STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 19 Januari 2012

MEMAHAMI AKHLAK DAN ETIKA

AKHLAK sering juga disebut sebagai “etika”. Secara bahasa, keduanya bermakna sama. Namun, apabila ditelusuri dari sumber bahasanya, keduanya berbeda secara signifikan. Etika yang berasal dari bahasa Yunani “Ethos”, menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, adalah segala perbuatan yang timbul dari orang yang melakukan sesuatu dengan ikhtiar dan sengaja, dan pada waktu melakukannya ia mengetahui apa yang ia perbuat. [i] Oleh karena itu, menurutnya, perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan tidak sadar, seperti saat tidur atau gila, tidaklah bisa disebut akhlak. Sementara itu, menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat, etika berarti sebuah pranata perilaku seseorang atau kelompok yang tersusun dari suatu sistem nilai atau norma yang diambil dari gejala-gejala alamiah orang atau kelompok tersebut. Sifat baik yang ada pada pranata ini merupakan persetujuan “sementara” dari orang atau kelompok yang menggunakan pranata perilaku tersebut. [ii]
Penjelasan dari kata “sementara” dalam paragraf di atas adalah bahwa sebuah ukuran baik yang dipergunakan satu kelompok, belum tentu dianggap baik oleh kelompok yang lain. Dalam masyarakat yang menggunakan sistem etika seperti itu, pada suatu waktu tertentu akan membenarkan pelaksanaan suatu nilai tata cara hidup tertentu yang pada waktu dan tempat lain tidak dibenarkan. Salah satu contohnya adalah perilaku hidup bersama pranikah pada masyarakat Barat.[iii] Hal ini mereka lakukan karena secara budaya dan kebiasaannya mereka menyetujui hal tersebut dilakukan.

Hal demikianlah yang membedakan secara signifikan makna etika dan akhlak. Akhlak, berasal dari akar kata bahasa Arab “khuluqun”, yang artinya perangai, tabiat, dan adat; atau “khalqun” yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat, akhlak berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat. [iv] Dari akar katanya, akhlak adalah satu kata yang muncul sebagai media yang memungkinkan timbulnya hubungan baik antara Khaliq dan makhluk (hablum min Allah); dan antara makhluk dan makhluk (hablum min an naas wa ghairuhaa).[v]
Secara lebih khusus, akhlak adalah satu kata yang merepresentasikan tata cara dan perilaku hidup umat Islam yang dasarnya adalah firman Allah Swt. dan teladan Rasulullah Muhammad saw. dan para nabi, bukan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat yang sifatnya temporal. Firman Allah Swt. bersifat mutlak dan berlaku universal. Oleh karena itu, tidak akan ditemukan dalam Islam satu sistem perilaku yang di satu masyarakat muslim berlaku tapi tidak berlaku di masyarakat muslim yang lain.

[i] Prof. Dr. Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Bulan-Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 5
[ii] Prof. Dr. Zakiah Darajat, dkk.,  Dasar-Dasar Agama Islam, Bulan-Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 257.
[iii] Prof. Dr. Zakiah Darajat, dkk.,  Dasar-Dasar Agama Islam, Bulan-Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 257.
[iv] Prof. Dr. Zakiah Darajat, dkk.,  Dasar-Dasar Agama Islam, Bulan-Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 253.
[v] Dr. H. Hamzah Ya’qub, Etika Islam, Diponegoro, Bandung, 1983, hlm. 11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar