STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 12 Maret 2012

Hubungan filsafat dan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
a.      Latar belakang masalah
Fisafat sebagai “Mater-Scientiarum” (induk ilmu pengetahuan), perumusannya sangat sulit dilaksanakan, sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh seseorang sebagai filsuf yang otentik. Setiap orang yang ingin mengejar pengertian hidup dan kehidupan itu, maka itu berarti bahwa ia masih di atas jalan menjadi seorang filsuf, untuk lebih memanusiakan dirinya. Sebab berfilsafat tiada lain adalah hidup berpikir dan pemikiran sedalam-dalamnya tentang hidup dan kehidupan itu.
Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya menemukan tiga bentuk eksistensi kebenaran yaitu: ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Ibarat satu garis lurus, maka kebenaran ilmu pengetahuan mengandung kenisbian (elativitas), yang bermuara kepada filsafat sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat kenisbian yang bermuara kepada agama, sebagai kebenaran yang mutlak (absolut) karena bersumber dari Yang Maha Mutlak dan Maha Benar.
Oleh karena itu, dalam perenungan kita tentang bentuk pengetahuan filsafat dan eksistensinya dalam hidup dan kehidupan manusia di jagat raya ini tidak dapat melepaskan diri dari pembahasan dan kaitannya kepada ilmu pengetahuan dan agama.
Filsafat disebutkan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang bersifat eksistensial artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan justru filsafatlah yang jadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam bentuk suatu masyarakat atau bangsa.





b.   Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.      Bagaimana realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
2.      Bagaimana hubungan filsafat dengan ilmu ?
3.      Dimanakah titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
4.      Apa saja perbedaan prinsipil filsafat dengan ilmu pengetahuan ?
5.      Bagaimana hubungan filsafat dan pendidikan ?
6.      Bagaimana kedudukan filsafat pendidikan sebagai satu disiplin ilmu ?

c.    Tujuan pembahasan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk memahami realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan
2.      Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan ilmu
3.      Untuk mengetahui titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan
4.      Untuk mengetahui perbedan prinsipil filsafat dengan ilmu pengetahuan
5.      Untuk mengetahui hubungan filsafat dan pendidikan
6.      Untuk mengetahui kedudukan filsafat pendidikan sebagai satu disiplin ilmu .










BAB II
HUBUNGAN FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

A.    Realita Hubungan Filsafat Dengan Ilmu Pengetahuan
Kita berusaha melihat realita hubungannya, berdasarkan suatu asumsi, bahwa keduanya merupakan kegiatan manusia. Kegiatan manusia dapat diartikan dalam prosesnya dan juga dalam hasilnya. Dilihat dari hasilnya,filsafat dan ilmu merupakan hasil dari pada berpikir manusia secara sadar, sedangkan dilihat dari segi prosesnya, filsafat dan ilmu menunjukkan suatu kegiatan yang berusaha untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia (untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan ), dengan menggunakan metode-metode atau prosedur-prosedur tertentu secara sistematis dan kritis.
Filsafat dan ilmu memiliki hubungan saling melengkapi satu sama lainnya. Perbedaan antara kedua kegiatan manusia itu, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling mengisi, saling melengkapi, karena pada hakikatnya, perbedaan itu terjadi disebabkan cara pendekatan yang berbeda. Maka dalam hal ini perlu membandingkan antara filsafat dan ilmu, yang menyangkut perbedaan-perbedaan maupun titik temu antara keduanya.

a.      Hubungan filsafat dengan ilmu
Henderson, memberikan gambaran hubungan (dalam hal ini perbedaan )antara filsafat dan ilmu sebagai berikut:
Ø  Ilmu (Science)
  1. Anak filsafat.
  2. Analitis; memeriksa semua gejala melalui unsur terkecilnya untuk memperoleh gambaran senyatanya menurut bagianya.
  3. Menekankan fakta-fakta untuk melukiskan objeknya.
  4. Menggunakan metode eksperimen yang terkontrol sebagai cara kerja dan sifat terpenting; menguji sesuatu dengan menggunakan penginderaan.



Ø Filsafat
  1. Induk ilmu.
  2. Sinoptis, memandang dunia dan alam semesta sebagai keseluruhan, untuk dapat menerangkannya, menafsirkannya dan memahaminya secara keseluruhan.
  3. Bukan saja menekankan keadaan sebenarnya dari objek, melaikan juga bagaimana seharusnya objek itu. Manusia dan nilai merupakan faktor penting.
  4. Menggunakan semua penemuan ilmu pengetahuan, menguji sesuatu berdasarkan pengalaman dengan memakai pikiran.

b.   Titik temu filsafat dengan ilmu pengetahuan
Ada beberapa titik pertemuan antara filsafat dan ilmu, yaitu:
1.         Filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya menggunakan metode-metode reflective thinking didalam menghadapi fakta-fakta dunia dan hidup ini.
2.         Filsafat dan ilmu pengetahuan  keduanya menunjukkan sikap kritis dan terbuka, dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah terhadap kebenaran.
3.         Ilmu pengetahuan  mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan yang ilmiah.
4.         Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan bermacam-macam ilmu dan berbeda-beda, dan menyusun bahan-bahan tersebut kedalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu.
Filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya sangat penting serta saling melengkapi. Tetapi harus pula saling menghormati dan mengakui batas-batas dan sifat-sifatnya masing-masing. Ini sering dilupakan, lalu menimbulkan bermacam-macam kesukaran dan persoalan yang seharusnya dapat dihindari asal saja orang insyaf akan perbedaan antara kedua ilmu pengetahuan tersebut. Misalnya seorang dokter mengatakan: “waktu saya mengoperasi seorang pasien belum pernah saya melihat jiwanya”, maka ia menginjak lapangan lain, meloncat dari lapangannya sendiri ke dalam lapangan filsafat, sehingga kesimpulannya itu tidak benar lagi.

c.    Perbedaan prinsipil filsafat dengan ilmu pengetahuan
Dalam mengupas masalah perbedaan prinsipil antara filsafat dengan ilmu pengetahuan disini dikemukakan tiga buah alasan perbedaan yaitu:
  1. Penjelasan yang terakhir
Seorang ahli ilmu hayat misalnya mempelajari gejala-gejala “hidup”objeknya ialah makhluk-makhluk yang hidup. Maka ia akan menyelidiki semua pertanyaan-pertanyaan hidup dari tumbuh-tumbuhan, binatang dan dari manusia pula untuk diterangkan kemudian. Maka ia mencari pengetahuan tentang peredaran darah, pencernaan, organ-organ dan sebagainya serta mencoba menunjukkan semua faktor-faktor yang mempengaruhi hidup itu. Akan tetapi pembuktian bahwa makhluk hidup yang dipelajarinya itu “hidup” diterimanya tanpa pembuktian lebih lanjut. Karena hal ini tidak menjadi lapangan penyelidikannya dan objek materialnya.
Seorang filosof sebaliknya yakin bahwa misalnya pencernaan atau peredaran darah itu tidak habis diterangkan dengan menunjukkan kelenjar-kelenjar, alat-alat dan sebagainya, melainkan terletak dalam adanya makhluk itu hidup. Dan apabila ia mencoba memperoleh pengertian tentang hidup itu sampai pada kesimpulan bahwa hidup itu bersifat “dapat menggerakkan dirinya sendiri” atau swagerak. Maka ia bertanya terus apakah masalah bergerak dan mengapakah barang hidup itu bergerak dan barang mati itu tidak bergerak?
  1. Keinginan akan syntesis (akan pandangan yang meliputi keseluruhan)
Ilmu pengetahuan itu bermacam-macam, banyak, karena kenyataan memang beranekaragam. Didorong oleh keinginan untuk mengerti dengan lengkap dan mendalam, maka orang membagi-bagi lapangan ilmu pengetahuan menjadi berbagai macam yang masing-masing mempelajari satu lapangan yang khusus. Dan dalam penghkususan itu masih terus mengadakan spesialisasi  lebih lanjut. Akan tetapi spesialisasi dalam lapangan ilmu pengetahuan khusus itu orang merasakan bahwa bagian-bagian hanya dapat dimengerti jika dipandang dalam keseluruhannya. Ilmu pengetahuan itu bagi jiwa manusia masih terlalu terbatas adanya, terlalu terbagi-bagi pula. Yang dikehendaki oleh akal budi manusia adalah kesatuan didalam kebanyakragaam itu, pandangan yang meliputi seluruh lapangan ilmu pengetahuan. Sedang dasarnya yang lebih dalam lagi ialah: bagi seluruh dunia, manusialah yang menjadi pusat dan puncaknya. Sambil hidup didunia ini haruslah mencari tujuan hidupnya, serta sesuai dengan harkat dan martabat manusia artinya dengan sadar bebas merdeka dan harus menentukan jalannya. Ia harus menentukan sikap dan kedudukannya terhadap sesama manusia , terhadap diri sendiri serta terhadap Tuhan pula. Maka diatas hasil-hasil penyelidikan ilmu pengetahuan itu ia memerlukan suatu pengetahuan lagi yang lebih luas, meliputi semua lapangan kehidupannya, dan dengan mana ia dapat menempatkan dirinya sendiri didalam keseluruhannya itu. Pengetahuan inilah yang disebut “filsafat”.
  1. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari ilmu pengetahuan itu sendiri
Lain daripada itu ilmu pengetahuan itu tidak dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang timbul bagi seseorang manusia, malahan ilmu pengetahuan itu sendiri menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri. Seperti telah dikatakan tadi, ilmu hayat misalnya tanpa pembuktian menerima adanya makhluk-makhluk hidup. Apabila seorang ahli alam menyelidiki benda-benda mati,maka ia harus menerima adanya benda-benda hidup, hal itu tidak menjadi persoalan bagi mereka dan berpangkalan pada pengertian dan kejadian-kejadian yang oleh ilmu pengetahuan itu dianggap sudah pasti, tidak memerlukan pembuktian ataupun penyelidikan lagi, begitu juga dengan ahli kimia dan ahli sejarah. Ini semuanya tidaklah dipersoalkan atau perlu dibuktikan terlebih dahulu. Ini diterima sebagai kenyataan. Akan tetapi sementara itu teranglah bahwa ini tidak seterang seperti anggapan mereka. Bahwa mengenai hal ini ada persoalan-persoalan juga. Seorang ahli kimia tidak bertanya: “apakah benda itu” dan mengapa justru benda itu ada?. Ahli sejarah tidak bertanya mengenai: siapakah sebetulnya pada hakikatnya manusia itu?, mengapaia hidup di dalam waktu?, dll.
Akan tetapi pertanyaan pertanyaan seperti ini akan timbul: “seorang dokter menunjukkan hubungan sebab akibat antara dua gejala yang diperiksanya, misalnya antara makan dan matinya seseorang pasien itu tadi.
Maka jelaslah bahwa kita sebagai manusia disamping ilmu-ilmu pengetahuan khusus masih memerlukan suatu ilmu pengetahuan lain lagi, suatu ilmu yang khusus mempelajari soal-soal seperti tersebut diatas. Dan ilmu pengetahuan itu tidak lain adalah “filsafat”, filsafatlah yang bertugas dalam hal :
a.       Memberikan kenyataan-kenyataan yang “terakhir”
b.      Memberikan syntesis yang diinginkan
c.       Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari ilmu pengetahuan
Semua  ilmu pengetahuan tentu berdasarkan anggapan bahwa barang-barang yang dipandangnya sebagai objek itu tentu ada, akan tetapi ilmu-ilmu pengetahuan itu tidak mengatakan sepatah kata pun tentang:
a.       Apakah yang disebut “ada” itu?
b.      Apakah hidup itu?
c.       Apakah sebab itu?
d.      Apakah pikiran itu?
e.       Apakah mengerti itu?
Apabila ternyata bahwa “ada” itu ada tingkatannya, maka dipersoalkan apa arti “ada” itu dalam setiap tingkatan itu dalam barang-barang mati, dalam tumbuh-tumbuhan, dalam binatang-binatang dan dalam manusia. Dan apabila ternyata bahwa manusia itu sendiri belumlah merupakan penjelasan yang terakhir dari kesemuanya itu, maka diteruskanlah penyelidikannya hingga sampailah ia pada tuhan, sebab pertama dan tujuannya terakhir dari dunia dan manusia. Maka jika misalnya ilmu mendidik dibangun atas keyakinan bahwa manusia memang dapat dididik, filsafatlah yang membicarakan apakah manusia itu sesungguhnya, apakah dan mengapakah ia perlu atau mungkin dididik .

B.     Hubungan filsafat dan pendidikan
Sebagaimaan telah dikemukakan bahwa tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak di antara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya. Analisa filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, dengan berbagai cara pendekatannya, akan dapat menghasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Disamping itu jawaban-jawaban yang telah dikemukakan oleh jenis dan aliran filsafat tertentu sepanjang sejarah terhadap problematika pendidikan yangdihadapinya menunjukan pandangan-pandangan tertentu, yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori pendidikan. Dengan demikian terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan.

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, disamping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu objek, misalnya filsafat idealisme, realisme, materialisme, dan sebagainya,  akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori-teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak tertentu terhadap teori-teori yang dikembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan –pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seorang filosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
2.   Filsafat , juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan lairan filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat
Di samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang bersifat suplementer, sebagaimana dikemukakan oleh Ali Saifullah dalam bukunya: “ Antara Filsafat dan Pendidikan”, sebagai berikut:
            “Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif ilmiah, yaitu:
a.                Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakiki manusia, serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
b. Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan dan metodologi pendidikan dan pengajaran.
Definisi di atas merangkum dua cabang ilmu pendidikan, yaitu: filsafat pendidikan dan sistem atau teori pendidikan dan hubungan antara keduanya adalah yang satu suplemen terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar bidang studi tertentu”.[1]

C.    Kedudukan filsafat pendidikan  sebagai satu disiplin ilmu
Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. Lambat laun sesuai dengan sifatnya, manusia tidak pernah merasa puas dengan dengan meninjau sesuatu hal dari sudut yang umum, melainkan juga ingin memperhatikan hal-hal yang khusus. Maka kemudian timbullah penyelidikan mengenai hal-hal yang khusus yang sebelumnya masuk dalam lingkungan filsafat. Jika penyelidikan ini telah mencapai tingkat yang tinggi,maka cabang penyelidikan itu melepaskan diri dari filsafat sebagai cabang ilmu pengetahuan yang baru dan berdiri sendiri. Adapun yang pertama kali melepaskan diri dari filsafat adalah ilmu pasti, kemudian disusul oleh ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi meskipun lambat laun banyak ilmu pengetahuan yang melepaskan diri tidaklah berarti ilmu pengetahuan itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari filsafat. Misalnya makna pengetahuan tentang atom, baru mulai nampak bila dihubungkan dengan perabadan. Seorang ahli atom berusaha menemukan fakta kemudian menciptakan teknik-teknik yang diperlukan. Semuanya itu dilakukan dengan pengatahuan tentang atom yang semakin meluas dan mendalam. Namun para ahli atom kadang-kadang tidak memperhatikan apa yang dilakukan manusia. Karena atom untuk kepentingan perang yang dapat membawa malapetaka kepada manusia. Hal ini menjadi tugas dari filsafat karena menyangkut masalah nilai, yang berati filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia.
Kemudian pembahasan tentang kedudukan atau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan atau  berpikir filosofis dan berpikir ilmiah akan dilengkapi uraian ini dengan Piaget tentang epostemologi genetis, yaitu fase-fase berpikir dan pikiran manusia dengan mengambil contoh perkembangan akan mulai dari tahun pertama usia anak hingga dewasa sebagaimana diuraikan oleh Halford sebagai berikut:
Jasa utama dari piaget adalah uraiannya mengenai perkembangan anak dalam hal tingkah laku yang terdiri atas  4 fase, yaitu:
1.   Fase Sensorimotor, berlangsung antara umur 0 tahun sampai usia dimana cara berpkir anak masih sangat ditentukan oleh kemampuan pengalaman sensorinya, sehingga saat sedikit terjadi peristiwa berpikir yang sebenarnya , dimana tangapan tidak berperan sama sekali dalam proses berpikir dan pikiran anak.
2.   Fase Pra-operasional, pada usia kira-kira antara 5-8 tahun, yang ditandai adanya kegiatan berpikir dengan mulai menggunakan tanggapan(disebut logika fungsional). Ia tidak menyebut dengan berpikir berdasar hubungan sebab akibat, seperti pendapat para ahli psikologi perkembangan.
3.   Fase operasional yang Kongkret, yaitu kegiatan berpikir untuk memecahkan persoalan secara konkret dan terhadap benda-benda yang konkret pula.
4.   Fase Operasional Formal, pada anak dimulai usia 11 tahun. Anak telah mulai berpikir abstrak, dengan menggunakan konsep-konsep yang umum dengan menggunakan hipotesa serta memprosesnya secara sistematis dalam rangka menyelesaikan problema walaupun si anak belum mampu membayangkan kemungkinan-kemungkinan bagaimana realisasinya.
Dari uraian dan contoh tadi dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, dengan rincian antara lain:
1.   Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai objek dan problem
2.   Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan itu
3.   Di samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam taip-tiap ilmu pengetahuan
4.   Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memperoleh sifat ilmu itu kalau menepati syarat-syarat yang telah ditentukan oleh filsafat. Artinya tidak mungkin tiap ilmu itu meninggalkan dirinya sebagai ilmu pengetahuan dengan meninggalkan syarat yang telah ditentukan oleh filsafat
5.                              Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada tiap ilmu pengetahuan.

BAB III
PENUTUP
a.      Kesimpulan
Disamping ilmu-ilmu pengetahuan, maka dipergunakan suatu ilmu pengetahuan lain lagi, yaitu filsafat.Dengan perkatan lain: filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi objeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, merupakan bentuk pengetahuan yang tersendiri. Tentang hubungan antara filsafat dengan Ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, merupakan bentuk pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan (level of thought) tersendiri. Tentang hubungan antara filsafat dengan ilmu-ilmu pengetahuan itu telah menimbulkan persoalan yang hangat. Pada waktu sekarang dengan tegas dibedakan lapangannya masing-masing antara filsafat dan ilmu pengetahuan
Sifat khusus dari filsafat ialah bahwa filsafat hendak menunjukkan hubungan antara gejala-gejala, yang bersifat keharusan, artinya bahwa gejala-gejala itu memang seharusnya demikian adanya. Alat yang digunakan dalam penyelidikan itu ialah akal budi, pikiran manusia sendiri (by natural light of the human intellect). Jadi filsafat hanya menggunakan budi murni, untuk mencapai sebab-sebab yang terdalam itu, tidak berdasarkan pertolongan istimewadari wahyu Allah atau syarat-syarat yang melampoi kodrat budi murni kita, melainkan berdasarkan kekuatannya sendiri, hanya dengan pertolongan pancaindera dan analisa-analisa lainnya.
Inilah yang membedakan filsafat dari “ilmu universal” yang lainnya ialah agama dan theologi. Kedua ilmu universal ini mengenai keseluruhan yang ada, meliputi seluruh hidup manusia. Tetapi agama atau theologi memberikan jawabannya berpangkal pada tuhan. Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa: objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada, sudut pandangannya adalah sebab-sebab yang terdalam, sifat filsafat adalah sifat-sifat ilmu pengetahuan dan jalannya filsafat dalam usaha mencari jawaban-jawaban adalah dengan berdasarkan kekuatan pikiran manusia atau budi murni dan tidak berdasarkan wahyu Allah atau pertolongan istimewa dari agama atau Tuhan.


b.      Kritik dan saran
Dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kekhilafan. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga dengan penulisan makalah ini dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai modal dalam mempelajafi filsafat. Jadikanlah filsafat sebagai penentuan terhadap penentuan hidup dan pegangan fundamental dalam memecahkan masalah politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi dalam masyarakat yang setiap saat berubah dan berkembang dalam konteks akselerasi dan medernisasi. Dengan pandangan hidup filsafat pancasila kita tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan berusaha membuktikan kepada dunia luar akan kesaktian filsafat hidup kita




DAFTAR PUSTAKA

Salam Burhanuddi, Pengantar Filsafat, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005

Prasetya, Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2002

Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, jakarta: PT. Rineka   Cipta, 1991

Mudyahardjo Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006

Semiawan Conny R, dkk, Spirit Inovasi dalam Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Indeks, 2010


[1] Ali saifullah h.A., Antara filsafat dan pendidikan , Usaha Nasional, Surabaya, 1983

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar