STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 06 November 2011

PERBANDINGAN PENDIDIKAN ANTARA SAUDI ARABIA DAN PAKISTAN

A. Saudi Arabia
Lembaga pendidikan formal tersedia secara luas dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Untuk sekolah pemerintah, kurikulum pendidikan Arab Saudi, bahasa pengantar bahasa Arab, dan sekolah untuk laki-laki terpisah dengan sekolah untuk perempuan.
Sedangkan untuk sekolah-sekolah internasional, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris dan beberapa kelas menggunakan bahasa Arab. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum darimana pemilik sekolah tersebut berasal dengan campuran beberapa pelajaran kurikulum Saudi.
Baru-baru ini, Centre for Religious Freedom, sebuah lembaga yang menekuni bidang kebebasan beragama di Amerika Serikat, mengeluarkan hasil penelitian mereka, tentang kurikulum dan buku-buku yang diajarkan di sekolah-sekolah Arab Saudi. Salah satu temuan penting penelitian itu adalah bahwa kurikulum dan buku-buku Islam yang diajarkan sekolah-sekolah Arab Saudi penuh dengan kebencian dan permusuhan terhadap agama Yahudi, Kristen, dan kaum Muslim yang tak sepaham dengan ajaran Wahabi.
Penelitian itu cukup komprehensif. Dengan melibatkan beberapa peneliti dari Timur Tengah dan dari Arab Saudi sendiri, tim peneliti mengambil buku-buku daras yang diajarkan di sekolah-sekolah Arab Saudi, dari Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat menengah (SMU). Sebagian besar buku itu adalah buku-buku mengenai teologi (Tauhid) dan sebagian lainnya mengenai hukum Islam (Fikih) dan buku-buku hadis.
Hasil penelitian itu sangat menarik dan penting untuk disimak, karena meskipun obyek penelitiannya hanya Arab Saudi, tapi tema yang diangkat menyangkut ajaran dan doktrin Islam yang erat terkait dengan kaum Muslim secara lebih luas. Apalagi Arab Saudi dianggap sebagai “pusat” dan “model” Islam bagi banyak kaum Muslim di dunia.
Arab Saudi dikenal sebagai negara yang secara keras menerapkan hukum Islam. Secara resmi negara itu mendeklarasikan diri sebagai kerajaan Islam dan mempraktikkan aturan-aturan sosial-kemasyarakatan secara Islami. Pendidikan Islam juga ditekankan secara berlebihan, dengan menerapkan pemisahan laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah, dan memasukkan materi-materi keagamaan pada setiap disiplin ilmu.
Kurikulum yang diajarkan sekolah-sekolah Arab Saudi sesungguhnya tidaklah unik. Beberapa doktrin dan ajaran Islam yang diajarkan dalam kurikulum itu dengan mudah dijumpai di sekolah-sekolah lain di Timur-Tengah. Kita bahkan juga bisa menjumpai beberapa materinya di sekolah-sekolah di Indonesia.
Secara umum, kurikulum keislaman yang diajarkan di dunia Islam diambil dari sumber-sumber utama Islam seperti Alquran dan Hadis. Sumber lainnya adalah buku-buku fikih dan teologi yang dikarang ulama-ulama zaman dahulu. Beberapa dari sumber-sumber ini memang mengandung ajaran-ajaran intoleransi dan permusuhan terhadap agama atau sekte lain. Hal ini lumrah belaka, karena masa pembentukan Islam diwarnai dengan ketegangan dan pertentangan, baik dengan Yahudi-Kristen maupun sekte-sekte sempalan.
Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan dalam kurikulum itu ada anjuran untuk membenci kaum Yahudi, Kristen, atau Syi’ah. Saudi Arabia dikenal sebagai negara yang sangat membenci sekte Syi’ah.
Di hampir setiap buku daras (text book) yang diajarkan di sekolah-sekolah Arab Saudi –dan saya kira juga di negeri Islam lainnya— anak-anak murid diajarkan tentang keluhuran Islam dan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Doktrin ini bukan ciptaan ulama, tapi merupakan ajaran yang dinukil langsung dari Alquran, yang mengatakan “siapa saja yang menghendaki agama selain Islam, tak akan diterima” (Q.S. 3:85).
Agama-agama besar selalu dipersepsikan sebagai agama yang sesat, jahat, dan selalu memusuhi Islam. Ini juga merupakan derivasi langsung dari Alquran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrasi tak akan rela sehingga kalian semua masuk ke dalam agama mereka” (Q.S. 2:120).
Rasa benci dan permusuhan kepada Yahudi dan Kristen telah ditanamkan sejak sangat dini kepada anak-anak Muslim. Sebuah buku pengajaran untuk anak Kelas 1 SD di Arab Saudi, misalnya, memberikan sebuah soal yang harus dijawab, sebagai berikuut:
“Isilah titik-titik berikut dengan kata-kata yang cocok (Islam, neraka): Setiap agama selain …….. adalah sesat. Setiap orang yang mati di luar Islam akan masuk ke ………”
Kepada siswa kelas 4 SD diajarkan tentang makna iman yang benar, yakni bahwa “iman yang benar adalah bahwa kamu membenci musyrik dan kafir tapi tidak memperlakukan mereka secara tidak adil.” Musyrik dan kafir selalu merujuk kepada Yahudi, Kristen, dan agama-agama lain di luar Islam.
Permusuhan kepada orang-orang yang tidak seiman selalu ditekankan. Dalam hal ini, “tidak seiman” bukan hanya berarti orang-orang Yahudi dan Nasrani, tapi siapa saja yang memiliki keyakinan berbeda, termasuk saudara Muslim sendiri, dianggap “tidak seiman.” Secara jelas, ini diajarkan pada siswa kelas 6 SD, dengan menegaskan bahwa orang yang seiman, meskipun tak punya hubungan darah adalah saudara, tapi orang yang tak seiman, meskipun saudara, adalah musuh.
Siswa-siswa SMP diajarkan materi keagamaan yang lebih matang, meskipun nuansa-nuansa kebencian tetap dipelihara. Kepada kelas 2 SMP, anak-anak sekolah di Arab Saudi diajarkan sebuah hadis Nabi yang entah sahih atau daif: “monyet-monyet adalah Yahudi, orang-orang Sabat; sementara babi-babi adalah orang-orang Kristen, yang menentang Nabi Isa.”
Kebencian terhadap Yahudi dan Kristen terus dipelihara sepanjang masa. Hampir setiap kelas, rasa kebencian dan permusuhan ini terus dijaga. Kepada kelas 3 SMP, siswa diajarkan bahwa pertentangan antara Muslim dengan Yahudi dan Kristen akan bertahan terus sampai hari kiamat. Mengapa demikian? Jawabnya, karena Allah menghendakinya demikian.
Siswa-siswi SMA diajarkan materi yang lebih luas dan lebih analitis, meskipun nuansa kebencian dan diskriminasi tetap terlihat jelas. Dalam mata pelajaran Fikih, misalnya, diajarkan bahwa nilai hidup orang-orang non-Muslim bernilai separuh dari orang-orang Muslim yang merdeka. Status nyawa mereka sama dengan budak yang beragama Islam.
Secara umum, perlakuan kurikulum Arab Saudi terhadap non-Muslim sama dengan perlakuan terhadap kaum perempuan. Dengan merujuk buku-buku fikih klasik, kaum perempuan selalu dihargai separuh, baik dalam masalah warisan, kesaksian, maupun perkara-perkara lain yang bersifat publik.
Dengan muatan kurikulum semacam itu, tidak salah kalau banyak orang meyakini bahwa ada keterkaitan erat antara cara beragama orang-orang Saudi dengan doktrin-doktrin yang diajarkan di sekolah-sekolah mereka. Kebencian terhadap Amerika, negeri kafir di mana banyak orang Yahudi dan Kristen tinggal,
Ketika Fahd bin Abdul Aziz bin Pada tahun (1373 H) diangkat sebagai Menteri Pendidikan di masa kekuasaan kakak beliau Saud bin Abdul Aziz. Dalam masa ini beliau melakukan berbagai pembaharuan dalam bidang pendidikan.
Kalau kita ambil saja sebagai contoh dalam bidang dakwah dan pendidikan tidak ada bandingnya dengan negara manapun. Pendidikan dan dakwah dari hal yang sekecil-sekecilnya sampai kepada hal yang sebesar-besarnya menjadi perhatian dan tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Contoh dalam bidang pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi gratis termasuk buku-buku panduan dibagikan secara gratis dan yang lebih istimewa lagi seluruh mahasiswa perguruan tinggi negeri diberi beasiswa paling sedikit 850 riyal setiap bulan. Untuk kegiatan dakwah yang formal seluruhnya ditanggung pemerintah mulai dari fasilitas dan dana.
Mendirikan dan membantu pembangunan madrasah dan pesantren di berbagai negara yang terdapat di pelosok dunia.
Pengiriman da’i-da’i ke berbagai negara Islam terutama negara yang berpenduduk minoritas muslim. menurut data Kementrian Urusan Agama Arab Saudi jumlah Mereka mencapai 5000 orang.
Memberi tunjangan kepada da’i-da’i yang tersebar di berbagai negara-negara Islam yang sedang berkembang atau di bawah garis kemiskinan.
Mencetak kitab-kitab ulama kemudian membagikannya kepada para ulama dan da’i serta pencinta ilmu di dalam dan luar Arab Saudi. Seperti kitab Majmu’ Fatawa, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yang jumlahnya 37 jilid, kitab Al Mughny karangan Ibnu Qudamah yang jumlah 15 jilid dan banyak lagi yang lainnya.
Mendirikan Pusat Kajian Islam (Maktab Jaaliyyat) di berbagai kota dan pelosok Saudi untuk para pendatang dari berbagai negara yang bekerja di Arab Saudi. Terutama di kota-
Sekolah dan Lembaga pendidikan yang didirikan pemerintah Saudi Arabia di berbagai Negara
1. Mendirikan sekolah-sekolah tinggi di berbagai negara Islam dan kota internasional terutama negara yang minoritas muslim, di antaranya:
· Kuliyyah Syari’ah dan Bahasa Arab di Emirat Arab.
· Lembaga Pengetahuan Islam Dan Arab di Washington.
· Akademi Islam di Washington berdiri pada tahun 1984. .
· Ma’had Islami di Senegal.
2. Memberikan beasiswa bagi anak-anak muslim dari berbagai negara Islam dan negara yang minoritas muslim untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Arab Saudi. Jumlah Universitas Saudi yang menampung siswa asing sekitar enam Universitas. Kita ambil sebagai contoh Universitas Islam Madinah yang merupakan universitas yang jumlah mahasiswa asingnya paling dominan dibanding universitas-universitas lainnya. Persentasenya mencapai 65% dari 140 negara. Mahasiswa Indonesia menempati urutan kedua setelah Nigeria. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai Universitas Saudi lebih kurang sekitar 200 orang. Seluruh mahasiswa asing yang belajar di Saudi setiap libur musim panas diberi tiket gratis untuk pulang ke negara mereka masing-masing. Silakan pembaca menghitung berapa besar biaya yang disumbangkan untuk mereka.
3. Pengiriman dosen-dosen untuk perguruan tinggi di berbagai negara Islam dan negara yang minoritas muslim. Menurut data Kementrian Pendidikan jumlah mereka mencapai 2372 orang.
4. Mendirikan Pusat Kajian Islam (Islamic Centre) di berbagai negara dan kota besar dunia, terutama negara yang minoritas muslim. jumlahnya mencapai sekitar 210 buah, diantaranya:
· Islamic Centre Abuja di Nigeria.
· Islamic Centre Raja Syahi Bangladesh.
5. Mengirim dosen-dosen universitas ke berbagai negara Islam dan negara yang minoritas muslim, untuk mengadakan daurah-daurah ilmiah (Kajian Islam Intensif). Menurut data yang di sebutkan oleh salah satu sumber untuk Universitas Islam Madinah saja telah melakukan daurah ilmiah semenjak tahun 1419 H sampai tahun 1422 H di 29 negara. Di Indonesia diadakan sebanyak 16 kali. Belum terhitung dauroh yang dilakukan oleh universitas-universitas Saudi lainnya di berbagai negara.
Adapun buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam Madinah.
Untuk mata kuliah Aqidah:
1. Kitab Syarah Aqidah Thawiyah karangan Ibnu Abdil ‘Iz Al Hanafi.
2. Fathul Majiid karangan Abdurahman bin Hasan Alu Syeikh.
3. Ditambah sebagai penunjang; Al Ibaanah karangan Imam Abu Hasan Al Asy’ari.
4. Al Hujjah karangan Al Ashfahany Asy Syafi’i.
5. Asy Syari’ah karangan Al Ajurry.
6. Kitab At Tauhid karangan Ibnu Khuzaimah.
7. Kitab At Tauhid karangan Ibnu Mandah dan lain-lain.
Untuk mata kuliah Tafsir:
1. Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi’i.
2. Tafsir Asy Syaukany.
3. Ditambah sebagai penunjang; Tafsir At Thobary.
4. Tafsir Al Qurthuby Al Maliky.
5. Tafsir Al Baghawy As Syafi’i dan lain-lain.
Untuk mata kuliah Hadits:
1. Kutub As Sittah beserta Syarahnya.
2. Fathul Baari karangan Ibnu Hajar Asy Syafi’i.
3. Syarah Shahih Muslim karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i, dan lain-lain.
Untuk mata kuliah Fikih:
1. Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusy Al Maliky.
2. Subulussalam karangan Ash Shan’any.
3. Ditambah sebagai penunjang: Al Majmu’ karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i.
4. Kitab Al Mughny karangan Ibnu Qudamah Al Hambaly dan lain-lain.
Kalau ingin untuk melihat lebih dekat lagi tentang kitab-kitab yang menjadi panduan mahasiawa di Arab Saudi silakan berkunjung ke perpustakaan Universitas Islam Madinah atau perpustakaan masjid Nabawi, di sana akan terbukti segala kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tuduhan teroris dan wahhaby.


B. Pakistan
Jenjang kurikulum madrasah Pakistan rata-rata ditempuh dalam waktu 8 tahun, yang dimulai dengan bagaimana cara membaca alqur’an secara benar dan baik dengan cara melihat ataupun dengan hafalan, kemudian diteruskan dengan mempelajari buku-buku agama seperti hadist,tafsir dll.
Madrasah di Pakistan punya kelebihan mempunyai silsilah keilmuan sampai kepada pengarangnya, misalnya belajar hadist, ini riwatnya bisa sampai kepada Rasulullah. Madrasah di Pakistan juga menyediakan cost life secara gratis, sehingga mereka tidak lagi disibukkan dengan urusan perut, tapi bisa konsentrasi secara full time hanya untuk mengais ilmu.
Keungan madrasah di Paksitan banyak disokong dari bantuan swadaya masyarakat orang-orang kaya yang sadar tentang misi agama Islam dengan mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah dan tidak menggantungkan sama sekali dengan pemerintah alias independent.
Sedangkan doktrin jihad, Yusuf mengatakan, ini adalah lahir dari sebuah keprihatinan dan solidaritas yang mendalam dari anak benua India terhadap penderitaan saudara-saudara seiman mereka di Afghanistan, yang saat itu dibawah cengkraman penjajah Uni-Soviet. Maka dikumandangkanlah suara jihad ke seantero dunia dan negara-negara Muslim dan mendirikan kamp-kamp penampungan buat para mujahidin yang mau berperang melawan Uni-Soviet dan membebaskan saudara seiman dari agresi penjajah.
Namun seiring berlalunya pendudukan Uni-Soviet di Afghanistan, ia mengaku doktrin jihad agaknya mulai meredup dan tidak berkobar lagi api jihadnya dan sekedar hanya sebagai pelajaran secara teks book yang tidak lagi meluap-luap bara apinya. Namun begitu, doktrin jihad akan selalu ada dan tidak bisa dihapuskan dari kurikulum madrasah karena itu adalah nafas Islam yang terekam dalam kitab suci orang Islam dan hadist-hadist Nabi.
Sedangkan nara sumber kedua, bernama Dony Abdul Haq berasal dari Banten, pelajar madrasah di daerah Gujrat yang pernah mencicipi bangku kuliah di Perbanas Jurusan Akuntansi hingga mencapi gelar S-1.
Pertama Ia mengakui bahwa di dalam madrasah Tabligh ada doktrin yang sangat kuat untuk mengembalikan kembali kejayaan Islam yang saat ini sedang terpuruk. Oleh karenanya, ia mengatakan madrasah Tablihg mengobarkan tiga komponen atau pilar yang harus dipenuhi jika umat Islam mau mendapatkan kembali kejayaannya. Pertama: Dirikan madrasah-madrasah tahfidh untuk menjaga nafas al-Qur’an secara benar sesuai dengan ilmu tajwidnya.
Kedua : Dirikan lembaga-lembaga kajian tentang al-Qur’an dan Hadist demi untuk menjaga kemurnian makna keduanya. Mereka memberikan wadahnya dalam sebuah lembaga daurah yang ditempuh dalam 2-3 tahun. Setelah lulus dari daurah ini diharapkan dari mereka mau turun ke lapangan dengan mendakwahkan ilmu-ilmu yang telah mereka timba dalam daurah tersebut atau yang biasa mereka sebut dengan istilah khuruj fi sabilillah.
Ketiga : Kobarkan semangat tabligh, yakni menyebarkan dakwah agama secara langsung ke lapangan dengan menemui umat di kalangan grass root untuk menjaga amal (perintah) al-Qur’an dan Hadist.
Dalam kesempatan yang sama Abdul Haq menyatakan secara tegas bahwa radikalisme tidak ada dalam madrasah, yang ada hanyalah mahabbah, mengedepankan rasa hormat dan terus menjaga ketaatan kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi SAW.
Kendati secara tegas dikatakan bahwa tidak ada radikalisme dalam tubuh madrasah, namun kedua nara sumber tampaknya hanya mewakili dari kelompoknya, madrasah tablighi, dan tidak mampu menjelaskan status madrasah-madrasah di luar tablighi. Padahal di sana masih ada ribuan madrasah dengan berbagai alirannya masing-masing belum bisa diungkap secara transparan sehingga masih membuka ruang adanya tuduhan bahwa tidak menutup kemungkinan doktrin radikalisme dalam madrasah memang ada..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar