STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 02 November 2011

Waktu-Waktu Shalat

Ka'bahWAKTU-WAKTU SHALAT FARDHU.
Sabda Rasulullah saw.
عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ  وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ  مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ  وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” (HR. Muslim)
Firman Allah swt.
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78)
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).  (Qs. Al-Israa’ 17: 78)
WAKTU-WAKTU YANG DILARANG MELAKUKAN SHALAT
Sabda Rasulullah saw.
عَنْ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ يَقُولُ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ  =رواه الجماعة الا البخاري=
Dari Uqbah bin Amir Al-Juhaniy ra, ia berkata: Ada tiga waktu yang Rasulullah saw, melarang kami untuk melakukan shalat atau menguburkan mayit. Ketika terbitnya matahari dengan cahaya terang hingga ia terangkat naik, dan ketika ia tepat berada ditengah langit. Dan ketika condong akan tenggelam hingga ia terbenam.  (HR. Jama’ah selain Bukhariy)

عَنْ أَبِيْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ  =متفق عليه=
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra, ia berkata: Bersabda Rasulullah saw, Tidak ada  shalat sesudah shalat ashar hingga terbenam matahari dan tidak ada shalat sesudah shalat fajar (shubuh) hingga terbit matahari.  (HR. Muttafaqun Alaihi)
Catatan:
Bagi yang selalu melaksanakan shalat sunnat sebelum shubuh atau ia sudah niat akan melakukannya namun tidak sempat sebelum shalat shubuh, maka ia bisa/boleh melakukannya setelah shalat shubuh.
عَنْ قَيْسٍ بْنِ عَمْرُو، أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ  =رواه ابن خزيمة وابن حبان واحمد=
Dari Qis bin Amar ra, bahwa ia shalat shubuh bersama Rasulullah saw, dan ia belum mengerjakan dua rakaat (qobla) fajar. Ketika Rasulullah saw, bersalam, ia kemudian berdiri lalu shalat dua rakaat (qobla) fajar. Rasulullah saw, melihatnya namun beliau tidak mengingkarinya.  (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Ahmad)
Kekhususan bagi Rasulullah saw.
Melakukan shalat sunnat Ba’da zhuhur setelah Ashar adalah kekhususan bagi Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw.
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْتَ صَلَاةً لَمْ تَكُنْ تُصَلِّيهَا فَقَالَ قَدِمَ عَلَيَّ مَالٌ فَشَغَلَنِي عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ كُنْتُ أَرْكَعُهُمَا بَعْدَ الظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا الْآنَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتَا قَالَ لَا  =رواه احمد=
Dari Ummu Salamah ra, ia mengatakan: Rasulullah saw, shalat ashar, kemudian ia masuk ke rumahku lalu ia pun shalat dua rakaat, lalu aku bertanya, Ya Rasulallah, engkau shalat yang belum dikerjakan! Datang kepadaku harta (yatim), lalu (membagikannya) menyibukkan aku dari melakukan yang dua rakaat sesudah zhuhur, maka aku menshalatkannya sekarang. Maka aku bertanya: Ya Rasulallah, Apakah kami harus mengganti bila dua rakaat itu luput dari kami. Beliau bersabda: “Tidak”. (HR. Ahmad)
وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ
Dan dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” (HR. Ahmad)
TEMPAT YANG TIDAK ADA WAKTU LARANGAN SHALAT
Sabda Rasulullah saw.
وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ
Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Berdasarkan hadits diatas bahwa tidak boleh melarang orang untuk melakukan shalat di dalam Masjidil Haram kapan pun waktunya yang ia kehendaki, sekalipun pada waktu-waktu yang dilarang diatas.
SHALAT-SHALAT YANG TIDAK TERIKAT OLEH WAKTU YANG DILARANG
Shalat Tahiyyatul Masjid
Shalat tahiyyatul masjid adalah shalat 2 rakaat yang dilakukan setiap kali masuk masjid, baik pagi, siang, sore atau malam. Sedang syarat untuk disebut sebagai masjid adalah dilakukannya shalat jum’at di dalamnya. Sabda Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ النَّاسِ قَالَ فَجَلَسْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسَ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ جَالِسًا وَالنَّاسُ جُلُوسٌ قَالَ فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ  =رواه مسلم=
Dari Abu Qatadah ra, Shahabat Rasulullah saw, ia berkata: Aku masuk masjid sedang Rasulullah saw sedang duduk diantara dua punggung orang, lalu aku pun duduk. Lalu Rasulullah saw bersabda: Apa yang mencegahmu untuk melakukan ruku’ (shalat) dua rakaat sebelum engkau duduk. Lalu aku berkata: Hai Rasulallah, Aku melihatmu duduk, dan orang-orang duduk juga. Beliau bersabda: Maka apabila masuk salah seorang dari kalian ke dalam masjid, maka hendaklah ia tidak duduk hingga ia shalat dua rakaat.  (HR. Muslim)
عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرًا قَالَ دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ  =متفق عليه=
Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang laki-laki masuk pada waktu sholat Jum’at di saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang berkhutbah. Maka bertanyalah beliau: “Engkau sudah sholat?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Berdirilah dan sholatlah dua rakaat.” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
Shalat Intizhor Jum’at
Shalat intizhor adalah shalat sunnat semampunya yang dilakukan ketika seseorang telah datang ke masjid pada hari jum’at untuk menunggu masuknya waktu jum’at. Sabda Rasulullah saw
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ  =رواه مسلم=
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mandi kemudian mendatangi sholat Jum’at, lalu sholat semampunya, kemudian diam sampai sang imam selesai dari khutbahnya, kemudian sholat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at berikutnya serta tiga hari setelahnya.” (HR. Muslim)
Shalat Syukur Wudhu’
Shalat syukur wudhu’ adalah shalat sunnat 2 rakaat yang dilakukan setiap selesai berwudhu’. Dari ‘Abdullah Ash-Shunabaji r,a bahwa Rasulullah saw bersabda:
اِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ فَمَضْمَضَ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ فِيْهِ, فَاِذَااسْتَنْثَرَ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ اَنْفِهِ, فَاِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَشْفَارِ عَيْنَيْهِ, فَاِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَظَافِرِ يَدَيْهِ, فَاِذَا مَسَّحَ رَئْسَهُ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رَئْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اُذُنَيْهِ, فَاِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَظَافِرِ رِجْلَيْهِ, ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ اِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلاَتُهُ نَافِلَةً  =رواه مالك والنسائي والحاكم=
Apabila seorang hamba berwudlu’ lalu ia kumur-kumur, keluarlah kesalahan dari mulutnya; apabila ia mengeluarkan air dari hidungnya, keluarlah kesalahannya dari hidungnya; bila ia membasuh mukanya, keluarlah kesalahannya dari mukanya sampai keluar dari matanya; bila ia membasuh tangannya keluarlah kesalahannya dari tangannya sampai keluarnya air dari kuku tangannya; apabila ia mengusap kepalanya keluarlah kesalahannya dari kepalanya sampai menetesnya air dari bawah telinganya; bila ia membasuh kakinya keluarlah kesalahannya dari kakinya sampai keluarnya air dari kuku kakinya kemudian ia berjalan ke masjid lalu shalat sunat (syukur wudlu’) (HR. Malik, An Nasai dan Al Hakim)
Shalat Gerhana
Shalat gerhana adalah shalat sunnat 2 rakaat yang dilakukan karena terjadi gerhana, baik matahari atau gerhana bulan. Dasar syar‘i shalat gerhana matahari dan gerhana bulan ditunjukkan oleh sejumlah hadits, antara lain :
عن عَائِشَةَ قَالَتْ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلاَةَ جَامِعَةً فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِيْ رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ  =رواه البخاري ومسلم وأحمد=
Dari Aisyah ra, ia berkata bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka ia menyuruh orang menyerukan “ash-shalatu jami‘ah”. Kemudian beliau maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
عن أبي مَسْعُودٍ قال قال النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُوْمُوْا فَصَلُّوْا =متفق عليه=
Dari Abu Mas’ud ra, ia berkata: Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan Bulan tidak gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat gerhana keduanya, maka berdirilah dan kerjakan shalat (HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar