STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 19 Januari 2012

PENGERTIAN AL-QURAN

Secara bahasa, Al-Quran berasal dari kata kerja qarâ’a yang berarti “mengumpulkan atau menghimpun”, dan qirâ’ah yang berarti “menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih”.
Al-Quran merupakan kitab suci terakhir dan terbesar yang diturunkan Allah Swt. kepada manusia setelah Taurat, Zabur, dan Injil yang diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Bagi kaum Muslimin, Al-Quran adalah sebuah kitab suci yang sangat istimewa. Karena keistimewaannya itu, bukan hanya memelajari dan mengamalkan isinya saja yang menjadi keutamaan, membacanya pun sudah bernilai ibadah dan merupakan sebauh bentuk pengangungan terhadap Allah Swt. sebagai pihak yang menurunkan Al-Quran dan terhadap Rasulullah Muhammad saw. sebagai pihak yang menerima Al-Quran tersebut. (i)
Hal ini sesuai dengan beberapa definisi Al-Quran yang diungkapkan para ulama, di antaranya Syaikh Dr. Subhi As-Shalih. Dalam karyanya yang berjudul Mabahis fi ’Ulumil Qur’ân, ia mendefinisikan Al-Quran sebagai “kalam Allah Swt. yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir di mana membacanya termasuk ibadah”. (ii)
Definisi senada diungkapkan pula oleh Ustadz Muhammad Ali Ash-Shabuni. Menurutnya,  Al-Quran adalah firman Allah Swt. yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan memelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan QS Al-Fâtihah dan ditutup dengan QS An-Nâs.(iii)

Adapun Prof. Dr. Quraish Shihab mengartikan Al-Quran sebagai wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. sesuai dengan redaksi yang datang dari-Nya secara tawâtur. Malaikat Jibril menyampaikannya sesuai dengan redakis kalâm Allah, tanpa sedikit pun perubahan, dan ketika disampaikan kepada Rasulullah Muhammad saw., beliau merasa, sebagaimana yang diungkapkannya sendiri, ”Seperti telah terpatri di dalam dadaku suatu kitab.” Oleh karena itu, apa yang beliau sampaikan, dan yang diterima oleh kaum Muslimin sekarang, dan generasi yang akan datang, tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang diterima oleh Malaikat Jibril dari Allah Swt. (iv)
Secara bahasa, Al-Quran berasal dari kata kerja qarâ’a yang berarti “mengumpulkan dan menghimpun”, dan qirâ’ah yang berarti “menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih”. Oleh karena itu, istilah qur’ân paling umum diterjemahkan sebagai “bacaan” atau “tilawah” (bacaan yang dilantunkan), dan telah dihubungkan secara etimologis dengan qeryânâ (bacaan Kitab Suci, bagian dari Kitab Suci yang dibacakan dalam ritual keagamaan) dalam bahasa Suriah, dan miqra’ dalam bahasa Ibrani (pembacaan suatu kisah, Kitab Suci). Sebagian mufasir juga berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari bentuk fu’lân, qur’ân membawa konotasi “bacaan sinambung” atau “bacaan abadi”, yang dibaca dan didengar berulang-ulang. (v)
Al-Quran dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai konsekuensinya, Al-Quran pun menjadi nama khas kitab tersebut, yaitu sebagai nama diri, termasuk juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Sebagai sebuah nama, Al-Quran merujuk pada wahyu (tanzíl) yang “diturunkan” (unzila) oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. dalam rentang waktu hampir 23 tahun. Dalam konotasi yang lebih universal, ia adalah ekspresi diri Ummul Kitâb sebagai paradigma komunikasi ilahiah (QS Ar-Ra’d, 13:39). (vi)

Catatan Kaki:

(i)            Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., The Amazing Stories of Al-Quran: Sejarah yang Harus Dibaca (Bandung: Salamadani, 2009), hlm.1
(ii)          Ibid., hlm. 1
(iii)        Op.cit., hlm. 2
(iv)        Quraish Shihab,  M. Quraish Shihab Menjawab: 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 275
(v)          Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., op.cit. hlm. 2
(vi)        Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., loc.cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar