STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 08 November 2011

Filsafat etika

A. Riwayat tokoh-tokoh filsafat “Etika”
a. Plato
Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal disana pada tahun 347 SM dalam usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga aristokrasi yang turun menurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Ia pun bercita-cita sejak mudanya untuk menjadi orang negara. Tetapi perkembangan politik dimasanya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkan itu. Sejak berumur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pelajaran itulah yang memberi kepuasan baginya. Pengaruh Socrates makin hari makin mendalam padanya. Ia menjadi murid Socrates yang setia. Sampai pada akhirnya Socrates tetap menjadi pujaannya.
Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asalnya yaitu api, udara, air, dan tanah.
b. Aristoteles
Aristoteles lahir pada tahun 384SM di kota Stagira (Macedonia) dekat kota modern Salonika. Ia berangkat dari keturunan penasihat Raja Macedonia. Ayahnya Nicomacus, adalah seorang penasihat Raja Amyntas, dan Aristoteles muda dilingkungan istna Macedonia bersama Philip, putra raja. Dipercaya pada tahun 367SM, dalam usia 18 tahun, Aristoteles memasuki akademik Plato di Athena, tempat ia belajar dan mengajar selama dua puluh tahun, sampai saat meninggalnya Plato pada tahun 347 SM. Aristoteles wafat pada usia 62 tahun Khalkit.

c. Socrates
Socrates dijatuhi hukuman mati pada tahun 399SM. Kita tahun bahwa saat itu usianya 70 tahun, itu berarti bahwa ia lahir pada tahun 470 atau sekitarnya. Konon bapaknya, Sophronikos, adalah pemahat, tetapi berita itu agaknya tidak mempunyai dasar historis. Ibunya, Phanarete, adalah bidan. Ada kesaksian pula bahwa Socrates adalah murid arkhealous, filusuf yang menggantikan anaxagoras di Athena, kita mendengar bahwa ia membaca buku Anaxogoras karena tertarik oleh pelajarannya mengajar nus. Tetapi ia sangat kecewa tentang isi ajaran itu. Pada usia masih muda ia berbalik dari filsafat alam dan mulai mencari jalannya sendiri.

B. Pemikiran Tokoh-tokoh Filsafat Etika
a. Pokok tinjauan filosofi Plato ialah mencari pengetahuan dengan pengetahuan ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan (budi ialah tahu).
Seperti juga dengan pandangan Socrates, etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Budi ialah tahu, orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbuat baik. Sebab itu sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.
Menurut Plato ada 2 macam budi: yang pertama, budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dan pengertian. Kedua, budi biasanya terbawa oleh kebiasaan orang banyak.
b. Etik Aristoteles tujuannya mencapai “eudocmonic”, kebahagiaan sebagai “barang yang tertinggi” da;am kehidupan. Tujuan hidup, tidaklah mencapai kebaikan untuk kebaikan, melainkan merasa kebahagiaan. Yang menjadi ukuran ialah gunanya yang praktis. Tujuan kita bukan mengetahun budi itu, melainkan supaya kita menjadi orang berbudi.
Budi pikiran, sperti kebijaksanaan, kecerdasan, dan pendapat yang sehat lebih diutamakan oleh Aristoteles dari budi perangai, seperti keberanian, kesederhanaan, pemarah hati dan lain-lainnya. Supaya pandangan yang sehat yaitu budi dan tahu, mempengaruhi sikap manusia, perlulah manusia untuk menguasai diri.
Ada tiga hal yang perlu dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan hidup:
1. Manusia harus memiliki harta secukupnya, supaya hidupnya terpelihara
2. Alat yang terbaik untuk mencapai kebahagiaan ialah persahabatan
3. Keadilan
Keadilan dan persahabatan menurut Aristoteles adalah budi yang menjadi dasar hidup bersama keluarga dan negara.
c. Pemikiran Socrates menyatakan semua sumber yang ada pada ajarannya sepakat dalam mengatakan bahwa Socrates memperhatikan soal-soal praktis dalam hidup manusia. Dengan kata lain, Socrates mencurahkan perhatiannya pada filsafat yang disebut “etika”.
Menurut Socrates, tujuan tertinggi kehidupan manusia adalah membuat jiwanya sebaik mungkin boleh dicatat dengan itu. Socrates menambah arti baru pada kata “jiwa” (psyche) yang sejak waktu diterima umum dalam bahasa Yunani, yaitu jiwa sebagai inti sari kepribadian manusia. Tingkah laku manusia hanya dapat disebut baik, jika dengan itu ia berusaha supaya manusia menurut inti srinya dan bukan menurut salah satu aspek lahiriah saja dijadikan sebaik mungkin dengan cara lain lagi boleh dikatakan tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan “eudaimonia” asal saja istilah ini dimengerti sebagaimana dimaksudkan dalam bahasa Yunani. Bagi kita orang modern, kat “kebahagiaan” atau “happiness” menunjukkan suatu keadaan subyektif orang bersangkutan.
Salah satu pendirian Socrates yang terkenal ialah bahwa “keutamaan adalah pengetahuan” dari pendiriannya bahwa keutamaan adalah pengetahuan, Socrates menarik tiga kesimpulan : pertama harus dikatakan bahwa manusia tidak berbuat salah dengan sengaja, ia berbuat salah karena keliru atau ketidak tahuan. Kedua. Kesimpulan lain ialah bahwa keutamaan itu saat adanya. Ketiga, ialah bahwa keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain.” Seandainya keutamaan tidak dapat diajarakan, pendidikan tidak mungkin dilaksanakan.

C. Persamaam Pandangan Tokoh-tokoh pada Filsafat Etika
Persamaan etika Plato, Socrates dan Aristoteles pada dasarnya serupa dengan tujuannya mencapai “eudaimonic”, kebahagiaan sebagai “barang yang tertinggi”.

Kesimpulan
a. Bahwa etika sangatlah erat hubungannya dengan kehidupan manusia, sehingga apabila manusia itu beretika baik maka akan terciptalah lingkungan kehidupan yang kondusif.
b. Etika sangat penting sekali dalam lingkungan yang lebih luas, karena etika dapat menjunjung martabat manusia itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar