STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 28 Juni 2011

STRUKTUR HADITS

1. Sanad
Secara harfiah kata sanad (سند) berarti “sandaran”, “pegangan” (mu’tamad = معتمد). Sedangkan definisi terminologisnya ada dua sebagai berikut:

(Matarantai orang-orang yang menyampaikan matan)

atau


(Jalan penghubung matan, (yang) nama-nama perawinya tersusun)

Jadi, sederet nama-nama yang mengantarkan sebuah hadits itulah yang dinamakan dengan sanad, atau dengan sebutan lain sanad hadits. Perhatikan contoh sanad berikut ini:


البخاري: حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن بن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المغرب بالطور

Dari contoh tersebut yang dimaksud dengan sanad adalah enam nama-nama yang berurutan, yaitu (1)al-Bukhari, (2)‘Abd Allâh, (3)Malik, (4)ibn Syihab, (5)Muhammad, dan (6)ayahnya (Jubair ibn Muth’im).

Berkaitan dengan terma sanad ditemukan terma-terma lain seperti isnad, musnid, dan musnad .

a. Isnad
Dari segi bahasa, isnad berarti mengangkat hadits hingga pada orang yang mengucapkannya (رفع الحديث إلى قائله). Isnad merupakan bentuk atau proses. Sedangkan sanad adalah keadaannya. Namun demikian, sebagian dari ahli hadits menyatakan bahwa kata isnad bermakna sama dengan kata sanad, yakni merupakan jaring periwayatan hadits. Menurut ibn al-Mubarak, isnad termasuk bagian dari agama, seandainya tidak ada isnad niscaya orang akan ngomong sembarang, menurut apa maunya.[1]

b. Musnid
Musnid (مسنِد) adalah orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik mempunyai ilmunya maupun tidak kecuali ia mengisnadkan hadits seorang diri.

c. Musnad
Adapun Musnad (مسنَد) adalah materi hadits yang diisnadkan. Dalam pengertian istilah, kata musnad mempunyai tiga makna, yaitu:
1) Kitab yang menghimpun hadits sistem periwayatan masing-masing Shahabat, misalnya Musnad Imam Ahmad;
2) Hadits marfu’ yang muttashil sanadnya, maka hadits yang demikian dinamakan hadits musnad;
3) Bermakna sanad tetapi dalam bentuk Mashdar Mim.[2]

2. Matan
Secara harfiah kata matan berasal dari Bahasa Arab matn (متْن) yang berarti “apa saja yang menonjol dari (permukaan) bumi” (ماصلب وارتفع من الأرض). Sedangkan dalam pandangan para Ahli Hadits, ada dua arti baginya sebagai berikut:
المتن هو ما ينتهي إليه السند من الكلام
(Matan adalah redaksi (kalam) yang berada pada ujung sanad)
المتْن هو ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعاني
(Matan adalah kata-kata (redaksi) hadits yang dapat dipahami maknanya)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matan adalah redaksi atau teks bagi hadits. Contohnya dapat diperhatikan kembali teks hadits berikut ini:
حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن بن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه قال سمعت رسول الله e قرأ في المغرب بالطور (رواه البخاري)

Dalam contoh tersebut matan haditsnya adalah:
سمعت رسول الله eقرأ في المغرب بالطور
(Aku mendengar Rasul Allâh saw. membaca surat al-Thur dalam (shalat) maghrib)


3. Mukharrij
Makna harfiah kata mukhârrij (مخرّج) yang berasal dari kata kharraja (خرّج) adalah “orang yang mengeluarkan”. Makna tersebut juga bisa didatangkan dari kata akhraja (أخرج) dengan isim fa’ilnya mukhrij (مخرج). Menurut para Ahli Hadits, yang dimaksud dengan mukharrij adalah sebagai berikut:
المخرج \ المخرّج هو الذي يشتغل بجمع الحديث
(Mukhrij atau mukharrij: orang yang berperan dalam pengumpulan hadits)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa apa yang dimaksud dengan mukharrij atau mukhrij adalah perawi hadits (rawi), atau orang-orang yang telah berhasil menyusun kitab berupa kumpulan hadits, seperti al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, dsb. Dalam contoh hadits di atas al-Bukhari adalah seorang mukharrij / mukhrij / rawi bagi sebuah hadits.

[1] Mahmud Yunus, Ilmu Mushthalah al-Hadits, Jakarta: Sa’diyah Putra, t.th., h. 21.
[2] Mahmud Thahhan, Op. Cit., h. 17.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar