STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 01 Februari 2014

LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

I.         PENDAHULUAN
Jika kita berbicara mengenai pendidikan, maka kita tidak bisa terlepas dari yang namanya lingkungan tempat pendidikan berlangsung. Disini lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap anak didik. Islam yang mengakui bahwa fitrah (potensi) manusia itu merupakan dua hal yang saling bertentangan satu yang lainya. Yaitu fitrah berbuat baik dan fitrah berbuat jahat.[1] Dalam kondisi demikian lingkungan merupakan sarana untuk mengembangkan fitrah tersebut.
Apabila lingkungan yang melatarbelakangi perkembangan anak didik itu telah kondusif dalam mengembangkan fitrah (potensi) secara maksimal, maka akan terjadi perkembangan yang positif. Apabila lingkungan yang melatarbelakangi perkembangan anak didik itu destruktif dalam mengembangkan fitrah (potensi) itu, maka akan terjadi sebaliknya. Adapun lingkungan dalam pendidikan Islam bermacam-macam yang mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pula. Untuk lebih jelasnya akan dibahas secara detail dalam makalah berikut ini.

  1. II.      RUMUSAN MASALAH
    1. Apa Pengertian Lingkungan?
    2. Apa Klasifikasi Lingkungan Pendidikan dalam Pendidikan Islam?
    3. Bagaimana Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat?
    4. Bagaimana Pengaruh Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam Pendidikan?
  1. III.   PEMBAHASAN
  2. Pengertian Lingkungan
Dalam arti luas lingkungan adalah semua yang mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang.[2] Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, atau alam yang bergerak atau tidak bergerak, kejadian-kejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang.
Menurut Sartain (seorang ahli psikologi Amerika), bahwa lingkungan adalah meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan, perkembangan, kecuali gen-gen. Sedangkan pendapat lain, bahwa di dalam lingkungan tidak hanya terdapat sejumlah factor pada suatu saat, melainkan terdapat pula factor-faktor yang lain yang banyak jumlahnya, yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku.[3]
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita yang mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat dan lain-lain yang senantiasa berkembang dan dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan, perkembangan, kecuali gen-gen. Disini digambarkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor pendidikan yang ada yang sangat penting. Karena lingkungan sangat berpengaruh kepada anak didik, baik itu lingkungan yang baik ataupun lingkungan yang tidak baik. Lebih-lebih lingkungan yang kurang baik yang mudah mempengaruhi anak didik.
Untuk itu bagi seorang pendidik diharuskan untuk selalu memperhatikan aspek lingkungan dalam mendidik anak didiknya, agar nantinya anak didik tidak berada dalam lingkungan yang kurang baik yang dapat mempengaruhi kepribadianya. Bahkan para ahli sosial berpendapat bahwa perbaikan lingkungan menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[4] Karena suatu pendidikan akan dikatakan berhasil jika semua tujuan-tujuan yang ada di dalamnya dapat tercapai.
  1. Klasifikasi Lingkungan Pendidikan dalam Pendidikan Islam
    1. Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulan didalamnya bersifat khas dan intim.[5] Dalam pengertian lain disebutkan bahwa keluarga merupakan sebuah ikatan laki-laki dan wanita berdasarkan hukum atau undang-undang perkawinan yang sah.[6] Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia bahwa kelurga didefinisikan sebagai semua orang seisi rumah, baik itu ayah, ibu, anak, sanak saudara ataupun kerabat.[7]
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan sebuah lembaga yang terdapat ikatan laki-laki dan wanita berdasarkan hukum atau undang-undang perkawinan yang sah yang pergaulan didalamnya bersifat khas dan intim. Dalam keluarga juga dapat melahirkan anak-anak yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya interaksi pendidikan.
Para ahli didik umumnya menyatakan pendidikan dilembaga ini merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Dikatakan demikian karena di lembaga inilah anak mendapatkan pendidikan yang pertama kalinya. Disamping itu pendidikan disini mempunyai pengaruh terhadap kehidupan peserta didik kelak kemudian hari. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup dan berbagai kebiasaan ditanamkan sejak dini dalam lingkungan keluarga, sehingga semua dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pribadinya tidak mudah berubah.[8]
Adapun anggota-anggota keluarga yang berperan dalam pendidikan anak adalah sebagai berikut:
  1. Peranan Ibu
  2. Peranan ayah
  3. Peranan kakek/nenek, dan
  4. Peranan saudara
  5. Peranan pembantu rumah tangga.
Pendidikan keluarga menjadi dasar, sehingga pendidikan dalam keluarga menjadi sangat penting bagi anak didik. Comenius seorang ahli didaktik terbesar pun dalam bukunya menekankan betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak yang sedang berkembang.[9] Oleh sebab itu peranan orang tua menjadi sangat penting dalam penentuan keberhasilan proses pendidikan dalam keluarga. Di sini kasih sayang orang tua menjadi sangat penting bagi pertumbuhanya. Karena kekurangan kasih sayang seorang anak menjadi keras kepala, sulit diatur dan lain-lain. Tapi sebaliknya jika berlebihan akan menjadikan anak manja, penakut dan tidak cepat mandiri.[10]
Di samping itu orang tua juga dituntut untuk memberikan pengajaran-pengajaran yang baik kepada anak, terutama masalah agama. Karena agam merupakan landasan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Allah SWT berfirman:
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR ……….
“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim:6)[11]
Maka jika orang tua tidak pandai mendidik dan memelihara anak, akhirnya anak akan terjerumus kelembah kenistaan. Maka orang tua akan menerima akibatnya baik dalam kehidupan didunia, apalagi akhirat.
  1. Sekolah
Dalam kamus bahasa Indonesia adalah suatu bangunan ataupun lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran menurut tingkatanya.[12] Sedangkan dalam pengertian lain disebutkan bahwa sekolah adalah pendidikan formal, mempunyai jenjang dan dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.[13]
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu lembaga ataupun bangunan yang mempunyai jenjang dan dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Walaupun masa sekolah bukan satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar, namun sekolah merupakan tempat yang strategis bagi pemerintah dan masyarakat untuk membina seseorang dalam menghadapi masa depanya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan setelah keluarga mempunyai peranan yang sangat penting. Pada waktu anak-amak menginjak umur 6-7 tahun, perkembangan intelek, telah meningkat sedemikian rupa, sehingga mereka telah mampu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang ada di sekolah. Seperti matematika, Bahasa dan lain sebagainya. Dan keluarga umumnya tidak mampu untuk mengajarkanya. Dan disinilah sekolah sudah diatur untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.
Sekolah sebagai tempat rujukan merupakan sumber ilmu dan bekal tempat menimba ilmu pengetahuan. Manakala sumbernya jernih dan bekalnya tersedia, lagi bergizi dan yang memberi minum adalah orang yang pandai lagi cerdas, maka kebutuhan pokok para pengunjungnya akan terpenuhi. Para pengunjungnya akan memperoleh siraman yang dapat mengembangakn akal serta wawasan berfikir. Selain itu dapat menyuburkan bakat mereka, serta dapat menampilkan kemampuan secara optimal.[14]
Sedangkan jika kita berbicara mengenai lingkungan sekolah yang positif terhadap pendidikan Islam adalah lingkungan sekolah yang memberikan motifasi dan fasilitas untuk berlangsungnya pendidikan agama ini. Misalnya dengan sarana dan prasarana yang memadai, seperti tempat wudlu, mushola, buku bacaan keislaman dan lainya. Lingkungan sekolah demikian inilah yang mampu membina anak beribadah, berpandangan luas dan nalar kreatif.[15]
  1. Masyarakat
Lingkungan masyarakat ialah lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak sesuai dengan keberadaanya.[16] Lingkungan ini akan memberikan pengaruh yang sangat berarti dalam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Karena di dalam keluarga masih banyak kekurangan dan keterbatasan untuk melakukan pendidikan maka dalam masyarakat bisa didapatkan. Di sini pendidikan dalam masyarakatakan berfungi sebagai:
  1. Pelengkap (complement), ialah kegiatan pendidikan yang berorientasi melengkapi kemampuan, ktrampilan, kognitif maupun performans seseorang, sebagai akibat belum mantabnya atas apa yanga ia terima dalam sekolah ataupun keluarga.
  2. Pengganti (subtitute), ialah menyediakan pendidikan yang berfungsi sama dengan lembaga pendidikan formal di sekolah.
  3. Tambahan (supleement), ialah lingkungan masyarakat mampu menyediakan pendidikan yang sudah ada pada lembaga formal, akan tetapi kurang mendalam dan di sinilah bisa didalaminya.[17]
Dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003 pasal 54 ayat 2 juga dijelaskan “Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.”[18]
Dalam UU di atas dijelaskan bahwa masyarakat dapat menyelenggarakan pendidikan baik secara perorangan bahkan kelompok. Disini kelompok atau organisasi dalam masyarakat juga mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan ini. Adapun organisasi-organisasi yang tumbuh dalam masyarakat antara lain:
  1. Perkumpulan-perkumpulan kepemudaan, seperti perkumpulan mahasiswa, pelajar (PMII, HMI, IPNU, IPPNU dan lain-lain).
  2. Perkumpulan-perkumpulan olahraga dan kesenian
  3. Perkumpulan koperasi dan lain-lain.[19]
Perkumpulan ataupun organisasi dalam masyarakat yang mendorong anak untuk hidup dan mempraktikan ajaran Islam dengan rajin beramal, cinta damai, toleransi, suka menyambung tali silaturahmi dan sebagainya. Sebaliknya lingkungan yang tidak mendorong anak untuk mempraktikan ajaran Islam, maka akan menjadikan anak apatis, arogan dan jauh pada ajaran Islam.[20]
  1. Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat
Setelah kita lihat ketiga macam tanggung jawab dan pembinaan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah dan masyarakat, nampaknya adanya kesamaan rasa tanggung jawab yang dipikul oleh ketiga macam lingkungan ini. Mereka secara tidak langsung telah mengadakan kerjasama yang erat didalam praktek pendidikan.[21]
Kerjasama yang erat itu tampak pada hal-hal berikut. Orang tau anak meletakan dasar-dasar pendidikan dirumah tangga, terutama dalam segi pembentukan kepribadian, nilai-nilai luhur moral dan agam sejak kelahiranya. Kemudian dilanjutkan dan dikembangkan dengan berbagai materi pendidikan berupa ilmu dan ketrampilan yang dilakukan oleh sekolah. Orang tua menilai dan mengawasi hasil didikan sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pendidikan di masyarakat ikut pula mengontrol, menyalurkan, membina serta meningkatkanya. Hal ini berlangsung sedemikian rupa karena masyarakat adalah lingkungan pemakai (the user) dari produk pendidikan yang diberikan oleh keluarga dan skolah.[22]
Dari ulasan diatas dapat dianalisis bahwa proses pendidikan yang dilakukan oleh ketiga lingkungan ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Secara mental spiritual dasar-dasar pendidikan diletakan oleh keluarga dan secara akademik konseptual dikembangkan oleh sekolah, sehingga perkembangan semakin terarah. Kemudian  hasil dari pendidikan kedua ini digunakan oleh masyarakat sebagai pemakai. Di sini dapat dilihat betapa eratnya kerjasama yang terpadu dari ketiga macam lingkngan pendidikan untuk membawa anak kepada tujuan bersama, yaitu membentuk anak menjadi anggota masyarakat yang baik dalam beragama, berbangsa dan bernegara.
  1. Pengaruh Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam Pendidikan
    1. Pengaruh keluarga dalam Pendidikan
Suatu keluarga merupakan bentuk masyarakat mini dan merupakan komponen dari masyarakat dalam arti yang sesungguhnya.[23] Lingkungan kelurga merasa bertanggung jawab atas kelakuan, pembentukan watak, kesehatan, pendeknya atas pendidikan seluruhnya. Lingkungan ini selalu bertanggung jawab atas hal ini dimanapun anak-anak itu berada.
Sumbangan keluarga terhadap pendidikan anak tak terkira banyaknya, misalnya waktu kecil kita sudah dilatih menolong, mengasihi sesama manusia dan sebagainya. Kita belajar berkorban, kita berbuat baik kepada orang. Kita juga belajar sabar, saling menghargai dan lain sebagainya.[24] Di samping itu dalam keluarga juga diajarkan kebiasaan-kebiasaan baik tentang kesehatan, makanan dan tingkah laku.
Jadi dalam lingkungan ini diajarkn berbagai hal yang fundamentsebagai bekal anak dalam menapaki kehidupan kelak. Karena itu orang-orang yang berperan disini khususnya orang tua harus benar-benar menjadikan lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang baik agar nantinya akan menghasikan output yang baik, yaitu output yang berakhlakul karimah.
  1. Pengaruh Sekolah dalam Pendidikan
Sekolah adalah tempat mengajar dan mendidik anak-anak. Sekolah juga mempunyai peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh murid-murid. Disini sekolah mempunyai tujun yang pokok untuk mendidik anak guna mencerdaskan anak bangsa, sehingga nantinya mereka dapat menjadi insan yang bermanfaat dalam masyarakat.[25]
Tugas sekolah bukan semata-mata mengajarkan anak membaca, menulis dan berhitung, melainkan tugasnya adalah mempersiapkan anak-anak untuk mengisi kebutuhan masyarakat tempat tinggalnya. Untuk itu kepada anak didik sekolah memperkenalkan yang namnya tata krama, peraturan dan disiplin sekolah. Kalau kita lihat dari segi lain, pengadaan sekolah tersebut ditunjukan kepada:
  1. Penyediaan tenaga kerja yang merupakan “human resource” dalam rangka memenuhi tantangan dan tuntutan zaman yang selalu berubah
  2. Membina masyarakat sesuai dengan yang diinginkan.[26]
Maka jelaslah bahwa sekolah merupakan suatu wadah yang perlu menyediakan dan melakukan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Akan tetapi bukan berarti mengabaikan salah satu fungsi sekolah guna mencetak manusia yang berakhlakul karimah. Maka dari itu di sekolah diajarkan tentang kebaikan-kebaikan dan semua yang berkenaan dengan tingkah laku yang sesuai dengan agama.
  1. Peranan Masyarakat dalam Pendidikan
Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga disamping lingkungan keluarga dan sekolah. Menurut pengklasifikasian Philip H. Coombs, pendidikanya termasuk kepada pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah. Dengan kata lain pendidikan dalam masyarakat sebagai bagian integral pendidikan Nasional mempunyai tugas melaksanakan pendidikan kepada masyarakat diluar sekolah.[27]
Jika kita kembali kepada lingkungan masyarakat, sebenarnya di dalam masyarakat itu tidak ada pendidikan. Di dalam masyarakat yang ada hanyalah pengaruh dari masyarakat itu. Pengaruh-pengaruh dari masyarakat ini ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif terhadap pendidikan anak.
Yang dimaksud dengan pengaruh positif adalah segala sesuatu yang memberi pengaruh baik terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Yaitu pengaruh-pengaruh yang menuju kepada hal-hal yang baik dan berguna. Baik itu berguna bagi diri sendiri maupun berguna bagi kehidupan bersama. Sedangkan pengaruh yang bersifat negatif ialah segala pengaruh yang menuju kehal-hal yang tidak baik atau merugikan. Baik itu merugikan diri sendiri ataupun orang lain.[28]
Maka jelaslah peran masyarakat dalam pendidikan begitu penting, karena masyarakat dapat memberi pengaruh kepada anak didik, baik itu pengaruh positif ataupun negatif. Maka hendaknya anak didik selalu diberi pengawasan yang intens supaya tidak terpengaruh lingkungan yang negatif. Atau bisa juga dikembangkan berbagai macam aktivitas pendidikan yang positif oleh berbagai macam instansi, jawatan dan lembaga pendidikan maupun non pendidikan. Bentuk-bentuk pendidikan ini antara lain apa yang dilakukan oleh organisasi pemuda dan kepramukaan atau organisasi sosial lainya.[29]
  1. IV.   KESIMPULAN
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita yang mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat dan lain-lain yang senantiasa berkembang dan dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan, perkembangan, kecuali gen-gen. Disini digambarkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor pendidikan yang ada yang sangat penting. Karena lingkungan sangat berpengaruh kepada anak didik, baik itu lingkungan yang baik ataupun lingkungan yang tidak baik. Lebih-lebih lingkungan yang kurang baik yang mudah mempengaruhi anak didik. Adapun lingkungan dalam pendidikan Islam secara umum ada 3:
  1. Lingkungan keluarga
  2. Lingkungan sekolah, dan
  3. Lingkungan masyarakat
Adapun dari ketiga lingkungan diatas semuanya punya pengaruh dan saling berhububgan dalam pendidikan. Keluarga sebagai peletak dasar-dasar pendidikan dirumah tangga, terutama dalam segi pembentukan kepribadian, nilai-nilai luhur moral dan agam sejak kelahiranya. Kemudian dilanjutkan dan dikembangkan dengan berbagai materi pendidikan berupa ilmu dan ketrampilan yang dilakukan oleh sekolah. Orang tua menilai dan mengawasi hasil didikan sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pendidikan di masyarakat ikut pula mengontrol, menyalurkan, membina serta meningkatkanya.
  1. V.      PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Ilmu Pendidikan 1, (Semarang: CV Toha Putra, 1977).
Ali, Muhammad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta: Pustaka Amani, 2006).
Ali Quthb, Muhammad, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, (Bandung: CV Diponegoro, 1993).
Darajat, Zakiah dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000).
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Jumanatul ‘Ali-Art, 2004).
Idris,Zahara, Dasar-Dasar  Kependidikan, (Padang: Angkasa Raya, 1987).
Ihsan, Fuad, Dasar-Dasar kependidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008).
Noer Ali, Hery, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999).
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1995).
Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Sutiyono, H.M, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, (Jakarta: Rineka Cipta 2009).
Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional 2003, (Jakarta: cemerlang, 2003).
Yusuf, A. Muri, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986).


  [1] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 296
[2] Zakiah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), cet 4, hlm. 63
[3] H.M. Sutiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, (Jakarta: Rineka Cipta 2009), hlm. 298
[4] Zakiah Darajat, Op.cit, hlm. 65
[5] Ibid, 66
[6] H.M. Sutiyono, Op.cit, hlm. 301
[7] Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta: Pustaka Amani, 2006), hlm. 175
[8] Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu,  1999), cet 1, hlm. 211
[9] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1995), cet 8, hlm. 79
[10] H.M. Sutiyono, Loc.cit, hlm. 301
[11] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Jumanatul ‘Ali-Art, 2004), hlm. 561
[12] Muhammad Ali, Op.cit, hlm. 399
[13] Zahara Idris, Dasar-Dasar  Kependidikan, (Padang: Angkasa Raya, 1987), hlm. 42
[14] Muhammad  Ali Quthb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, (Bandung: CV Diponegoro, 1993), hlm. 92
[15] H.M. Sutiyono, Op.cit, hlm. 304
[16] A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), cet 2, hlm. 34
[17] Ibid,
[18] Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional 2003, (Jakarta: cemerlang, 2003), hlm. 38
[19] H.M. Sutiyono, Op.cit, hlm. 306
[20] Ibid.
[21] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar kependidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), cet 5, hlm. 90
[22] Ibid, 91
[23] Muhammad Ali Quthb, Op.cit, hlm. 114
[24] Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan 1, (Semarang: CV Toha Putra, 1977), hlm.18
[25] Ibid, hlm. 24
[26] A. Muri Yusuf, Op.cit, hlm. 33
[27] Zahara Idris, Op.cit, hlm. 56
[28] Abu Ahmadi, Op.cit, hlm. 27
[29] A. Muri Yusuf, Op.cit, hlm. 35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar