STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 14 November 2011

PROSEDUR PENUNTUN BERPIKIR FILSAFI

Prosedur tentu mengandung langkah-langkah teknis segaligus pelaksanaan yang tak begitu saja muncul; namun justeru merupakan penjabaran dari manual yang mengacu kepada praktek; dan praktek itu sendiri merupakan aplikasi dari unsur teoritis, sehingga tidak ada teori yang paling baik kecuali praktek itu sendiri sebagai penerapan dari teori. 

Paulo Freire lebih senang menggunakan istilah praksis. Di mana praksis tersebut merupakan penerapan secara penuh, padu, dan utuh dari Kata (word) dan Kerja (work), yang keduanya merupakan yang terkonstruk secara terstruktur dari dialektika aksi dan refleksi. Pertautan terus menurus antara aksi (tindakan, perbuatan) dengan refleksi (teori) menunjukkan bahwa praksis itu merupakan aplikasi teori kepada praktek secara sekaligus koresponden - konsisten - intuitif.

Karena itu praktek merupakan turunan dari ilmu; sedangkan ilmu itu sendiri menjadi penjabaran dari suatu teori; dan teori itu sendiri tidak muncul begitu saja, namun merupakan buah dari filsafat; filsafat dari kitab kitab suci (agama dalam artian potentia, tidak sekedar actus), yang penghujungnya agama dari wahyu; akhir dan awalnya kita tahu bahwa wahyu itu dari Sang Tuhan. Dengan demikian "prosedur penuntun berpikir filsafi" berujungpangkal kepada/dari Sang Tuhan. Apa yang kepada/dari Sang Tuhan itu, secara tafshili (perincian)nya? ialah manakala kita hendak tahu, mau, dan mampu berpikir filsafi:

1. Posisikan diri pribadi kita sebagai pelajar. Belajarlah menjadi pemula. Posisi pemula dalam segala hal, termasuk pemula dalam mengarifi hidup ini posisi dasar yang membawa kepada kesadaran; hanya yang berkesadaran sebagai pemulalah yang terpaut harus dan dapat merasa heran; heran akan ada dunia, kok dunia ini ada, saya, anda, dia, kita, dan mereka ada; heran kok Tuhan ada, dan seterusnya. Perwujudan "yang menjadi pemula" dalam segala hal, umpamanya tergambar tatkala seseorang melihat segala yang tentu sepanjang terlihat dan dapat dilihat serta dalam posisi melihat, maka ia melihat segalanya itu seolah-olah pertamakalinya melihat; untuk itu, reaksi yang muncul adalah keheranan. Sedangkan heran, termasuk heran melihat segala hal, merupakan dasar berfilsafat; dan memang filsafat bermula dari rasa heran.

2.Kita membiasakan diri pribadi tidak cepat begitu saja langsung percaya bahwa dunia luar itu ada. Akal sehat  (common sense) menyatakan bahwa matahari yang muncul tiap pagi itu ada lepas dari kesadaran kita. Justru filsafat mempersoalkan bahwa, apakah benda yang di luar pikiran kita itu "sungguh berada di luar pikiran" atau merupakan "pantulan dan konstruksi pikiran kita". Apakah yang ada itu benda atau kita; atau justeru yang ada itu pikiran; jangan-jangan kitanya tidak ada? Hal ini menggambarkan kontroversi rumit dan sulit dari dan dalam aliran-aliran filsafat.

3. Kita mesti membiasakan diri pribadi untuk melucuti ciri-ciri fisik konkret yang dilihat; dan hingga  kita menemukan ciri umum dalam hal-hal konkret itu. Dalam filsafat fenomenologi terdapat ajaran metodologis: Reduksi fenomenologis - Reduksi Eiditis - Eidos, yakni: Kita menyingkirkan ciri-ciri meja di depan ini; proses penyingkiran itu ada keterlibatan analisis, yang pada analisis terakhir akan menemukan ciri-ciri umum; di mana ciri-ciri umum yang sangat abstrak itu mendukung kepada peraihan makna. Wilayah ciri-ciri umum dan abstrak itu menjadi issue kontroversial di beberapa aliran atau ajaran filsafat.

4. Bentuklah kebiasaan dalam diri pribadi kita sadar akan tugas berupa mencari titik atau pangkal tolak dari segala sesuatu yang kita alami atau amati; Manakah yang lebih dahulu, buah durian yang kita lihat itu atau pikiran kita tentang buah durian? Memang pertanyaan ini sulit dijawab? Namun memang dalam berfilsafat yang pokok bukan jawaban, justeru yang terpenting adalah pertanyaan. Ajaran filsafat menuntut dan menuntun kita harus dan dapat memilih salah satu, sehingga akan menentukan posisi dalam menjelaskan segala sesuatu; dan memang pola inilah yang dilakukan oleh berbagai aliran filsafat.

5. Kita mesti membiasakan memikirkan bagian-bagian tanpa melepaskannya dari keseluruhan. Pola ilmu spesifik dalam memberikan gambaran mengenai realitas khusus; sedangkan filsafat tidak berkehendak mengisolasi semacam yang dikerjakan saintifik itu; berfilsafat berarti memberi perspektif tentang keseluruhan. Argumen filsafi tidak bermain dengan satu komponen, melainkan dengan totalitas, sehingga menghindari pandangan mata-dekat dan mengupayakan untuk memiliki pandangan mata-jauh. Berpikir filsafi bersifat universal, sistematis, dan radikal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar