STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 11 September 2014

Tanda-Tanda Husnul Khatimah


Betapa sangat mulianya pesan ayat yang senantiasa dibaca oleh sang khatib pada setiap khutbahnya pada hari jum’at “Wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun” -jangan sekali-kali kalian wafat melainkan sebagai seorang muslim-. 
Dengan adanya pesan ini maka minimal seminggu sekali kita diingatkan betapa pentingnya berupaya menggapai husnul khatimah. Oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda husnul khatimah.
Makna Husnul Khatimah
Istilah ini berasal dari dua kata “husnu” yang berarti baik, dan “khatimah” yang bermakna akhir atau penutup. Husnul Khatimah adalah akhir yang baik; akhir seseorang menikmati kesempatan hidup di muka bumi dengan terjauhkan dari segala hal yang dimurkai Allah Swt. Jadi mereka yang menikmati khusnul khatimah adalah yang menikmati tutup usianya dalam keridha’an Allah Swt. dengan meninggal dalam kondisi yang baik. 
Tanda Khusnul khatimah
Secara garis besar ada dua tipe tanda husnul khatimah; tanda yang hanya diketahui oleh yang mengalaminya dan tanda yang bisa dilihat oleh orang lain. Yang hanya diketahui oleh pelakunya semisal datangnya para malaikat dengan membawa kabar gembira kepadanya, seperti yang digambarkan dalam firman Allah Swt. : “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqomah (dengan perkataan tersebut; hingga wafatnya mereka), maka para malaikat turun kepada mereka (ketika sakratul maut, sembari berkata):“Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan 
(memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fussilat [41]: 30 ) 

Kabar gembira ini diberikan saat sakaratul maut, dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur. Begitu pula diperlihatkannya surga kepada para syuhada menjelang wafatnya. Hanya yang mengalaminya yang dapat mengetahui tanda-tanda seperti ini.
Dengan meneliti berbagai nash yang ada, para ulama menyimpulkan beberapa tanda husnul khatimah. Tanda-tanda ini bisa dikaitkan dengan beberapa hal berikut: 
Pertama: Kalimat Terakhir
Jika kalimat terakhir yang terucap adalah kalimah Syahadat. Ini pertanda husnul khatimah. Berdasar pada hadits Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallaah, maka ia masuk surga.” (HR Abu Dawud)
Kedua : Wafat dengan kondisi dahi yang berkeringat
Ini berdasar pada sabda Nabi, “Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Ketiga: Hari Kematian
Wafat pada hari jum’at atau malam jum’at adalah peluang untuk mendapatkan husnul khatimah. Ini berdasar pada sabda nabi Saw., “Tidaklah seorang muslim wafat pada hari atau malam jum’at melainkan akan terhindar dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi) 
Keempat: Sakit atau Penyakit yang Dialami
a. Tha’un (Wabah Penyakit)
Dalam salah satu penggalan sabdanya, Rasulullah Saw. menegaskan, “Barangsiapa yang wafat karena sakit Tha’un maka ia termasuk syahid” (HR Ibnu Majah) Kondisinya yang disebut sebagai syahid, dinilai oleh para ulama mendapat khusnul khatimah.
b. Sakit Perut 
Masih dalam hadits yang sama beliau juga menyebutkan, “Siapa yang meninggal karena sakit perut maka ia syahid.” (HR Ibnu Majah) 
Kelima: Pembelaan yang Dilakukan Seseorang
Seseorang yang wafat dalam kondisi sedang melakukan pembelaan terhadap darah (diri) nya, harta, keluarga, atau agamanya dimasukkan ke dalam jajaran orang-orang yang syahid. Kondisi 
ini membuat dirinya mendapatkan peluang meraih husnul khatimah.
a). Terbunuh karena membela diri
b). Terbunuh karena membela harta
c). Terbunuh karena membela keluarga
d). Terbunuh karena membela agama “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid, atau karena membela darahnya, atau karena membela agamanya maka ia syahid.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Keenam: Tanda Khusus Bagi Wanita
Seorang wanita muslimah yang wafat pada saat melahirkan atau terkait dengan kondisi nifasnya maka ia mendapatkan peluang menggapai husnul khatimah karena ia dikategorikan sebagai syahidah.
Dalilnya, hadits riwayat Imam Ahmad dan selainnya, dengan sanad yang shahih dari ‘Ubadah bin ash Shamit r.a., bahwa Nabi Muhammad Saw. menyebutkan beberapa syuhada’, diantaranya, “Wanita yang meninggal karena melahirkan juga syahidah”
Ketujuh: Kematian Tragis
Ada beberapa penyebab kematian yang umumnya orang menganggapnya sebagai kematian tragis, bahkan kadang membuat orang punya keyakinan yang mencederai aqidahnya; seperti arwahnya dianggap gentayangan dll. 
Ternyata dalam pandangan Rasulullah Saw. malah mendapatkan peluang meraih kesyahidan. Mereka itu adalah:
a. Wafat karena terbakar
b. Wafat karena tertimpa reruntuhan
c. Wafat karena tenggelam
Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Orang yang mati syahid ada lima (yaitu): orang yang mati kerkena penyakit tha’un, sakit perut, orang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan dan orang yang syahid di jalan Allah.”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Rasulullah Saw. menambahkan termasuk dari mereka adalah orang yang mati terbakar. 
Kedelapan: Pertempuran dan Menjaga Perbatasan
Seorang mujahid yang wafat dalam pertempuran yang syar’i atau dalam perjalanan menuju pertempuran, diharapkan akan menggapai kesyahidan. 
Dengan kondisi ini maka ia akan meraih husnul khatimah. Bahkan peluang ini juga akan didapatkan oleh mereka yang wafat dalam rangka menjaga perbatasan atau yang dikenal dangan istilah ‘ribath’. “Berjaga-jaga sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rizki baginya, dan ia terjaga dari fitnah.” (HR. Muslim)
Kesembilan: Amal Shaleh
Seseorang yang wafat dalam keadaan melakukan amal shaleh berarti dia berada pada salah satu tanda husnul khatimah. Ini berdasar pada sabda Nabi Saw., “… barangsiapa puasa sehari karena mencari wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga dan barangsiapa mensedekahkan sesuatu karena mencari wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga.” (HR. Ahmad)
Jaminan masuk surga pada hadits ini menunjukkan adanya peluang husnul khatimah bagi yang wafat dalam melakukan amal shalih.
Demikian beberapa tanda husnul khatimah, namun Syekh al-Albani dalam kitabnya Ahkamul Janaaiz memberi catatan, “Akan tetapi, ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terlihatnya salah satu di antara tanda-tanda itu pada salah satu mayit, bukan berarti dia pasti menjadi penduduk Surga. Namun diharapkan hal itu sebagai pertanda baik baginya. Sebagaimana jika tanda-tanda itu tidak ada pada satu mayit, maka janganlah divonis bahwa seseorang ini tidak baik. Semua ini merupakan masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Swt.” Semoga kita dimudahkan dalam menjaga keistiqamahan dalam menapaki jalan kebenaran. Sehingga ketika malaikat mencabut nyawa kita, maka itu akan menjadi hari terbaik dibanding seluruh hari-hari yang telah terlewati di muka bumi ini sebelumnya. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar