliau memilah ada wahyu yang pernah dan tak akan pernah turun lagi kepada, yaitu Al-Qur'an yang turun kepada Nabi Muhammad Saw. Ada yang terus turun yaitu wahyu eksperimentasi, yakni penafsiran terhadap Al-Qur'an yang tertuju kepada Rasulullah Saw termaksud. Jadi beliau menggariskan karya orang yang berbentuk interpretasi akan Al-Qur'an, di mana interpretasi tersebut sarat pengaruh pertumbuhan dan perkembangan zaman, yang tentunya menuntut dan menuntun akan adaptasi dengan jiwa zaman dan perkembangan zaman, selaras dengan problematika. "Apakah Al-Qur'an selaras dengan zaman atau zaman menyelaraskan kepadanya?"

PEMBAHASAN
Nuzul (turun) menujukkan bahwa Al-Qur'an telah turun; tanazzul (akan terus turun). Jadi Al-Qur'an telah turun dan akan terus turun. Proses nuzul telah berlalu, tetapi proses tanazzul terus berlangsung hingga hari kiamat tiba. Al-Qur'anu Nazala wa Tanazzala, Fa 'l-Nuzulu Qad Madha, wa 'l-Tanazzulu Baqin ila Yauwmi 'l-Qiyamati. (Syekh AbuMadyan Al-Maghribi, w. 594 H).

Ujaran Syekh Al-Maghribi tersebut di atas, menunjukkan bahwa Al-Qur'an turun ke dalam hati Nabi Muhammad Saw melalui lisan Jibril; juga, Al-Qur'an turun  ke dalam hati para wali Allah Swt Awj melalui illham yang dianugerahkan ke dalam hati mereka yang bening.

Allah Swt Awj berfirman "Bertaqwalah kepada Allah dan pasti Allah memberikan ilmu kepada kalian" (QSS. Al-Baqarah, 282). Nabi Muhammad Saw bersabda "Siapa yang mengamalkan ilmunya, niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui" (Al-Hadits, Yang Diriwayatkan Abu Na'im dalam Al-Hilyah).

Riyadhah (Latihan Spiritual) berupa upaya membersihkan lahir-batin; lantas hati bersih dari segala sesuatu selain Allah Swt Awj lewat pancaran cahaya Muhammad, maka cermin hati akan bersih dari semua noda alam; karat yang mewarnai jiwanya pun akan lenyap. Pada saat begitulah hati siap menerima limpahan karunia Allah Swt Awj serta layak menyaksikan dan berdialog. Ia memahami sesuatu dari Al-Qur'an yang tidak dipahami manusia. Ada makna khusus dari Al-Qur'an yang turun kepadanya, yang kebaikannya akan meliputi semua.

Pendekatan sufistik menjelaskan isi QSS. Ar-Rum, 19: "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan menghidupkan yang mati dari yang hidup", sebagai berikut:

1. Allah mengeluarkan yang hidup: ketika seorang manusia berbuat dosa; dosanya lenyap dengan meminta ampunan, merasa hina, dan menunjukkan kesedihan.
2. Sesuatu yang hidup adalah minta ampunan.
3. Dari yang mati berarti: dari dosa.
4. Sementara, ketaatan akan musnah dan hancur oleh sikap ujub dan bangga.
5. Sesuatu yang mati adalah sikap ujub dan bangga yang dikeluarkan dari sesuatu yang hidup, yaitu ketaatan.
6. Imam Ali menuturkan bahwa "Kita memiliki perhatian kepada Kitabullah dan apa yang terdapat dalam lembarannya, dan yang terdapat dalam lembaran hanyalah sejumlah persoalan yang tidak terkait dengan ma'rifat. Karena yang paling penting adalah memahami Kitabullah yang turun ke dalam hati yang bersih dari segala sesuatu selain Allah".
7. Pengosongan diri dari segala sesuatu selain Allah Swt Awj, niscaya akan terisikannya dengan ma'rifat dan rahasia.
8. Bisa jadi cahaya sudah masuk ke dalam diri, tetapi karena hati dipenuhi berbagai gambaran  dunia, cahaya itu pergi lagi.

PENUTUP
Nuzul telah berlalu, sementara proses tanazzul terus berlangsung hingga hari kiamat, menyiratkan bahwa:
1. Nuzul, prosos turun, yang dikhususkan kepada Nabi Muhammad Saw telah terjadi dan tidak akan terulang.
2. Proses turun kepada hati para wali akan terus berlangsung hingga hari kiamat.
3. Proses turun tidak hanya terbatas pada Al-Qur'an, tetapi meliputi berbagai makna dan pemahaman lain yang berasal dari Allah Swt Awj.
4. Pengetahuan dan pengenalan kepada Allah (ma'rifat) juga terdapat dalam hati bersih dari gambaran dunia.

REFERENSI
Al-Qur'anu 'l-Karim
Al-Hikam, Syekh Abu Madyan Al-Maghribi
Al-Insanu 'l-Kamil, Ibnu 'Arabi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar