STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 14 November 2011

EPISTEMOLOGI

Istilah epistemologi terbangun dari kata "episteme" dan "logos"; "episteme" yang mengandung arti "pengetahuan atau ilmu" berasal dari bahasa Yunani; begitu juga "lolos" yang berarti "kata", "bahasa", "sabda", "firman", "ajaran", atau "teori". Dengan demikian, epistemologi secara pendekatan kebahasaan (etimologis) adalah teori ilmu.

Epistemologi yang menjadi suatu bidang garapan filsafat memperbincangkan teori pengatahuan, teori kebenaran, dan logika.

Teori pengetahuan mencakup pembahasan objek atau sasaran pengetahuan, sumber pengatahuan, dan aliran filsafi mengenai hakikat pengetahuan, cara memperoleh pengetahuan, dan nilai pengetahuan.

Paling tidak, ada tiga objek atau sasaran pengetahuan, yaitu objek indriah, objek non-indriah, dan objek di luar jangkauan kemampuan manusia.

Objek indriah disebut juga objek manifes, real, dan konkret. Objek indriah ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan indera; dan indera itu sendiri menjadi sumber pengetahuan (Al-Hawwasu Abwabu 'l-'Ulum: Panca indera itu merupakan pintu-pintu segala pengetahuan).

Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang inderalah satu satunya sumber pengetahuan adalah empirisme. 

Cara memperoleh pengetahuan termaksud melalui eksperimen. Pengetahuan yang diperolehnya disebut aposteriori (pengetahuan yang telah teralami). Sifatnya logis-empiris. Hakikat ilmu adalah sains. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah bebas nilai. Saintifik tidak berkaitan dengan sopan atau tidak sopan; saintifik bersifat objektif.

Objek non-indriah disebut juga objek ideal, rasio, intelek, dan bstrak. Objek non-indriah ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan akal; dan akal menjadi sumber pengetahuan (Qiwamu 'l-Mar-i 'Aqluhu: garis penuntun seseorang, termasuk dalam perolehan pengetahuan, adalah akalnya).

Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang akallah satu-satunya sumber pengetahuan adalah rasionalisme.

Cara menperoleh pengetahuan termaksud melalui merenung. Pengetahuan yang diperolehnya disebut pengetahuan a priori (pengetahuan yang belum atau tidak teralami). Sifatnya logis. Hakikat ilmu adalah filsafat. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah sarat nilai.

Objek di luar jangkauan kemampuan manusia disebut juga objek transcendental atau spiritual. Objek di luar jangkauan kemampuan manusia ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan qalb; dan qalb menjadi sumber pengetahuan.

Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang qalblah satu satunya sumber pengetahuan adalah intuisisme.

Cara memperoleh pengetahuan termaksud melalui riyadhah (latihan). Pengetahuan yang diperolehnya disebut pengetahuan laduni. Sifatnya supra-logis. Hakikat ilmu adalah mistik. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah kental esoterik sufistik.

Baik pengetahuan sains, pengetahuan filsafi, maupun pengetahuan mistik merupakan penjabaran dari kebenaran; sebab yang hendak diketahui adalah yang benar. Apa benar itu?

Teori Korespondensi membatasi bahwa yang disebut benar, ialah kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Teori ini berdampingan erat dengan aliran filsafat empirisme.

Teori Konsistensi (koherensi) membatasi bahwa yang disebut benar, ialah keselarasan antara suatu penyataan dengan pernyataan yang lain. Teori ini berdampingan erat dengan aliran filsafat rasionalisme.

Teori pragmatisme membatasi bahwa yang disebut benar sangat tergantung kepada situasi dan kondisi; dengan demikian inti kebenaran adalah kegunaan.

Aliran filsafat ituisisme berdampingan dengan teori kebenaran yang disebut dan mengembangkan kata hati, yang oleh Immanuel Kant sering disebut dengan Imperative Praktis.

Logika dalah suatu ilmu yang mempelajari tentang cara berpikir yang baik, tepat, dan benar dengan menggunakan akal yang mendapatkan bimbingan dari Allah Swt Awj agar terhindar dari kesalahan.Logika pada pokoknya mencakup pengertian, keputusan, dan penuturan. Terdapat Logika Formal dan Material. Logika Formal mencakup bahasan definisi, klasifikasi, oposisi, eduksi, silogisme, dan delima. Logika Material mencakup generalisasi, analogi, hubungan kausalitas, hipotesis, teori, penjelasan, dan probabilitas  yang meliputi mengenai hakikat pengetahuan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar