STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 06 Maret 2012

Tafsir QS Yunus 57-58, Al Qur'an sebagai Nasihat dan Obat

يأأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين (57) قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون (58)

57. Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
58. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Makna kata-kata penting:
Mau`izhah ( موعظة ) =   pelajaran (nasehat) dari Allah, rambu-rambu yang menghalangimu dari kejahatan .
Wa`azha وعظ)) = menasehati , memperingatkan.
Syifaa’ ( شفاء ) = obat.
Hudaa ( هدى ) = bayaan wa irsyaad, atau penjelasan dan petunjuk.
Fadlillah ( فضل الله ) = nikmat Allah.
Fariha-Yafrahu (  فرح يفرح ) = lawan dari hazina-yahzanu ( sedih ).
Al Farah ( الفرح ) = as-suruur = gembira.

Menurut penafisran Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dari ayat di atas adalah:
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
Maksud penggalan ayat ini adalah “pencegah kekejian”.

وَشِفَاءٌ لِما في الصّدُوْرِ

Maksudnya adalah dari kesamaran-kesamaran dan keragu-raguan, yaitu menghilangkan kekejian dan kotoran yang ada di dalamnya

وَهُدَى وَرَحْحةٌ لِلْمُؤْمِنين

Maksudnya hidayah dan rahmat dari Allah Ta`ala dapat dihasilkan dengan adanya Al Qur’an itu. Dan sesungguhnya hidayah dan rahmat itu hanyalah untuk orang-orang yang beriman kepadanya, membenarkan dan meyakini apa yang ada di dalamnya, sebagaimana firman Nya:  

ونُنَزِّلُ مِنَ القُرْآنِ ما هُوَ شِفَاءٌ وَرحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنين ولاَ يَزيْدُ الظّالمين إلاّ خسارًا

“ Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian” (QS Al-Isra’: 82)

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ

“Katakanlah : “Dengan karunia Allah dan rahmat Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. Maksudnya, dengan petunjuk dan agama yang benar, yang datang dari sisi Allah ini hendaklah mereka bergembira, karena sesungguhnya jal itu

 yang patut mereka baggakan.

فلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمّا يَجْمَعُونَ

“Karena Allah dan rahmat Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”, maksudnya, dari harta duniawi dan apa yang ada di dalamnya, berupa keindahan yang akan rusak dan pasti hilang.

Al Qur’an Sebagai Mau`izhoh (Pelajaran, Nasihat, Peringatan)

Yang dimaksud dari al mau`izhoh adalah dalam bentuk perintah dan larangan, yang berhubungan dengan “pemberian motivasi dan berita gembira” dan “peringatan yang menakutkan dan berita ancaman” (targhiib dan tarhiib), perkataan yang benar (qaulul haq) yang melunakkan hati dan membekas dalam jiwa, dapat menahan gejolak hawa nafsu yang membangkang, dan menambah jiwa menjadi terdidik baik secara iman maupun hidayah. (Ibnu Taimiyah, dalam Majmu` Fatawa, 19:164, Miftah Daar as Sa`adah-Ibnul Qayyim, 1: 195, juga dalam kitab Tafsirnya hal. 344).
Allah Ta`ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَ أَشَدَّ تَثْبِيْتًا (النساء: 66)
يَعِظُكُمُ اللهُ أَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ (النور: 17)

 

Jenis-Jenis Nasihat:

1.    Nasihat melalui pengajaran (wa`zhu at ta`liim); yaitu metode pengajaran untuk menjelas kan aqidah tauhid, pelurusan aqidah, dan penjelasan yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat yang lima (wajib, haram, mustahab, makruh dan mubah), dan disampaikannya sesuai dengan setiap kemampuan (potensi) penerimanya, serta mendorong untuk berpegang teguh dengannya dan memeringatkan agar tidak  menyepelekannya.
     Dalam hal ini kita ambil contoh bagaimana metode Rabbani dalam menyampaikan wa’azh at ta`lim ini, dalam  kasus hukum yang mengatur hubungan biologis suami-isteri, ketika (isteri) dalam keadaan haidl, yang terdapat pada ayat 222-223 surat al Baqarah.
     ويسئلونك عن المحيض قل هو أذي فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهنّ حتّى يطهرن فإذا تطهّرن فأتوهنّ من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين . نساءكم حرث فأتوا حرثكم لكم أنّى شئتم وقدموا لأنفسكم واتقوا الله واعلموا أنكم ملقوه وبشر المؤمنين (البقرة : 222-223)
     Perintah taqwa kepada Allah setelah adanya larangan untuk mendatangi isteri yang sedang haidl, dan perintah mendatangi mereka (menggauli), dan perintah mendahulukan bagi diri sebagai peringatan bagi orang-orang yang menyelisihi petunjuk ilahi. Dan adapaun firmanNya “wa`lamuu annakum mulaaquuhu” adalah sebagai ancaman bagi mereka yang menyelisihi perintahNya, sebab dengan memenuhi perintahNya, mereka akan memperoleh ganjaran di akhirat, dan dihisab amalan mereka. Dan firmanNya “wa basy syiril mu’miniin” sebagai berita gembira dari Allah bagi orang-orang yang taat memenuhi hukum-hukum Allah dan mengikuti petunjukNya, hal ini termasuk kenikmatan di dunia maupun di akhirat, memperoleh setiap kebaikan dan mencegah dari setiap kejahatan.
تلك حدود الله ومن يطع الله ورسوله يدخله جنت تجرى من تحتها الأنهار خلدين فيها وذلك الفوز العظيم . ومن يعص الله ورسوله ويتعد حدود ه يدخله نارا خلدا فيها وله عذاب مهين (النساء: 13-14)
2.    Nasihat-Pelajaran Pendisiplinan (wa`azh at ta’diib): mengembalikan kepada standar akhlak yang baik, seperti : tidak emosional, tidak acuh tak acuh, tidak tergesa-gesa. Berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan, bekerja secara profesional, berasni, toleransi dan memenuhi janji, sabar, mulia, dll. Juga penjelasan akan manfaat dan pengaruhnya pada masyarakat, dan mendorong agar berakhlak demikian serta iltizam terhadapnya. Disamping menyampaikan batasan akhlak jelek seperti : tergesa-tergesa, pengecut, melanggar janji, bakhil, dll. Namun keduanya mesti dilakukan dengan metode targhiib dan tarhiib . Dengan bersumberkan pada Al Qur’an, as Sunnah, Atsar shahabat, tabi`in dan para Imam mujtahidun dan kehidupan nyata mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar