STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 21 Mei 2011

TAFSIR QS. AL-BAQARAH (2) AYAT 31-32

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latang Belakang
Surat Al Baqarah yang 286 ayat itu turun di Madinah yang sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpancang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada BAni Israil (ayat 67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai Fusthaatul-Quran (puncak Al Quran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga surat alif-laam-miim karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.
Sebagaimana kita ketahui bawah khususnya dalam Surat Al-baqarah ayat 31-32 merupakan ayat yang sangat menarik untuk dibahas karena disitu ada sitilah yang kita kenal sekaran dengan Transfer of knowledge, Maka dari itu di dalam makalah ini kami akan membahas Surat Al-Baqarah ayat 31 -32

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan merumuskan pembahasan seputar ayat dan Makna QS. Al-Baqarah 31-32, Tafsir Mufradat, Kandungan dan Penafsiran Ayatnya.



BAB II
PEMBAHASAN


A. Ayat dan Makna QS. Al-Baqarah 31-32


Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah 31-32)

B. Tafsir Mufradat
Kata ( ثم ) tsummah / kemudian pada firman-Nya : kemudian Dia memaparkannya kepada malaikat ada yang memahaminya sebagai waktu yang relatif lama antara pengajaran Adam dan pemaran itu, dan ada juga yang memahaminya bukan dalam arti selang waktu, tetapi sebagai isyarat tentang kedudukan yang lebih tinggi, dalam arti pemaparan serta ketidak mampuan malaikat dan jelasnya keistimewaan Adam as. melalui pengetahuan yang dimilikinya, serta terbuktinya ketetapan kebijaksanaan Allah menyangkut pengangkatan Adam as. sebagai kholifah, semua itu lebih tinggi nilainya dari pada sekedar informasi tentang pengajaran Allah kepada Adam yang dikandung oleh penggalan ayat sebelumnya .
Ucapan malaikat Maha Suci Engkau yang mereka kemukakan sebelum menyampaikan ketidaktahuan mereka, menunjukkan betapa mereka tidak bermaksud membantah atau memprotes ketetapan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, sekaligus sebagai tertanda “Penyesalan” mereka atas ucapan atau kesan yang ditimbulkan oleh pernyataan itu.
Firman-Nya : ( ) innaka anta al-‘alim al-hakim / sesungguhnya Engkau, Engkau Yang Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana, mengandung dua kata yang menunjukkan kepada mitra bicara yaitu huruf (ك) kaf pada kata ( إنك) innaka dan kata (أنت) anta. Kata anta oleh banyak ulama dipahami dalam arti penguat sekaligus untuk memberi makna pengkhususan yang tertuju kepada Allah swt. dalam hal ini pengetahuan dan hikmah, sehingga penggalan ayat ini menyatakan “Sesungguhnya hanya Engkau tidak ada selain Engkau” Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .
Kata (العليم) al-‘alim terambil dari akar kata (علم) ‘ilm yang menurut pakar-pakar bahasa berarti menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. Allah swt. dinami (عالم) ‘alim atau (عليم) ‘alim karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil-kecilnya apapun. Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya : “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan dibelakng mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Baqarah : 255)
Kata (الحكيم) al-hakim dipahami oleh sementara ulama dalam arti Yang Memiliki hikmah, sedang hikmah lain berarti mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Seorang yang ahli dalam melakukan sesuatu dinamai (حكيم) hakim, Hikmah juga diartikan sebaga sesuatu yang bila digunakan atau diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang lebih besar dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata (حكمة) hakamah, yang berarti kendali karena kendali menghalangi hewan atau kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan.

C. Kandungan dan Penafsiran Ayat
Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya . Hal ini pun ditegaskan oleh Hadits tentang syafa’atul uzhma. Nabi saw. bersabda :
“ … lalu mereka datan kepada Adam seraya berkata, Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya, Dia membuat para malaikat bersujud kepadamu, dan Dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara ” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah telah mengajari Adam nama-nama makhluk. Oleh karena itu, Dia berfirman, “kemudian Dia mengemukakan nama-nama itu kepada para malaikat.” ‘aradhahum menggunakan bentuk untuk yang berakal. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan universalitas sehingga termasuk ke dalamnya makhluk yang tidak berakal .
Bagi ulama-ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam as. dalam arti mengajarkan kata-kata, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam nama benda itu pada saat dipaparkannya sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda-benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dalam bentuk mendiktekan sesuatu atau menyampaikan suatu kata atau idea, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terarah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan.
Di sini kita dengan mata hati kita di dalam cahaya kemuliaan melihat apa yang dilihat para malaikat di kalangan makhluk yang tinggi. Kita menyaksikan sejemput kecil dari rahasia Ilahi yang besar yang dititipkan-Nya pada makhluk yang bernama manusia ini, ketika Dia menyerahkan kepadanya kunci-kunci kekhalifahan. Rahasia kekuasaan itu diisyaratkan pada nama dan benda-benda yang berupa lafal-lafat yang terucapkan hingga menjadikannya isyarat-isyarat bagi orang-orang dan benda-benda yang diindranya .
Setelah pengajaran Allah dicerna oleh Adam as sebagaimana dipahami dari kata kemudian, Allah mengemukakannya benda-benda itu kepada para malaikat lalu berfirman, “sebutkanlah kepada-ku nama benda-benda itu, jika kamu benar”. dalam dugaan kamu bahwa kalian lebih wajar menjadi khalifah.
Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka.
Mereka para malaikat yang ditanya itu secara tulus menjawab sambil menyucikan Allah “Maha suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Maksud mereka, apa yang Engkau tanyakan itu tidak pernah Engkau ajarkan kepada kami. Engkau tidak ajarkan itu kepada kami bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah di balik itu.
Demikian jawaban malaikat yang bukan hanya mengaku tidak mengetahui jawaban pertanyaan, tetapi sekaligus mengakui kelemahan mereka dan kesucian Allah swt dari segala macam kekurangan atau ketidakadilan, sebagaimana dipahami dari penutup ayat ini.
Benar, pasti ada hikmah dibalik itu. Boleh jadi karena pengetahuan menyangkut apa yang diajarkan kepada Adam tidak dibutuhkan oleh para malaikat karena tidak terkait dengan fungsi dan tugas mereka. Berbeda dengan manusia, yang bibebani tugas memakmurkan bumi.
Jawaban para malaikat, “Sesungguhnya Engkah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” juga mendaung makna bahwa sumber pengetahuan adalah Allah. Dia juga mengetahui segala sesuatu termasuk siapa yang wajar menjadi khalifat, dan Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya, termasuk menetapkan makhluk itu sebagai khalifah. Jawaban mereka ini juga menunjukkan kepribadian malaikat dan dapat menjadi bukti bahwa pertanyaan mereka pada ayat 31 di atas bukanlah keberatan sebagaimana diduga sementara orang.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 31-32 menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya. Hal ini pun ditegaskan oleh Hadits tentang syafa’atul uzhma. Nabi saw. bersabda :
“ … lalu mereka datan kepada Adam seraya berkata, Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya, Dia membuat para malaikat bersujud kepadamu, dan Dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara ” (HR. Bukhari)

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amien.


DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, (Jakarta : Gema Insani, 1999), hlm. 106.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm. 147.
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an I, (Jakarta : Gema Insani, 2000), hlm 68

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar