STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 28 Mei 2011

TAKHRIJUL HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ada dua pegangan utama yang harus dijadikan rujukan dalam islam yaitu:al-quran dan hadist.namun diantara keduanya ada perbedaan dari segi kualitasnya.al-quran merupakan produk tuhan yang terjamin keasaliannya,sedangkan al-hadist merupakan produk manusia yang selalu dijadikan objek oleh oknum tertentu dalam mengkaburkan kaum muslimin terhadap ajaran islam yangsebenarnya.atau yang kita sebut dengan hadist palsu.
Dan disamping itu ,diantara sekian hadist, tidak semuanya dapat dijadikan rujukan .karena tidak semua hadist itu shahih.sehingga apabila menemukan sebuah hadist, kita harus menelusuri terlebih dahulu sebelum diamalkan.
Dan untuk melakukan hal tersebut kita hareus mempelajari ulumul-hadist, terutama masalah takhrijul-hadist.karena itulah kami sangat tertarik membahas permasalahan ini.mengingat fungsinya sangat urgen dalam menentukan kualitas sebuah hadist. Dan walaupun penjelasannya kurang begitu luas,kami rasa makalah ini dapat dijadikan pegangan dasar dalam penelian hadist.

B. Rumusan masalah
Untuk mempermudah pembahasan makalah ini.kami buat rumusan-rumusan masalah sebagai berikut:
* Pengertian takhrijul-hadist
* Metode takhrijul-hadist.
* Mamfaat mempelajarinya
* Kitab-kitab takhrijul-hadist
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengertian takhrij menurut ahli hadist memiliki tiga macam pengertian, yaitu:
  1. usaha mencari sanad hadist yang terdapat dalam kitab karya orang lain,yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut.
  2. suatu keterangan bahwa hadist yang dinukilkan kedalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya.
  3. suatu usaha mencari derajat sanad, rawi yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.
B. Metode takhrij
Metode takhrijul-hadist dapat ditempuh mewlalui lima cara, yaitu:
  1. Takhrij berdasarkan awal kata dari matan hadist.untuk melakukannya,terlebih dahulu harus diketahui seluruh atau sekurangnya awal dari sauatu matan hadist. Kemudian dilihat huruf awal dari kata yang paling awal matan hadist tersebut. Misalnya, matan hadist “ man gassana fa laisa minna “ dapat ditelusuri pada kitab takhrij bab mim dan nun. Pada kitab tersebut akan ditemukan penjelasannya, seumberlotab hadist utama yang mencantumkan hadist tersebut (misalnya, shahih al-bukhari, shahih muslim, atau lainnya), serta jalur-jalur dan rangkaian silsilahnya sampai kepada Nabi SAW.
  2. Takhrij berdasarkan lafal-lafal pada matan hadist. Metode ini dilakukan dengan cara menelusururi hadist berdasarkan huruf awal kata dasar pada lafa-lafal yang ada pada matan hadist, baik isim maupun fi’il. Dalam hal ini huruf tidak dijadikan pegangan. Misalnya, ditemukan hadist “innama al-a’mal bi an-niyyat” dapat ditelusuri dari lafal al-a’mal dari ‘ain sebagai huruf awal dari kata dasar al-a’mal. Bisa juga melalui lafal an-niyyat dari huruf nun sebagai awal dari kata dasarnya yakni nawa.
  3. Takhrij berdasarkan rerawi paling atas. Menelusuri hadist dengan cara ini,terlebih dahulu harus mengetahui perawi paling atas dari hadist tersebut. Terkadang dari kalangan sahabat jika hadist tersebut muttasil atau dari kalangan tabi’in jika jika hadist mursal. Jika terdapat hadist yang tidak disebutkan perawi atasnya, maka dapat ditelusuri dengan cara lain.
  4. Takhrij berdasarkan tema hadist. Dilakukan dengancara menelusuri hadist berdasarkan temanya, apakah bersifat umum atau tertentu.
  5. Takhrij berdasakan sifat lahir hadist. Cara penelusuran ini dilakukan misalnyapada hadist mutawatir (diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya), qudsi (maknanya berasal dari Allah sedangkan lafalnya dari Nabi SAW), masyhur (diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, tetapi belum mencapai derajat mutawatair), mursal (diriwayatkan langsung dari tabi’in), dan maudu’ (hadist palsu).
C. Mamfaat mempelajarinya
Beberapa mamfaat yang diperoleh melalui takhrij adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui sember haduist berdasarkan kitab utama.
  2. Mengetshui jalur riwayat suatu hadist. Hal ini diperlukan karena suatu hadist daat diriwayatkan melalui beberapa jalur.
  3. Mengetahui rangkaiam silsilah suatu hadist sehingga diketahui apakah hadist tersebut bersambung sampai kepada nabi, terputus-putus, atau terdapat sanad yang disembunyikan.
  4. Mengetahui kualitas jalur lain yang lebih baik diantara banyak jalur riwayat hadist.
  5. Menaikkan kualitas suatu hadist yang dshaif menjadi hasan atau shahih berdasarkan jalur lain yang lebih kuat kualitasnya.
  6. Menjelaskan ungkapan yang samar dari redaksi suatu hadist baik pada rawi maupun matan hadist itu sendiri.
  7. Menghilangkan adanya kesan penghilangan rangkaian perawi pada hadist yang diriwayatkan dengan menggunakan lafal ‘an. Dengan menggunakan jalur lain yang lebih jelas. Seperti menggunakan redaksi haddastana, akhbarana, atau sami’tu. Maka penilaian terhadap hadist yang semula seperti terputus akan menjadi bersambung.
  8. Mengetahui kelengkapan suatu peristiwa yang diliput suatu hadist, yang disebabakan lemahnya daya tangkap sebagian periwayat.
  9. Menjelaskan makna kata-kata asing pada suatu matan hadist.
  10. Menghilangkan kesan syadz pada suatu hadist.dengan diketahuinya jalur lain yang lebih baik, kecacatan atau kerusakan suatu hadist dapat diselamatkan.
  11. Menjelaskan hadist yang terkadang diriwayatkan secara sepotong-sepotong.
  12. Mengetahui periwayatan hadist dengan lafal.sebagian besar hadist diriwayatkan dengan makna.dengan mengetahui jalur lain, dapat ditelusuri lafal asli suatu hadist.
  13. Menjelasakan waktu dan tempat terjadinya suatu hadist.
  14. Mengetahui peristiwa dan tokoh yang mendasari lahirnya hadist tersebut.
  15. Mengetahui adanya nasikh-mansukh pada suatu hadist.
D. Kitab-kitab yang diperlukan
Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan tarhih hafdist. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain:
  1. Hidayatul bari ila tartibi ahadisil bukhari. Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar Al-Misri At-Thantawi. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadist-hadist yang termuat dalam shahih al-bukhari. Lafal-lafal hadiust disusun menurut aturan urutan huruf abjad arab.namun hadist-hs\adist yang dikemukakan secara berulang dalam shahih bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kamus diatas. Dengan demikian perbedaan lafal dalam matan hadist riwayat bukhari tidak dapat diketahui lewat kaus tersebut.
  2. Mu’jam al-fadzi wala siyyama al gharibu minha atau fihris litartibi ahadisi shahihi muslim. Kitab tersebut merukan salah satu juz, yakni juz ke-V dari kitab shahih muslim yang disunting oleh muhammad abdul baqi.juz V ini merupakan kamus terhadap juz ke-I sampai IV.
  3. Miftahus shahihain. Kitab ini di susun oleh Muhammad syarif bin musthafa at-tauqiah. Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim.akan tetapi hadisi-hadist yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadist-hadist qauliah saja.hadist tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal hadist lafal matan hadist.
  4. Al-mu’jam al-mufahras li alfadzil hadis nabawi. Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orentalis.diantaranya anggota yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr.Arnold jonh wensinck, seorang profesor bahasa-bahasa semit, termasuk mahasa arab di universitas leiden belanda.
  5. Al-jamius shoghir. Kitab ni disusun oleh imam jalaluddin abdurraman as-suyuti.hadist yang dimuat dalam kitab ini disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafal matan hadist.
  6. Al-bughyatu fi tartibi ahadisi al-hilyah. Kitab ini disusun oleh sayyid abdul aziz muhammad bin sayyid siddiq al qammari.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Takhrijul-hadist merupakan upaya untuk mengetahui sumber kitab utama suatu hadist, menelusuri menilai rangkaian sanad-sanadnya, para periwayat hadist tersebut, menjelaskan tingkatannya serta mempertimbangkan apakah hadist tersebut dapat dijadikan dalil suatu hukum atau tidak.
Metode takhrij dapat diteuh melalui lima cara yaitu: berdasarkan kata dari matan hadist, berdasarkan lafal-lafal pada matan hadist, berdasarkan perawi paling atas, berdasarkan tema hadist serta berdasarkan sifat lahirnya hadist.
Sedangkan kitab kitab yang diperlukan dalam melakukan pentarjihan hadust antara lain: hidayatul bari ila tartibi ahadisil bukhari, mu’jzm al-fadzi wala siyyama al-gharibu minha, miftahus shahihain, al-jamius shaghir, serta al-bughyatu fi tartibi ahadisi al hilyah.
Dan masalah ini sangat dibutuhkan dalm ilmu hadist karena memang pembahasannya begitu mendasar, yaitu bagaimana cara mengetahi bahwa hadist itu shahih,hasan dan dhaif. Dan dengan takhrijul hadist ini pula kita akan lebih berhati hati agar tidak terjerumus terhadap suatu amalan yang pada hakikatnya tidak ada dalam islam.
B. Saran
Alhamdulillah kami panjatkan sebagai implementasi rasa syukur kami atas selesainya makalah ini. Namun dengan selesainya bukan berarti telah sempurna, karena kami sebagai manusia sadar, bahwa dalam diri kami tersimpan berbagai sifat kekurangan dan ketidak sempurnaan yang tentunya sangat mempengaruhi terhadap kinerja kami.
Oleh karena itulah saran serta kritik yang bersifat membangun dari saudara selalu kami nantikan.untuk dijadikan suatu pertimbangan dalam setiap langkah sihingga kami terus termotivasi kearah yang lebih baik tentunya dimasa masa yang akan datang.akhirnya kami ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya.
DAFTAR PUSTAKA
- Nata Abuddin, Dkk, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiyar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996
- Ahmad Muhammad, Mudakkir, Ulumul Hadits, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2000
- Www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-90.html-49k

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar