STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 21 Desember 2011

ANGAN-ANGAN BANI ISRAIL (Tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah [2]: 94-96)

Dr. Aam Amiruddin, M.Si

(94) Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung
akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.
(95) Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.
(96) Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.


***

“Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 94)

Seperti dijelaskan pada ayat-ayat terdahulu bahwa kesombongan Bani Israil membuat mereka enggan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka merasa bahwa argumentasi mereka lebih kuat daripada penjelasan yang dikemukakan Nabi Muhammad Saw. Menurut mereka, ajaran yang dianut selama ini merupakan ajaran yang tidak dapat diganti. Mereka juga berpendapat bahwa melimpahnya nikmat yang tidak pernah diberikan kepada umat lain adalah petunjuk bahwa merekalah kaum terpilih yang dengan serta merta akan menjadi penghuni surga tanpa melalui proses panjang penghisaban. Karena itu, Allah menantang mereka untuk membuktikan keangkuhan tersebut.


Pada ayat ke-94 ini, Allah menantang Bani Israil untuk menghadapi kematian jika memang mereka yakin bahwa surga khusus diperuntukkan bagi mereka. Mengapa jalan pembuktian (dengan kematian) ini yang harus dipilih? Tidak lain karena kematian adalah ujian paling puncak bagi orang-orang yang menjadikan hidup ini sebagai investasi menghadapi akhirat; orang-orang yang pasrah, tunduk, dan menyucikan hati mereka dari segala bentuk keterikatan; orang-orang yang menanti kehidupan berikut dengan keberanian menerima buah tindakannya. Inilah orang-orang yang betul-betul siap dalam menyongsong kebebasan puncak yang berasal dari kematian. Hasrat menanti kematian dengan hati bersih dan kesadaran jernih mengenai yang telah dilakukan adalah indikator dari bentuk ketidak-terikatan dengan dunia ini dan keberanian menyongsong kehidupan berikutnya.

Lantas, apa yang dilakukan Bani Israil dalam menjawab tantangan tersebut?

“Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 95)

Apatah di kata, mereka sadar betul akan kekufuran dan keangkuhan yang mereka lakukan sendiri sehingga tantangan Allah menjadi mustahil dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-95 tersebut. Ibnu Abbas mengatakan: “Seandainya mereka menginginkan kematian itu, niscaya mereka akan mati semuanya.” Selain itu, Ibnu Abbas juga mengatakan: “Seandainya mereka benar-benar menginginkan kematian, niscaya salah seorang di antara mereka akan kembali menelan ludahnya.”

Masih menurut Ibnu Abbas, kedua ayat surat Al-Baqarah tersebut diturunkan berkaitan dengan ajakan mubahalah (sumpah dua pihak yang berselisih untuk dikutuk jika di antara keduanya melakukan dusta atau kesalahan) yang dilakukan Nabi kepada kaum Yahudi yang bersikukuh menolak ajakan Nabi dengan alasan bahwa ajaran yang mereka anut saat itu adalah yang paling benar. Mereka bersikukuh memandang diri sebagai kaum terpandang yang sudah diberi keutamaan oleh Allah dan merasa bahwa merekalah satu-satunya golongan manusia yang layak menjadi penghuni surga. Padahal, dengan jelas disebutkan pada ajaran (asli) yang mereka anut bahwa mereka berkewajiban mengikuti ajaran yang dibawa Nabi terakhir. Tentu saja, Bani Israil enggan melakukan mubahalah tersebut. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka memang betul-betul melakukan dusta.

Tercatat dalam sejarah bahwa ajakan mubahalah yang dilakukan Nabi kepada kaum kuffar terjadi beberapa kali, di antaranya dilakukan kepada delegasi Nasrani Najron yang meski argumentasinya dipatahkan, tetap saja mereka ingkar. Sehingga, akhirnya Nabi mengajak mereka ber-mubahalah untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Kisah ini tertuang dalam ayat berikut ini.

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, istri-istri Kami dan istri-istri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” (Q.S. Ali Imran [3]: 61)

Delegasi Nasrani Najron pun akhirnya tidak bisa berkutik dan mereka enggan melayani tantangan Nabi tersebut. Seorang di antara mereka mengatakan kepada yang lain, “Jika kalian menerima tantangan Muhammad, niscaya kalian akan mati semuanya.” Untuk menutupi rasa malu, akhirnya mereka bersedia membayar jizyah (pajak).

Demikianlah, betapa pun licik dan banyaknya akal bulus yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyembunyikan kebenaran, Allah Mahatahu atas yang mereka lakukan. Mustahil mereka menginginkan (mempercepat) kematian karena dalam dirinya tertanam sifat tamak pada dunia dan menginginkan umur sepanjang-panjangnya. Kedustaan mereka pastilah berbalas azab yang sepedih-pedihnya sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukannya. Hal tersebut ditegaskan dalam ayat selanjutnya.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96)

Sungguh bertolak belakang yang dikatakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani dengan keadaan yang sesugguhnya. Di lidah, mereka dengan percaya diri mengatakan tidak takut mati karena menganggap diri sudah dipastikan masuk surga. Namun pada kenyataannya, mereka sama sekali enggan bersentuhan dengan kematian. Bahkan kalau bisa, mereka ingin seribu tahun lagi hidup di dunia ini. Bagi mereka, umur panjang adalah untuk menikmati keindahan dunia lebih lama dan tidak ada kaitannya dengan perbaikan iman dan peningkatan kualitas amal. Mereka tidak menyadari bahwa umur panjang yang mereka angan-angankan tidak akan membantu mereka lepas dari azab Allah yang sangat pedih.

Dalam Islam, panjang pendeknya umur bukan jaminan hidup semakin berkualitas. Kualitas hidup ditentukan dari bagaimana yang bersangkutan mampu mengatur setiap waktunya untuk menambah bekal yang hendak dibawa pergi menuju tempat kembali (akhirat). Mari kita cermati sabda Rasul Saw. berikut ini. Dari Abdullah bin Busr, seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu?” Rasulullah Saw. menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (H.R. Tirmidzi)

Jadi, orang beriman hendaknya tidak usah takut akan datangnya kematian sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani. Yakinlah bahwa usaha maksimal kita dalam menjauhkan diri dari larangan-Nya dan mendekatkan diri pada perintah-Nya akan berbuah surga di akhirat kelak. Amin. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar