STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 17 Maret 2013

MODEL PENELITIAN KEAGAMAAN

A. Pendahuluan
Sebenarnya penelitian Agama sudah dilakukan beberapa abad yang lalu namun hasil penelitiannya masih dalam bentuk aktual atau perbuatan saja belum dijadikan sebagai ilmu. Setelah bertambahnya gejala-gejala agama yang berbentuk sosial dan budaya, ternyata penelitian dapat dijadikan sebagai ilmu yang khusus dalam rangka menyelidiki gejala-gejala agama tersebut.
Perkembangan penelitian Agama pada saat ini sangatlah pesat karena tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang selalu mengalami perubahan. Kajian-kajian agama memerluka relevansi dari kehidupan sosial berlangsung, permasalahan-permasalahan seperti inilah yang mendasari perkembangan penelitian-penelitian Agama guna mencari relevansi kehidupan sosial dan agama.
Dewasa ini penelitian Agama diisi dengan penjelasan mengenai kedudukan penelitian Agama dalam konteks penelitian pada umumnya, elaborasi mengenai penelitian Agama dan penelitian keagamaan dan konstruksi teori penelitian keagamaan, dari beberapa penjelasan singkat tersebut maka pemakalah perlu mengkaji secara rinci terhadap penjelasan tersebut.

B. Rumusan Masalah
Dari pendahuluan diatas, maka muncul beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Apa pengertian penelitian Agama dan penelitian keagamaan?
2. Bagaimana perbedaan antara penelitian Agama dan penelitian  keagamaan?
3. Bagaimana Konstruksi teori penelitian keagamaan?
4. Bagaimana bentuk model-model penelitian keagamaan itu?

C. Pembahasan
1. Arti penelitian Agama
Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuam manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melelui penemuan-penemuan baru.
Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode keilmuan, yakni gabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan empiris. Pendekatan rasional memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan pendekatan empiris merupakan kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran. Dimana metode ilmiah sendiri adalah usaha untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian sistematis.
Menurut David H. Penny, penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran kata-kata.
Di kalangan kaum akademisi dan aktivis sosial khususnya, agama saat ini tidak hanya dipandang sebagai seperangkat ajaran (nilai), dogma atau sesuatu yang bersifat normatif lainnya, tetapi juga dilihat sebagai suatu case study, studi kasus yang menarik bagaimana agama dilihat sebagai obyek kajian untuk diteliti. Dalam perspektif budaya, Agama dilihat bagaimana yang ilahi itu menghistoris (menyejarah) di dalam praktek tafsir dan tindakan sosial. Sehingga dengan demikian agama bukannya sesuatu yang tak tersentuh (untouchable), namun sesuatu yang dapat diobservasi dan dianalisis karena perilaku keberagamaan itu dapat dilihat, dan dirasakan. Terlebih di dalam masyarakat yang agamis seperti Indonesia, yang menempatkan agama sebagai bagian dari identitas keindonesiaan tentu ada banyak problem keagamaan yang menarik untuk diungkap. Kita tidak akan pernah tahu rahasia Agama dan keberAgamaan masyarakat bila kita tidak mampu melakukan penelitian atau kajian, seperti mengapa seseorang itu menjadi sangat militan dengan ajaran agama dan madzhabnya, atau mengapa antar komunitas agama saling berkonflik dan seterusnya.

PETA KONSEP AGAMA




Para ilmuwan sendiri beranggapan bahwa agama juga merupakan objek kajian atau penelitian, karena agama merupakan bagian dari kehidupan sosial kultural. Jadi, penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini, dan memperoleh pengaruh dari Agama. Dengan kata lain, penelitian Agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosial-kultural. Jadi, kata Ahmad Syafi’i Mufid, kita tidak mempertentangkan antara penelitian Agama dengan penelitian sosial terhadap agama. Dengan demikian kedudukan penelitian Agama adalah sejajar dengan penelitian-penelitian lainnya, yang membedakannya hanyalah objek kajian yang ditelitinya.
Jika penelitian berpijak pada hipotesa, maka tujuan penelitian jelas akan menguji hipotesa. Data digali untuk menguji, bukan membuktikan. Ini jelas sesuai dengan tujuan dari penelitian yakni mencari kebenaran bukan mencari kebenaran.

2. Penelitian Agama dan Penelitian KeAgamaan
Menurut M. Atho Mudzhar, beliau menginformasikan bahwa sampai sekarang istilah penelitian Agama dengan penelitian keagamaan belum diberi batasan yang tegas. Penggunaan istilah yang pertama (penelitian Agama) sering juga dimaksudkan mencakup pengertian istilah yang kedua (penelitian keagamaan), dan begitu sebaliknya. Salah satu contoh yang diungkapkan oleh M. Atho Mudzhar adalah pernyataan A. Mukti Ali yang ketika membuka program pelatihan Penelitian Agama (PLPA) menggunakan kedua istilah tersebut dengan arti yang sama.
Middleton, guru besar antroplogi di New York University berpendapat, “penelitian Agama berbeda dengan “penelitian keAgamaan”, yang pertama lebih menekankan pada materi Agama sehingga sasaran pada tiga elemen pokok yaitu: ritus, mitos dan magik. Yang kedua lebih menekankan pada agama sebagai sistem atau sistem keagamaan (religious system). Sedangkan sasaran “penelitian Agama” adalah agama sebagai doktrin sedangkan sasaran penelitian keagamaan adalah agama sebagai gejala sosial. Sampai disini lalu terlihat bahwa batasan pengertian yang ditawarkan Mukti Ali, penelitian Agama sebagai penelitian tentang hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat, terlihat berat sebelah. Sebab definisi justru baru mewakili arti penelitian keagamaan yang lebih bersifat sosiologis dan belum mencerminkan arti penelitian Agama yang lebih bersifat penelitian budaya.
Untuk Penelitian Agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin, pintu pengembangan metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah pernah dirintis. Adanya ilmu Ushul Fikih sebagai metode untuk mengistinbatkan hukum dalam agama islam, dan Ilmu Mustalah Hadist sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sabda nabi Muhammad SAW merupakan bukti adanya keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian sendiri, meskipun masih ada perdebatan dikalangan para ahli tentang setuju dan tidaknya terhadap materi kedua ilmu tersebut.
Untuk Penelitian keagamaan yang sasarannya adalah Agama sebagai gejala sosial, tidak perlulah membuat metodologi penelitian tersendiri. Penelitian ini cukup meminjam metodologi penelitian sosial yang telah ada. Memang kemungkinan lahirnya suatu ilmu tidak pernah tertutup, tetapi tujuan peniadaannya adalah agar sesuatu ilmu jangan dibuat secara artifisial karena semangat yang berlebihan.
Dalam pandangan Juhaya S Praja, penelitian Agama adalah penelitian tentang asal-usul Agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut ajaran Agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung didalamnya. Dengan demikian, jelas juhaya, terdapat dua bidang penelitian Agama, yaitu sebagai berikut:
a. Penelitian tentang sumber ajaran Agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu hadist.
b. Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam sumber ajaran Agama itu.
Sedangkan penelitian tentang hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran Agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarkan batasan tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut:
a. Perilaku individu dan hubungannnya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas Agama yang dianutnya.
b. Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu Agama.
c. Ajaran Agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama.

3. Konstruksi teori penelitian keAgamaan
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta Mengartikan konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan – bangunan (jembatan dan sebagainya) dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau di kelompok kata. Sedangkan teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian) dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Selain itu, teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara, dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.
Teori-teori yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a. Teori perubahan sosial
b. Teori struktural-fungsional
c. Teori antropologi dan sosiologi Agama
d. Teori budaya dan tafsir budaya simbolik
e. Teori pertukaran sosial
f. Teori sikap
Dengan demikian, penelitian diatas meminjam teori-teori yang dibangun dalam ilmu-ilmu sosial. Ia disebut penelitian keagamaan dalam pandangan Middleton atau penelitian hidup Agama dalam pandangan Juhaya S. Praja.

4. Model- model Penelitian Keagamaan
Berbagai gejala keagamaan dapat diteliti dengan berbagai bentuk penelitian. Bentuk-bentuk penelitian serta klasifikasi metode penelitian dapat dibedakan berdasarka tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, penelitian keagamaan dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Penelitian Eksploratif
b. Penelitian Deskriptif
c. Penelitian Historis
d. Penelitian korelasional
e. Penelitian Eksperimen
Adapun model penelitian yang ditampilkan di sini disesuaikan dengan perbedaan antara penelitian Agama dan penelitian keagamaan. Akan tetapi, disini dikutip karya Djamari mengenai metode sosiologi dalam kajian Agama, yang secara tidak langsung memperlihatkan model-model penelitian Agama melalui pendekatan sosiologis. Djamari, dosen pascasarjana IKIP Bandung, menjelaskan bahwa kajian sosiologi Agama menggunakan metode ilmiah. Yaitu:

a. Analisis Sejarah
Dalam hal ini, sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter Agama dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain.
Seperti halnya Agama Islam, sejarah mencatat bahwa ia adalah Agama yang diturunkan melalui Nabinya yaitu Muhammad SAW berdasarkan kitab sucinya yaitu Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa arab. Islam diturunkan bukan untuk satu bangsa saja melainkan untuk seluruh bangsa secara universal. Sedangkan Agama lain ada yang hanya diturunkan untuk satu bangsa saja seperti yahudi untuk ras yahudi saja.
Menurut ahli perbandingan Agama seperti A. Mukti Ali, apabila kita ingin memahami sebuah Agama maka kita harus mengidentifikasi lima aspek yaitu konsep ketuhanan, pembawa Agama atau nabi, kitab suci, sejarah Agama, dan tokoh-tokoh terkemuka Agama tersebut.
Agama-Agama dipandang dari segi sejarahnya
Perihal Islam Yahudi Nasrani/kristen budha Hindu
Asal usul Nama Tuhan Allah Langsung dari yudha atau yehuda Dari nama bangsa (nazaret) dan nama gelar yesus (kristus) Dari nama tempat gautama Pendirinya budha hindustan
Konsep Tuhan Tauhid Asal tauhid berubah jadi faham chauvinisme Asal tauhid di ubah jadi trinitas Tidak jelas Trimurti
Kitab Al-qur’an Talmud Bibel Tripitakan Wedda
Status Kitab Asli Tidak asli Buatan paulus Renungan budha Berisi mantra 2
Nabi Muhammad Musa Isa Tidak ada Tidak ada
Status Nabi manusia Manusia Tuhan Tidak punya nabi Tidak punya nabi
Pembawa Agama Muhammad Musa Isa Sidarta gautama Tidak ada
Penyebar Sahabat-ulama Rahib Paulus-pendeta Biksu Pendeta
Sifat Agama Universal Eksklusif Universal Tidak universal Tidak universal
Missi Da’wah Bukan missi Missi Bukan missi Bukan missi
Perubahan dari asal Tidak berubah Berubah Berubah Berubah Berubah

b. Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola sosial keagamaan di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsur budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.

c. Eksperimen
Penelitian yang menggunakan eksperimen agak sulit dilakukan dalam penelitian Agama. Namun, dalam beberapa hal, eksperimen dapat dilakukan dalam penelitian Agama, misalnya untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model pendidikan Agama.
d. Observasi Partisipatif
Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religius. Orang yang diobservasi boleh mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi atau secara diam-diam. Diantara kelebihan penelitian adalah memungkinkannya pengamatan simbolik antar anggota kelompok secara mendalam. Adapun salah satu kelemahannya adalah terbatasnya data pada kemampuan observer.

e. Riset Survey dan Analisis Statistik
Penelitian survey dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sampel dari suatu populasi. Sampel dapat berupa organisasi keagamaan atau penduduk suatu kota atau desa.

f. Analisis Isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencarai keterangan dari tema-tema Agama, baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks.


D. Penutup
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan:
1. Penelitian Agama berarti menempatkan Agama sebagi objek penelitian
2. Perbedaan antara penelitian Agama dan keagamaan adalah objek penelitiannya.
Penelitian Agama mengkaji Agama sebagai doktrin sedangkan penelitian keagamaan objek penelitian yang dikaji adalah Agama sebagai gejala sosial.
3. Teori dalam konstruksi penelitian keAgamaan diantaranya Teori perubahan sosial, Teori struktural-fungsional, Teori antropologi dan sosiologi Agama, Teori budaya dan tafsir budaya simbolik, Teori pertukaran sosial, Teori sikap
4. Model-model penelitian keagamaan diantaranya adalah Analisis Sejarah, Analisis Lintas Budaya, Eksperimen, Observasi Partisipatif, Riset Survey dan Analisis Statistik, Analisis Isi
Demikian makalah ini kami susun, kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi tulisan maupun kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan agar menjadi lebih baik kedepannya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ali, M, Sayuthi, Metodologi Penelitian Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Buchori, Didin Saefuddin, Metodologi Studi Islam, Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005
Hadi, Amirul, Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka setia, 1998.
Hakim, Atang Abdul, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999.
Mudzhar, M. Atho, Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar