STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 17 Februari 2014

ANALISA SURAT ALFATIHAH DALAM TAFSIR AL-MISBAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Surat Al-Fatihah merupakan surat yang paling mulia karena merupakan pintu gerbang pembuka dari alqur’an. Karena itu tak salah jika Quraish Shihab menyebutnya sebagai “ Mahkota Tuntunan Ilahi”[1]. Sebagai mahkota sudah barang tentu seluruh hal-hal yang terkandung dalam surat-surat alqur’an sudah termaktub dalam kandungan ayat-ayat Al-Fatihah. 
Keagungan surat Al-Fatihah tercermin dari beberapa hadist Nabi, diantaranya yang menyatakan bahwa tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Kemuliaan surat ini juga menyebabkan nabi menganugrahkan sebagai “ Ummul Kitab” atau “ Ummul Qur’an”, dan tidak jarang disebut “ Sab’ul Matsani”.
Disebut sebagai Ummul Qur’an atau Ummul Kitab karena surat Al-Fatihah terdapat pada awal alqur’an dan juga bisa jadi karena kandungan ayat-ayat surat Al-Fatihah mencakup semua kandungan tema-tema pokok semua ayat-ayat alqur’an[2]. Dinamakan Sab’ul Matsani karena surat ini dibaca berulang-ulang dalam shalat atau diluar shalat.
Menyitir pendapat Muhammad Abduh, Quraish Shihab memaparkan bahwa surat Al-Fatihah diletakkan didepan karena menyangkut kandungannya yang bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surat-surat al-qur’an[3].
Sejalan dengan hal tersbut, dalam tulisan Syaikh Abdul Mushin Al ‘Abbad yang diterbitkan oleh blog Muslim.Or.Id disebutkan bahwa Surat Al Fatihah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan firman-Nya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka. Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya ta’ala, “Rabbil ‘alamin.” (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah ‘Allah’ dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘rabb’ disebutkan dalam bentuk mudhaf.[4]
Lebih lanjut mengupas tentang surat Al-Fatihah ini, penulis akan mencoba secara sederhana menggambarkan dan menganalisa surat ini berdasarkan tafsir Al-Misbah yang dikarang oleh Quraish Shihab. 
1.2. Rumusan Masalah
          Dalam makalah sederhana ini penulis akan membatasi masalah pada:
1.    Bagaimana Tafsir Al-Fatihah menurut Tafsir Al-Misbah?
2.    Bagaimana Analisa Tafsir Al-Misbah berkaitan dengan Surat Al-Fatihah?
1.3. Tujuan Makalah
1.    Mengetahui Tafsir Al-Fatihah menurut Tafsir Al-Misbah
2.    Mengetahui Analisa Tafsir Al-Misbah berkaitan dengan Surat Al-Fatihah



BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Sekilas tentang Tafsir Surat Al-Fatihah berdasarkan Tafsir Al-Misbah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

          "Dengan nama Allah Yang Rahman dan Rahim."

Ayat pertama Surat Al Fatihah lebih dikenal dengan sebutan lafadz Basmalah. Basmalah merupakan pesan pertama Allah kepada manusia yakni pesan agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan nama Allah, sebagaimana wahyu pertama Allah kepada Nabi-Nya ‘Iqra’ Bismi Rabbika’.   
Dalam lafadz Basmalah terdapat huruf "ب" pada lafadz "بسم"  yang diterjemahkan “ dengan “, meski tidak terucap tetapi harus terlintas dalam benak kita ketika mengucap Basmalah terdapat artian “memulai”, sehingga Bismillah berarti “ saya atau kami memulai apa yang kami kerjakan ini dengan nama Allah”. Dengan demikian, kalimat tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah pernyataan dari pengucap bahwa ia memulai pekerjaan atas nama Allah. Atau dapat juga diartikan sebagai sebuah perintah dari Allah yang menyatakan “ Mulailah pekerjaanmu dengan nama Allah “ (meskipun kalimat tersebut bukan dalam bentuk amar). Dengan menyisipkan kata “memulai” memiliki semangat menjadikan Allah sebagai pangkalan bertolak.
Lafadz Ar-Rahman ar-Rahim terambil dari akar kata yang sama, yakni rahim yang berarti “peranakan”. Dengan menyebut rahim yang terukir dalam benak adalah “ibu dan anak” dan saat itu pula terbayang betapa besar kasih sayang yang diberikan ibu kepada anaknya. Meski demikian bukan berarti rahmat Allah sepadan dengan sifat rahmat seorang ibu, betapapun besarnya kasih sayang ibu, sebab rahmat Allah melampau segalanya.
Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Allah mencurahkan rahmat-Nya, sementara ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya. Kata Ar-Rahman juga dipahami sebagai sifat Allah yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini, sedang ar-Rahim adalah rahmat-Nya yang bersifat kekal. Rahmat-Nya di dunia yang sementara ini meliputi seluruh makhluk, tanpa kecuali dan tanpa membedakan antara mukmin dan kafir. Sedangkan rahmat yang kekal adalah rahmat-Nya di akhirat, tempat kehidupan yang kekal, yang hanya akan dinikmati oleh makhluk-makhluk yang mengabdi kepada-Nya.

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالمَيْنَ

          "Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam."

Lafazd حمد yang yang didahului huruf alif dan lam dalam kaidah arabiah dinamai al-istighraq  yang berarti mencakup segala sesuatu. Karena itu, kalimat alhamdulillah sering diterjemahkan dengan segala puji bagi Allah.  
Hamdu atau pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walaupun ia tidak memberi sesuatu kepada yang memuji.
Sementara dalam kalimat الحمد لله, huruf lam yang mengikuti kata lafdzul jalalah mengindikasikan arti pengkhususan bagi-Nya. Dengan demikian segala pujian hanya wajar dipersembahkan kepada Allah SWT.
Kalimat Robbul 'aalamin, merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala pujian hanya diperuntukkan kepada Allah. Betapa tidak, Dia adalah Robb dari seluruh alam. Dengan ada penegasan bahwa Allah adalah Rabbul A’lamin membuat manusia menjadi tenang sebab segala sesuatu kebutuhan manusia telah dipersiapkan Allah.
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

          "Ar-Rahman Ar-Rahim."

Pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik dan sempurna kecuali bila disertai dengan rahmat dan kasih sayang. Oleh karena itu, ayat ini sebagai penegasan dari sifat Allah yang rabbul’alamin. Pemeliharaan-Nya terhadap seluruh alam itu bukan atas dasar kesewenangan-wenangan semata, tetapi diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
Dengan disebutkan sifat Ar-Rahman Ar-Rahim memberi kesan bahwa keabsolutan Allah bergabung dengan kesan rahmat dan kasih sayang. Ini mengantarkan pada keyakinan bahwa Allah Maha Agung lagi Maha Indah, Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

          "Pemilik hari pembalasan."

Sifat ketuhanan tidak dapat dilepaskan dari kepemilikan dan kakuasaan. Karena itu kapemilikan dan kakuasaan yang dimaksud perlu ditegaskan. Maka Yaumuddin merupakan penegasan dari kepemilikan dan kekuasaan Allah. Keyakinan tentang adanya hari pembalasan memberi arti bagi hidup ini. Tanpa keyakinan itu, semua akan diukur disini dan sekarang yakni di dunia. Padahal banyak nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan disini dan sekarang. Adanya hari pembalasan juga memberikan ketenangan terhadap manusia, sebab Allah sebagai pemilik dan penguasa tunggal akan membalaskan setiap perbuatan. 
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

" Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami       meminta pertolongan."

Kalimat "Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan", adalah bukti bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah pengajaran. Allah mengajarkan ini kepada kita agar kita ucapkan, karena mustahil Allah yang Maha Kuasa itu berucap demikian, bila bukan untuk pengajaran.
Iyyaka dan na'budu juga merupakan pengecaman terhadap mereka yang mempertuhan atau menyembah selain Allah, baik masyarakat Arab ketika itu maupun selainnya. Penggalan ayat mengecam mereka semua dan mengumandangkan bahwa Allah-lah yang patut disembah dan tidak ada sesembahan yang lain.
Sementara dalam kalimat Iyyaka nastain mengandung arti bahwa kepada selain Allah manusia tidak memohon pertolongan. Meski Allah menjadi sandaran untuk memohon pertolongan, bukan berarti tidak ada upaya dengan berlepas tangan sama sekali. Tetapi Kita masih dituntut untuk berperan, sedikit atau banyak, sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Mendahulukan na’budu daripada nasta’in menunjukkan bahwa manusia harus lebih dulu menghambakan diri atau mendekatkan diri kepada Allah sebelum mereka meminta pertolongan.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

          "Bimbing (antar)lah Kami (memasuki) jalan lebar dan luas."

Setelah mempersembahkan puja puji kepada Allah dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan-Nya, ayat selanjut ini merupakan pernyataan tentang ketulusan-Nya beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah. Maka dengan ayat ini sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yakni bimbing dan antarkanlah Kami memasuki jalan yang lebar dan luas.
Shiroth di sini bagaikan jalan tol yang lurus dan tanpa hambatan, semua yang telah memasukinya tidak dapat keluar kecuali setelah tiba di tempat tujuan. Shiroth adalah jalan yang lurus, semua orang dapat melaluinya tanpa berdesak-desakan. Sehingga shiroth menjadi jalan utama untuk sampai kepada tujuan utama umat manusia, yaitu keridloan Allah dalam setiap tingkah laku.

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

          "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat       kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula   jalan) orang-orang yang sesat."

Kata nikmat yang dimaksud di sini adalah nikmat yang paling bernilai yang tanpa nikmat itu nikmat-nikmat yang lain tidak akan mempunyai nilai yang berarti, bahkan dapat menjadi niqmah atau bencana jika tidak bisa mensyukuri dan menggunakannya dengan benar.
Nikmat tersebut adalah nikmat memperoleh hidayah Allah serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang taat melaksanakan pesan-pesan Ilahi yang merupakan nikmat terbesar itu, mereka itulah yang masuk dan bisa melalui shiroth al-mustaqim.
Ada empat kelompok yang mendapatkan nikmat khusus dari Allah SWT, yaitu nikmat keagamaan dan jalan kelompok-kelompok tersebut yang dimohon untuk ditelusuri. Mereka adalah :
1.    Para nabi yaitu mereka yang dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia ke jalan Ilahi.
2.    Para shiddiqin yaitu orang-orang dengan pengertian apapun selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternoda oleh kebatilan dan tidak pernah bersikap yang bertentangan dengan kebenaran.
3.    Para syuhada’ yaitu orang yang senantiasa bersaksi atas kebenaran dan kebajikan melalui ucapan dan tindakan mereka walau harus mengorbankan nyawa sekalipun.
4.    Orang-orang shaleh yakni yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha untuk mewujudkannya.   
Penggalan ayat ghair il-maghdhub 'alaihim tidak menjelaskan siapakah orang-orang tersebut, tetapi dalam beberapa hal rasulullah telah memberi contoh konkret, yaitu orang-orang Yahudi yang mengerti akan kebenaran tetapi enggan melaksanakannya. Hal yang wajar jika murka ini disandarkan kepada orang-orang yahudi (meski bukan keseluruhan) sebab dalam al-qur’an sebanyak dua belas kali disebutkan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yahudi.
Sementara adh-dhalin, yang berarti sesat, kehilangan jalan, bingung, tidak mengetahui arah, banyak dinisbahkan kepada orang-orang nasrani. Namun secara umum dapat diberi makna bahwa adh-dholin adalah bentuk tindakan atau ucapan yang tidak menyentuh pada kebenaran.

2.2. Analisis Tafsir Al-Misbah Berkenaan Surat Al-Fatihah
Dalam pembahasan tafsir surat Al-Fatihah diatas, penulis hanya mengambil sedikit intisari yang digambarkan oleh tafsir Al-Misbah. Jika menukil secara utuh maka akan dapat ditemukan kedalaman pemahaman pengarang dalam penafsirannya, khususnya surat Al-Fatihah.
Dalam tafsir Al-Misbah, Qurais shihab mengelompokkan tema surat Al-Fatihah dalam dua kategori, yaitu:
1.  Pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifatnya
2.  Pembicaraan tantang permohonan yang diajarkan Allah kepada hamba-hambanya.[5]
Pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya terwakili pada ayat 1 sampai dengan 4, sedang berkaitan dengan permohonan termaktub dalam ayat 5 sampai dengan 7.
Pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifatnya bisa juga kita tarik kesimpulan bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang keimanan atau ketauhidan. Karena itu tidak salah jika Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam memasukkan ayat-ayat Al-Fatihah sebagai dalil tentang tauhid.[6]
Sejalan dengan tafsir yang dikarang oleh Quraish Shihab, sebuah tulisan yang dibuat oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi dalam www. Islam.or.id. menyebutkan bahwa dalam kandungan surat Al-Fatihah Allah mengajarkan kepada manusia tugas hidup dunia, mengajarkan kepada mereka untuk bergantung dan berharap kepada-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, serta menunjukkan kepada mereka jalan yang akan mengantarkannya menuju kebahagiaan[7]. Sementara kebahagian sejati menurut imam Ghazali adalah cinta kepada Allah.[8] Cinta kepada Allah merupakan puncak tertinggi dari tujuan akhir. Karena itu, tidak salah jika segala aktifitas baik harus disandarkan atas nama Allah.
Kembali ke permasalahan tafsir Al-Misbah, bahwa berkenaan dengan penafsiran surat Al-Fatihah kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ayat pertama dalam Al-Fatihah, yakni Basmalah memberi pelajaran agar kita memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan Basmalah sehingga terjalin hubungan yang erat antara si pengucap/ pembaca dengan Allah swt, dan dengan penyebutan kedua sifat-Nya ar-Rahman ar-Rahim tertancap dalam hati si pembaca betapa besar rahmat Allah sehingga semestinya pembacanya tidak akan berputus asa betapapun berat dan sulit keadaan yang dihadapinya.
2. Ayat kedua surat Al-Fatihah, alhamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah adalah pengajaran agar seseorang selalu menyadari betapa besar rahmat dan anugerah Allah kepada-Nya. Sehingga bila sesekali ia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya, maka ia akan teringat rahmat dan nikmat Allah yang selama ini dinikmatinya.
3. Redaksi persona ketiga pada kalimat al-Hamdulillah dalam arti si pemuji tidak berhadapan langsung dengan Allah, memberi pelajaran bahwa memuji tanpa kehadiran yang dipuji lebih baik daripada memuji di hadapannya.
     Sedang ayat kelima, Iyyaka na‘budu dan Iyyaka nasta‘in, yang artinya hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dikemukakan dalam bentuk persona kedua, dalam arti Allah hadir dan si pemohon berhadapan langsung dengan Allah.
     Ini karena dalam beribadah seseorang hendaknya bagaikan berhadapan langsung dengan-Nya. Inilah yang dimaksud oleh Nabi saw ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang makna al-Ihsan, yakni "Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan bila tidak mampu melihat-Nya (dengan mata hatimu), maka ketahuilah bahwa Dia melihat-Mu", (HR Bukhari melalui Umar Ibn al-Khaththab).
4. Pernyataan bahwa Allah adalah Rabb al-‘alamin atau Tuhan Pemelihara seluruh alam memberi pelajaran bahwa Allah mengurus, memelihara, dan menguasai seluruh jagad raya.
5. Sementara kalimat Allah Pemilik Hari Kemudian mengajarkan antara lain bahwa kuasa-Nya ketika itu sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkari-Nya, tidak juga seseorang dapat membangkang, sebagaimana ia mengajarkan juga bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui kehidupan di sana kecuali bila diberi tahu melalui wahyu oleh Allah atau penyampaian nabi dan bahwa waktu kedatangan hari itu adalah suatu rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.
6. Kata 'kami' pada ayat ke-5: "Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan," mengandung beberapa pesan tentang kebersamaan antarumat yang menjadikan setiap Muslim harus memiliki kesadaran sosial, yang menjadikan ke-akuan-nya lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya. Setiap Muslim, dengan demikian, menjadi seperti satu jasad yang merasakan keperihan bila satu organ menderita penyakit.
7. Ayat ke-7 surat ini mengajarkan agar menisbahkan segala yang baik kepada Allah swt, sedang yang buruk harus dicari terlebih dahulu penyebabnya. Ini dipahami dari penisbahan pemberian nikmat kepada-Nya; "Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat," sedang menyangkut murka tidak dinyatakan: "Yang Engkau murkai," tetapi "Yang dimurkai." [9]


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Surat Al-Fatihah (pembukaan) yang terdiri atas 7 ayat ini adalah surat merupakan surat yang agung. Karena itu surat ini juga mendapat julukan sebagai “Mahkota Tuntunan Ilahi” dalam bahasa Quraish Shihab. Disebut dengan Al-Fatihah karena merupakan pembuka dalam Al-Qur'an. Dinamakan juga sebagai Ummul Qur'an karena di dalamnya mencakup kandungan tema-tema pokok semua ayat Al-Qur'an. Yang di antaranya mencakup aspek keimanan, hukum, dan kisah.
Alasan mengapa Al-Fatihah diletakkan di awal Al-Qur'an karena kandungan Surat ini bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surat-surat Al-Qur'an.
Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab mengelompokkan kandungan surat Al-Fatihah dalam dua rangkaian, yakni pembicaraan tentang Allah dan sifat-sifatnya dan pembicaraan tantang permohonan yang diajarkan Allah kepada hamba-hambanya. Pembahasan tentang Allah dan sifat-sifatnya terwakili pada ayat 1 sampai dengan 4, sedang berkaitan dengan permohonan termaktub dalam ayat 5 sampai dengan 7.




DAFTAR PUSTAKA

Ghazali, Imam. Ajaran Bahagia (terj. Kimyaa’u As-sa’adah). Yogyakarta: Cakrawala. 2011.
Ilyas, Yunahar. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI. 2009. 
Shihab, Quraish. Tafsir Al-Misbah. Ciputat: Lentera Hati. 2007.
WWW. Muslim. Or. Id
xa.yimg.com/kq/groups/23346012/.../TAFSIR+AL+MISBAH.doc



[1] M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah. Ciputat: Lentera Hati. 2007. hal. 3
[2] Ibid; hal. 4.
[3] Ibid; hal. 7.
[5] Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah. hal. 9
[6] Yunahar Ilyas. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI. 2009. hal. 19
[7] Www. Muslim. Or.id
[8] Imam Ghazali. Ajaran Bahagia (terj. Kimyaa’u As-sa’adah). Yogyakarta: Cakrawala. 2011. Hal. 137
[9] xa.yimg.com/kq/groups/23346012/.../TAFSIR+AL+MISBAH.doc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar