STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 12 Maret 2012

AKSELERASI PENDIDIKAN MEMANFAATKAN KONVERGENSI IT & TELEKOMUNIKASI


            Kemajuan pendidikan menentukan maju tidaknya sebuah bangsa. Itulah konsep yang dipahami hampir seluruh bangsa  di berbagai belahan dunia. Sehingga banyak negara yang telah berhasil ‘melompat' melewati berbagai hadangan krisis dan ketertinggalan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun kembali bangsanya. Singapura, Jepang, Thailand, Vietnam, China, Korea Selatan, dan Malaysia adalah beberapa contoh nyata Negara yang memberikan perhatian sangat tinggi terhadap sektor pendidikan. Badai krisis global yang menghantam di tahun 1997 tidak membuat mereka berlama-lama dalam keterpurukan. Dan pendidikan adalah satu kunci utamanya.
            Pendidikan -sebagai sebuah proses dalam sebuah bangsa- mengalami perkembangan di berbagai sisi. Sebagai bagian dari budaya -demikian saya menyimpulkan- ia tak lepas dari faktor-faktor yang melingkupinya. Jelas, sistem pendidikan di era tahun 1900-an sangat berbeda dengan sistem pendidikan di era 2000-an seperti sekarang ini. Sebagaimana Tofler menyatakan, telah terjadi pergeseran "Traditional Age" - ditandai dengan tatanan masyarakat agraris-  ke "Industrial Age" -antara tahun 1600-an hingga pertengahan 1900-an dan dipicu oleh ditemukannya mesin uap- dan akhirnya " Information Age"-ketika teknologi tinggi mampu memenuhi berbagai kebutuhan manusia-, maka sistem pendidikan mutakhir pada akhirnya bergeser dari paradigma konvensional -dimana man, material, machine, dan money sebagai modal utama- menuju paradigma modern dengan informasi sebagai modal utamanya. Dengan istilah sederhana : siapa yang menguasai informasi maka akan memenangkan kompetisi. Lalu bagaimana dengan pendidikan Indonesia ?

Pendidikan Indonesia
Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sementara Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(UU.No. 20/2003).
Dalam Rencana Strategi Pendidikan Nasional (RENSTRA), kebijakan pokok pendidikan nasional terdiri dari :Pemerataan dan Perluasan Akses, Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing, serta Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik. Adapun Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut: Terwujudnya sistem Pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (Insan Kamil / Insan Paripurna)
Pemerintah rupanya telah makin menyadari bahwa untuk mewujudkan visi tersebut, satu hal yang mesti diwujudkan adalah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Untuk mewujudkannya, pemanfaatan iptek sebagai penggerak utama (prime mover) terus diupayakan dengan memfasilitasi peningkatan indeks pemanfaatan teknologi tersebut. Di sinilah konvergensi IT dan telekomunikasi secara taken for granted diakui mampu memberi peran lebih dalam peningkatan kemajuan pendidikan bangsa.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), adalah produk terbaru pemerintah dalam upaya mempercepat pencapaian tujuan pendidikan. Berbagai pembaharuan dilakukan sebagai respon atas perubahan iklim belajar di era modern. Negara-negara lain telah melakukan revolusi konstruksi sistem belajar sebagai upaya menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dengan memanfaatkan kemajuan dan konvergensi IT dan telekomunikasi, sehingga -meski dapat dikatakan terlambat- pemerintah pun berupaya mengejar ketertinggalan dengan sistem KTSP ini.
Sistem pembelajaran pun perlahan mulai bergeser dari pembelajaran kelas menjadi pembelajaran terbuka. Para guru adalah fasilitator sementara para siswa adalah objek sekaligus subjek sistem belajar itu sendiri. Demokratisasi pendidikan mulai beranjak dari hegemoni guru -sebagai satu-satunya sumber pengajaran- ke berbagai varian sumber sesuai eksplorasi siswa. Dan perkembangan IT dan telekomunikasi pada akhirnya menjadi satu media belajar, subjek sekaligus objek studi yang unlimited, penuh ilmu pengetahuan baru yang belum bisa dilakukan di era sebelumnya. Konvergensi IT dan telekomunikasi  pun makin memberi peran bagi proses pembelajaran siswa.

Konvergensi IT dan Telekomunikasi
            Percepatan perkembangan teknologi telekomunikasi dimulai sejak ditemukannya teknologi digital pada tahun 1970-an. Beberapa saat berikutnya muncul teknologi baru yang lebih canggih dan kaya yaitu internet. Internet adalah jaringan yang menjangkau seluruh dunia dan menggunakan IP (Internet Protocol) sebagai basis aliran informasi - baik data, suara, maupun gambar -. Sejak itu pula berbagai teknologi informasi-telekomunikasi berkembang pesat menuju satu muara yang kemudian dikenal luas sebagai konvergensi. Konvergensi ini menghasilkan berbagai jenis aplikasi mulai dari teks, gambar, foto, video, audio, hingga ke telephony, video conference, dan TV kabel yang disalurkan dalam satu infrastruktur yang sama.
            Ada 6 aktivitas dasar yang  ditunjukkan menuju pada satu muara konvergensi. Konvergensi , dalam bahasa inggris convergence, adalah : ‘to come together, to meet or join, to approach from different directions'. Aktivitas membaca, mendengar, perjalanan, bekerja, melihat, dan berbicara, mampu dilakukan secara bersama-sama dengan adanya konvergensi IT dan telekomunikasi
Konvergensi ini memiliki implikasi sangat luas dan mendasar baik bagi operator telekomunikasi, produsen peralatan IT dan telekomunikasi, serta para pengguna/user itu sendiri. Konvergensi teknologi sendri memerlukan saluran transmisi yang dapat mengalirkan sinyal digital dengan bandwith yang besar (broadband), karena sinyal informasi yang dialirkan tidak hanya sinyal suara tetapi juga sinyal data. Sistem kabel optik adalah satu teknologi yang mampu mentransmisikan data berkecepatran tinggi (bandwith besar) atau yang disebut broadband. Dalam perkembangannya, teknologi wireless -atau yang dikenal dengan teknologi telepon seluler- mampu memberikan layanan dengan mobilitas yang tinggi dan sifatnya yang praktis.
Berawal dari teknologi 1G dengan sistem analog (AMPS), terus berkembang hingga saat ini telah sampai pada generasi 3G yang merupakan gabungan antara teknologi GSM dan CDMA. Selama beberapa waktu GPRS diandalkan dengan kecepatan akses yang terbatas, lalu berganti 3G dengan kecepatan hingga 2,4 Mbps, kini telah datang era 3.5G. Teknologi ini disebut High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) dengan kecepatan hinga 3,6 Mbps. Dengan kemampuan ini, konvergensi semakin menjadi sebuah kenyataan. Layanan internet, sebagai satu produk yang paling dikenal, mampu di-deliver melalui perangkat telepon seluler (ponsel) bahkan untuk kalangan menengah sekalipun. Dengan siklus hidup produk (product life cycle) ponsel yang makin pendek, mayoritas ponsel HSDPA yang masih dikuasai kelas atas (high-end) akanbergerak menjadi teknologi massal.
Internet merupakan rancangan jaringan multimedia masa depan dengan sifat konvergensi yang senantiasa melekat. Perkembangan teknologi internet tergolong lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan teknologi seluler, dan ini membuat mau tidak mau semua teknologi mengikuti standartdisasi IP (IP base).  Tingkat intensitas pengguna internet pun terus melonjak dari waktu ke waktu. Indonesia, sebagai negara berkembang -dengan jumlah penduduk  237.512.355 jiwa- tak luput dari pengaruh teknologi ini. Ketika tahun 2000 pengguna internet berkisar 2 juta user, di tahun 2008 telah mencapai 25 juta atau tingkat penetrasi 10,5 % populasi, dengan prosentase di tingkat Asia mencapai angka 4 %. Pertumbuhan sebesar 1.150 % dalam kurun 8 tahun  adalah angka yang cukup signifikan. Indonesia sendiri termasuk top ten Asia setelah China (253 juta), Jepang (94 juta), India (60 juta), dan Korea Selatan (34,8 juta).
Di sisi operator telekomunikasi, program-program edukatif berbasis IT terus dilakukan. Selain kepentingan bisnis - didasarkan customer driven- untuk meningkatkan pangsa pasar masing-masing, kebijakan Universal Service Obligation (USO) dalam aspek corporate social responsibility (CSR) industri telekomunkasi  menuntut incumbent memberikan layanan tersebut. PT. Telkom meluncurkan program Internet Goes to School dengan produk Speedy-nya. PT. Excelcomindo Pratama (XL) melangsungkan program ‘Komputer Untuk Sekolah" yang didedikasikan untuk dunia pendidikan secara integral dan berkelanjutan selama 5 tahun, dimana tahap awal telah diimplementasikan di 60 SD, SMP,serta guru yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Manfaat Kovergensi IT dan Telekomunikasi dalam Pendidikan
            Melihat perkembangan di sisi kemampuan teknologi, layanan yang didistribusikan oleh operator, serta pesatnya jumlah pengguna internet & perangkat telekomunikasi lainnya, maka terdapat potensi besar pemanfaatan semua sumberdaya di atas di sektor pendidikan.
            Beberapa manfaat tersebut antara lain :
  1. Pengembangan pengajaran berbasis multimedia dan jaringan internet. Konvergensi IT dan telekomunikasi memungkinkan pengajaran interaktif dengan visual, audio, push-button, dari berbagai sumber dan ragam metode. Manfaat ini akan optimal jika para guru sebagai fasilitator punya kemampuan menggunakan software dan perangkat yang ada dengan baik.
  2. Membuka akses pencarian informasi tanpa batas di bidang ilmu pengetahuan yang dibutuhkan baik oleh pengajar maupun siswa. Berbagai topik ajar yang harus diketahui dan dikuasai siswa dapat di-search melalui berbagai mesin pencari (search engine) yang tersedia di internet. Situs seperti Wikipedia bahkan mampu memberikan definisi mendalam tentang suatu hal.
  3. Meningkatkan intensitas komunikasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karakteristik IT dan telekomunikasi yang time borderless  membuat siapapun dapat melakukan komunikasi dan pertukaran informasi kapanpun. Kemampuan teknologi broadband  mampu men-deliver teks, gambar, suara, bahkan video kepada siapa saja yang membutuhkan -selama perangkat dan jaringan support-
  4. Memperkecil lack of knowledge melalui media IT dan telekomunikasi yang mampu dijangkau daerah rural. Kemampuan teknologi mampu melintasi batas yang sulit ditempuh dengan moda transportasi normal. Daerah rural diharapkan -minimal- mampu menerima informasi dari daerah-daerah perkotaan. Lebih jauh lagi, diharapkan mampu menggunakan perangkat IT & telekomunikasi untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi sebagai proses inovasi.
  5. Memperkaya khasanah pengetahuan secara terus-menerus (sustainable of education), dan faktual.
  6. Menumbuhkan kesadaran etis multikultur, toleransi atas perbedaan, dan pemahaman akan kekayaan bangsa dalam skala nasional mapun keragaman potensi antar bangsa dalam skala internasional.
  7. Menumbuhkan daya saing. Konvergensi IT dan telekomunikasi akan merangsang daya kompetisi para pelaku pembelajaran, terutama ketika mengetahui betapa besar ketertinggalannya dengan komunitas lain. Tentu saja dibutuhkan orang-orang dengan karakter mau maju, berkembang, dan tingkat keingintahuan (curiousity) yang tinggi untuk mengelola manfaat ini di sisi peningkatan kompetensi pelaku pendidikan.
  8. Meningkatkan akuntabilitas publik. Informasi yang tersaji dan dikonsumsi oleh pengguna pada akhirnya akan memberikan sistem yang lebih demokratis, sehingga akuntabilitas publik mengalami peningkatan. Semakin banyak orang tahu perkembangan dunia pendidikan, kebijakan pemerintah tentang pendidikan-seperti visi, misi, dan RENSTRA Depdiknas misalnya- maka proses demokratisasi pendidikan telah terbangun dengan sendirinya.
Dalam kenyataannya, tentu saja masih ada hambatan sehingga manfaat konvergensi IT dan telekomunikasi dalam dunia pendidikan belum tercapai secara optimal. Permasalahan yang timbul antara lain adalah : 1. Paradigma yang masih salah tentang internet/IT
Teknologi  bagaimanapun canggihnya tetap hanyalah sebuah alat. Ketika internet berkembang di kalangan pelajar, salah satu hal yang muncul dan menonjol adalah internet sebagai media melihat situs-situs porno, browsing tanpa control, melakukan chatting tanpa tujuan yang jelas. Banyak orangtua langsung ‘membekukan' koneksi internet mereka tanpa melihat sisi positif yang jauh lebih banyak disbanding sisi  negatifnya. Juga pemahaman bahwa internet akan menggantikan peran guru perlu diluruskan. Justru guru banyak diuntungkan dengan adanya internet, salah satunya dalam menyiapkanbahan ajar yang faktual, menarik, dan komprehensif.
2. Metodologi yang digunakan masih sebatas penggunaan, belum sampai pada tahap bagaimana memanfaatkan media dan konten yang ada untuk kemajuan ilmu pengetahuan, produktivitas, dan inovasi.
Konsep e-Learning  didefinisikan sebagai suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan computer lain.(Hartley, 2001).  Sementara LearnFrame.com dalam Glossary of e-Learning Term (Glossary, 2001) mendefinisikan e-Learning sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasielektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer stand-alone.
Akselerasi Pendidikan : Menuju Kompetisi Global
            Ketertinggalan dunia pendidikan kita adalah potret muram sistem pendidikan yang selama ini terjadi. Meski di sisi lain, keberhasilan Tim Olimpiade Sains Indonesia mampu meraih berbagai gelar, medali, dan tempat terhormat, secara umum masyarakat kita memerlukan program percepatan .akselerasi untuk mengejar ketertinggalan. Akselerasi (acceleration) secara singkat diterjemahkan sebagai percepatan. Semiawan (1997) membagi dua pengertian tentang akselerasi ini : pertama, akselerasi sebagai model pelayanan pembelajaran, dan kedua, akselerasi kurikulum atau akselrasi program. Gowan dan Renzulli (dalam Conny Seniawan, 1997) menambahkan bahwa akselerasi berarti memperoleh konten materi dengan irama yang lebih dipercepat sesuai dengan kemampuan potensialnya.
            Dibangunnya jaringan telekomunikasi di berbagai daerah ditunjang dengan produk-produk IT yang terjangkau, user-friendly, multitasking, dan multifungsi semestinya dapat dijadikan sebagai dasar pijakan akselerasi mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan -dan kualitas SDM- bangsa ini. Paradigma pendidikan yang telah bergeser menuntut para ahli dan professional yang bergerak di bidang IT, telekomunikasi, dan pendidikan bersama-sama bersinergi mengembangkan program yang kompeten, terarah, dan adaptif. Kompeten berarti mempunyai keunggulan dan daya saing yang tinggi, terarah berarti menuju pada keunggulan berbasis potensi bangsa, sementara adaptif lebih pada kemampuan ‘learn how to learn', memberikan pendewasaan, menuju pada masyarakat berbasis pengetahuan.
Penutup
            Dunia pendidikan telah berubah ke arah yang lebih modern            seiring dengan perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan tuntutan kompetisi global. Pemerintah telah merespon dengan merubah paradigma dan sistem pembelajaran melalui RENSTRA, operator telekomunikasi dan perangkat IT juga melakukan program-program pemanfaatan konvergensi IT dan telekomunikasi  bagi pendidikan. Internet adalah satu produk teknologi yang saat ini sangat berperan, digunakan banyak user, sekaligus mampu memberi layanan yang mampu dan akseleratif demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain.
            Teknologi IT dan telekomunikasi, bagaimanapun adalah sebatas media. Yang terpenting adalah bagaimana para manusianya berperan proaktif mendaya-gunakan semua potensinya untukkemajuan dunia pendidikan.  Demi kemajuan pendidikan, demi kemajuan bangsa,.  Sebagaimana Edwart Teller katakan :  ‘Ilmu pengetahuan pada hari ini akan menjadi teknologi hari esok'.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar