STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 08 November 2011

MA’RIFAT DAN MAHABBAH SEBAGAI METODE PENGENDALIAN DIRI

BAB I
PENDAHULUAN
Mahabbah dan Ma’rifah adalah sebuah istilah atau ajaran yang sering digunakan dalam ilmu tasawuf dimana antara keduanya hampir selalu berdampingan baik dalam kedudukannya maupun dalam pengertiannya. Kalau ma’rifat merupakan tingkatan pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-qalb) maka mahabbah adalah perasaan kedekatan Tuhan melalui cinta (roh), seluruh jiwanya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepada Allah SWT.
Rasa cinta itu buah dari ma’rifat, rasa cinta ada karena ma’rifat ada. Oleh sebab itu Hasan Al-Basri berkata: “Barang siapa yang ma’rifat (mengenal Tuhannya) pasti ia mencintainya”. Orang yang telah mampu memandang dengan ma’rifat maka ia akan dapat merasakan kenikmatan dan kesenangan luar biasa. Ia mampu mencintai Allah SWT dengan cinta yang sebenarnya.
Mahabbah dan Ma’rifat ini adalah merupakan azas yang sangat penting dalam pembinaan akhlak dan pembentukan kepribadian manusia yang berakhlakul karimah melalui proses pengendalian diri. Untuk itu dalam makalah ini, kami akan memberikan ulasan tentang mahabbah dan ma’rifat dalam hubungannya dengan proses pengendalian diri dengan tujuan agar pembaca memahami tentang keutamaan mahabbah dan ma’rifat ini dalm proses pembentukan kepribadian manusia islami.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Ma’rifat
Menurut arti lughawi, ma’rifat berasal dari kata ‘arafa-ya’rifu-‘irfatan, menjadi ‘irfatatan dan ma’rifatan yang artinya mengetahui dan mengenal sesuatu dengan sesungguhnya dan sempurna. Ma’rifat tersebut dipergunakan untuk menunjukkan ilmu yang diperoleh dari proses pemahaman, pemikiran serta perenungan. Para ahli teologi, ahli hukum (fuqaha’), dan sekelompok lain orang memberi nama ma’rifat kepada pengetahuan yang benar (‘ilm) tentang Tuhan. Karenanya mereka mengatakan bahwa ma’rifat lebih utama daripada pengetahuan (‘ilm).
Ma’rifat tersebut juga lebih spesifik daripada kata ilmu. Yang sering dipergunakan adalah ‘Fulan mengenal Allah’ (Fulan Ya’rifullah), bukan ‘Fulan mengetahui Allah’ (Fulan Ya’lamullah) yang berbentuk transitif dengan satu obyek penderita. Sebab manusia mengenal Allah itu adalah semata dengan merenungkan tanda-tanda-Nya, dan bukannya dengan mengetahui Dzat-Nya. Dan sebaliknya, sering dipergunakan, ‘Allah mengetahui ini’ (Allah Ya’lamu Kadza) dan bukan ‘Allah mengenal ini’ (Allah Ya’rifu Kadza) adalah, karena kata ma’rifat tersebut dipergunakan untuk menunjukkan ilmu yang diperoleh dengan berpikir.
Rasulullah bersabda:
تفكروافى خلق الله ولاتفكروافى ذاته فتهلكوا.
“Pikirkanlah tentang keadaan makhluk Allah dan janganlah kamu memikirkan tentang zat-Nya yang menyebabkan kamu binasa” (HR. Abu Nu’aim).
Jadi antara kata ilmu dan ma’rifat tersebut dari segi lafadz dan makna memang berbeda. Sedangkan perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya adalah, bahwa ma’rifat itu merupakan ilmu yang harus dilaksankan, sehingga meliputi ilmu dan amal secara total. Namun, ma’rifat tersebut lebih banyak menyangkut aktivitas hati sebagaimana sabda Nabi saw:
والله اني لاعلمكم بالله له خشية
Artinya: “Demi Allah! Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kamu, dan paling takut kepada-Nya di antara kamu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Hajar rahimahullah menegaskan, “Sabda Rasulullah saw, ‘Akulah orang di antara kalian yang paling tahu tentang Allah,’ tersebut menunjukkan, bahwa ilmu tentang Allah itu bertingkat-tingkat. Bahwa ada sebagian orang yang lebih baik daripada yang lain. Dan di antara mereka, Nabi saw. adalah yang tertinggi derajatnya. Ilmu tentang Allah itu mengharuskan adanya pengetahuan yang berkaitan dengan sesuatu berikut sifat-sifat, hukum-hukumnya, serta hal-hal yang menyangkut semuanya. Inilah keimanan yang benar.”

 Ma’rifat dalam proses pengendalian diri
Karena ma’rifat merupakan salah satu maqam tertinggi seorang mukmin sekaligus merupakan salah satu kedudukan orang yang melangkah menuju ke negeri kemenangan (surga), maka orang yang ma’rifat adalah orang yang mengenal Allah serta mengetahui jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Adapun jalan-jalan yang dapat mengantarkan menuju ma’rifat menurt Abdul Aziz Musthafa:
Pertama, bersikap sesuai dengan apa yang diajarkan di dalam –nash-nash wahyu Allah tentang sifat-sifat Allah dan asma-asma-Nya. Kemudian, baik sifat-sifat maupun asma-asma tersebut ditetapkan sebagaimana apa adanya, sehingga ma’rifatnya kepada Allah tidak akan rusak oleh penakwilan, pengurangan, atau penyelewengannya. Ketika dia mengimani sifat-sifat Allah yang ditetapkan berdasarkan wahyu tersebut, pasti dia pun akan mengenali bahwa Tuhannya yang mempunyai sifat-sifat Kemahasempurnaan dan Kemahamuliaan secara utuh.
Rasulullah bersabda:
فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي صُورَةٍ غَيْرِ صُورَتِهِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي صُورَتِهِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَتَّبِعُونَهُ.
Artinya: “Lalu Allah mendatangi mereka dengan bukan gambaranNya yang sebenar di mana gambaran tersebut mereka kenali dan berfirman kepada mereka: Akulah Tuhanmu. Mereka berkata: Kami berlindung dengan Allah daripada engkau iaitu gambaran tersebut, beginilah pendirian kami sehingga Tuhan kami benar-benar datang kepada kami kerana kami mengenaliNya. Lalu Allah mendatangi mereka dengan gambaranNya yang sebenar sebagaimana yang mereka kenali dan berfirman kepada mereka: Akulah Tuhan kamu. Mereka pun menjawab: Engkaulah Tuhanku. Mereka pun mengikutNya.” (HR.Muslim: 267)
Kedua, jalan untuk mngenal Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah dengan membuktikan ciptaan-Nya. Dan eksistensi makhluk itu sendiri sebenarnya bisa membuktikan eksistensi penciptaannya, adanya sifat Kehidupan, Kekuasaan, Ilmu dan Kehendak-Nya, termasuk kesempurnaan ciptaan-Nya serta wujud ciptaan tersebut dalam bentuk yang begitu sempurna. Semuanya menunjukkan dengan jelas dan pasti, bahwa Sang Pencipta itu adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu.
Dengan demikian orang yang ma’rifat mempunyai perilaku batin menurut Allah melalui asma-asma, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, yang kemudian menyelaraskan dengan kemauan Allah dalam masalah muamalatnya, ikhlas kepada-Nya dalam tujuan dan niat, menanggalkan akhlak tercela berikut penyakit-penyakitnya, serta bersabar menerima keputusan Allah tentang nikmat dan musibah-Nya.
Jadi setelah seseorang mencapai ma’rifat atau mengenal Tuhannya dan mencintai-Nya, ia harus membuktikan kemurnian ma’rifat dan kebenaran rasa cintanya dengan jalan beribadat kepada Allah semata-mata ingin mencari ridha-Nya, sehingga ia akan mencari dan melaksanakan hal-hal yang dicintai Allah agar bisa mendekatkan diri, dan mengenal hal-hal yang Dia benci agar bisa menjauhinya.

B. Mahabbah
Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci dan tanpa syarat kepada Allah. Pencapaian cinta ini mengubah “murid” dari “orang-orang yang menginginkan Allah” menjadi “murad”, “orang yang diinginkan Allah”. Bila ingin mendaki mulai dari derajat orang yang mencintai Allah ke derajat orang yang dicintai Allah, jalan ke arah sana adalah dengan amalan pribadinya.
Keutamaan mahabbah itu sendiri dijelaskan oleh Rasul dalam sebuah hadits:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Artinya: Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Seorang lelaki yang berasal dari pedalaman bertanya Rasulullah s.a.w: Bilakah berlakunya Kiamat? Rasulullah s.a.w bersabda: Apakah persediaan kamu untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu akan tetap bersama orang yang kamu cintai.
Amalan manusia memang masih begitu banyak kelemahan dan kekurangan, namun bila manusia telah mampu menyatukan rasa cinta (mahabbah) yang sejati, bersih dan abadi kepada Allah dan Rasul-Nya ke dalam hatinya, maka itulah yang akan mampu menutupi kekurangan-kekurangan pada amalnya, lalu mengantarkannya ke tempat yang luhur, yang boleh jadi sulit diraih angan-angannya, serta kemuliaannya sulit digapai oleh kedudukannya.
Oleh sebab itu, perawi hadits di atas, Anas bin Malik pernah mengatakan, “Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dengan harapan semoga kelak aku bersama dengan mereka, meskipun aku tidak pernah melakukan layaknya perbuatan mereka.”
Masalah semacam ini adalah masalah yang sedemikian agung yaitu kedudukan yang diperebutkan oleh mereka yang berlomba kepada kebaikan, dan menjadi kepribadian orang-orang yang beramal, dan dalam rangka menuju ke arah sana, mereka yang berlomba tersebut saling bergegas. Kedudukan tersebut menjadi wilayah fana’ para pecinta dan para ahli ibadah menentramkan jiwanya.
Keutamaan yang lain adalah dapat mengantarkan hamba yang memiliki kecintaan tersebut di antara penghuni langit. Sebab para malaikat akan selalu mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah atas kedekatannya dengan-Nya, juga karena mereka selalu memenuhi perintah Allah. sebagaimana sabda Rasulullah:
اذا أحبّ الله عبدا نادى جبريل: إن الله يحب فلانافأحبه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إنّ الله يحبّ فلانا فأ حبوه ، فيحبه أهل السماء، ثم يوظع له القبول في أهل الأرض.
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia!’ Kemudian Jibril pun mencintainya. Lalu, Jibril menyerukan kepada seluruh penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia!’ Kemudian, penghuni langit itupun mencintainya. Lalu, orang tersebut didudukkan sebagai orang yang diterima di muka bumi.” (HR. Imam Bukhari)

 Mahabbah dalam proses pengendalian diri
Karena mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai dengan sepenuh hati kepada Allah, oleh karena itu untuk mencapai pada rasa kecintaan kepada Allah ini adalah dengan jalan untuk berusaha menjaga qalbu (hati) agar tetap suci dari berbagai cacat, cela dan kerusakan yang bisa menafikan sesuatu yang dicintai oleh Allah.
Abdul Aziz Musthafa dengan mengutip pendapat dari Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa mengutamakan kecintaan kepada Allah itu dapat berdampak pada tiga hal, yang karena itu seseorang akan sanggup menaiki tangga untuk mencintai Allah meski untuk itu amat sulit diraihnya. tiga hal tersebut adalah:
1. Menekan hawa nafsu
Manusia ketika digilas oleh hawa nafsunya mempunyai dua pilihan, yaitu antara pilihan yang diridhai Allah baik berupa ucapan maupun perbuatan, dengan pilihan yang disenangi hawa nafsunya dan mengikuti kemauan tipu daya serta kerakusannya. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah berhasil mendaki dan naik ke tangga mahabbatullah kecuali dengan berhasilnya menekan keinginan hawa nafsunya yang terlarang.
Muhammad bin Abdul Qawi Al-Mardawi dalam Mandhumatul Adab mengatakan: “Kala hawa nafsu itu ditekan, akan lahir kemuliaan; Dan saat keinginannya dipenuhi, di situlah ada kehinaan yang abadi”
2. Menentang kemauan hawa nafsu orang banyak
Caranya adalah dengan tidak mengikuti mereka atau bersama-sama di belakang kemauan-kemauan mereka dalam hal yang bertentangan dengan Islam (al-haq). Sebaliknya orang mukmin tentu akan lebih mengutamakan hal-hal yang dicintai oleh Allah daripada dicintai manusia, baik untuk kepentingan diri sendiri atau sesamanya. Sikap inilah yang menuntut dirinya agar menyeru pada kebenaran dan kebajikan yang diketahui dengan cara memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta melaksanakannya dengan menyebarkan ilmunya yang shahih sehingga ini tentu merupakan mahabbatullah terbesar.
Ini merupakan warisan tugas kenabian (nubuwwah) dan tugas-tugas kerasulan, yang diterima dan dilaksanakan oleh para da’i. Dalam hal ini, mereka siap menanggung resiko sebagaimana resiko yang ditanggung oleh para Rasul. Mereka harus sabar menghadapinya sebagaimana kesabaran para Rasul ulul ‘azmi.
3. Memerangi setan berikut antek-anteknya
Termasuk bukti-bukti mahabbatullah itu adalah adanya kecintaan seseorang pada syariat Allah, sehingga ia selalu terikat kepada ketentuan-ketentuannya, mengajak sesamanya untuk ke sana, dan berjihad fi sabilillah. Di antara kesempurnaan rasa cinta tersebut adalah memerangi musuh-musuh kekasih-Nya. Musuh yang terlaknat di sini yaitu setan yang selalu menggerogoti hati manusia agar mau memenuhi panggilannya, ia juga senantiasa membuntuti keimanannya, sampai iman itu tak tersisa.
Jadi mahabbah kepada Allah akan membentuk pribadi seseorang yang baik dan selalu senang berbuat kebajikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
ان احب عبادالله من حبب اليه المعروف وحبب اليه فعا له (رواه ابن ابى الد نيا وابوالسيخ)
Artinya: “Sesungguhnya hamba Allah yang paling dicintai ialah orang yang cinta kepada kebaikan dan cinta mengerjakan kebaikan itu” (HR. Ibnu Abid dan Abu Syaikh).
Setelah membentuk kepribadian manusia maka mahabbah itu akan mempengaruhi kualitas keimanan orang tersebut. Semakin kuat iman seseorang semakin kuat pula cintanya kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah 165)
Dengan demikian seseorang akan merasakan manisnya iman mereka melalui rasa kecintaan (mahabbah)nya, sebagaimana di jelaskan oleh Rasul dalam sebuah haditsnya yang berbunyi:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ الثَّقَفِيِّ قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Tiga perkara, jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara itulah dia akan memperoleh kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, mencintai seorang hanya kerana Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam Neraka”. (H.R. Muslim 60 di dalam kitab iman)

Adapun cara-cara untuk dapat menuju Mahabbah dan Ma’rifat:
1. Tobat, baik dari dosa besar maupun dosa kecil
2. Zuhd, yaitu mengasingkan diri dari duni ramai
3. Wara (sufi), mencoba meninggalkan segala yang di dalamnya terdapat shubhat
4. Faqr, hidup sebagai orang fakir
5. Sabr, dalam menghadapi segala macam cobaan
6. Tawakkal, menyeru sebulat-bulatnya pada keputusan Tuhan
7. Ridha, merasa senang menerima segala takdir.

BAB III
KESIMPULAN

Ma’rifat merupakan tingkatan pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-qalb) sedangkan mahabbah adalah perasaan kedekatan Tuhan melalui cinta (roh), seluruh jiwanya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepada Allah SWT. Mahabbah dan Ma’rifat merupakan azas yang sangat penting dalam pembinaan akhlak dan pembentukan kepribadian manusia yang berakhlakul karimah dengan melalui proses pengendalian diri. Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci dan tanpa syarat kepada Allah. Karena mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai dengan sepenuh hati kepada Allah, oleh karena itu untuk mencapai pada rasa kecintaan kepada Allah dapat dengan cara berusaha menjaga qalbu (hati) agar tetap suci dari berbagai cacat, cela dan kerusakan yang bisa menafikan sesuatu yang dicintai oleh Allah. Menekan hawa nafsu Menentang kemauan hawa nafsu orang banyak Memerangi setan berikut antek-anteknya. Secara lughawi, ma’rifat berasal dari kata ‘arafa-ya’rifu-‘irfatan, menjadi ‘irfatatan dan ma’rifatan yang artinya mengetahui dan mengenal sesuatu dengan sesungguhnya dan sempurna. orang yang ma’rifat adalah orang yang mengenal Allah serta mengetahui jalan yang mengantarkan kepada-Nya jalan yang dapat mengantarkannya menuju ma’rifat, menurt Abdul Aziz Musthafa ada beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain; 1.Bersikap sesuai dengan apa yang diajarkan di dalam –nash-nash wahyu Allah tentang sifat-sifat Allah dan asma-asma-Nya. 2.jalan untuk mngenal Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah dengan membuktikan ciptaan-Nya. Dengan demikian orang yang ma’rifat mempunyai perilaku batin menurut Allah melalui asma-asma, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, yang kemudian menyelaraskan dengan kemauan Allah dalam masalah muamalatnya, ikhlas kepada-Nya dalam tujuan dan niat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Buny, Djamaluddin Ahmad. Menelusuri Taman-taman Mahabbah Shufiyah. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002.
Al-Hujwiri. Kasyful Mahjub. Bandung: Mizan, 1993.
Amin, M. 10 Induk Akhlak Terpuji. Kalam Mulia, 1997.
Armstrong, Amatullah. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung: Mizan, 1996.
Musthafa, Abdul Aziz. Mahabbatullah Tangga menuju Cinta Allah. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar