STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 09 Oktober 2012

ORIENTALISME DAN BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW

PENDAHULUAN
Para orientalis barat sejak abad pertengahan baik penulis atau sastrawan telah sepakat dalammemberikan sifat Nabi Muhammad dengan tuduhan dusta belaka. Tuduhan itu berkisar bahwa Rasulullah adalah mengada-ada wahyu, pengarang dan pendiri Islam. Bahkan mereka sepakat menisbatkan Islam kepada beliau dengan menamakannya Muhammadisme.

PEMBAHASAN
Pengertian orientalis adalah ; faham yang keinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa timur dan lainnya, faham ini terfokus ke-dunia Islam. Dengan demikian para orientalis mempunyai harapan dalam mengkaji biografi Nabi Muhammad seperti merebetnya tuduhan dusta, dan pernah mempunyai julukan sebagai ahli sihir, kekerasan, menyiarkan agama dengan pedang.[1]
Seorang orientalis barat mengatakan bahwa kehidupan Nabi Muhammad hanya berkisar tentang menikahi seorang janda kaya raya. Mengidap penyakit ayan dan belajar dari agama Nasrani. Dengan demikian pendapat orientalis barat tersebut sukar dipercaya kebenarannya.
Kemudian para pertengahan abad ke lima belas para nasionaris tidak merasa puas hanya dengan memusuhi dan mengotori citra Islam. Maka mereka berusaha semaksimal mungkin untuk memurtadkan kaum muslimin sehingga menjadi penganut nasrani secara massal, mereka merasa yakin bahwasanya usaha misionaris berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya tidak akan mengobati luka akibat dari perang salib.[2]
Pada tahun 1697 M diterbitkan Ensiklopedia di Perancis semacam sejarah orientalisme yang ia beri nama Bibliografi The Qua Oriental. Buku ini merupakan buku penting sebagai rujukan bangsa Eropa dalam mengkaji tentang ketimuran. Bahkan hingga akhir abad 19 merupakan hasil karya yang sangat berharga dan sangat dibanggakan bangsa Eropa pada umumnya serta kaum orientalis pada khususnya.

Dalam buku ini sejarah umat manusia dibagi menjadi dua bagian, pertama sebagai sejarah suci, terdiri dari sejarah bangsa yunani dan Nasrani, kemudian bagian kedua sebagai sejarah tidak suci (kotor) hanya berupa sejarah umat Islam dan perjalanannya.
Lebih jauh dalam buku ini dikisahkan bahwa Nabi Muhammad mereka menuliskan inilah pendusta paling masyhur (yakni Muhammad0 dialah pendiri agama yang dinamakan Muhammadisme.
Sesungguhnya para ahli tafsir Qur’an dari umumnya para ulama telah berlebihan dalam memuji pendusta yang mengaku Nabi itu. Mereka telah menambah-nambahi sifat terpuji kepadanya melebihi fanatik pengikut Masehi Isa al-Masih. Bahkan dari mereka ada yang memujinya dengan memberikan sifat ketuhanan padanya.
Fakta yang lainnya pada abad pertengahan muncul seorang pendeta atau Uskup Agung dan orientalis masehi yang bernama Tomas Alluinas, yaitu tahun 1226 M sampai dengan tahun 1274 M. Ia mengatakan Islam adalah agama orang-orang yang murtad dari Nasrani. Ajarannya hanya berisikan syahwati. Mencampur adukkan kebenaran dengan dongeng lama serta ajaran sesat.
Dan kenabian Muhammad tidak pernah dikuatkan oleh satu mukjizat dan sahabatnya (sahabat Nabi tidak pernah mempunyai atau mendapat mu’jizat dari Tuhan) yang mengetahui hakekat teologi atau ketuhanan, bahkan perilaku mereka itu cenderung ganas dan keras. Muhammad dapat menghimpun kekuatan yang begitu hanya dengan militer.[3]
Kasus semacam ini banyak dilakukan oleh para orientalis barat pada abad kedua belas dan seterusnya apabila ditambah dalam ungkapan dan lagu seperti diungkapkan oleh Chonson De Rold dalam sebuah lagunya dimana digunakan bahwasanya umat muslim adalah penyembah berhala yang mentuhankan Muhammad.[4]
Bahkan ada orientalis pada abad kedua belas yang bernama George Sabe mengatakan Muhammad tidak lain dan tidak bukan adalah pengarang Qur’an (perancangnya0 dibantu orang lain ini adalah masalah yang tidak diragukan lagi dan telah disepakati semua orang, karena tidak adanya protes atau usulan dari sahabatnya.
Para orientalis telah banyak mengambil sikap mendustakan dan mengingkari kebenaran Islam dengan bentuk beraneka ragam, yang paling menonjol dan paling diandalkan serta yang paling sering dikumandangkan adalah kebohongan dan dakwaan tentang sumber datangnya risalah (yakni wahyu) dan juga pribadi Rasulullah Saw.
Pada semua prinsipnya tuduhan dan dakwaan itu tertuju pada satu pokok, yaitu tuduhan bahwasanya al-Qur’an itu bukan wahyu Illahi dan nabi Muhammad Saw bukan seorang Rasulullah Saw, maksudnya adalah Muhammad adalah seorang pendusta dan Qur’an tidak lain adalah bikinan dia sendiri. Yang berarti Qur’an buatan manusia biasa yaitu Rasulullah Muhammad Saw.
Pada prinsipnya para orientalis mengenai Nabi Muhammad Saw dalam kaitannya dengan dakwaan ini, banyak sekali penafsiran orang kafir atau orientalis tentang masalah wahyu. Mereka mengatakan bahwa semua wahyu itu tidak lain hanyalah angan-angan dan impian dari Muhammad. Dan juga para orientalis menganggap sebagai mantera dukun, ucapan penyair, kata-kata syaitan. Menganggapnya sebagai ucapan Muhammad dan seperti ucapan manusia biasa para orientalis mengatakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yaitu al-Qur’an al-Karim merupakan dongeng dan cerita lama, serta mereka mengatakan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad hanyalah omong kosong belaka.[5]
Semua dakwaan dan penafsiran para orientalis dan kaum kafir telah diungkapkan dan telah dibeberkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an surat al-Mubatsir ayat 24-25 kemudian surat al-Ambiyak ayat 5.
Perlu diketahui bahwasanya Salman Rusidi penulis buku “Ayat-ayat Syaitan” yang telah belajar Islam dari para orientalis, dari Universitas Lambudge. Ia mengatakan ide ceritanya dari hasil pemahaman terhadap dakwaan tadi dan begitulah kesamaan dakwaan dan tuduhan yang dilanturkan kaum orientalis terhadap al-Qur’an al-Karim dan baginda Rasulullah Muhammad Saw.
Tuduhan mereka bahwasanya Rasulullah Saw adalah seorang yang berpredikat gila. Dalam tuduhan ini mereka para orientalis banyak menggunakan cara yang beraneka ragam. Ada pula yang mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad mengidap penyakit ayan. Ada pula yang mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad tertempa hestenia. Bahkan ada yang menyamakan dan mengidentikkan Rasulullah Saw dengan para tokoh aneh, yang sangat terkenal masyarakat seperti Napoleon dan Hiller.
Tuduhan dan dakwaan bahwa Nabi Muhammad telah mempelajari ilmu yang telah dimilikinya itu dari orang lain. Berdasarkan atas seseorang laki-laki yang beragamakan Nasrani dari Ajam (non Arab) yang tidak dapat berbicara dengan bahasa Arab.
Akan tetapi para kaum orientalis juga selalu berpendapat bahwasanya al-Qur’an itu bersumber dari referensi-referensi dari agama Yahudi dan Nasrani. Baik yang dibawa para saudagar dan kafilah Yahudi dan Nasrani. Ataupun lewat hubungan bertetangga, ketika Nabi berada di Madinah, bahkan mengambil langsung dari kitab suci Injil dan Taurat.[6]
Dengan demikian mereka menganggap bahwasanya Rasulullah orang yang pandai membaca dan menulis, bukan orang yang buta huruf. Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasanya Rasulullah yang dituduh oleh para orientalis bukanlah merupakan masalah yang baru dalam sepanjang perjalanan untuk menyebarluaskan risalah Islam.
Semua tuduhan itu tidak hanya ditujukan atau dituduhkan kepada Nabi Muhammad saja. Tetapi kepada rasul-rasul yang diutus oleh Allah sebelum Nabi Muhammad. Orang-orang kafir itulah yang telah mengestafetkan tuduhan tadi dari generasi kegenerasi berikutnya seolah-olah telah mewariskan sesuatu yang sangat berharga dan yang harus diterima oleh para cucu dan keturunannya.
Ada kesamaan yang sangat nyata dalam tuduhan tersebut tadi pada setiap masa dalam semua prinsipnya. Sebab memang ada unsur kesamaan jiwa antara satu generasi kegenerasi dan menolak mengikuti petunjuk Illahi karena itu para generasi berikutnya terus mengumandangkan apa yang didakwakan oleh para nenek moyangnya.
Tidaklah diragukan bahwasanya sikap seperti ini akan terus dikembangkan lebih jauh lagi dalam gambaran yang baru serta lebih bahaya lagi tentunya dari segi politik dan ilmu pengetahuan. Sikap memusuhi risalah Islam, pengingkaran terhadap ajaran-ajaran Islam dan mendustakan Rasulullah.
Dengan adanya sikap yang sedemikian rupa kaum orientalis bertujuan untuk menggoyahkan dan menumbuhkan keraguan bagi kaum muslimin dalam mengimani Islam dan tujuan yang kedua tidak lain adalah untuk menggerogoti agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., yang lebih cenderung ke teks-teks yang ada. Dengan demikian perlu diketahui bahwasanya para orientalis hanya bertujuan merongrong agama Islam tidak mengutamakan bukti-bukti yang riil, dan tidak mau menyelidiki perubahan yang terjadi.
KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan dan diperjelas bahwa kaum orientalis dengan adanya biografi Nabi Muhammad, mereka menyikapi sampai sedemikian rupa. Dalam memusuhi Islam pada hakekatnya target mereka yaitu mencegah sampainya kebaikan (Islam) kepada umat Islam, dan berusaha memurtadkan mereka dari Islam.


[1] Abdul Hamid, Menyikapi Tabir Orientalisme, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993, hlm. 52
[2] Abdul Hasan, Islam dan Barat, Bandung: Al-Ma’arif, tth, hlm. 74
[3] Taufik Hidayah, Khasanah Intelektual, Bandung: Mizan, 1989, hlm. 36
[4] Abu Hamid, op. cit., hlm. 26
[5] Op. cit., hlm. 31
[6] Maryam, Orientalisme, Jakarta: Rajawali, 1994, hlm. 45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar