STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 23 Juni 2011

AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Manusia bila dilihat dari segi sifat atau tindakannya yang positif dan negatif, sehingga dapat dibedakan seseorang dengan yang lainnya, dinamai oleh Al Qur’an dengan insan. Kata ini berakar dari kata yang dapat berarti “lupa”, “ gerak dinamis”, “jinak”, atau “senang”. Arti-arti tersebut menggambarkan sebagian dari sifat dasar manusia. Al Qur’an berbicara tentang makhluk ini, baik secara perorangan, maupun kelompok, juga peranannya dalam pergerakan sejarah serta faktor yang dapat membawa kebangkitan dan keruntuhannya.
Manusia atau masyarakat terdiri dari unsur yang menyatu luar dan dalam. Yang luar adalah jasmaninya atau bentuk lahiriah masyarakat, sedang yang dalam adalah perpaduan antara pandangan hidup dan tekat atau kehendaknya.
Walaupun Al Qur’an menguraiakan pentingnya pembinaan kedua unsur tersebut namun ditekankannya bahwa unsur itulah yang menggerakkan sejarah manusia serta mengantarkan masyarakatnya maju ke depan atau runtuh berantakan.
Seperti ditegaskan dalam Q.S. 13 : 11, yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang terdapat pada diri mereka”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa isi kandungan dari  Surat At Tiin ayat 1-6, Surat, Surat Al  A’raf ayat 175-176, Surat Al Isra’ ayat 70, Surat Al Mukminun ayat 5 dan Surat Ali Imran ayat 102 ?
2.      Apa hakekat manusia menurut surat-surat tersebut di atas ?
3.      Hal apa saja yang membuat derajat manusia lebih tinggi dari pada makhluk lainnya ?
4.      Hal-hal apa sajakah yang membuat manusia lebih rendah derajatnya dari pada makhluk yang lainnya ?

C.     Tujuan
1.      Dapat mengetahui kandungan dari urat At Tiin ayat 1-6, Surat, Surat Al  A’raf ayat 175-176, Surat Al Isra’ ayat 70, Surat Al Mukminun ayat 5 dan Surat Ali Imran ayat 102
2.      Dapat mengetahui hakekat dari manusia.
3.      Dapat mengetahui hal-hal yang membuat manusia tinggi derajatnya dan yang membuat derajatnya dari makhluk yang lainnya.
4.      Dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat tersebut di atas.
5.      Dapat mengetahui asbab an nuzul dari masing-masing ayat.  



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Kandungan Surat
1.      Kandungan Surat At Tin ayat 1-6
a.      Ayat 1-3



Artinya :
1.  Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
2.  Dan demi bukit Sinai
3.  Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,

Ayat di atas menerangkan Aku adalah Allah bersumpah demi buah atau tempat tumbuhnya Tin dan Zaitun dan demi bukit Sinai tempat Nabi  Musa as. memperoleh wahyu Ilahi dan demi kota yakni Mekkah yang mana ini tempat Nabi Muhammad saw pertama kali menerima wahyu. Banyak hadits yang menekankan seorang muslim bersumpah dengan nama atau perbuatan Allah dan tidak diperkenankan bersumpah atas nama makhluk. Ini berkaitan dengan dengan Q.S. Al Anbiya’ (21) : 23.


Artinya : “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”.
b.      Ayat 4


Artinya : “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Setelah Allah bersumpah dengan menyebut empat hal di atas, menjelaskan untuk bersumpah. Di sini Allah berfirman bahwa demi keempat hal di atas, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.  Kata (                     ) khalaqna/ Kami telah menciptakan berasal dari kata (              ) khalaqa  dan (     ) na yang berfungsi sebagai kata ganti nama, kata na (Kami) yang menjadi akta ganti nama itu menunjuk kepada jama’ (banyak), tetapi juga bisa digunakan untuk menunjuk satu pelaku saja dengan maksut mengagungkan pelaku tersebut. Para raja biasa menunjuk dirinya menggunakan kata kami, begitu juga Allah. Dari sisi lain penggunaan kata ganti bentuk jama’ itu (kami) yang menunjuk pada Allah mengisyaratkan keterlibatan-Nya dalam perbuatan yang ditunjuk oleh kata yang dirangkaikan dengan kata ganti tersebut. Jadi, kata khalaqna mengisyaratkan keterlibatan selain Allah dalam penciptaan manusia. Dalam hal ini yakni bapak ibu manusia. Dalam Q.S. Al Mukminun (23) : 14, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Ahsan Al Khaliqin/ sebaik-baiknya pencipta.
Kata (                          ) Al Insan/manusia yang dimaksud ayat ini, menurut Al Qutubi bahwa manusia-manusia yang durhaka pada Allah, pendapat ini bertentangan dengan para tafsir lain karena adanya pengecualian yaitu kecuali orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa “manusia” yang dimaksut ayat ini jenis manusia pada umumnya mencakup mukmin  atau kafir, bahkan Asy Syathi merumuskan bahwa semua kata al insan  dalam Al Qur’an berbentuk definitif yaitu dengan menggunakan kata sandang (       ) / al berarti menegaskan jenis manusia secara umum.
Kata (                           ) taqwim berakar dari kata (                   ) qawama yang terbentuk dari kata (                   ) qa’imah (                    ) istiqamah (                          ) aqimu, yang keseluruhannya menggambarkan sesuatu dengan objeknya. Kata (                      ) aqimu  digunakan untuk perintah melaksanakan sholat, berarti sholat harus dilaksanakan dengan sempurna sesuai dengan syarat rukun dan sunahnya.
Kata (                         ) taqwim diartikan sebagai menunjuk suatu sesuatu memiliki (                 ) qiwam  yaitu bentuk fisik yang pas dengan fungsinya. Ar Raghib Al Asfhami memandang kata taqwim sebagai isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang, yaitu akal.
Firman-Nya, bahwa  manusia diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya, tidak harus dipahami bahwa manusia adalah semulia-mulia makhluk Allah, ini sesuai dengan Q.S. Al Isra’ (17) : 70. yang artinya
“Kami mengutamakan mereka atas banyak, yakni bukan semua dari makhluk-makhluk yang kami ciptakan dengan pengutamaan yang besar”.
Q.S. As Sajdah (32) : 7, yang artinya :
“Dia yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Atas dasar itu penciptaan manusia dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya dalam fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, makhluk yang laiinya pun sebaik-baiknya sesuai fungsi masing-masing.
c.       Ayat 5



Artinya :  “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.
Manusia yang telah diciptakan Allah sebaik-baiknya, karena satu dan lain hal, sehingga kemudian kami Allah bersama dengan manusia itu sendiri mengembalikannya ke tingkat yang serendah-rendahnya.
Kata (                           ) radadnahu terdiri atas (                  ) radada dirangkaikan dengan kata ganti dalam bentuk jamak (         ) na serta kata ganti yang berkdudukan objek (       ) ha / -nya. Di sini menggambarkan kejatuhannya ke tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa keterlibatan manusia amat besar (              ) radada, antara lain berarti mengalihkan, memalingkan atau mengembalikan. Keseluruhan makna tersebut disimpulkan sebagai perubahan keadaan sesuatu seperti keadaan sebelumnya. Atas dasar ini kata tersebut dapat pula diartikan menjadi kembali.
Ada beberapa pendapat tentang mengapa manusia dialihkan ke tingkat yang serendah-rendahnya :
Pendapat pertama :
Keadaan kelemahan fisik dan psikis di asat tuanya, seperti di kala ia masih bayi. Pendapat ini ditolak oleh sementara pakar, berhubungan dengan adanya pengecualian pada ayat “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh”, karena orang beriman pun dapat mengalami keadaan serupa. Makna ini dapat diterima jika kata illa, diterjemahkan tetapi bukan kecuali.
Pendapat kedua :
Neraka dan kesengsaraan. Pendapat ini juga dipertanyakan, apakah sebelum ini manusia pernah berada di neraka. Pendapat ini bisa diterima jika kata radadnahu dipahami dalam arti mengembalikannya atau menjadikannya.
Pendapat ketiga :
Keadaan ketika ruh illahi belum menyatu dengan diri manusia. Pendapat ini lebih dapat di terima menurut Qurais Shihab seperti pada Q.S. Al Hijr (14) : 29 dan Q.S. Shad (38) : 72, Q.S. Al Mu’minun (23) : 12-14, dijelaskan tentang reproduksi tanah manusia dari saripati tanah, kemudian nutfah, kemudian ‘alaqah, kemudian mudhghat dan ‘izham, proses fisik ini kemudian “dijadikan ia oleh Allah makhluk yang berbeda dari yang lain, yakni dengan jalan menghembuskan ruh illahi kepadanya.
Manusia akan mencapai tingkat (ahsan-taqwim) apabila terjadi perpaduan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kebutuhan fisik dan jiwa. Jika hanya memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, maka manusia akan kembali kepada proses awal sebelum ruh illahi itu menyentuh fisiknya, kembali ke asfala syafilin.
d.      Ayat 6



Artinya : “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Ayat di atas mengecualikan sekelompok dari mereka, Allah berfirman : “Kecuali atau tetapi orang-orang yang beriman dengan keimanan yang benar dan membuktikan kebenaran imannya dengan mengerjakan amal-amal yang sholeh, maka bagi mereka secara khusus pahala yang agung yang tiada putus-putusnya.
Kata (                ) illa umumnya berarti kecuali dapat juga tetapi makna makan kecuali menjadikan yang dikecualikan merupakan bagian dari kelompok yang disebut sebelumnya. Makna tetapi menjadikan yang di kecualikan, akan tetapi bukan anggota kelompok sebelumnya.
Kata (                ) iman, biasa diartikan dengan pembenaran, para ulama mendefinisikan iman dengan pembenaran hati terhadap seluruh yang disampaikan oleh Nabi saw”. Dengan demikian, iman tidak terbatas pada pengakuan akan keesaan Allah, tetapi mencakup pembenaran berbagai hal para pakar mengemukakan tiga hal, yaitu hati, lidah dan perbuatan.
Kata (         ) ‘amiludari kata (          ) ‘amal yang biasa digunakan untuk “menggambarkan suatu aktifitas yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu”.
Kata ini tidak harus terwujud dalam suatu pekerjaan  dalam bentuk konkret dalam alam nyata. Niat atau tekat untuk melaksanakan sesuatu perbuatan, kalau belum terlaksana juga bisa dimaknai ‘amal.
Kata (           ) ash shalihat jamak dari kata (          ) ash shalih/baik. Jadi shalih jika terpenuhi oleh nilai-nilai tertentu dapat berfungsi sesuai dengan tujuan kehadirannya.
Kata (          ) ajr, antara lain berarti balasan, imbalan baik, nama baik, dan mas kawin. Kata ajr, digunakan Al Qur’an bukan khusus untuk imbalan ukhrawi, tetapi juga duniawi, seperti diterangkan dalam Q.S. Al A’raf (7) : 113 dan Q.S. Al Ankabut (29) : 27. Umumnya kata tersebut digunakan untuk menggambarkan imbalan baik di akhirat kelak.
Kata ajr dalam arti maskawin dalam Q.S. An Nisa’ (4) : 25. Maskawin pada hakekatnya tidak sama nilainya dengan hubungan suami istri, tidak sama nilainya dengan kesetiaan istri dan pengorbanannya kepada suami. Al Qur’an memakai maskawin tersebur sebagai ajr/imbalan.
Kata (           ) mamnun, dari kata (          ) manana, yang artinya memutus/memotong. Dengan demikian ghairumamnun berarti tidak terputus-putusnya. Kata (         ) minah berarti nikmat atau karunia. Karena dengan adanya nikmat maka akan terputus krisis atau kesulitan yang dihadapi penerima.
Kata mamnun bisa juga diambil dari kata (        -         ) manna – yamunnu yanb berarti menyebut-nyebut pemberian kepada yang diberi, sehingga menyadikan penerima menjadi rikuh, malu atau sakit hati (Q.S. Al Baqarah (2) : 264).
Dengan demikian karena ajr ghair mamnun dapat berarti juga ganjaran-ganjaran yang tidak disebut-sebut sehingga tidak menyakiti hati penerima.
Rasulullah saw, sekalipun memperoleh imbalan yang lebih dari amal sholeh beliau. Rasulullah saw bersabda “tidak seorangpun di antara kamu yang dapat mesuk ke syurga disebabkan oleh amalnya”. Para sahabat beratanya : “Anda pun tidak, wahai rasulullah ?”.  Nabi menjawab : “ya, akupun tidak (dapat masuk) kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sebab turunnya ayat :
Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Al 'Aufi bersumber dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya, "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya." (Q.S. At Tiin, 5) Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa mereka yang diisyaratkan oleh ayat ini adalah segolongan orang-orang yang dituakan umurnya hingga tua sekali pada zaman Rasulullah saw., karena itu ditanyakanlah perihal mereka, sewaktu mereka sudah pikun, maka Allah menurunkan firman-Nya yang menjelaskan tentang pemaafan bagi mereka, lalu dinyatakan-Nya bahwa bagi mereka pahala dari amal baik yang dahulu mereka lakukan sebelum mereka pikun.

2.      Kandunga Surat Al A’raf (7) : 175-176
a.      Ayat 175





Artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

Kata (                   ) insalakha/mengulit, diambil dari kata (              ) salakha yaitu membeset atau mengupas kulit sesutu sehingga terpisah secara penuh kulit dan daging/isi sesuatu. Qurais Shihab berpendapat bahwa ziyathi adalah perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran kemudan menolaknya.
Kata (             ) al ghawin, diambil dari kata (             ) al ghayy berarti kesehatan, penggalan ayat ini benar karena ia melupakan/ meninggalkan arah dan tujuan yang harus dicapainya.
b.      Ayat 176








Artinya : “Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.
Kata (                 ) yalhast dari kata (              ) lahtsa yaitu terengah-engah, sulit bernafas, seperti baru habis berlari cepat. Penggalan ayat di atas menggambarkan bahwa anjing selalu menjulurkan lidahnya saat dihalau / dibiarkan, karena anjing tidak memiliki zat pengatur suhu tubuh. Maka untuk mengatur suhu tubuh, maka anjing selalu menjulurkan lidahnya agar dapat bernafas lebih banyak.
Ayat di atas menggambarkan tentang siappun yang sedemikian dalam pengetahuannya, sampai melekat pada dirinya seperti melekatnya kulit pada daging, namun dia menguliti dirinya sendiri dengan melepas tuntunan pengetahuannya diibaratkan seekor anjing yang terengah-engah dan menjulurkan lidahnya. Biasanya terengah-engah adalah letih atau kehausan membutuhkan air, tapi anjing sepanjang hidupnya selalu menjulurkan lidahnya sama dengan orang yang berpengetahuan tetapi terjerumus mengikuti hawa nafsunya.
3.      Surat Al Isra’ (17) : 70




Artinya : “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”.
Kata (               ) karamna  dari kata yang terdiri dari huruf kaf, fa’ dan mim, yang mengandung makna kemuliaan, serta keistimewaan sesuai dengan objeknya. Kami lebihkan mereka (manusia) dari hewan, dengan akal, dan daya cipta, sehingga menjadi makhluk bertanggungjawab dan dilebihkan oleh Allah. Manusia yang taat atas malaikat karena ketaatannya manusia melalui perjuangan melawan hawa nafsu dan setan, sedang ketaan malaikat tanpa tantangan.
Terdapat perbedaan antara (                   ) fadhalna dan (               ) karamna, yang pertama dari kata (             ) fadhal berarti kelebihan ini mengacu pada “pemahaman” dari apa yang sebelumnya dimiliki secara sama oleh orang-orang lain. Misal memiliki rizki yang lebih banyak dari pada orang lain, berarti diberi rizki oleh Allah lebih banyak dari pada orang lain. Maka terjadilah perbedaan rizki seseorang dengan orang lain di bidang rizki.
Yang kedua, karamna (anugerah), berupa keistimewaan yang sifatnya internal. Anugerah ini untuk semua manusia dan lahir bersama dengan kelahirannya sebagai manusia, tanpa membedakan seorang dengan orang lainnya.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan dia tidak khusus untuk satu ras atau generasi tertentu tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugerahkan kepada seluruh anak cucu Adam as.
4.      QS. Al Mu’minun (23) : 5


Artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”

Kata (                     ) hafizhun dari kata (                 ) hafizh yang berarti memelihara atau menahan, yang dimaksud memelihara kemaluan. Sehingga tidak digunakan pada tempat dan tempat dibenarkan agama serta menahannya sehingga selalu terawasi dan tidak tergelincir dalam keburukan. Kata yang digunakan ayat ini mengesankan perhatian yang besar dan sungguh-sungguh.
Kata (             ) faraj jamak dari kata (              ) farj  yang pada awalnya dalam arti segala yang buruk diucapkan pada pria tau wanita. Dari sini kata tersebut bisa diartikan alat kelamin.
Ayat di atas mengisyaratkan dampak negatif dari penyaluran dorongan seksual secara tidak sah dari segi sosial, zina dapat berakibat tidak diketahuinya asal keturunan anak secara pasti. Dari fisik efek zina antara lain dapat menyebabkan penyakit spilis aids. Sedang dari segi kesehatan mental zina demikian onani, masturbasi, homoseksual, lesbian, dapat menimbulkan perasaan bersalah dan berdosa sehingga dapat berakibat lemahnya syaraf.
5.      QS. Ali Imran (3) : 102



Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
Sahabat Nabi saw Ibnu Mas’ud memahami arti (                             ) haqqa tuqotihi dalam arti menaati Allah dan tidak sekalipun durhaka, mengingat-Nya dan tidak sesaat pun lupa, serta mensyukuri nikmatnya dan tidak satu pun diingkari jika melihat redaksi sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya terkesan bahwa ketaqwaan yang dituntut adalah sesuai dengan kebesaran, keagungan dan anugerah Allah SWT, dan sisi lain sunatullah serta hukum moral menunjukkan dan menuntut kita memberi sebanyak yang kita ambil atau lebih jelas sudah disinggung dalam QS. At Taqhabun (64) : 16.
Dari ayat di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ayat tersebut menjelaskan batas akhir dari dan puncak taqwa yang sebenarnya, sedang ayat At Taqhabun berpesan agar tidak meninggalkan taqwa sedikitpun, karena tiap orang memiliki kemampuan bertaqwa, akan tetapi bertingkat-tingkat yang penting bertaqwalah sepanjang kemampuan sehingga jika puncak dari taqwa dapat diraih maka telah sampai pada puncak yang didambakan, tetapi bila tidak maka Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Ayat Ali Imran ini adalah arah yang dituju dan ayat At Taqhabun adalah jalan yang ditempuh yaitu taqwa yang sebenarnya.
Sebab Turunnya Ayat
Pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu; Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya Suku Aus; yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup berdampingan, secara damai dan penuh keakraban, suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban  dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing,  saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar perestiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpalukan. Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa. Demkianlah asbabun nuzul Q.S. Ali Imran ayat 101-103 menurut sahabat.


BAB III
PENUTUP

Dari uraian-uraian di atas dapat kita ketahui bahwa ayat-ayat di atas menjelaskan tentang kedudukan manusia sebagai makhluk yang tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang lain apabila dapat menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Akan tetapi manusia juga dapat menjadi rendah serendah-rendahnya makhluk karena ia tidak bisa mengontrol hawa nafsunya.
Namun demikian manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan derajat yang paling tinggi, karena setiap makhluk menjadi tinggi derajatnya apabila melaksanakan apa yang menjadi fungsi dan tugasnya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA


Tafsir Al Misbah, M. Qurais Shihab.
Tafsir Ibnu Katsir
Departemen Agama. Al Qur’an dan Terjemahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar