STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 25 November 2011

MENEROPONG DARI SUDUT KE-ANAK-AN ANAK TERHADAP PENDIDIKAN

Ada tiga terma (istilah) pada topik ini, yaitu 1). Meneropong dari sudut, 2). Ke-anak-an anak, dan 3). pendidikan.

Terma "Meneropong dari Sudut" merupakan kerja akal berupa mengolah data yang terdapat dan/atau diperoleh dari empiris. Data empiris tersebut menyangkut tentunya hidup dan perikehidupan manusia di lingkungan di dunia ini di mana ia berada dan mengada. Kalau "Menoropong dari Sudut" merupakan kerja akal termaksud, maka ia sarat sisi epistemologis. Sisi epistemologis inilah yang dapat menjembatani antara "alam keharusan/alam keniscayaan" (die Welt der Sollenden) dan "alam kenyataan empirik" (die Welt der Seienden).

"Alam Keharusan/Alam Keniscayaan" merupakan suasana kejiwaan atau kerohanian yang dalam hubungan tertentu senantiasa, merupakan suasana yang diliputi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat logik. Jadi, "Alam Keharusan/Alam Keniscayaan"  sesungguhnya sama dengan alam yang bersifat logik. Sedang "Alam Kenyataan Empirik" menunjuk kepada suasana yang bersifat inderawi dan sekaligus bersifat obyektif-kealaman; Dunia semacam ini tidaklah ditentukan oleh hukum-hukum berpikir dalam logika, melainkan ditentukan oleh prinsip-prinsip metafisik. Dengan adanya kedudukan di antara dua macam semacam ini berarti bahwa di satu pihak obyek atau sasaran peneropongan ("Meneropong dari Sudut") itu diharapkan atau dalam kenyataannya merupakan sesuatu yang dapat dipahami oleh manusia-manusia yang lain (di samping mereka yang langsung memperolehnya), di lain pihak diharapkan atau dalam kenyataannya juga dapat dalam babak terakhir ditangkap secara inderawi. Mengenai masalah kedudukan yang sentral ini dapatlah dikatakan bahwa pemikiran tanpa obyek atau sasaran merupakan sesuatu usaha seperti impian belaka, sedangkan tangkapan inderawi tanpa diolah lebih lanjut oleh akal merupakan suatu usaha yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan.. Dengan perkataan lain (seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant), apabila hakikat pendidikan yang diperoleh dari peneropongan itu hendak memperoleh bobot yang bersifat ilmiah, maka haruslah ia mempunyai obyek atau sasaran yang secara langsung maupun secara tidak langsung dapat ditangkap secara inderawi, dan yang kemudian diolah lebih lanjut oleh akal manusia. (Soejono Soemargono, 1983 hal. 5).

Terma "Ke-anak-an Anak" pepal dengan eksistensial manusiawi manusia. Ke-anak-an menyangkut hakikat keperiadaan anak; anak itu sendiri menunjuk kepada manusia itu sendiri; jadi, "Ke-anak-an Anak" menyiratkan kepatutan penelaahan antropologi (hakikat manusia), khususnya antropologi anak; juga menunjukkan bahwa dalam konsep anak itu terdapat dugaan (pertimbangan) kuat bahwa pada anak itu mengandung kemungkinan (potensia) menjadi manusia atau menjadi tidak/bukan manusia. Anak manusia begitu lahir menunjukkan sebagai makhluk terbuka; beda halnya dengan binatang sebagai makhluk tertutup. Taruh saja itik begitu menetas dari telur secara otomatis hampir tanpa bantuan dia langsung jadi itik, sehingga ia tidak memungkinkan mengitik atau membukanitik; tetapi anak manusia yang tampak takberdaya, sebagai makhluk terbuka, ia memungkinkan memanusia memungkinkan membukanmanusia, membinatang, umpamanya ia dapat mengkambing. Namun kebanyak manusia menginginkan anaknya mejadi manusia; di sini tampak perlu dan dapat manusia itu dididik dan/atau mendidik; sedangkan pendidikan senantiasa maunya mengarah kepada yang baik, lebih baih bahkan terbaik, yakni menjadi manusia (memanusia sebagaimana manusia) bukan menjadi tidak/bukanmanusia (membinatang, mengkambing, dan seterusnya). Itulah pendidikan merupakan situasi atau proses memanusiakan manusia (muda: anak) agar menjadi manusia.

Untuk itu, terma "Pendidikan" mengandung pengertian "suatu upaya memberi bantuan manusia kepada mausia agar menjadi manusia".

Uraian tersebut di atas menuntut dan menuntun ke arah bahwa:
1. Perlunya pengenalan anak dalam kedudukan dan keterpautannya dengan dan dalam kehidupan masyarakat sebagai atau dijadikan  landasan suatu berpikir dan bertindak pendidikan.

2. Ke-anak-an anak patut ditelaah dalam antropologi anak.

3. Untuk kepentingan pendidikan diperlukan suatu pandangan atau pendapat (teori) psikologi sejak semula menunjukkan nisbat (keterpautan) tertentu dengan pedagogik. Di mana pedagogik tidak memerlukan suatu psikologi yang tidak memperhatikan situasi pendidikan.

4. Situasi manusiawi yang eksistensial bagi anak menampakkan diri sebagai situasi-perlu-bantuan; anak hanya dengan bantuan (pendidik: orangtua, guru), ia dapat melangsungkan kehidupannya. Situasi tersebut mempertunjukkan bahwa sejak dini kehidupan anak menunjukkan keterpautannya manusia lain (dengan orang dewasa: pendidik: orangtua dan guru) yang, karena rasa tanggungjawab, siap memberikan bantuan kepadanya untuk memungkinkan kelangsungan pelaksanaan kehidupannya. Sejak dini kehidupan anak menunjukkan: a). Keterpautannya dengan anak lain, sebagai rekan sebayanya dalam permainan; b). bahkan ia belajar juga bertemu dengan dirinya sendiri: Het Zijn-met-en-bijde-ander en het Zijn-met-bij-zichzelf. (Beets, 1954 hal. 30).

5. Anak sebagai salah satu dimensi yang sangat penting dari pendidikan; tanpa menempatkannya dalam situasi eksistensial manusiawinya selaras dengan kehidupan ke-anak-annya hanya akan melahirkan suatu abstraksi, suatu FremdKorper belaka dari anak tersebut. (M.I. Soelaeman, 1985).

Kehidupan ke-anak-an anak tak dapat lepas dari lingkungan dan situasi di mana: (a) Dia mendapatkan dirinya; (b) Dia melangsungkan kehidupannya; (c) Tempat dari mana anak mendapatkan pengaruh; (d) Lingkungan sebagai tempat anak mendapatkan dirinya dan melangsungkan kehidupannya serta ke arah kehidupan mana anak dibantu pengarahannya secara produktif. (Taba, 1962 hal. 10). Dengan demikian, hendaknya anak tidak ditempatkan dalam suatu abstraksi, yakni lepas dari situasinya; atau tidak diartikan "berdasarkan ukuran dan timbangan: Weegbaar en Meetbaar, tetapi sebagaimana ia benar-benar menampakkan diri dan dialami oleh yang berada di dalamnya.

Dengan demikian, pendidikan dalam peneropongan dari sudut ke-anak-an anak, adalah:
1. Lingkungan dan situasi anak dalam artian (a) di mana anak mendapatkan dirinya; (b) di mana anak melangsungkan kehidupan; (c) selaras dengan situasi eksistensial ke-anak-an anak, sebagai manusia yang sedang berkembang dan dalam status perlu bantuan. (M.J. Langeveld, 1957 hal. 214).

2. Merupakan lingkungan dan situasi yang membantu anak dapat berpartisipasi dalam kehidupan termaksud secara produktif.

3. Sebagai lingkungan dan situasi yang tidak saja tampil sebagai lingkungan dan situasi kehidupan melainkan adakalanya lingkungan dan situasi mendidik bagi anak.

4. Pemikiran dan tindakan yang bertolak dari pandangan bahwa anak dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga. Kalau ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga, maka ia (a) mendapatkan pendidikan pertama dalam lingkungan keluarga dalam situasi kasih sayang; (b) berbarengan dengan kelahirnya yang telah tersedia wadah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya berupa situasi kasih sayang di lingkungan keluarga tersebut, ia (anak) berkemampuan memperoleh sendiri pendidikan, di mana perolehan sendiri itu, yang diperoleh dan diolahnya sendiri; (c) perolehannya sendiri itu menjadi bekal yang didapatkannya dalam lingkungan dari situasi kehidupan keluarganya, oleh ia (anak) bekal tersebut menjadi bekal memasuki sekolah, berpartisipasi dengan dan dalam kehidupan sekolah mendapatkan pengaruh (pendidikan) dari dan dalam sekolah itu; (d) guna pelaksanaan pendidikan anak di sekolah itu telah direncanakan dan dikembangkan kurikulum yang dengan khusus dan sengaja dirancang untuk keperluan itu.

Jadi, tidak ada pendidikan yang berlangsung dalam suatu abstrak, melainkan selalu dalam dan untuk suatu masyarakat tertentu.

Perlu suatu integral concept of curriculum yang dipandang sebagai konsekuensi dari tilikan psikologis yang mendalam dan yang memandang kepribadian anak sebagai satu dan tak terbagi: "the personality is one and indivisible." (Mannhein, 1954 hal. 55).

Sifat integral dari pendidikan berkaitan dengan dua aspek, yaitu bahwa kegiatan pendidikan berkaitan dengan (1) lembaga-lembaga sosial di mana anak itu mendapatkan dirinya seperti keluarga dan sekolah; (2) keseluruhan pribadi anak, termasuk di dalamnya jenjang perkembangannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar