STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 02 November 2011

Hal yang perlu diperhatikan tentang shalat

Sabda Rasulullah saw.
عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ الضَّبِّيِّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو هُرَيْرَةَ إِذَا أَتَيْتَ أَهْلَ مِصْرِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتْ الْفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ  =رواه ابن ماجه=
Dari Anas bin Hakim Adh Dhabiy ra, berkata, Abu Hurairah ra, berkata kepadaku, “Bila engkau nanti menemui penduduk Mesir maka beritahukan pada mereka bahwa aku mendengar Rasulullah saw bersabda”, Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada seorang hamba muslim pada hari kiamat adalah shalat wajibnya, kalau ia menyempurnakannya dan kalau tidak, dikatakan lihatlah, adakah ia memiliki shalat sunat, kalau ia punya shalat sunat disempurnakanlah shalat wajibnya denga shalat sunat itu, kemudian barulah dihisab amal wajib lainnya seperti itu.  =HR. Ibnu Majah=
Dari Abdullah bin Qurthin ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
اَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ  فَاِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَاِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ   =رواه الطبراني=
Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika sholatnya beres, maka bereslah semua amalnya dan jika rusak, maka rusaklah semua amalnya.  =HR. Ath Thabrani=

shalat dengan Bahu terbuka.
Firman Allah swt.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.  =Qs. Al A’raaf 7: 31=
Wajib untuk menutup kedua bahu atau salah satu diantara keduanya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, jika hal tersebut dia abaikan maka shalatnya tidak sah, berdasarkan hadits Rasulullah r:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ مِنْهُ شَيْءٌ  =متفق عليه=
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian shalat dengan mengenakan satu baju saja yang tidak terdapat diatas bahunya sesuatu apapun “ =HR. Muttafaqun Alaihi=
Jika tidak mampu menghindarinya, maka tidak  mengapa baginya hal yang demikian itu berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Bertakwalah kalian semampu kalian” =Qs. At-Taghabun 64: 16=
Dan juga berdasarkan hadits Rasulullah r, dari Jabir bin Abdullah y :
(( إِنْ كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعاً فَالْتَحِفْ بِهِ وَإِنْ كَانَ ضَيِّقاً فَأتَّزِرْ بِهِ ))  =متفق عليه=
“Jika bajunya lebar maka berselimutlah dengannya dan jika bajunya sempit maka jadikanlah sebagai kain sarung” =HR. Muttafaq Alaih=
KEWAJIBAN MENGIKUTI IMAM
Sabda Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ قَالَ مُسْلِمٌ وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ  =رواه ابو داود واحمد=
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bersabda Rasulullah saw, Sesungguhnya imam itu dibuat untuk diikuti; maka apabila imam takbir maka bertakbirlah kamu dan janganlah kamu bertakbir hingga ia bertakbir, dan bila ia telah ruku’ maka ruku’lah kamu dan janganlah kamu ruku’ sebelum ia ruku’, dan bila ia mengatakan “sami’allohu lima hamidah”, maka ucapkanlah “Robbana lakal hamdu” dalam riwayat Imam Muslim “Walakal hamdu”, dan apabila ia sujud maka sujudlah kamu dan janganlah kamu sujud sebelum ia sujud, dan bila ia shalat berdiri maka shalatlah kamu dengan berdiri dan kalau ia shalat duduk maka shalatlah kalian dengan duduk. =HR. Abu Daud dan Ahmad=
Yang sering diselisihi oleh makmum adalah:
Pertama: Ketika imam sudah memulai shalat dengan takbirotul ihram lalu makmum tidak segera takbir pula mengikuti imam sementara tidak ada halangan syar’i, semestinya ia harus langsung takbir mengikuti imam untuk mendapat shalat jama’ah sempurna, sekalipun ia sedang shalat sunnah saat iqamat dikumandangkan maka ia harus membatalkan shalat sunnatnya dan mengikuti shalat jama’ah, karena pahala mendapat sempurna jama’ah lebih besar dari harus menyempurnakan shalat sunnat.
Kedua: Pada saat imam bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan “sami’allohu liman hamidah” lalu seringkali ada si makmum bangkit dengan mengucapkan apa yang diucapkan imam juga yaitu “sami’allohu liman hamidah”, padahal ia (makmum) mestinya hanya mengucapkan “Robbana lakal hamdu atau walakal hamdu” sebagaimana  perintah Rasulullah saw dalam hadits diatas.
Ketiga: Pada saat seorang makmum masbuq, lalu pada duduk tasyahud akhir si imam dengan duduk tawarruk sedang makmum yang nantinya akan menyempurnakan raka’at yang kurang setelah imam salam sering dengan duduk iftirasy, padahal mestinya makmum yang masbuq juga harus duduk tawarruk karena redaksi hadits menyatakan kewajibannya mengikuti imam.
Sabda Rasulullah saw.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ يَعُودُونَهُ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فَصَلُّوا بِصَلَاتِهِ قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ اجْلِسُوا فَجَلَسُوا فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا  =رواه مسلم=
Dari Aisyah ra., ia berkata:  Rasulullah saw. pernah sakit. Para sahabat datang menjenguk beliau. Kemudian beliau salat dengan duduk. Para sahabat bermakmum pada beliau dengan berdiri. Beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk, maka mereka pun duduk. Selesai salat beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti. Jadi apabila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia bangun, maka bangunlah kalian dan bila ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian sambil duduk. =HR. Muslim No.623=
Keempat: Pada saat imam mengucapkan salam mengakhiri shalat, sebelum imam sempurna mengucapkan salam kedua terkadang makmum sudah langsung ikut mengucapkan salam. Dalam masalah salam ini, hadits tidak membedakan hukumnya antara salam pertama dan salam kedua berdasarkan hadits-hadits berikut.
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ  =رواه احمد ومسلم والنسائي وابن ماجه=
Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi saw memberi salam ke sebelah kanan dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya. =HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta Ibnu Majah=
عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ  =رواه ابو داود=
Dari ‘Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku sholat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.” Dan kesebelah kiri: “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi.” =HR. Abu Dawud=
Maka demi kehati-hatian, ditengah adanya perbedaan pendapat diantara para ulama tentang hukum salam pertama dan kedua, maka makmum hendaklah memulai salam setelah imam menyempurnakan salam kedua. Karena dengan beginilah sesuai redaksi hadits seorang makmum dikatakan mengikuti imamnya. Wallohu A’lam.
Larangan mendahului imam dalam rukuk, sujud atau lainnya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ  =رواه مسلم=
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Muhammad saw. pernah bersabda: Apakah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, tidak takut kepalanya diganti oleh Allah dengan kepala keledai. =HR. Muslim No.647=
Bila masbuk, maka masuk bersama imam dalam kondisi apa pun.
Sabda Rasulullah saw:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلاَةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ  =رواه الترمذي=
Dari Muadz bin Jabal ra, ia berkata: Bersabda Rasulullah saw, Apabila salah seorang dari kalian mendatangai shalat dan imam sedang dalam satu keadaan, maka hendaklah ia melakukan sebagaimana yang imam lakukan. =HR. Tirmidzi=

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ  =رواه ابو داود=
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Apabila kalian mendatangi shalat dan kami sedang sujud, maka sujudlah kalian, dan jangan kalian menghitungnya (jadi raka’at) dan barang siapa yang mendapati ruku’, maka sesungguhnya ia mendapat (rakaat) sholatnya.  =HR. Abu Daud=
Maka, kalau makmum mendapati imam sedang dalam satu keadaan hendaklah ia langsung mengikutinya tanpa harus menunggu imam sampai berdiri kembali untuk raka’at berikutnya.
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ   =رواه البخاري=
Dari Abu Bakrah ra, bahwa ia sampai kepada Nabi saw dan ia sedang ruku’ (dalam shalat), maka ia pun (Abu Bakrah) ruku’ sebelum ia masuk ke barisan, maka ia pun menceritakan hal itu kepada Nabi saw, maka beliau bersabda, Semoga Allah menambahkan kesungguhan padamu dan jangan engkau ulangi.  =HR. Bukhari=
Makmum boleh memisahkan diri dari shalat berjamaah karena sesuatu:
Sabda Rasulullah saw:
عَنْ جَابِرِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ يَؤُمُّهُمْ فَأَخَّرَ ذَاتَ لَيْلَةٍ الصَّلَاةَ وَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ يَؤُمُّهُمْ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَلَمَّا سَمِعَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ تَأَخَّرَ فَصَلَّى ثُمَّ خَرَجَ فَقَالُوا نَافَقْتَ يَا فُلَانُ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا نَافَقْتُ وَلَآتِيَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُخْبِرُهُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ مُعَاذًا يُصَلِّي مَعَكَ ثُمَّ يَأْتِينَا فَيَؤُمُّنَا وَإِنَّكَ أَخَّرْتَ الصَّلَاةَ الْبَارِحَةَ فَصَلَّى مَعَكَ ثُمَّ رَجَعَ فَأَمَّنَا فَاسْتَفْتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَلَمَّا سَمِعْتُ ذَلِكَ تَأَخَّرْتُ فَصَلَّيْتُ وَإِنَّمَا نَحْنُ أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِسُورَةِ كَذَا وَسُورَةِ كَذَا  =رواه الجماعة=
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: Mu’az pernah shalat bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia shalat Isya’ bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Ketika ia mulai dengan membaca surat Al-Baqarah, ada seorang lelaki yang memisahkan diri dari shalat berjamaah sampai salam, selanjutnya mengerjakan shalat sendiri dan pergi. Orang-orang menegurnya: Hai fulan, apakah engkau telah munafik? Ia menjawab: Tidak, demi Allah. Sungguh, aku akan menemui Rasulullah saw. dan memberitahukan hal ini. Setelah bertemu dengan Rasulullah saw., ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pemilik unta penyiram tanaman, bekerja di siang hari. Sesungguhnya Mu’adz setelah mengerjakan shalat Isya’ bersama Anda lalu pulang dan (shalat bersama kami) mulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Rasulullah saw. menghadap ke arah Mu’adz dan bersabda: Wahai Mu’adz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah (kesulitan)? Bacalah (surat) ini dan itu.  =HR. Al Jama’ah=
Sufyan berkata: Aku berkata kepada Amru bahwa Abu Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bacalah Was Syamsi wa Dhuhaaha (surat As-Syams), Wadh Dhuhaa (surat Ad-Dhuhaa), Wal laili idza Yaghsyaa (surat Al-Lail) dan Sabbihisma rabbikal a`laa (sutat Al-A`laa), maka Amru menanggapi: Ya, seperti itu. Riwayat Muslim.
Maka seorang makmum boleh memisahkan diri dari shalat berjama’ah karena sesuatu alasan yang syar’i.
Bahan Bacaan:
  1. Fatwa-fatwa penting tentang shalat oleh Syaikh Bin Baz
  2. Fiqhussunnah oleh Said Sabiq
  3. Maktabah Syamilah.
  4. Dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar