STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 12 Maret 2012

MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INSTITUSI PENDIDIKAN


Salah satu ciri institusi pendidikan modern dewasa ini adalah dilibatkannya teknologi informasi dalam proses penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Telah banyak ditemukan di mana-mana lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi ini dalam rangka meningkatkan kinerja belajar mengajar yang dilakukan. Terlepas dari berbagai spektrum pemanfaatan teknologi informasi pada sistem pendidikan – yang menurut teori paling tidak terdiri dari tujuh peranan utama dan sejumlah fungsi pendukung – kunci utama keberhasilannya terletak pada kesiapan para pemegang kepentingan (stakeholder) terkait. Dalam konteks ini, paling tidak peranan dan pandangan pemerintah, orang tua, kepala sekolah, pengajar, karyawan, dan peserta ajar akan sangat menentukan akselerasi implementasi teknologi tersebut di sebuah lembaga pendidikan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebuah institusi pendidikan dapat mengukur tingkat keberhasilan pencapaian pemanfaatan teknologi informasi yang ada. Dengan berpegang pada prinsip bahwa semakin tinggi tingkat keperdulian (awareness) para stakeholder institusi pendidikan akan semakin mempercepat implementasi dan mempertinggi manfaat teknologi informasi yang dimiliki, maka perlu dikembangkan sebuah kerangka pengukuran tingkat kematangan pihak pemegang kepentingan tersebut. Artikel ini memberikan suatu usulan bagaimana caranya mengukur secara kuantitatif tingkat kesiapan para stakeholder yang dimaksud dengan menggunakan metode kematangan (maturity model) yang banyak dipergunakan dalam berbagai kasus yang membutuhkan hal serupa.

1.     KONTEKS TI  DALAM SISTEM PENDIDIKAN
Fenomena keterlibatan TI (baca: Teknologi Informasi) di dunia pendidikan telah menggejala di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Belajar dari penerapan teknologi ini di beragam lembaga pendidikan yang ada, paling tidak diketemukan tujuh konteks atau peranan TI yang dimaksud
Pertama,       Berasal dari kesadaran bahwa TI merupakan sumber dari ilmu pengetahuan. Kenyataan ini dipicu dari dihubungkannya berbagai sumber dan pakar ilmu pengetahuan melalui sebuah jejaring raksasa yang difasilitasi oleh teknologi internet.
Kedua,           Adalah fungsi TI sebagai alat bantu atau sarana penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas pembelajaran. Hal ini terkait dengan semakin banyaknya para guru dan dosen menggunakan berbagai peralatan teknologi untuk membantu mereka memberikan penjelasan materi ajar yang ada dalam berbagai bentuk ilustrasi visual atau multi media yang menarik.
Ketiga,           Merupakan sebuah kondisi dimana pemahaman dan keterampilan memanfaatkan TI dalam meningkatkan kinerja penyelenggaraan pendidikan menjadi prasyarat kompetensi yang harus dimiliki oleh sejumlah actor utama pendidikan, seperti guru, dosen, siswa, peneliti, dan manajemen institusi pendidikan. Dalam kerangka inilah maka sejumlah sekolah telah mengharuskan pemberi maupun penerima mata ajar pengetahuan untuk memiliki kompetensi dan keahlian minimum dalam menggunakan peralatan berbasis TI.
Keempat       Bermula dari kemampuan TI dalam mentransformasikan berbagai bentuk organisasi yang banyak bergantung pada sumber daya fisik menjadi institusi virtual dengan dominasi sumber daya elektronis. Konsep e-library, virtual class, digital dashboard, distance learning, dan electronic laboratory merupakan sejumlah contoh penerapan TI pendidikan yang mampu mentransformasikan konsep pendidikan masa kini.
Kelima           Merupakan konteks yang dilihat dimana TI dipergunakan sebagai teknologi untuk membantu manajemen atau tata kelola rangkaian aktivitas pendidikan. Seperti halnya sebuah organisasi komersial semacam perusahaan, institusi pendidikan moderen akan menerapkan sistem administrasi berbasis teknologi digital, seperti untuk melakukan beraneka ragam kegiatan seperti: mencatat absensi guru dan siswa, merekam aktivitas pembelajaran sehari-hari, memperbaharui rekam jejak guru dan kemajuan siswa, mengalokasikan sumber daya terbatas seperti kelas dan sarana penunjang lainnya, menginformasikan hasil ujian ke siswa via multi kanal (internet, telepon genggam, dan lain-lain), melakukan komunikasi secara interaktif antar pemegang kepentingan (melalui email, mailing list, newsgroup, dan lain-lain), dan aktivitas terkait lainnya.
Keenam,       Mengambil posisi dari dipergunakannya beragam aplikasi TI untuk menganalisa kinerja penyelenggaraan pendidikan guna diproduksinya sejumlah keputusan maupun kebijakan demi peningkatan kinerja institusi Aplikasi semacam sistem informasi eksekutif, decision support system, dashboard management, sistem akar, sistem informasi manajemen, dan lain sebagainya merupakan sejumlah ragam penerapan TI yang dimaksud.
Ketujuh,        Merupakan muara dari keenam konteks yang ada, yaitu disadarinya TI sebagai sebuah infrastruktur pendidikan moderen. Dengan kata lain, peralatan berbasis digital ini mau tidak mau harus mampu dimiliki atau diakses oleh setiap lembaga pendidikan yang dimaksud. Terkait dengan hal ini, kesadaran dalam mensisihkan sejumlah sumber daya finansial untuk alokasi investasi TI dianggap sebagai sebuah keharusan.

2.     TUNTUTAN PEMEGANG KEPENTINGAN

Dengan memperhatikan trend global di dunia pendidikan, maka jika dilihat secara cermat, masing masing konteks atau peranan TI yang telah dikemukakan di atas memiliki pemilik kepentingannya (stakeholder) masing-masing. Berikut adalah inti sari dari posisi stakeholder yang dimaksud terkait dengan posisi masing-masing konteks TI dengan tipe stakeholder: •
a.         Orang tua atau mereka yang mensponsori peserta didik untuk masuk ke sebuah institusi tertentu akan melakukan seleksi terhadap berbagai lembaga pendidikan sejenis yang menawarkan jasa-jasanya. Dianutnya paradigma TI sebagai sumber ilmu pengetahuan akan menjadi salah satu criteria utama yang dipakai oleh mereka dalam menentukan pilihannya. •
b.         Siswa yang masuk ke sebuah institusi pendidikan akan menilai kualitas penyelenggaraan pendidikannya dari dipergunakannya beragam aplikasi TI oleh para pengajar atau tidak, karena hal itu merupakan ciri pendidikan moderen masa kini•
c.         Yayasan atau pemilik institusi pendidikan yang ada tentu saja akan mengalokasikan sejumlah sumber daya keuangannya untuk diinvestasikan dalam bentuk pengembangan ragam aplikasi TI sebagai bagian dari transformasi bentuk penyelenggaraan pendidikan.•
d.         Tenaga pengajar yang akan direktrut oleh sebuah lembaga institusi pendidikan di masa mendatang tentu saja yang harus memiliki kompetensi dan keahlian dalam hal menggunakan dan memanfaatkan computer dan peralatan teknologi terkait lainnya •
e.         Karyawan lembaga pendidikan pun harus terampil menggunakan beragam aplikasi TI untuk mendukung tugas dan aktivitas operasional mereka sehari-hari dalam mengelola berbagai hal dan keperluan terkait dengan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
f.          Pimpinan lembaga pendidikan, yang memiliki tanggung jawab tertinggi dalam hal efektivitas penyelenggaran jasa yang ditawarkan, harus mampu melakukan analisa, pengawasan, dan penilaian terhadap jalannya institusi yang dipimpin. Pemerintah dalam hal ini, sebagai pemegang kebijakan tertinggi dalam sistem pendidikan di tanah air, harus mampu membuat terobosan agar setiap institusi pendidikan nantinya tidak mengalami kesulitan dalam mengadakan atau mengakses berbagai infrastruktur teknologi yang diperlukan dalam meningkatkan kinerja penyelenggaraan belajar mengajar tersebut .

3.    PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN STAKEHOLDER
Dengan berpegang pada ketujuh tipe stakeholder tersebut, maka dapat dibuat sebuah pendekatan ringkas pengukuran tingkat kematangan para stakeholder tersebut. Mengacu pada standar tingkat kematangan yang diprakarsai oleh Software Engineering Institute – ketika yang bersangkutan memperkenalkan konsep Capability Maturity Model – dan diadopsi oleh sejumlah pakar dan praktisi dalam berbagai pendekatan konsep serupa, ada enam  level kematangan yang dimaksud. Dalam konteks implementasi TI bagi pendidikan, keenam tingkatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
 Tingkat Istilah Keterangan
0 Ignore Tidak perduli
1 Aware Perduli, tanpa aktivitas.
2 Plan Ada rencana, tanpa aksi.
3 Execute Menerapkan aplikasi.
4 Measure Mengukur kinerja.
5 Excel Meningkatkan kualitas.
Seorang pemegang kepentingan atau stakeholder dikatakan berada pada level  0 jika yang bersangkutan sama sekali tidak perduli dengan konteks TI dalam dunia  pendidikan. Sementara nilai 1 diberikan kepada mereka yang secara paradigmatik sepakat akan pentingnya TI untuk pendidikan, namun tidak memperlihatkan sejumlah usaha atau aktivitas yang mendukung prinsip tersebut. Selanjutnya angka 2 diberikan kepada stakeholder yang telah memiliki rencana untuk menjalankan sejumlah aksi terkait dengan pengadaan dan implementasi aplikasi yang ada sesuai dengan peranannya, namun belum melakukan kegiatan nyata apapun (baca: rencana di atas kertas). Tingkat minimum yang ditargetkan adalah 3, dimana stakeholder yang dimaksud telah secara sungguh-sungguh menerapkan aplikasi atau peranan TI yang dimaksud dalam wilayah kepentingannya. Level berikutnya adalah 4, dimana sang stakeholder telah berani melakukan pengukuran secara kuantitatif maupun kualitatif terhadap tingkat efektivitas atau kesuksesan penerapan TI yang ada. Dan akhirnya nilai tertinggi 5 diberikan kepada stakeholder yang secara kontinyu dan berkesinambungan berusaha untuk meningkatkan kualitas implementasi TI-nya (baca: best practice). Memperhatikan bahwa setiap stakeholder memiliki sifat dan karakteristik yang unik, maka table kematangan yang ada perlu dikembangkan lebih lanjut agar lebih mencerminkan keadaan perilaku yang sebenarnya..
-           Contohnya misalnya untuk stakeholder orang tua atau sponsor siswa. Arti dari angka kematangan tersebut jika diimplementasikan dalam konteks kebutuhan mereka adalah sebagai berikut:
0. Jika yang bersangkutan tidak perduli apakah siswa yang disponsorinya akan diserahkan kepada lembaga yang menerapkan TI atau tidak.
1. Jika yang bersangkutan perduli akan perlu adanya TI dalam sebuah institusi pendidikan, namun tidak dijadikan criteria signifikan dalam pemilihan lembaga pendidikan bagi siswa.
2. Jika yang bersangkutan memberikan nasehat kepada siswa untuk memilih hanya institusi pendidikan yang di dalamnya telah memanfaatkan TI sebagai fasilitas dan sarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
3. Jika yang bersangkutan mengharuskan siswa yang disponsorinya untuk melamar hanya pada institusi pendidikan yang telah menerapkan TI.
 4. Jika yang bersangkutan mengadakan komparasi antara satu institusi dengan lainnya dalam hal efektivitas penerapan TI di lembaga tersebut.
5. Jika yang bersangkutan hanya mau mensponsori siswa terkait dapat institusi pendidikan yang dikenal  .
4.    NILAI STRATEGIS PENGUKURAN
Seperti halnya pada konsep yang lain, mengukum tingkat kematangan pemanfaatan TI di dunia pendidikan akan memberikan sejumlah manfaat sebagai berikut: • Mengetahui sejauh mana sebuah institusi telah memanfaatkan secara penuh potensi TI bagi  kebutuhan peningkatan kinerja pendidikan tinggi; • Mengkaji kesiapan stakeholder sebuah institusi pendidikan saat ini untuk dipersiapkan manajemen perubahan yang cocok; • Memperkirakan resiko yang akan dihadapi dalam proses sosialisasi pemanfaatan TI di insitusi pendidikan dilihat dari sisi tinggi rendahnya resistensi; • Mengetahui target pola pikir dan pola tindak yang harus dimiliki oleh setiap stakeholder terkait dalam sebuah institusi pendidikan. • Menjadi indikator aktivitas peningkatan kinerja TI di sebuah institusi pendidikan dari waktu ke waktu; dan • Merupakan alat ukur perbandingan antara satu institusi pendidikan dengan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar