STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 02 November 2011

Tayammum

Muqoddimah
TayammumTayammum merupakan suatu cara yang diberikan oleh Allah swt sebagai keringanan untuk para hamba-Nya. Segala ibadah yang mensyaratkan perlunya wudhu’ -pada suatu keadaan tertentu- dapat digantikan dengan tayammum. Jadi, merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap muslim untuk mengenal dan mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan tayammum.
Definisi
Tayammum menurut arti bahasa adalah menyengaja. Sedangkan secara syara’ adalah mempergunakan sha’id (debu/sesuatu di permukaan bumi) dan mengusapkan ke wajah dan kedua telapak tangan dengan niat untuk shalat.
Dasar Hukum
Tayammum disyari’atkan dalam Islam menurut Al-Qur’an, hadits dan ijma’.
Firman Allah swt:
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)
… dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.  (Qs. Al Maa-idah 5: 6)

Sabda Rasulullah saw.
َعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي اَلْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ اَلصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ )  وَذَكَرَ اَلْحَدِيث َوَفِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ: ( وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اَلْمَاءَ ) َوَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه عِنْدَ أَحْمَدَ: ( وَجُعِلَ اَلتُّرَابُ لِي طَهُورًا )
Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat[1].(Muttafaq Alaihi). Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci[2].” Menurut Ahmad dari Ali r.a: Dan dijadikan tanah bagiku sebagai pembersih[3].
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّعِيدُ وُضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اَللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ )  رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ و لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَه ُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَه
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya[4].” Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni. Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut[5]. Hadits tersebut shahih menurutnya.
Dalil Ijma’
Para ulama’ telah bersepakat tentang disyari’atkannya tayammum sebagaimana dinukil oleh Imam Abu Muhammad bin Hazm dan Ibnu Taimiyyah.
Syarat-Syarat Diperbolehkan Tayammum
1.      Terdapat udzur (halangan) dalam menggunakan air.
Udzur disini ada dua:
a)     Tidak ditemukan air, baik secara hissy (realitas) artinya memang sama sekali tidak terdapat air, atau secara syar’i (menurut syara’) dalam arti sebenarnya ada air namun harus membeli dengan harga yang lebih mahal dari standar harga air didaerah tersebut, khawatir terjadinya hal buruk pada diri atau hartanya apabila ia mengambil air atau air tersebut dibutuhkan untuk minum bagi dirinya atau orang lain atau hewan ternak.
b)     Sakit, yang termasuk dalam kategori ini adalah:
Sakit yang apabila menggunakan air, akan mengancam nyawanya, bertambah parah penyakitnya atau memperlambat proses penyembuhan. Terdapat tambalan luka pada anggota wudlu’. Terdapat luka yang tidak boleh terkena air.
c)      Apabila air sangat dingin sekali dan dikhawatirkan membahayakan dirinya serta tidak mempu memanaskannya.
عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنْ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ { وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا
Dari ‘Amr bin ‘Ash, ia berkata, Aku pernah mimpi basah pada suatu malam yang sangat dingin sekali dalam perang Dzat Salasil. Saya khawatir bila saya mandi, saya akan mati karenanya. Maka saya tayammum dan shalat Subuh bersama para sahabat. Tatkala datang kepada Rasulullah saw, para sahabat menceritakan kejadianku. Nabi bersabda, “Wahai ‘Amr, benarkah engkau shalat bersama para sahabatmu padahal engkau junub?” Maka saya kabarkan kepada beliau sesuatu yang menghalangiku untuk mandi dan saya berkata, “Aku mendengar firman Alloh, Janganlah engkau membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepada kalian. Sebab itulah saya tayammum kemudian shalat. Rasulullah tertawa dan tidak mengatakan sedikitpun. (HR. Abu Dawud (334), Ahmad (4/203), Daruqutni dalam sunan-nya (1/178), Ibnu Hibban (202), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (647), Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq dan dikuatkan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 1/603 dan Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 154.
2.      Bagi sebagian ulama, dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat.
3.      Menggunakan debu kering yang suci, tidak boleh menggunakan debu yang terkena najis.
Tata Cara Tayammum.
Adapun tata cara tayammum, adalah sebagai berikut:
1.      Membaca Basmalah.
Sebagaimana halnya dalam wudhu`. Dikarenakan tayammum adalah pengganti thaharah wudhu`, dan pengganti hukum menyadur hukum yang digantikannya.
2.      Menepukkan kedua telapak tangan ke tanah dengan sekali tepukan, meniup kedua telapak tangan lalu mengusap wajah dan kedua tangan hingga pergelangan.
Sabda Rasulullah saw.
وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ
Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini.” Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim[6].
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه
Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya[7].
Adapun atsar yang menyebutkan dua kali tepukan maka kesemuanya adalah mudhtharib (goncang).”
َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه
Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.[8]” Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.
Catatan: Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’, “Tayammum dengan dua kali tepukan, sekali untuk wajah dan sekali untuk kedua tangan hingga bagian siku.” Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni, al-Hakim dan al-Baihaqi, namun hadits ini sangat lemah, pada sanadnya terdapat Ali bin Zhabyaan, dia perawi yang matruk. Maka tidak dapat dijadikan menjadi hujjah/dalil dalam ibadah selama tidak ada dalil yang shahih yang mendukungnya.
3.      Tertib dalam tayammum, yaitu dimulai dengan mengusap wajah lalu kedua tangan.
Berdasarkan konteks firman Allah Ta’ala, “Basuhlah wajah dan tangan-tangan kalian.” (QS. al-Maidah: 6)
4.      Dikerjakan secara beriringan (al-muwalaah).
Alasan tayammum untuk satu kali shalat.
Dasarnya adalah:
َوَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ أَنْ لَا يُصَلِّيَ اَلرَّجُلُ بِالتَّيَمُّمِ إِلَّا صَلَاةً وَاحِدَةً ثُمَّ يَتَيَمَّمُ لِلصَّلَاةِ اَلْأُخْرَى )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ جِدًّ ا
Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Termasuk sunnah Rasul adalah seseorang tidak menunaikan shalat dengan tayammum kecuali hanya untuk sekali shalat saja kemudian dia bertayammum untuk shalat yang lain[9]. Riwayat Daruquthni dengan sanad yang amat lemah.
Catatan:  Karena hadits ini adalah dha’if (lemah) dan tidak dapat dijadikan menjadi dalil dalam agama, maka satu kali tayammum dalam untuk melakukan beberapa kali shalat. Wallahu A’lam.
Yang Membatalkan Tayammum
1.      Yang membatalkan tayammum adalah apa saja yang membatalkan wudhu’.
2.      Menemukan air bagi yang tidak memdapatkannya sebelum melakukan shalat. Dan bila menemukan air setelah melaksakan shalat sedangkan waktu shalat saat itu masih ada, maka tidak perlu mengulang shalatnya. Sabda Rasulullah saw.
َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ اَلصَّلَاةَ -وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ- فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا اَلْمَاءَ فِي اَلْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا اَلصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدِ اَلْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْتَ اَلسُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلْآخَرِ: لَكَ اَلْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ و النَّسَائِيّ
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada dua orang laki-laki keluar bepergian lalu datanglah waktu shalat sedangkan mereka tidak mempunyai air maka mereka bertayamum dengan tanah suci dan menunaikan shalat. Kemudian mereka menjumpai air pada waktu itu juga. Lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dan wudlu sedang yang lainnya tidak. Kemudian mereka menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya: “Engkau telah melakukan sesuai sunnah dan shalatmu sudah sah bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lainnya: “Engkau mendapatkan pahala dua kali[10].” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i.
BAHAN BACAAN:
1.        Fiqh Sunnah Sayid Sabiq
2.        Risalah shalat Dewan Hisbah PP Persis
3.        Bulughul Maram Ibnu Hajar Al-Atsqolani
4.        Taudhihul Alham Min Bulughil Maram Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam.
5.        Minhajul Muslim Abu Bakr Jabir AlJazairi.
6.        Kutubul Mutun Maktabah Syamilah.
7.        Dan lain-lain.

[1] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-108. hal. 421. [2] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-108. hal. 421.
[3] Hasan, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-108. hal. 421.
[4] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-111. hal. 432.
[5] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-111. hal. 432.
[6] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-109. hal. 426.
[7] Shahih, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-109. hal. 426.
[8] Sangat Dha’if dan Mauquf pada Ibnu Umar ra. Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-110. hal. 428.
[9] Dha’if sekali, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-116. hal. 443.
[10] Shahih oleh Imam Daud dan Nasa’i, Lihat Taudhihul Ahkam: Hadits ke-112. hal. 435.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar