STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

Peranan Guru Dalam Pendidikan Anti Korupsi: Nilai-Nilai Karakter Anti-Korupsi

Peranan guru dalam pendidikan Anti Korupsi pada hakikatnya hampir sama dengan peranan guru pada umumnya sebagai seorang pendidik. Bedanya, peranan guru untuk saat ini dipandang jauh lebih berat dan lebih kompleks, yakni tidak semata peran guru sebagai pengajar di depan kelas. Perubahan peranan guru seperti ini, dikarenakan oleh adanya perubahan zaman yang melahirkan sejumlah tantangan baru yang dihadapi oleh guru, sekaligus adanya tugas baru yang dibebankan oleh masyarakat atau pemerintah kepada para guru, antara lain tugas pendidikan Anti Korupsi.

Untuk memahami peran guru secara lebih spesifik, terutama terkait dengan tugasnya dalam pendidikan Anti Korupsi, terlebih dahulu perlu dipahami mengenai (1) peran guru dalam era baru saat ini. Apa peran guru saat ini dimana telah terjadi banyak perubahan yang telah menimbulkan tantangan baru bagi guru dalam menunaikan tugasnya sebagai pendidik?  
Setelah kita memperoleh pemahaman mengenai peran baru guru di era baru, kemudian akan diuraikan mengenai (2) nilai-nilai karakter yang layak untuk dikembangkan pada siswa agar dapat terhindar dari perilaku korupsi. Usai nilai-nilai karakter yang relevan dengan pendidikan anti korupsi dipahami, maka kita perlu memahami mengenai (3) arah dan sasaran pendidikan anti korupsi. Akhirnya, kita pun akan perlu memahami pengetahuan praktis yang terkait dengan (4) modus korupsi yang biasa dilakukan oleh para pelaku korupsi sebagai bagian dari materi pendidikan Anti Korupsi, dan terakhir, kita akan tahu mengenai (5) pola pendidikan anti korupsi agar dapat diterapkan secara lebih mudah di sekolah.

Minggu, 27 November 2011

Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga

A. Pengertian pendidikan akhlak dalam keluarga
Kata pendidikan menurut etimologi berasal dari kata dasar didik apabila diberi awalan me, menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran). Sedangkan bila berbentuk kata benda akan menjadi pendidikan yang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Istilah pendidikan dalam konteks Islam telah banyak dikenal dengan menggunakan kata yang beragam, seperti at-Tarbiyah, at-Ta’lim dan at-Ta’dib. Setiap kata tersebut mempunyai makna dan pemahaman yang berbeda.
Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Orang yang berakhlak baik, melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih apapun, demikian juga orang yang berakhlak buruk, melakukan keburukan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibat bagi dirinya maupun bagi yang dijahati.
Keluarga dalam bahasa Arab adalah al-Usrohyang berasal dari kata al-asru yang secara etimologis mampunyai arti ikatan. Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko-sosio-spiritual dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim. Al- Razi mengatakanal-asru maknanya mengikat dengan tali, kemudian meluas menjadi segala sesuatu yang diikat baik dengan tali atau yang lain. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan keluarga adalah prosest ransformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi,keluarga dan masyarakat.

Minggu, 07 Agustus 2011

Guru Profesional dalam Pengembangan Karakter

1. Pendahuluan
Dewasa ini jabatan guru mendapat perhatian serius dari profesi lain. Sejak Indonesia merdeka, memang baru sejak tahun 2005 pemerintah mulai memerhatikan nasib guru, melalui Undang-undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Guru merupakan jabatan profesional. Makna “profesional adalah kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dangan keahlian dan pengabdian diri kepada pihak lain. Profesional mempunyai makna yang mengacu pada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya” (Surya, 2008).
Dalam Undang-undang Guru dan Dosen pasal 5 ayat (1) dikatakan bahwa profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional, yaitu: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme; (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya; (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya; (4) mematuhi kode etik profesi; (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya; (7) memiliki kesempatan untuk mengembnagkan profesinya secara berkelanjutan; dan (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Oleh karena itu, pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan pemberian sertifikat pendidik. Sebagai guru profesional disyaratkan para guru wajib memiliki: (1) kualifikasi akademik Sarjana atau Diploma IV, (2) Kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, (3) sertifikat pendidik, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sabtu, 30 Juli 2011

Membangun Karakter

Asal kata dari bahasa Yunani : Charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola.
Bahasa arab : akhlaq (tabiat/kebiasaan melakukan hal yang baik).
Akhlaq adalah tingkah laku seseorang yang didasari oleh hati yang baik.
Seorang ahli (Daniel Goleman) mengatakan bahwa keberhasilan seseorang dimasyarakat sebagian besar ditentukan oleh kecerdasan emosi (80%) dan hanya 20 % ditentukan oleh faktor kecerdasan kognitif.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada 13 faktor penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, dan hampir 80%nya tergantung pada kualitas karakter seseorang.

Kamis, 28 Juli 2011

Gemar Mengaji, Menuju Karakter Qur’ani

Beberapa hari yang lalu, Menteri Agama Republik Indonesia, Surya Darma Ali, bertempat di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh mencanangkan Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (Gemmar Mengaji), sebagaimana diberitakan pada Lintas Gayo, minggu (24/07/11). Sebelumnya hal yang sama juga beliau ungkapkan ketika di membuka sebuah acara di Banten, Serambi (10/05/11).
Himbauan ini sejatinya menjadi perhatian semua pihak, mengingat salah satu persoalan mendasar yang melanda bangsa saat ini adalah dekadensi moral yang ditandai maraknya berbagai aksi kejahatan, merebaknya pornografi serta menjalarnya aliran-aliran sesat yang menjebak mereka yang benteng akidahnya rapuh dan mudah tergoda oleh tawaran-tawaran materi. Sementara mengaji merupakan bagian terpenting dari pembentukan kepribadian muslim.

Selasa, 19 Juli 2011

Mendefinisikan Kembali Konsep Pendidikan Karakter Bangsa

Kenapa pendidikan yang kini tumbuh berkembang pesat, justru berefek samping melahirkan banyaknya koruptor dan teroris, walaupun tidak seluruh anak bangsa menjadi koruptor dan teroris, tetapi mereka para pelaku korupsi justru orang-orang yang umumnya sudah menyandang berbagai titel strata pendidikan. Apa yang salah dalam pendidikan kita?
Dalam hal kasus-kasus yang menyangkut kriminalitas, kejahatan, pembunuhan, teroris, mereka adalah orang-orang yang telah menikmati pendidikan cukup. Timbul pertanyaan, lalu apa yang masih kurang bagi mereka dan bangsa yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa, kekayaan yang berlimpah ini? Perlu direnungkan masalah-masalah pokok tersebut diatas yang pada dasarnya bermuara pada kurangnya pendidikan karakter bangsa.

BELAJAR ADALAH FITRAH MANUSIA

Fitrah

Pemahaman umum tentang makna Fitrah adalah kesucian, bahkan seringkali diterjemahkan dalam konsep tabularasa (John Lock) bahwa manusia terlahir bagaikan selembar kertas putih bersih yang siap digores dengan berbagai macam tulisan dan warna. Pemahaman tersebut merupakan pemahaman yang dangkal terhadap ungkapan Idul Fitri (kembali ke fitrah) dan hadits Nabi yang menyatakan bahwa setiap bayi terlahir dalam fitrah.

Jika merujuk ke Al-Qur’an, dari akar kata fa’, tha’, dan ra’ ( ف، ط، ر ) terbentuk 8 buah kata bentukan yang disebut dalam 16 ayat. Keseluruhan ayat tersebut mengandung arti penciptaan yang dikaitkan dengan penciptaan langit dan bumi, kecuali 1 ayat yang menggunakan kata bentukan fitrah ( فِطْرَة ) yang dikaitkan dengan penciptaan manusia, yakni pada surat Ar-Rum ayat 30:

ALTERNATIF PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Muhibbin Syah
(Pengajar di UIN Bandung)
             Berkat kekuatan karakter, pada zaman PD ke-1 dulu bangsa Rusia mampu bertahan dan akhirnya menang melawan kekuatan Napoleon Bonaparte yang waktu itu sangat perkasa. Selanjutnya, bangsa ini terus berkembang dan mencapai sukses besar dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi. Selain itu, bangsa Jepang yang pada PD ke-2 diluluh-lantakkan oleh tentara sekutu di bawah komando Amerika Serikat dapat bangkit dan berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lainnya. Bahkan, sejak tahun 1960-an bangsa ini telah membuat bangsa-bangsa lain termasuk bangsa-bangsa Eropa, Amerika dan Australia terheran-heran menyaksikan kemakmuran ekonomi, sains, dan teknologinya.

Siapakah Guru Pendidikan Karakter?



“Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda mau, Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa Anda” – Soekarno

Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak



“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum
Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian


“Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya”
Pada awalnya manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian ada 4 macam. Ada banyak teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna,  tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.

Peran Guru dalam Pendidikan Karakter

Oleh: Sutangsa Upi
 A. Pengertian
        Pendidikan karakter, budaya, dan moral sudah lama didengungkan oleh para pendidik kita dan telah lama juga dirintis oleh Ki Hajar Dewantara dengan tri pusat pendidikannya yang menyebutkan bahwa wilayah pendidikan guna membangun konstruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh dimulai dari; (i) lingkungan keluarga; (ii) lingkungan sekolah; dan (iii) lingkungan sosial. Pemerintah sudah mulai gerah dengan fenomena masyarakat kita yang setiap hari disuguhi hal-hal yang bikin miris orang yang mendengar, membaca, dan melihat di tayangan TV maupun di surat-surat kabar. Ada apa sebenarnya dengan akhlak bangsa ini ? sehingga membuat kelimpungan dunia pendidikan kita, sebenarnya sudah lama terjadi namun baru disadari sekarang, pemerintah kita terutama Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melihat fenomena ini sehingga menyuarakan adanya pendidikan karakter.

Sabtu, 16 Juli 2011

Urgensi Pendidikan Karakter


Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.


Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

PENDIDIKAN KARAKTER

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Rabu, 29 Juni 2011

Konsep Pendidikan Karakter

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).