STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 02 Oktober 2012

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM

1. Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah dari bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ada tiga tokoh dalam penaklukan Spanyol di antaranya : Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nushain. Untuk pertama kalinya Thariq ibn Ziyad beserta pasukannya menyeberangi Selat kemudian mendarat dan menyiapkan pasukannya di Jabal Thariq (Gibraltar). Dengan ini, Raja Roderick dapat dikalahkan hingga akhirnya kota-kota penting dapat ditaklukkan seperti Cordova, Garnada, dan Toledo. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 87-89)
Pergantian amir tidak mempengaruhi operasi perluasan daerah, pada tahun 717-718 M. Operasi dilanjutkan dengan pemimpin al-Hurr bin Abdul Rahman al-Tsaqafi, gerakan menuju Spanyol Utara setelah menaklukkan Saragosa. Perluasan daerah itu terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Perluasan ke Spanyol masih diteruskan oleh setiap khalifah yang berkuasa di Damaskus. (Prof. Dr. Abu Su’ud, Islamologi Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta, Rineka Cipta, 2003, hlm. 70)
Masuknya Islam di Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam mengalami enam periode dengan berbagai peradaban pada saat itu. Konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan merupakan faktor-faktor yang mendukung hancurnya Islam di Spanyol, tapi meskipun demikian Islam berpengaruh besar terhadap peradaban di Eropa. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 110)

Spanyol atau dahulu lebih dikenal dengan Andalusia yang terletak di benua Eropa yang letak geografinya sangat dekat sekali dengan Afrika Utara yang pada waktu itu merupakan daerah perluasan Islam pada masa khalifah al-Walid sehingga memungkinkan bagi Islam untuk melakukan ekspansi ke daerah itu. Kira-kira selama 7 abad Islam mengibarkan benderanya di Spanyol, sudah barang tentu Islam meninggalkan peradaban-peradaban baik yang bersifat intelektual maupun segi fisik bangunan. Spanyol di bawah kekuasaan umat Islam telah mencapai kejayaan yang gemilang. Banyak kemajuan yang diperoleh dan pengaruhnya terasa sampai ke Eropa bahkan sampai ke seluruh dunia. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat sekarang ini sangat berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pada zaman dahulu.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama untuk menyerap peradaban Islam bagi Eropa, baik melalui hubungan politik, sosial maupun peradaban antar negara, hingga Eropa mengakui bahwa Spanyol di bawah pemerintahan umat Islam yang lebih maju dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, terutama di bidang pemikiran sehingga timbul Averoisme (Ibn Ruysd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir.
2. Masa Kemunduran (1250-1500) dan Latar Belakang / Sebab-Sebab Timbulnya Masa Kemunduran
Pada tahun 1258 M kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Bani Abbas dengan khalifah al-Mu’tashim jatuh ke tangan bangsa Mongol (dipimpin oleh Hulagu Khan). Bangsa Mongol yang beragama Syamaniah, bersama suku Nomad-nya berambisi menaklukkan dunia dan menghancurkan wilayah yang dilaluinya, mereka menyerang dan meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan yang tak tunduk pada perintahnya. Sebagian besar penduduk di sembelih laksana binatang, kemudian dirampas hartanya, mereka melakukan perbuatan yang kejam dan ganas tidak berperikemanusiaan. Gedung-gedung yang indah, madrasah, Masjid mereka rusak. Atas kemenangan umat Islam mereka mendirikan dinasti Ilhan yang diteruskan dengan berbagai serangan oleh Timur Lenk, anak keturunan bangsa Mongol. Ada satu dinasti yang selamat dari kehancuran akibat serangan Mongol, yaitu dinasti Mamalik Mesir, hingga akhirnya pusat ilmu yang tadinya ada di Baghdad perpindah ke Mesir.
Adapun sebab-sebab timbulnya masa kemunduran adalah :
a. Jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol
b. Runtuhnya daulat Abbasiyah yang memerintah Baghdad pada masa itu (1258 M)
c. Terpecahnya kekuasaan Islam pada saat itu, kekuasaan Islam terpecah menjadi tiga daerah kekuasaan :
1) Kekuasaan bangsa Mongol dengan luas daerah kekuasaannya dari India sampai ke Syria
2) Kekuasaan bangsa Turki dari perbatasan Syria sampai ke Mesir
3) Kekuasaan bangsa Arab di daerah-daerah selain daerah yang dikuasai oleh Mongol dan Turki.
d. Kurangnya persatuan di antara umat Islam.
(Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 111-128 dan Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2005, hlm. 229-248)
Bangsa Mongol yang berskala kecil dan termasuk bangsa Nomaden telah begitu kuat mengubah sejarah peradaban Islam dari sepanjang Laut Tengah dengan penuh kegigihan mendirikan kemiliteran yang begitu hebat dalam kurun waktu yang relatif singkat. Sehingga dapat mengalahkan umat Islam yang berskala besar. Peradaban yang di bina sekian lama dalam masa beberapa periode (dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayyah) lenyap begitu saja oleh bangsa Mongol tak berperikemanusiaan, rakus akan kekuasaan. Mereka menganggap hanya ada satu Tuhan di dunia, makanya ia juga beranggapan hanya ada satu penguasa di dunia, yakni dari bangsanya yaitu Mongol.
3. Tiga Kerajaan Besar dan Penyebab Kemundurannya
A. Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah Usman I, ia adalah kabilah Oghuz, yang tinggal di Mongol dan daerah utara negara Cina. Atas dasar membantu berperang melawan Bizantium, oleh Sultan Alauddin II mereka diberi tanah di Asia Kecil, atas kemenangannya kemudian oleh Usman didirikan sebagai kerajaan Turki Usmani (1290 M – 1326 M) hingga akhirnya mengadakan perluasan daerah dan menaklukkan kota-kota lain seperti Abdrianopel yang kemudian dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan yang baru. Turki Usmani sangat terkenal dengan kemiliterannya sehingga mampu mengadakan ekspansi sampai Eropa. Kerajaan Turki Usmani bermadhab sunny, mengalami kejayaan pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni.
Penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani
1) Wilayah kekuasaan yang sangat luas
2) Heterogenitas enitas penduduk
3) Kelemahan para penguasa
4) Budaya Pungli
5) Pemberontakan tentara jenis sari
6) Merosotnya ekonomi
7) Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.
B. Kerajaan Safawi di Persia
Kerajaan Safawi berasal dari tarekat Safawiyah yang berdiri di Ardabil, Azerbaijan dan didirikan oleh Safi al-Din (1252–1334 M). Kerajaan Safawi menetapkan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan ini di anggap sebagai peletak dasar terbentuknya negara Iran. Puncak kejayaan pada masa Abbas I, karena mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah di rebut oleh kerajaan lain pada masa raja sebelumnya.
Penyebab kemunduran kerajaan Safawi di Persia
1) Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani
2) Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi
3) Gagalnya pembentukan pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I
4) Sering terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
C. Kerajaan Mughal di India
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai Ibu Kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482–1530 M). Pada awalnya Babur dimintai bantuan untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim di Delhi oleh paman penguasa India (Ibrahim Lodi), dan akhirnya kemenangan berpihak padanya, tetapi rajanya meninggal dunia. Akhirnya Babur memasuki kota Delhi karena di sana vacuum of power sehingga ia menegakkan pemerintahannya dan mendirikan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Mughal terkenal dengan kemiliterannya sehingga Sultan adalah penguasa diktator. Kerajaan Mughal menetapkan Sunny sebagai madzhab negara kerajaan Mughal di India hancur pada tahun 1858 M.
Penyebab hancurnya kerajaan Mughal di India
1) Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime mughal.
2) Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3) Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4) Semua pewaris tahta adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
(Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 111-128 dan Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 427-496)
Suatu pertanyaan yang selalu membenak di hati, mengapa tiga kerajaan di atas disebut sebagai kerajaan besar? Kalau kita tengok ke belakang awal mula berdirinya tiga kerajaan tersebut adalah berdiri dengan sendiri secara mandiri tanpa meneruskan kekuasaan pemerintahan nenek moyangnya, dengan kemandiriannya dalam membentuk suatu pemerintahan tiga kerajaan besar itu mampu berkembang hingga mencapai kejayaan yang gemilang dengan memperluas kekuasaan di sekitarnya hingga mampu membangun peradaban-peradaban Islam yang dapat kita ketahui sampai sekarang. Walaupun secara kualitasnya masa keemasan tiga kerajaan besar tersebut lebih jauh gemilang dengan kerajaan (dinasti-dinasti) Islam pada masa klasik, yang mendahulukan ilmu pengetahuan dari pada kemiliteran yang berfungsi sebagai peperangan untuk melakukan ekspansi seperti yang dilakukan oleh tiga kerajaan besar ini.
4. Kedatangan Islam di Indonesia
Sekitar Abad I / 7 M, meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar, Islam telah masuk ke Indonesia tepatnya di pesisir Sumatera. (Prof. A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Banda Aceh, PT. al-Ma’arif, 1989, hlm. 7). Dengan bukti adanya makam Fatimah binti Maemun di Leran (Gresik, Jatim) yang berangka tahun tertua yang bergaya kufi memberi kesan kuat bahwa nisan tersebut dibuat di Gujarat, India. Tetapi kehadiran Islam di Indonesia secara lebih nyata sekitar abad 13 M, yakni dengan adanya makam Sultan Malik al-Saleh. (Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu, 1998, hlm. 54). Hal di atas diperkuat lagi dengan kedatangan Marco Polo yang telah menuliskan kisah tentang petualangannya ke Dunia Timur dan sempat singgah di Pelabuhan Perlak yang di situ sudah ada penduduk yang memeluk Islam.
Sejarah juga mencatat Islam datang ke Indonesia abad ke-7 hingga abad ke-16 ini melalui pedagang muslim (Arab, Persia dan India) yang datang ke pesisir Sumatera Utara. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 119)
Beberapa proses Islamisasi di Indonesia antara lain lewat jalur perdagangan, perkawinan antara saudagar dengan penduduk pribumi, kesenian, pondok pesantren, politik maupun tasawuf. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 202–204)
Islam sangat mudah masuk ke Indonesia, karena Islam bersifat fleksibel, luntur, lunak, tidak memaksa, dibuktikan dengan adanya akulturasi antara kebudayaan yang telah ada (Hindu–Budha) kepercayaan penduduk sebelum Islam datang, sebagai contoh yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan pewayangannya, sehingga masyarakat sedikit demi sedikit mau menerimanya. Islam menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara serta gaya hidup, yang secara kualitatif lebih maju dari kebudayaan yang ada. Tidak hanya dibidang renungan teologia monotheismenya dibanding teologia polytheisme, tetapi juga di bidang kehidupan kemasyarakatan yang tidak mengenal kasta. Dan di banding kebudayaan asli kita, yang tidak mengenal sedikit saja menyerap pengaruh kebudayaan Hindu–Budha, di mana masih dominan paham yang oleh Barat dicapnya sebagai “Animisme” dan “Dinamisme” primitif. Maka ajaran Islam lebih jelas secara kualitatif jauh lebih maju, terutama di bidang teologia monotheismenya yang membebaskan manusia dari belenggu ketakhayulan dan kemusyrikan.
5. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
A. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai terletak di pesisir timur laut Aceh dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M dengan raja yang pertamanya adalah Malik al-Saleh dengan pusat kerajaanya ada di Muara Sungai Peusangan. Kerajaan berlangsung sampai abad 1524 M Samudra Pasai ditaklukkan Portugis dan akhirnya pada tahun 1524 M di aneksasi oleh raja Aceh, Ali Mughyat Syah dan selanjutnya ada di bawah pengaruh kesultanan Aceh.
B. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak di Aceh Besar (sekarang), berdiri pada tahun ke-15 M dengan raja Ali Mughyat Syah. Puncak kekuasaan terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608–1637 M), kerajaan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan Turki Usmani pada saat itu. Pada masa itu daerah sekitarnya sudah memeluk Islam kecuali rakyat batak. Runtuhnya Aceh ketika tonggak kepemimpinan dipimpin oleh seorang perempuan pada tahun 1641–1699, beberapa wilayah taklukannya lepas dan terpecah belah hingga akhirnya pada abad ke–18 M Kasultanan Aceh tinggal bayangan belaka.
C. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan pertama di Pulau Jawa dengan rajanya Raden patah, terjadi kurang lebih sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke­-16.
D. Kerajaan Pajang
Pajang merupakan lanjutan dari kerajaan Demak terletak di Kartasura, kerajaan Pajang merupakan kerajaan pertama di pedalaman pulau Jawa. Sultan pertamanya adalah Jaka Tingkir atau Adiwijaya. Pada masa sejarah Islam di Jawa yang asalnya berada di pesisir pantai kini berpindah ke pedalaman yang membawa akibat besar dalam perkembangan Islam di Jawa. Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618.
E. Kerajaan Mataram
Pendiri kerajaan Mataram adalah Ki Pamenahan, yang mana mendapat tanah Mataram oleh Sultan Adiwijaya untuk memberontak Aria Penangsang, dan Ki Pamenahan mendapatkan kemenangan, hingga akhirnya di sana mulai ditempati pada tahun 1577 M dan menjalankan pemerintahan. Pada masa Sultan Agung kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dengan VOC mulai terjadi.
Konflik datang bertubi-tubi, dalam setiap konflik yang tampil sebagai lawan adalah mereka yang didukung oleh para ulama yang bertolak dari keprihatinan agama, hingga terjadi pemerontakan-pemberontakan yang mengakibatkan runtuhnya Keraton Mataram.
F. Kerajaan Cirebon
Kesultanan Cirebon adalah kerajaan yang pertama yang ada di Jawa Barat, pendirinya adalah Sunan Gunung Jati pada abad ke-16.
G. Kerajaan Banten
Pendiri kerajaan Banten adalah Hasanuddin putra dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1568 dan beliau adalah raja pertamanya. Kesultanan bergantian secara turun temurun hingga akhirnya pada masa Sultan Abul Fath terjadi beberapa kali peperangan antar Banten dan VOC yang berakhir dengan disetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M.
H. Kerajaan Banjar di Kalimantan
Pendirinya adalah Pangeran Samudera atau Sultan Suryatullah / Suryan Syah setelah berhasil menghalau serangan dari Daha berkat bantuan Demak. Kerajaan ini merupakan penerus dari kerajaan Daha yang mayoritas masih menganut agama Hindu–Budha.
I. Kerajaan di Maluku
Sekitar tahun 1460 M raja Ternate, Vongi Tidore memeluk agama Islam, raja yang benar-benar muslim adalah Zayn al-‘Abidin (1486–1500 M), karena usia Islam masih muda di Ternate, Portugis yang tiba dari sana tahun 1522 M, berharap dapat menggantikannya dengan agama Kristen, tetapi usaha mereka hanya mendatangkan hasil yang sedikit.
J. Kerajaan di Sulawesi
Kerajaan ini bernama kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya pulau Sulawesi, raja pertamanya adalah Alauddin (1591–1636 M), karena tradisi seorang raja menyampaikan pesan, maka dengan itu kerajaan Soppeng, Wajo, Bone pun akhirnya menerima Islam.
Jika kita teliti lebih lanjut letak geografi kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia mayoritas terletak di pesisir pantai seperti Samudra Pasai, Demak, Aceh, Sulawesi, Maluku, Kalimantan itu dikarenakan lajur pelayaran merupakan sarana perdagangan antar pulau sehingga memungkinkan untuk proses Islamisasi di sana, yang bisa disalurkan lewat beberapa kerajaan. Adapun kerajaan yang ada di pedalaman merupakan masa transisi politik pesisir ke pedalaman yang dapat mengembangkan Islam secara merata baik di pesisir, perkotaan maupun di pedalaman. Perlu diketahui bahwa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sangat dipengaruhi oleh peran Walisongo, dibuktikan dengan adanya kesultanan di Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati yang sebelumnya banyak berkiprah di Demak, dan adanya Sunan Giri yang menjadi guru para raja di Maluku yang berguru di Sunan Giri dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif, Prof. Dr. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu, 1998.
Hasymy, A., Prof. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Banda Aceh, PT. al-Ma’arif, 1989.
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999.
Su’ud, Abu, Prof. Dr. Islamologi Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta, Rineka Cipta, 2003.
Wakil, Muhammad Sayyid, Dr. Wajah Dunia Islam dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2005.
Yatim, Badri, Dr. MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar