STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 22 April 2013

Filsafat Ilmu Islami

A. Latar Belakang
Perkembangan di bidang ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini lebih maju dibanding abad-abad sebelumnya. Fenomena ini merupakan kebangkitan kesadaran manusia pada abad ke-20 untuk meninjau ulang kerja mereka terhadap sains dan teknologi selama ini. Olehnya itu, diskursus keilmuan dengan segala cabang ilmu pengetahuan akan melahirkan beberapa pendekatan baru dalam berbagai penyelidikan. Hal ini menunjukkan studi tentang keilmuan tidak akan pernah berhenti untuk dikaji, bahkan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan obyek penelitian.
Harus pula diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat ilmu islami, sehingga muncullah ilmuwan yang digolongkan sebagai filosof Islam dimana mereka menyakini adanya hubungan antara filsafat dan ilmu Islami. Filsafat ilmu islami yang dimaksud di sini adalah kebenaran ilmu agama sebagai hasil dari berfikir radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu, Filsafat ilmu islami hadir sebagai upaya menata kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuannya, yakni memfokuskan diri terhadap kebahagian umat manusia.
Pada hakikatnya upaya manusia memeroleh pengetahuan hanya didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni; apa yang ingin diketahui (ontologis), bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan (epistemologis), dan apakah nilai atau manfaat pengetahuan itu (aksiologis). Ketiga masalah ini, kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan-permasalahan yang sangat asasi. Alasannya, berbagai pemikiran yang besar sebenarnya merupakan serangkaian jawaban yang diberikan atas ketiga masalah di atas.
B. Pengertian Filsafat Ilmu Islami
Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (Arab), philoshophy (Inggris), philoshophia (Latin), philoshophie (Jerman, Belanda, Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani , philoshophia. Istilah Yunani philein berarti "mencintai", sedang philos berarti "Teman". Selanjutnya istilah sophos berarti "bijaksana", sedangkan sophia berarti "kebijaksanaan".
Adapun pengertian filsafat menurut para filosof antara lain : menurut Konsep Rene Descartes menyatakan bahwa filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. Sedangkan Francis Bacon menyatakan bahwa filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya.
Terminologi ilmu secara etimologi yang dipahami secara umum adalah sebagai suatu pengetahuan secara praktis yang dipakai untuk menunjuk pada pengetahuan sistematis tentang masalah-masalah yang berhbungan dengan subyek tertentu. Selanjutnya, pengertian ilmu secara klasik dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang sebab akibat atau asal-usul yang biasanya dilawankan dengan pengertian opini. Dalam pengertian lain, term “ilmu” di sini sering pula diistilahkan dengan science, knowledge, education dan information, sehingga pengertiannya bermakna ganda, atau mengandung lebih dari satu definisi.
Dalam hal ini Jujun S. Suriasumantri menyatakan bahwa  ilmu adalah pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku Sekolah Dasar sampai Pendidikan Lanjutan dan Perguruan Tinggi. Pengertian ini mengindikasikan perolehan ilmu itu secara bertahap dalam berbagai jenjang pendidikan.  Atau segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu termasuk sistem kerja ilmuan terus berkembang. Ini disebabkan karena fitrah manusia sebagai makhluk education senantiasa dibarengi dengan keingintahuannya terhadap sesuatu.
John Ziman menyatakan bahwa ilmu adalah kajian tentang dunia material yang memiliki obyek tertentu. Pengertian ini mengindikasikan bahwa ilmu memiliki batasan tertentu yang harus dikelola sehingga bermuara pada suatu pengetahuan tentang sesuatu.
Dari beberapa pengertian ilmu yang telah disebutkan di atas, maka dapat dipahami bahwa ilmu secara terminologi merujuk pada hasil interaksi manusia dengan obyek tertentu yang akan menghasilkan sesuatu pengetahuan dan itulah yang disebut ilmu. Sehingga, pengertian term ilmu perlu suatu penegasan tentang cakupan ilmu secara umum sebagai satu kebulatan (science in genaral). Sedangkan secara khusus menunjuk masing-masing bidang pengetahuan ilmiah (science in physcal) yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Misalnya, Antropologi (ilmu tentang angkasa), Biologi (ilmu tentang struktur makhluk hidup), Geografi (ilmu tentang iklim), Sosiologi (ilmu tentang sosial) dan selainnya.
Selanjutnya, kata islam, jika ditinjau dari segi leteralnya tersusun dari huruf-huruf s-l-m (س،ل،م) yang berarti al-inqiyâd (sikap tunduk dan patuh), al-istislâm (sikap berserah diri) dan al-ikhlas (sikap ketulusan hati). Kemudian kata سلم tersebut berubah menjadi fi’il tsulâsy mazîd, yakni aslama, yuslimu, islâman, yang secara leksikal berarti selamat, damai, tunduk dan sentosa. Jadi, pemaknaan Islam dalam arti sempit adalah menyelamatkan, mendamaikan, menundukkan dan menyejahterakan manusia.
Dari rumusan di atas, maka agama Islam dapat dipahami sebagai sesuatu yang menunut sikap ketundukan dengan penyerahan dan sikap pasrah, disertai sifat batin yang tulus, sehingga intisari yang terkandung dalam Islam ada dua yaitu; pertama berserah diri, menudukkan diri atau taat sepenuh hati; kedua masuk dalam al-salâm, yakni selamat sejahterah, damai hubungan yang harmonis.
Berdasar dari batasan-batasan tentang “filsafat”, “ilmu” dan “Islam”, maka dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan  filsafat ilmu islami adalah suatu cabang ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, kealaman dan kemanusiaan sesuai dengan  ajaran Islam. Hal tersebut dikarekan pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of knowledge maka lahirlah filsafat Ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: ilmu (pengetahuan).
Filsafat ilmu tanpa melandaskan diri pada konsep agama atau bahkan dipisahkan dari dimensi keimanan menurut ajaran Islam, dalam bahasa lain filsafat ilmu ini disebut filsafat ilmu sekuler yang berpijak pada pandangan sekularisme.
C. Ruang Lingkup dan Aspek-aspek Filsafat Ilmu Islami
Ruang lingkup filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas "sifat pengetahuan ilmiah", dan kedua menelaah "cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah". Pokok bahasan yang pertama erat hubungannya dengan filsafat pengetahuan (epistemologi), yang secara umum menyelidiki syarat-syarat dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, terkait dengan cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah, filsafat ilmu berhubungan erat dengan logika serta metodologi, dan kadang-kadang pengertian filsafat ilmu ditumbuhkan dengan metodologi.
Adapun mengenai bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Paling sedikit ada tiga aspek dari suatu filsafat ilmu: ontologis, epistemologis, dan akiologis.
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang "ada" itu. paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana menifestasi kebenaran yang kita cari.
Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi kepada empiris.
Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya.
Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu, misalnya: positivisme logis. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan, tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan.
Aksiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.
Filsafat ilmu dalam perkembangannya juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap bukan saja kemanfaatan, tetapi juga arti maknanya terhadap kehidupan umat manusia.
Al-Qur’an adalah sumber seluruh pengetahuan, al-Qur’an mencakup seluruh bentuk pengetahuan. Pandangan yang menganggap al-Qur’an sebagai sebuah sumber seluruh pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab para ulama kaum muslimin terdahulu juga berpandangan demikian. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali. Dalam bukunya Ihya 'Ulumul Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas'ud: "Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya ia merenungkan al-Qur’an". Selanjutnya beliau menambahkan: "Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi sifat-sifat dan perbuatannya".
Mengapa suatu kehendak Allah, agar manusia dengan menggunakan indra dan akalnya dapat menemukan rahasia-rahasia alam. Sebab jika al-Qur’an menjelaskan secara detail mengenai hal ini jelas akan kekurangan fungsinya. Sebagaimana Muhammad Abduh mengatakan: "Jika rasul itu harus menerangkan ilmu-ilmu kealaman dan astronomi, maka itu berarti akhir dari aktifitas indera dan akan manusia, dan akan merendahkan kebebasan manusia itu sendiri".
Sehubungan dengan penjelasan di atas filsafat ilmu islami, juga akan berbicara tentang fakultas-fakultas pengetahuan manusia secara lengkap sebagai satu kesatuan yang utuh potensi berilmu. Dimana pada pembahasan epistemologi filsafat ilmu islami berbicara mengenai indera lahir, indera batin, akal sebagai alat dari hati dan lain sebagainya.
D. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa term filsafat memiliki arti dasar bijaksana, sedangkan term ilmu berarti pengetahuan, dan term Islam berarti keselamatan. Jika ketiga term tersebut digabungkan menjadi satu maka disebut “Filsafat Ilmu Islami”, yakni  suatu cabang displin ilmu yang khusus menyelidiki masalah ketuhanan, kealaman dan kemanusiaan berdasarkan pandangan yang dibentuk oleh pemahaman ajaran Islam, dengan  sumber utama al-Quran dan Hadis.
Bidang garapan filsafat ilmu islami diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yakni ontologis, epistemologis, dan akiologis.
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Sedangkan aksiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.
Kepustakaan:
Asmoro, Acmadi, 1997. Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
al-Baqi, Muhammad Fu’ad Abd, 1977. Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfazh al-Qur’an al-Karim. Mesir: Dar al-Fikr.
Ghulsyani, Mahdi, 1993. Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an. Bandung : Mizan.
Gie, The Liang, 1991. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Ibn Madzûr,  Muhammad Ibn Mukram, 1990. Lisân al-Arab, juz XV.  Beirut: Dâr al-Fikr.
Ibn taymiyah, Taqy al-Dîn. Iqtidha al-Sirâth al-Mustaqîm. Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.
Munawwir, Ahmad Warson, 1984. al-Munawwir Kamus Arab Indonesia. Yogyakarta: Pondok Pesantren al-Munawwir.
Suriasumantri, Jujun S, 1999. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta; Liberti.
Ziman, John, 1998. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam dalam C.A. Qadir (ed) “Ilmu Pengathuan dan Metodologinya”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar