STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 08 November 2011

KHUTBAH 'ID: Meneladani Kesuksesan Nabi Ibrahim Membangun Makkah (Membangun Negeri Dengan Tauhid)

إِنَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَوَاتُ اهِل  وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب:70-71)
إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jama'ah Shalat Idul Adha yang Berbahagia!
Di pagi yang barakah ini kita berkumpul memuji Allah, menyucikan-Nya, membesarkan Asma-Nya dan menegakkan ibadah shalat untuk-Nya. Selanjutnya kita akan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk taqarrub kepada-Nya. Semua ini sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Semoga dengan syukur ini, Allah menjaga dan menambah nikmat-nikmat-Nya kepada kita.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menjadi teladan dalam berislam. Tidak ada Islam kecuali yang sudah diajarkan olehnya. Tidak ada ibadah yang diterima oleh Allah kecuali sesuai dengan syari'ahnya. Dan tidak ada jalan mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan berittiba' kepadanya. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta umatnya yang senantiasa berpegang teguh dengan warisannya.
Kami berwasiat, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sesungguhnya. Yaitu dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan kita, lalu beristiqamah dengannya di mana dan kapan saja. Semoga dengan itu Allah mewafatkan kita sebagai muslim yang sesungguhnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Kaum Muslimin, Saudaraku Seiman Yang Allah Muliakan!
Setiap perayaan Idul Adha, kita diingatkan akan kemuliaan Khalilullah wa Abul Anbiya', Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam. Nabi pilihan yang telah menyambut seruan Allah Subhanahu wa Ta'ala, menunaikan setiap apa yang Dia bebankan kepadanya, dan melaksanakan syariat-Nya. Sehingga Allah menjadikannya sebagai imam (guru dan teladan) bagi seluruh manusia. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai Asyraful Anbiya' Wal Mursalin, diperintahkan untuk mengikuti millahnya.
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". " (QS. Al-Baqarah: 124)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia,"Maksudnya: Sebagai balasan atas apa yang telah ia kerjakan, seperti melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan. Maka Allah mejadikannya sebagai panutan dan imam bagi manusia yang diteladani dan diikuti." Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ* شَاكِرًا لأنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ* وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ* ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus akidahnya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Ia banyak mensyukuri nikmat-nikmat Allah, karenanya Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS. Al-Nahl: 120-123)
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik"." (QS. Al-An'am: 161)
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Cukup banyak keteladanan Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam bagi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan umat Islam, di antaranya dalam menjaga dan memperjuangkan keimanan, seperti harus berpisah dan meninggalkan bumi kelahirannya karena Allah, keberanian menyampaikan kebenaran tauhid, kufur kepada segala bentuk kesyirikan dan kekafiran, ingkar terhadap orang-orang kafir dan menyatakan permusuhan terhadap mereka, husnuzan dan yakin kepada Allah Ta'ala, berkorban jiwa dan raga untuk tegaknya keimanan di muka bumi, dan lainnya.
Dalam syariat ibadah juga demikian, banyak syariat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang merupakan warisan dari syariat Ibrahim 'Alaihis Salam, seperti memanjangkan jenggot, mencukur kumis, khitan, manasik haji, berkurban, dan lainnya.
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Salah satu kesuksesan Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam yang patut kita teladani adalah dalam membangun negeri. Daerah yang tandus dan tak berpenghuni berhasil beliau rubah menjadi negeri yang diberkahi, melimpah rizki, diliputi keamanan, dan dirindukan banyak orang. Negeri tersebut bernama Makkah al-Mukarramah.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Doa di atas dipanjatkan Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam saat meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya yang tercinta, Islamil 'Alaihis Salam di Makkah. Saat itu, Makkah adalah tempat tak berair dan tandus sehingga tidak bisa ditanami dan tidak ada buah-buahan tumbuh di sana. Menurut Al-Jazairi, tempat sekitarnya juga demikian, sehingga lengkaplah kesulitan hidup di sana. Karenanya, negeri tersebut tidak berpenghuni. Namun dengan penuh keyakinan kepada Allah beliau tinggalkan keduanya dengan perintah-Nya.
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, beliau hanya meninggalkan satu kantong yang berisi kurma dan air sebagai bekal bagi Hajar dan Ismail. Lalu Ibrahim dengan perasaan sedih berbalik kebelakang dan meninggalkan keduanya. Ummu Ismail mengikutinya dan memanggil,
يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ
"Wahai Ibrahim, kemana kamu mau pergi meninggalkan kami di lembah yang tak ada satu manusia pun dan tanpa sesuatu?"
Berulang kali Ummu Ismail, Hajar, mengulangi perkataannya. Namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Kemudian Hajar bertanya kepada suaminya,
أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟
"Apakah Allah yang memerintahkan-Mu untuk melakukan ini?" Ibrahim menjawab, "Ya." Hajar melanjutkan,
إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا
"Kalau begitu, pasti Dia tidak akan menelantarkan kami."
Idzan Laa Yudhayyi'una . . . Demi Allah, Indah sekali untian kalimat Sayyidah Hajar, istri Nabiyullah Ibrahim dan ibunda Nabiyullah Islamil 'Alaihimus Salam.
Idzan Laa Yudhayyi'una . . . Demi Allah, betapa agungnya kalimat itu jika kita mau merenungkannya.
Idzan Laa Yudhayyi'una . . . Demi Allah, betapa dalam makna kalimat itu kalau kita bisa memahaminya.
Idzan Laa Yudhayyi'una . . . Demi Allah, betapa hebat kalimat tersebut jika kita mampu mengaplikasikannya.
Idzan Laa Yudhayyi'una . . .  Adalah kalimat terakhir yang diucapkan Hajar kepada Ibrahim 'Alaihis Salam yang menunjukkan kelapangan dada terhadap keputusan Allah.
Idzan Laa Yudhayyi'una . . . Adalah kalimat yang menunjukkan kepasrahan dan ketundukan hamba kepada keputusan Rabb-Nya. Tidak ada kata protes, membantah, dan mencari-cari alasan untuk tidak menerimanya.
Kemudian Hajar kembali ke tempat ditaruhnya Ismail, sementara Ibrahim melanjutkan perjalannya. Saat ia sampai di tempat yang tak terlihat oleh Hajar, Ibrahim berdoa dengan menghadap ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya sambil berdoa,
رَبِّ إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk senantiasa Husnuzan (berperasangka baik) kepada Allah dan yakin kepada-Nya, Allah berkehendak memberikan kebaikan kepada kita dalam setiap syariat dan perintah-Nya. Maka yakinilah, saat Allah memerintahkan kepada kita untuk berpuasa (seperti puasa Ramadhan maupun puasa sunnah seperti 'Arafah hari kemarin) bukan Dia ingin menyiksa kita dan membuat kita kelaparan. Tapi Dia ingin memberikan kebaikan yang banyak kepada kita berupa pahala melimpah, diampuni dosa, kesehatan dan lainnya.
Begitu juga saat Dia perintahkan berinfak dan mengeluarkan zakat, bukan untuk membuat kita miskin. Tapi Dia ingin agar kita tidak terlalu cinta dunia, lebih mengutamakan cinta Allah daripada cinta harta sehingga manisnya iman dapat dirasakan, agar harta kita bersih dari kotorannya dan diberkahi, agar kita tidak terbebani oleh harta saat di akhirat. Allah ta'ala berfirman,
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqarah: 276)
Di saat semua manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar yang mengerikan, seram dan menakutkan sehingga seorang anak menjadi beruban, matahari didekatkan, dan mereka tenggelam oleh keringat-keringat mereka. Maka di antara mereka ada yang mendapatkan naungan Allah yang tak ada naungan di hari itu kecuali naungan-Nya, salah satunya:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
"Dan laki-laki yang bershadaqah dengan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengatahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya." (Muttafaq 'Alaih)
Dari 'Uqbah bin 'Amir berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sehingga manusia diadili oleh pengadilan Allah." Atau beliau bersabda, "Hingga keputusan di antara manusia ditetapkan (oleh pengadilan Allah)." (HR. Ibnu Huzaimah. Shahih sesuai syarat Muslim)
Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:  
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ عَنْ مِيتَةِ السُّوءِ
"Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan kemarahan Allah dan menghindarkan dari kematian buruk." (HR. al-Tirmidzi)
Menurut Ibnul 'Arabi al-Maliki, kematian buruk adalah kematian dalam kondisi bermaksiat." Dan menurut al-'Iraqi, "Secara Zahir, kematian yang buruk adalah kematian yang mana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berlindung kepada Allah darinya berupa hancur, jatuh, tenggelam, kebakaran, tergoda setan saat sakaratul maut, dan lari dari peperangan." (Tuhfatul Ahwazi: 2/330)
Demikian pula perintah menyembelih hewan kurban, bukan supaya harta kita berkurang dan kita menjadi miskin. Tapi Allah menginginkan agar kita meningkat iman, selamat di akhriat dan berbahagia di sana.
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ
Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Alah 'Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku dan rambutnya. Sesunggunya darahnya akan sampai kepada Allah 'Azza wa Jalla sebelum jatuh ke tanah… ” (HR. Ibnu Majah dan al-Tirmidzi, beliau menghassankannya)
Dan sabda beliau ketika di tanya apakah sembelihan ini, maka beliau menjawab, “Tuntunan ayah kalian Ibrahim.” Mereka bertanya, “Apa pahala yang akan kita dapatkan?” Beliau menjawab, "Setiap helai rambut, akan dibalasi dengan satu kebaikan.” Lantas mereka bertanya, "Bagaimana dengan bulu (domba)?” Maka beliau menjawab, "Setiap bulu juga akan dibalas dengan satu kebaikan.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau menghasankannya)
Disyariatkan jilbab bagi wanita muslimah juga tidak untuk menyengsarakan dan menghinakan wanita, sebagaimana tuduhan kaum orientalis dan feminisme. Tapi untuk menjaga kehormatan mereka.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)
Berjilbab tidak akan membuat wanita muslimah jauh dari jodoh, terbatasi rizkinya, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Bahkan sebaliknya, wanita yang berjilbab karena Allah, meninggalkan berTabarruj Ala Jahiliyah (mengumbar aurat ala jahiliyah) karena-Nya, pasti Allah limpahkan kebaikan padanya, diberikan rizki dari jalan yang tak pernah ia duga, serta memberi ganti yang lebih baik dari yang ia tinggalkan.
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena tkawa kepada Allah 'Azza wa Jalla , kecuali Allah akan memberikan ganti kepadamu yang lebih baik darinya." (HR. Ahmad. Syaikh al-Albani mengatakan, sanadnya shahih sesuai syarat Muslim)
Maka siapa wanita yang rela menutup auratnya karena Allah pasti Allah limpahkan karunia dan kebaikan kepadanya, karena Allah amat sangat sayang kepada hamba yang beriman.
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Demikian itu yang berlaku dalam semua syariat-Nya, wajib diyakini oleh setiap muslim bahwa apa yang Allah tetapkan bagi mereka dari syariat-Nya adalah untuk kebaikan mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Syariat-Nya tidak akan mencelakan dan membinasakan para hamba-Nya. Sebab, ALLAH AMAT SAYANG KEPADA KITA, ORANG-ORANG BERIMAN.
إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. Al-Nisa': 29)
Jika demikian, seharusnya setiap muslim jika diseru untuk menerapkan syariat Islam, tidak akan berkata "No". Sebaliknya yang dia ucapkan hanya Sami'na Wa Atha'na (kami mendengar dan kami patuh).
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Nuur: 51)
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Negeri Makkah yang awalnya tandus, tidak berair, dan tidak berpenghuni karena beratnya kehidupan di saja, berubah menjadi negeri yang diberkahi, dirindukan, melimpah rizki dan buah-buahannya. Setiap tahun jutaan orang berlomba-lomba untuk menziarahinya. Semua jenis buah-buahan ada di sana. Berbagai manfaat dien dan dunia terkumpul di tanah haram, Makkah al-Mukarramah.
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ  لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka." (QS. Al-Hajj: 27-28)
Ini semua karena doa nabi Ibrahim 'Alaihis Salam dan ketauhidan yang ia tegakkan di sana, serta ketakwaan manusia yang menghuninya, Hajar dan Ismail. Keduanya telah membuktikan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah yang disertai husnuzan kepada-Nya.
Kita lihat Ismail yang diasuh oleh Ibu shalihah. Bertahun-tahun ditinggal sang ayah, maka tatkala beranjak remaja ia datang menemui putera semata wayangnya. Bukan hanya untuk melampiaskan rasa rindu, tapi juga untuk menyampaikan perintah dari Allah yang mahaberat yang tak bisa diterima akal manusia manapun.
Ibrahim berkata kepada puteranya,
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (QS. Al-shaafat: 102)
Lalu dengan tegas sang anak menjawab,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Al-shaafat: 102)
Ini juga mejadi pelajaran bagi kita, bahwa iman dan takwa akan mendatangkan berkah pada rizki, tempat tinggal, waktu dan lainnya. Sehingga negeri yang dibangun di atas iman dan diisi dengan ketakwaan, berupa ketundukan dan kepatuhan terhadap syariat Allah pasti akan menjadi negeri makmur, berdaulat dan bertabat. Allah Ta'ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah!
Sebaliknya, negeri yang walaupun kekayaan alamnya melimpah dan SDM-nya hebat, tapi tidak beriman dan bertakwa pasti akan menjadi langganan bencana dan musibah, perpecahan dan tawuran, tidak berberkah, tidak bermartabat, dan dibawah penjajahan kaum kuffar yang terus mengeruk kekayaannya.
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)
Dan salah satu bentuk mendustakan syariat Allah di antaranya adalah dengan menolak bertahkim kepada syariat. DR. Abdullah al Mushlih dan DR. Shalah Shawi, mengatakan, "Menolak Tahkim Syariah (menjadikan syariat Islam sebagai hukum) tak ubahnya seperti mendustakan syariah. Kedua perbuatan tersebut mengeluarkan dari Islam." (Maa Laa Yasa'u al Muslima Jahluhu, hal. 100)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ   
"Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya:
  1. Tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabok, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada ada pada generasi sebelumnya.
  2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan disiksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka.
  3. Tidaklah mereka menahan membayar zakat kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka. Dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.
  4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh mereka (dari kalangan kuffar) menguasai mereka, lalu ia merampas sebagian kekayaan yang mereka miliki.
  5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) berhukum dengan selain Kitabullah dan menyeleksi apa-apa yang Allah turunkan (syariat Islam), kecuali Allah timpakan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah!
Al-Qur'an telah memberikan contohnya. Negeri Saba' yang dahulu subur, makmur, melimpah rizki, tanaman, dan buah-buahan serta tidak ada hama. Hal itu karena penduduknya beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, bertauhid dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas mereka. Sehingga Al-Qur'an menyebutnya dengan, 
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"(Negeri Saba') adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun." (QS. Saba’: 15)
Sebagian ulama ahli tafsir  (salah satunya Qatadah) mengisahkan tentang kemakmuran negeri Saba': Kaum wanita Saba’ tidak perlu bersusah payah memanen buah-buahan di kebun-kebun mereka. Untuk memanen hasil kebunnya, cukup menaruh keranjang di atas kepala, lalu melintas di kebun, maka buah-buahan yang telah masak akan berjatuhan memenuhi keranjangnya, tanpa harus memetik atau mendatangkan pekerja untuk memanennya.
Sebagian ulama lain juga menyebutkan, dahulu di negeri Saba’ tidak ada lalat, nyamuk, kutu, atau serangga lainnya. Kondisi demikian itu lantaran udaranya yang bagus, cuacanya bersih, dan berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa meliputi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/531)
Namun kemudian mereka berpaling dari mentauhidkan (mengesakan) Allah, beribadah kepadanya, dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya serta berpindah menyembah matahari dan selain-Nya. Maka Allah jadikan hancur negeri mereka dengan mengirimkan air bah dan banjir bandang. Tanaman indah dan buah-buahan yang lezat diganti dengan tanaman yang berduri dan berbuah sedikit serta pahit.
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr." (QS. Saba': 16)
Hal tersebut disebabkan oleh kesyirikan dan kekafiran mereka terhadap Allah, mendustakan kebenaran dan berpaling dari kebatilan.
ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir." (QS. Saba': 17)
Bagaimana Dengan Indonesia?
Bagaimana dengan Indonesia, gambarannya lebih dekat dengan Makkah ataukah Saba'? Prototype negeri seperti apa yang kita inginkan, Makkah dibangun di atas iman takwa? Ataukah Saba' yang akhirnya kufur dan syirik kepada Allah Ta'ala?
Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim harus cerdas mengambil pelajaran di atas. Untuk menjadi negeri yang barakah, subur, makmur, aman sentosa, melimpah rizki, tanaman dan buah-buahan adalah dengan iman dan takwa. Yaitu membenarkan ajaran Islam dan tunduk kepadanya. Bukan dengan melestarikan kesyirikan dan mengagungkan kekufuran. Bukan dengan mengadopsi ajaran dan paham orang-orang tidak beriman. Tapi seharusnya dengan membenarkan firman Allah dan tunduk patuh kepadanya dengan menerapkan syariat-Nya. Sebagai mukmin kita meyakini, bumi ini adalah milik Allah, sudah sepantasnya kalau ia diatur dengan syariat-Nya dan dimakmurkan dengan iman dan takwa kepada-Nya. Wallahu Ta'ala a'lam.
_______________________________
Kami akhiri khutbah dengan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
"Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih hidup dan sudah wafat. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Mendengar, Maha Dekat, dan yang mengabulkan permohonan doa."
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kepada kami dan kepada ibu-bapak kami dan sekalian orang-orang mukmin pada hari tegaknya hisab."
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Allah Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi"
أَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيْا هَذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حَيٌّ يَا قَيُّومٌ! هَذَا حَالُنَا لَايَخْفَى عَلَيْكَ
"Ya Allah, Jadikan negeri kami Indonesia ini sebagai negeri yang baik, yang berjalan (berlaku) hukum-hukum-Mu dan sunnah Rasul-Mu di dalamnya. Wahai Rabb Yang Mahahidup dan Yang berdiri sendiri (tidak membutuhkan yang lain, bahkan yang lain butuh kepada-Nya), inilah kondisi kami, tidak ada yang tersembunyi atas-Mu."
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
"Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Jadikanlah kemarahan dan balas dendam kami hanya kepada orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah kami adalah yang terjadi pada dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami."
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar