STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 02 November 2011

Sikap Taqlid

DEFINISI
Taqlid
Taqlid adalah sikap ikut-ikutan dalam beribadah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa mengetahui adanya dalil atau tidak. Ia beribadah dengan cara meniru atau mencontoh orang lain dan berbekal keyakinan “mana mungkin gurunya salah”. Ia tidak berkeinginan mempelajari apa yang diikutinya dari gurunya itu, dan ketika di beri tahu bahwa sikapnya adalah salah, ia tetap bersikap teguh pada pendapatnya itu walau tanpa mengetahui dalilnya atas apa yang diyakininya atau ibadah yang dilakukannya.
Sikapnya itu di sebut taqlid, sedangkan orangnya di sebut muqallid. Sikap taqlid seperti ini adalah tercela dalam pandangan islam.
HUKUMNYA
Taqlid hukumnya adalah dilarang (haram) selama ia tetap dalam ketaqlidannya. Firman Allah swt :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. =Qs. Al Israa’ 17: 36=

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. =Qs. Al Baqarah  2: 170=
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (104)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. =Qs. Al Maa-idah  5: 104=
Bertanya bila tidak mengetahui. Firman Allah swt :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43)
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, =Qs. An Nahl  16 : 43=
PENDAPAT PARA IMAM MADZHAB
Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata :
اِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku
لاَ يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَالَمْ يَعْلَمْ مِنْ اَيْنَ أَخَذْنَاهُ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : حَرَامٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْرِفْ دَلِيْلِيْ أَنْ يُفْتِيَ بِكَلاَمِيْ. زَادَ فِيْ رِوَايَةٍ : فَاِنَّنَا بَشَرٌ نَقُوْلُ الْقَوْلَ الْيَوْمَ وَنَرْجِعُ عَنْهُ غَدًا.
Tidaklah halal bagi seseorang mengambil ucapan (pendapat) kami, selama ia tidak tahu dari mana kami mengambilnya. Dan dalam sati riwayat : Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk menfatwakan ucapanku. Ia menambahkan dalam satu riwayat : Sesungguhnya kami adalah manusia biasa, hari ini mengucapkan sesuatu dan kemungkinan besok mencabutnya kembali.
اِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ اللهِ وَخَبَرَ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاتْرُكُوْا قَوْلِيْ
Apabila aku mengatakan perkataan yang menyelisihi kitab Allah (Al Qur’an) dan khabar Rasul saw (Al Hadits) maka tinggalkan kamulah ucapanku.
Imam Malik Bin Anas Rahimahullah berkata :
اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِىْ, فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ وَكُلُّ مَالَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَاتْرُكُوْهُ
Sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang (kadang) salah (kadang) benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap yang cocok dengan Al Qur’an dan As Sunnah, maka ambillah oleh kamu, dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, maka tinggalkanlah.
لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلاَّ وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيَتْرَكُ اِلاَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Tidak seorang pun setelah Nabi saw kecuali ucapannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan (kecuali) Nabi saw.
Imam Syafii Rahimahullah berkata :
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدْعَهَا لِقَوْلِ اَحَدٍ
Telah sepakat umat islam, manakala sudah jelas baginya akan Sunnah dari Rasulullah saw, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.
اِذَا وَجَدْتُمْ فِيْ كِتَابِيْ خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوْا مَا قُلْتُ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : فَاتَّبِعُوْهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوْا اِلَى قَوْلِ اَحَدٍ
Apabila kamu mendapati di dalam kitabku yang menyelisihi Sunnah Rasulullah saw, maka katakanlah Sunnah Rasulullah saw dan tinggalkan kamulah apa yang aku katakan. Dalam satu riwayat : Ikuti kamulah dia (Sunnah Rasul saw) dan jangan menoleh kepada ucapan seseorang.
اِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku
كُلُّ مَسْاَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَاَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ مَوْتِيْ
Setiap masalah yang sudah jelas shahihnya akan sebuah khabar dari Rasulullah saw –menurut ahli hadits- akan tetapi menyalahi apa yang aku katakan, maka aku akan kembali, baik semasa aku masih hidup dan sesudah aku mati.
اِذَا رَأَيْتُمُوْنِيْ اَقُوْلُ قَوْلاً وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفُهُ فَاعْلَمُوْا أَنَّ عَقْلِيْ قَدْ ذَهَبَ
Apabila kamu melihat aku mengucapkan sesuatu padahal telas jelas ada hadits shahih dari Nabi saw yang menyalahi ucapanku, maka ketahuilah sesungguhnya akalku telah hilang.
كُلُّ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ قَوْلِيْ وَاِنْ لَمْ تَسْمَعُوْهُ مِنِّيْ
Setiap hadits dari Nabi saw adalah ucapanku, meskipun kamu tidak mendengarnya dariku.
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata :
لاَ تُقَلِّدْنِيْ وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكاً وَلاَ الشَّافِعِيَّ وَلاَ اْلأَوْزَاعِيْ وَلاَ الثَّوْرِيَ, وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا
Janganlah kamu taqlid padaku, dan jangan pula kamu taqlid kepada Imam Malik tidak pula pada Imam Syafii dan tidak pula Imam Al Auzai dan tidak juga pada Imam Tsauri. Dan ambillah darimana sebenarnya mereka mangambilnya.
لاَ تُقَلِّدْ دِيْنَكَ أَحَدًا مِنْ هَؤُلاَءِ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ فَخُذْ بِهِ ثُمَّ التَّابِعِيْنَ بَعْدُ, اَلرَّجُلُ فِيْهِ مُخَيَّرٌ. وَقَالَ مَرَّةً : أَ ْلاِتِّبَاعُ, أَنْ يَتَّبِعُ الرَّجُلُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ أَصْحَابِهِ ثُمَّ هُوَ بَعْدَ التَّابِعِيْنَ مُخَيَّرٌ
Janganlah kamu taqlid pada seseorang dalam agamamu, apa-apa yang datang dari Nabi dan Shahabatnya ambillah, kemudian para tabi’in dan setelahnya (tabi’in) seseorang boleh memilihnya. Di lain waktu ia berkata : Ittiba’ itu ialah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi saw dan para shahabatnya, kemudian setelah tabi’in boleh memilihnya.
BAHAYA SIKAP TAQLID
  1. Panatisme kelompok.
  2. Kultus individu.
  3. Menolak kebenaran.
  4. Amal yang sia-sia.
Taqlid adalah tercela dalam pandangan islam apa pun alasannya. Namun bila taqlid tidak dapat dielakkan seperti :
  1. Orang awam yang sama sekali tidak dapat membaca atau mempelajari agama baik secara umum apalagi terperinci. Maka orang awam boleh muttaba’ah (ikut) saja kepada para ulama atau orang yang diyakini kebenaran ilmunya.
  2. Orang yang berada pada proses awal dalam mempelajari islam. Sementara ia ikut saja kepada orang yang menda’wahkan islam padanya sampai ia benar-benar mempelajari dalil Al Qur’an atau As Sunnah yang diajarkan oleh para da’i tersebut sampai ia beramal benar-benar dengan apa yang ia pelajari dari Al Qur’an dan Sunnah itu. Sabda Rasulullah saw :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ  =رواه ابن ماجه=
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. =HR. Ibnu Majah=

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar