STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 27 November 2011

Teori Kognitif Belajar Sosial

PERSPEKTIF BELAJAR SOSIAL (Albert Bandura)
Albert Bandura adalah psikolog Universitas Stanford Amerika Serikat yg lahir pada tahun 1925 di provinsi Alberta, Kanada, yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat. Tidak seperti rekan-rekannya sesama penganut aliran behaviorisme, Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Menurut aliran behaviorisme, setiap siswa lahir tanpa warisan / pembawaan apa-apa dari orangtuanya, dan belajar adalah kegiatan refleks-refleks jasmani terhadap stimulus yang ada (S-R theory) serta tidak ada hubungannya dengan bakat dan kecerdasan atau warisan / pembawaan.
Menurut aliran kognitif, setiap siswa lahir dengan bakat dan kemampuan mentalnya sendiri. Faktor bawaan ini memungkinkan siswa untuk menentukan merespons atau tidak terhadap stimulus, sehingga belajar tidak bersifat otomatis seperti robot.
Pendekatan teori sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).

  • Conditioning, prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (ganjaran / memberi hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman / memberi hukuman) untuk senantiasa berpikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu ia perbuat.
  • Imitation, proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru seyogianya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa. Sebagai contoh, seorang siswa mengamati gurunya sendiri menerima seorang tamu, lalu menjawab salam, menjabat tangan, beramah tamah, dan seterusnya yang dilakukan guru tersebut diserap oleh memori siswa.
Semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral siswa tersebut.
Mengimitasi model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak belajar bahasa, berhadapan dengan agresi, mengembangkan perasaan moral dan belajar perilaku yang sesuai dengan gendernya.
Analisis perilaku terapan (applied behavior analysis) merupakan kombinasi dari pengkondisian dan modeling, yang dapat membantu menghilangkan perilaku yang tidak di inginkan dan memotivasi perilaku yang diinginkan secara sosial.
Definisi belajar pada asasnya ialah tahapan perubahan perilaku siswa yang relative positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.
Belajar memiliki arti penting bagi siswa dalam:
  1. 1. melaksanakan kewajiban keagamaan
  2. 2. meningkatkan derajat kehidupan
  3. 3. mempertahankan dan mengembangkan kehidupan
Teori pembelajaran terbaru Bandura disebut dengan teori kognitif sosial. Perubahan dari satu nama ke nama yang lain ini merefleksikan meningkatnya penekanan Bandura atas respon kognitif terhadap persepsi sebagai sesuatu yang mendasar dalam perkembangan.
Menurut Bandura, dalam situasi sosial, individu bisa belajar lebih cepat hanya dengan mengamati atau melihat perilaku orang lain.  Dengan melakukan pengamatan terkait juga unsure kognitifnya, yakni adanya proses di dalam diri yang mewakili obyek-obyek yang nyata diluar apa yang diamati melalui alat inderanya. Individu mengamati perilaku tertentu melalui 4 fase yang dikemukakan Bandura (1973), Gunarsa  (1981),dan Gage dan Berlier (1984).
  1. Fase Memperhatikan (attentional phase)
Fase ini merupakan dasar dari suatu proses pengamatan. Tidak adanya perhatian yang terpusat,sulit bagi individu untuk melakukan pengamatan dan pembelajaran secara intensif. Berkembangnya perhatian individu terhadap suatu obyek berkaitan erat dengan daya ingatnya. Bagi remaja tertarik dan menaruh perhatian terhadap perilaku model tertentu, karena model tersebut dipandangnya sebagai yang hebat, unggul, berkuasa, anggun berwibawa. Selain itu berkembangnya perhatian oleh adanya kebutuhan dan minat pribadi. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khas ketika menyajikan pokok materi atau bergaya dengan mimic tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu. Semakin erat hubungannya antara kebutuhan dan minat dengan perhatian, semakin kuat daya tariknya terhadap perhatian tersebut, dan demikian pula sebaliknya.
  1. 2. Fase Menyimpan (retention phase)
Setelah fase memperhatikan, seorang individu akan memperlihatkan tingkah laku yang sama dengan model tersebut. Ini berarti individu mengingat dan menyimpan stimulus yang di terimanya dalam bentuk simbol-simbol. Menurut Bandura, bentuk-bentuk simbol tersebut tidak hanya diperoleh melalui pengamatan visual, tetapi juga verbalisasi. Pada anak-anak yang kekayaan verbalnya terbatas, maka kemampuan menirunya terbatas pada kemampuan untuk melakukan simbolisasi melalui pengamatan visual.
  1. 3. Fase Mereproduksi (reproduction phase)
Pada tahap reproduksi, segala bayangan/citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori para peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa-apa yang telah mereka serap misalnya dengan menggunakan sarana post-test.
  1. 4. Fase Motivasi (motivation phase)
Tahap terakhir dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar adalah tahap penerimaan dorongan yang berfungsi sebagai reinforcement ‘penguatan’ bersemayamnya segala informasi dalam memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta didik yang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini, ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi atau perilaku tersebut.
TEORI BELAJAR SOSIAL-KOGNITIF
Pada tahun ’60-an dan juga ’70-an, teori pembelajaran sosial berkembang pesat, dan elemen baru kemudian ditambahkan ke dalamnya : kemampuan manusia akan proses kognitif yang lebih tinggi.
Proses-proses mental mempengaruhi apa yang akan individu lakukan, dan pada umumnya, sifat-sifat kepribadian yang mereka kembangkan. Itu sebabnya mengapa dua orang dapat hidup dan menjalani peristiwa yang sama dan menarik pembelajaran yang berbeda dari peristiwa tersebut (Bandura, 2001). Semua yang bersaudara mengetahui hal ini. Contohnya, seorang anak dapat merasa dihukum oleh ayahnya sebagai bukti bahwa ayahnya kejam, namun anak lainnya dapat saja melihat perilaku yang sama sebagai wujud perhatian dan kepeduliannya terhadap anak-anaknya.
Albert Bandura, menyebut teorinya sebagai teori sosial-kognitif (Bandura,1986). Istilah umum teori sosial-kognitif (social-cognitive theory) mengacu pada semua pendekatan pembelajaran sosial yang modern (Barone, Maddux, dan Snyder, 1997). Mereka memiliki kesamaan dalam penekanan akan pentingnya kepercayaan, persepsi, dan observasi perilaku orang lain dalam menentukan apa yang kita pelajari dan bagaimana kita bertindak. Bandura, secara khusus berpendapat bahwa di dalam situasi sosial kita belajar mengenai masalah lewat pengimitasian, dan bahwa pemahaman yang penuh dari pembalajaran imitative ini mensyaratkan sejumlah konsep baru.
PEMBELAJARAN LEWAT PENGAMATAN (observational learning)
Pembelajaran sosial klasik menyatakan bahwa orang-orang belajar perilaku sosial yang sesuai dengan mengobservasi dan mengimitasi model yang mereka lakukan dengan melihat orang lain. Proses ini di kenal sebagai modeling atau pembelajaran observasional.
Pembelajaran observasional (observational learning) adalah belajar dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan apa yang terjadi setelahnya karena melakukan hal tersebut. Tetapi para ahli sosial-kognitif percaya bahwa pada manusia, pembelajaran melalui observasi ini tidak dapat benar-benar dipahami tanpa mengikutsertakan proses berpikir (Meltzoff & Gopnik, 1993). Mereka menekankan pada pengetahuan yang dihasilkan ketika seseorang melihat orang lain melakukan sesuatu dalam cara tertentu dan mendapatkan konsekuensi dari perilaku tersebut (Bandura, 1997).
Bandura (1962) berpendapat bahwa di dalam situasi-situasi sosial, manusia sering kali belajar jauh lebih cepat hanya dengan mengamati tingkah laku orang lain. Sebagai contohnya, ketika anak-anak belajar lagu-lagu baru atau bermain rumah-rumahan meniru sikap orang tua, maka mereka sering kali mereproduksi secara instant urutan panjang tingkah laku baru. Mereka tampaknya bisa memperoleh sebagian besar segmen tingkah laku baru ini sekaligus hanya melalui pengamatan saja.
Bertahun-tahun yang lalu, Albert Bandura dan para koleganya menunjukkan betapa pentingnya pembelajaran observasional ini, terutama pada anak-anak yang sedang belajar mengenai aturan dan perilaku sosial (Bandura, Ross. & Ross, 1963). Para peneliti ini meminta anak-anak di kelompok bermain untuk menonton film tentang dua orang, Miley dan Johnny, yang sedang bermain dengan mainan. Dalam film tersebut, Johnny menolak untuk berbagi mainannya dengan Miley, dan Miley memukulnya. Perilaku agresif Miley ini kemudian membuahkan hasil karena berakhir dengan ia menguasai semua mainan. Johnny yang malang akhirnya hanya duduk di sudut ruangan, sementara Miley bermain dengan sekarung penuh mainan.
Setelah melihat film tersebut, setiap anak dibiarkan sendiri selama 20 menit dalam sebuah ruang bermain yang penuh mainan, termasuk juga mainan-mainan yang ada dalam film tersebut. Dengan menyaksikan dari balik kaca satu arah, para peneliti menemukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif dalam permainannya. Beberapa anak mengikuti apa yang dilihat dalam film tersebut hampir sama persis!
Kekuatan dari pembelajaran lewat pengamatan ini terdokumentasikan dengan baik dalam literatur-literatur antropologis (Bandura dan Walter, 1963, bab 2; Honigman, 1967, h.180). Di salah satu subkultur Guatemala, anak-anak gadis belajar menenun hanya dari melihat model bekerja. Guru tenun menunjukkan cara mengoperasikan mesin tekstil sementara si gadis kecil mengamati saja. Kemudian, ketika si anak merasa siap, dia mulai mengoperasikan mesin dan biasanya langsung mampu mengoperasikannya dengan penuh kecakapan dalam percobaan pertama mereka. Si gadis kecil menunjukkan, dalam istilah Bandura (1965a), pembelajaran tanpa coba-coba (no-trial error), yaitu memperoleh tingkah laku yang baru seluruhnya dalam sekejap hanya dengan mengamati. Dia tidak perlu jatuh-bangun lewat proses-belajar trial-and-error yang sangat menyakitkan dan yang harus didampingi oleh penguatan yang berbeda-beda di tiap respons kecilnya.
Jika tingkah laku baru dicapai hanya melalui pengamatan, maka pembelajaran seperti ini bisa dikatakan bersifat kognitif. Bandura menyebut proses vicarious reinforcement (penguatan lewat pengamatan yang empatik, merasa seolah-olah kita yang melakukannya). Penguatan seperti ini termasuk dalam proses kognitf – kita merumuskan ekspektasi terhadap hasil dari tingkah laku tanpa bertindak langsung dari kita sendiri.
EMPAT KOMPONEN PEMBELAJARAN OPERASIONAL

  1. 1. Proses Perhatian
Awalnya, kita tidak bisa mengimitasi sebuah model kecuali kita memberikan perhatian yang cukup kepada model tersebut. Model-model sering kali menarik perhatian kita karena mereka berbeda, atau karena mereka memiliki pemikat berupa keberhasilan, prestise, kekuasaan atau kualitas kemenangan lainnya (Bandura, 1971, h.17). Perhatian juga diatur oleh karakter psikologis pengamatnya – seperti kebutuhan dan minat mereka – meski sedikit saja yang bisa diketahui tentang variabel-variabel yang demikian (Bandura, 1977, h.25).
  1. 2. Proses Retensi
Mengingat tindakan-tindakan dalam bentuk simbolik dari kacamata hubungan stimulus yang serempak (stimulus contiguity), yaitu asosiasi di antara stimuli yang muncul bersamaan (Bandura, 1965a; 1971, h.17).
  1. 3. Proses Reproduksi Motorik
Untuk mereproduksi tingkah laku secara akurat kita harus memiliki kemampuan motorik yang dibutuhkan dan baru dapat dikuasai seiring dengan pertumbuhan fisik dan praktik secara teratur (Bandura, 1977, h.27).
  1. 4. Proses Penguatan dan Motivasi
Bandura, membedakan antara perolehan (acquisition) dan pelaksanaan (performance) respons-respons baru. Pelaksanaan respons dipengaruhi juga oleh vicarious reinforcement, yaitu konsekuensi yang berkaitan dengan tindakan si model. Jika si anak melihat temannya dipuji karena bersumpah serapah, dia akan mengimitasinya dengan baik. Namun, jika si model dihukum karena bersumpah serapah, dia tidak akan mau menirunya (Bandura, 1971, h.46; 1977, h.117-124).
STUDI-STUDI TENTANG SOSIALISASI

Empat komponen pemodelan Bandura di atas menyediakan sebuah analisis yang gambling tentang pembelajaran imitative. Namun di ranah yang lebih luas, salah satu tujuan Bandura adalah, meski implicit, mengkaji proses sosialisasi – yaitu, proses masyarakat memengaruhi anggota-anggotanya untuk bersikap yang bisa diterima secara sosial.
Sosialisasi merupakan proses inklusif yang memengaruhi hampir tiap jenis tingkah laku, termasuk kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis.
Berikut ini kita akan membahas pembelajaran sosial mengenai target-target umum perilaku di dalam proses sosialisasi tersebut.
Agresi
Bandura (1967; Bandura dan Walters, 1953) percaya bahwa pensosialisasian agresi, sama seperti tingkah laku yang lain, sebagian dibentuk oleh pengondisian operan. Orang tua dan agen-agen sosialisasi lainnya menghargai anak-anak jika mengekspresikan agresi dengan cara-cara yang benar secara sosial (seperti di dalam permainan atau perburuan) dan menghukum jika anak-anak mengungkapkan agresi dengan cara-cara yang tidak bisa diterima secara sosial (seperti memukul anak yang lebih kecil atau lebih muda). Namu agen-agen sosialisasi ini utamanya mengajar anak-anak lewat jenis-jenis model tindakan yang mereka sendiri lakukan. Anak lantas mengamati model-model itu agresif tersebut, memerhatikan kapan model-model itu diperkuat, dan menirunya. Bandura sudah menguji proses ini di sejumlah eksperimennya, salah satunya yang sekarang dianggap klasik.
Peranan Jenis Kelamin
Selama proses sosialisai, anak-anak diajar untuk bersikap sesuai jenis kelaminnya. Masyarakat mendukung anak laki-laki untuk mengembangkan sifat-sifat maskulinnya sementara anak perempuan sifat-sifat feminine. Namun tidak tertutup kemungkinan, kalau sifat-sifat jenis kelamin ini, sebagian, berkaitan dengan masalah genetic. Para teori belajar sosial (social learning theorists) tidak menolak kemungkinan ini. namun begitu, mereka percaya bahwa akan lebih banyak informasi yang bisa diperoleh jika kita mempelajari proses-proses sosialisasi terhadap pengimitasian peran-peran khusus ini (Bandura & Walters, 1963, h.26-29; Mischel, 1970).
Di dalam pembelajaran peran-peran jenis kelamin, perbedaan antara perolehan dan pelaksanaan menjadi sangat penting (Mischel,1970). Melalui pengobservasian, anak-anak sering belajar tingkah laku kedua jenis kelamin. Namun begitu, mereka biasanya hanya menunjukkan tingkah laku yang tepat bagi jenis kelamin mereka sendiri, karena inilah yang sudah mereka perkuat untuk dilakukan. Margaret Mead (1964) mengatakan bagaimana laki-laki Eskimo didukung untuk mempraktikkan perburuan dan membangun rumah-rumah salju, sementara anak perempuan tidak. Meskipun begitu, anak perempuan mengamati anak laki-laki, dan dalam kondisi darurat mereka dapat mencapai kemampuan yang sama, meski tidak begitu baik. Mereka memungut kemampuan-kemampuan ini lewat pengamatan saja, namun tidak semahir anak laki-laki karen mereka tidak mempraktikannya.
Tingkah Laku Pro-Sosial
Tingkah laku pro-sosial yaitu seperti tindakan berbagi, membantu, bekerja sama, dan altruisme (keserakahan). Para teorisi belajar sosial yang telah membuka jalan di wilayah ini menunjukkan bahwa tingkah laku pro-sosial bisa dipengaruhi oleh penyingkapan model-model yang tepat. Agen-agen sosialisasi mengajar anak-anak bukan hanya lewat contoh tingkah laku, namun juga lewat pengajaran kebajikan dan menceritakan kepada mereka bagaimana semestinya bersikap.
Pengaturan-Diri
Ketika manusia semakin tersosialisasikan, mereka tidak lagi bergantung kepada penghargaan dan penghukuman eksternal, melainkan semakin bisa mengatur tingkah lakunya sendiri. Contohnya, seorang wanita mungkin mengkritik dirinya sendiri karena sudah melakukan penyimpangan moral yang tidak diketahui seorang pun. Dia menghukum dirinya karena tindakannya sudah merusak standarnya sendiri.
Lalu bagaimana standar evaluasi-diri ini diperoleh? Bandura percaya sebagian karena mereka adalah produk dari penghargaan dan penghukuman langsung. Contohnya, orang tua mungkin memberikan persetujuan kepada anak perempuannya hanya jika dia mencapai prestasi yang sangat tinggi, dan tak lama kemudian dia menggunakan standar yang tinggi ini sebagai standarnya sendiri.
Bandura (1986, h.342-343) mengatakan kalau anak-anak lebih cenderung mengadopsi standar penilaian diri teman-teman sebayanya daripada standar orang dewasa, karen anak-anak bisa lebih mudah meraih standar yang lebih rendah yang dibuat teman-temannya itu.
Kemampuan-Diri
Saat mengatur tingkah laku diri sendiri, kita sebenarnya sedang terlibat di dalam pengobservasian-diri. Kita mengevaluasi performa yang sedang kita lakukan menurut standard an tujuan kita. Dan dim omen lain, kita merefleksikan kemampuan-kemampuan umum kita untuk mencapai sebuah kesimpulan seperti “Aku bagus di Akuntansi” atau “Aku penari yang buruk”. Bandura menyebut penilaian umum seperti ini sebagai penaksiran atas kemampuan-diri (self-efficiency appraisals) (1986, bab9).
Bandura percaya kalau penaksiran atas kemampuan-diri memberikan pengaruh yang sangat kuat untuk memotivasi kita. Jika percaya kita baik di dalam tugas-tugas tertentu, maka kita mengerjakan tugas-tugas itu dengan keras dan tetap bertahan di dalamnya meski naik-turun. Namun jika kita meragukan kemampuan diri sendiri, maka kita tidak akan terlalu bersemangat untuk mengerjakannya dan lebih mudah menyerah jika menghadapi kesulitan (1986, h.394).
Sumber-sumber penaksiran kemampuan-diri
Bandura (1986, h.399-408) menyatakan bahwa penaksiran kemampuan-diri didasarkan kepada empat sumber informasi berikut:
  1. 1. Performa Aktual
Jika kita berhasil berulang kali dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada, rasa kemampuan-diri meningkat. Sebaliknya, jika kita berulang kali gagal, rasa kemampuan-diri jatuh.
  1. 2. Vicarious Experience (pengalaman lewat pengamatan, seolah-olah kita sendiri yang mengalaminya)
Jika kita melihat orang lain berhasil dalam sebuah tugas, kita menyimpulkan bahwa kita bisa juga melakukannya. Khususnya jika kita yakin orang lain juga memiliki kemampuan yang setara dengan kita.
  1. 3. Persuasi Verbal – percakapan yang penuh semangat (pep talks)
Jika seseorang meyakinkan kita bahwa kita bisa melakukan sebuah tugas, biasanya kita dapat mengerjakan tugas dengan lebih baik. Namun, keberhasilan biasanya lebih bergantung kepada upaya keras kita menyelesaikannya daripada kemampuan inheren apapun yang kita miliki.
  1. 4. Isyarat Fisiologis
Sebuah tugas dapat menjadi terlalu sulit atau mudah dengan menginterpretasikannya sebagai kepenatan atau ketegangan. Namun begitu, setiap orang sering kali bereaksi dengan cara berbeda terhadap isyarat-isyarat tubuh yang sama. Contohnya, dua orang gadis yang sedang menunggu giliran bernyanyi di depan umum, sama-sama menghirup dan menghela nafas dengan tenang. Gadis pertama melakukan hal tersebut karena itu adalah sebuah isyarat bahwa dia sedang dalam keadaan gugup dan tegang, sementara gadis yang kedua menginterpretasikan isyarat tubuh tersebut sebagai indikasi bahwa ia sedang menggebu-gebu dan yakin bahwa ia pasti akan tampil sangat baik.
KASUS KEKERASAN DALAM MEDIA
Semenjak penelitian awal Bandura, ratusan penelitian eksperimental lainnya mengenai anak, remaja, dan orang dewasa telah menunjukkan hasil yang serupa, sehingga meyakinkan banyak psikolog bahwa mengobservasi agresi itu sendiri dapat meningkatkan agresivitas (Komisi Kekerasan dan Remaja APA, 1993: Bushman & Anderson, 2001; Eron, 1995).
Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi kontak terhadap kekerasan dalam film maupun televisi, semakin kuat pula kemungkinan seseorang untuk berperilaku secara agresif, bahkan setelah para peneliti mengontrol kelas sosial, kecerdasan, dan factor-faktor lainnya (Anderson & Bushman, 2001). Ketika siswa-siswa sekolah mengurangi waktu yang biasa digunakannya untuk menyaksikan televisi atau bermain permainan video yang sering kali mengandung kekerasan, tingkat agresivitasnya akan menurun (Anderson, dkk… 2001). Disimpulkan bahwa “penelitian mengenai kekerasan yang termuat dalam televisi, serta film, permainan video, dan musik menunjukkan bukti yang jelas bahwa kekerasan pada media meningkatkan kecenderungan perilaku agresif dan keras,” baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Anderson dkk., 2003).
Beberapa psikolog dan kritikus sosial percaya bahwa hubungannya tidak sekuat yang diduga sehingga tidak perlu dikhawatirkan (Freedman, 2002). Kekerasan dalam media tidak menyebabkan seluruh penontonnya, bahkan sebagian besar penontonnya, menjadi agresif. Banyak diantara mereka yang menganggapnya hanya sebagai kesenangan sesaat dan pulang ke rumah untuk kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Setelah menyaksikan film-film dengan kekerasan, orang-orang agresif merasa lebih marah dibandingkan mereka yang tidak agresif, dan cenderung lebih mungkin bertindak dengan lebih agresig terhadap orang lain.
Dalam pandangan sosial-kognitif, kedua kesimpulan mengenai hubungan agresi dan media memiliki bukti dan dapat dibenarkan. Perilaku yang menunjukkan kekerasan yang ditampilkan secara berulang di media dapat menjadi model perilaku dan respons terhadap konflik yang akan diikuti oleh sebagian orang, seperti juga iklan-iklan di media mempengaruhi banyak orang untuk membeli dan mempengaruhi cara berpikir mereka mengenai tubuh lelaki atau perempuan yang ideal.
Meskipun pendekatan perilaku sosial-kognitif mengenai pembelajaran berbeda dalam penekanannya, mereka memiliki kesamaan dalam optimisme mendasar mengenai kemungkinan perubahan dalam diri individu maupun masyarakat.
Prof. Dr. H. Djaali dalam bukunya Psikologi Pendidikan
Menurut Bandura, belajar itu lebih baik dari sekedar perubahan prilaku. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan perilaku yang didasrai oleh pengetahuan tersebut (Teori Kognitif Sosial).
Lewat teori observational leaning, Bandura beranggapan bahwa masalah proses psikologi terlalu di anggap penting atau sebaliknya hanya ditelaah sebagian saja. Orang dapat melinatkan diri dalam pikiran simbolik, orang cenderung untuk membimbing dirinya sendiri dalam belajar. Menurut Bandura yang penting adalah kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dan perilaku orang lain.
Prinsip belajar menurut Bandura adalah usaha menjelaskan belajar dalam situasi alami, hal ini berbeda dengan situasi di laboratorium atau pada lingkungan social yang banyak memerlukan pengamatan tentang pola perilaku beserta konsekuensinya.
Kritik Bandura terhadap belajar itu sebagai hubungan antar stimulus dan respon adalah :
1.      Kurang menjelaskan tentang diperolehnya respon yang baru. Dalam situasi alami menurut Bandura, orang akan berbuat lebih banyak daripada sekedar meniru perilaku yang telah ada.
2.      Hanya mengamati direct learning (belajar langsung) yaitu orang berperilaku sesuatu dan mengalami akibatnya. Sebaliknya bandura mengatakan bahwa seorang anak dalam hubungan pribadinya dengan orang dewasa, melalui interaksi anak dan orang tuanya, dengan persaan irinya dan sebagainya menyebabkan anak meniru perilaku tertentu.
Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan
Perkembangan Sosial dan Moral menurut teori belajar sosial.
Teori belajar sosial adalah sebuah teori belajar yang relative masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Salah seorang tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura, seorang psikologi pada Universitas Standford Amerika serikat, dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex otomatis atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi anatar lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral.
Perkembangan Sosial dan Moral
Aspek Albert Bandura  (Teori belajar Sosial)
1.      Tekanan Dasar Perilaku bergantung pada pengaruh orang lain dan kondisi stimulus.
2.     MekanismePerolehan Moralitas Hasil dari conditioning dan modeling.
3.      Usia Perolehan Moralitas Belajar berlansung sepanjang hayat dan ada perbedaan usia perolehan.
4.      Kenisbian Kebudayaan Moralitas bersifat nisbi secara cultural.
5.      Pelaku Sosialisasi Model-model yang sangat berpengaruh, orang-orang dewasa dan teman-teman yang dapat menyalurkan ganjaran dan hukuman.
6.     Implikasi Untuk Pendidikan Guru harus menjadi teladan yang baik dan mengganjar setiap perilaku siswa yang memadai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar