STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Filsafat Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

FILSAFAT PARIPATETIK

Istilah paripatetik atau masya’iyah dalam bahasa arab merupakan suatu aliran atau filsafat yan
g bertumpu pada Aristoteles, paripetetik murni rasionalitas, sehingga banyak sekali tokoh-tokohnya. Dalam Islam akan banyak dijumpai tokoh peripatetik misal al-Farabi, dan ibn Sina, pemikiran kedua tokoh ini mempunyai rasiomalitas yang sangat tinggim hal ini bisa dilihat dari pemikiran ketuhanan mereka, walq uapun sebenarnya konsep ke-Tuhan-an mereka dimulai oleh al-Kindi, namun kemudian dikembangkan oleh al-Farabi dan ibn Sina. Konsep ke-Tuhan-an kedua tokoh ini pada punyaknya bahwa Tuhan yang Maha Esa tidak terbilang, sama sekali tidak menyamai makhluqnya, kekal, tidak fana[14]
Dia adalah Esa yang sebenarnya, karena Dia Esa dengan sendirinya dan Esa karena bilangan yang tidak bisa menerima berapa dan bagaimana, da bersa-sama entitas-entitas yang lain, tidak masuk dalam klasifikasi genus atau spesies. Dia adlah pengerak pertama yang tidak bergerak, sebab yang pertama yang tidak bersebab dan bereksistensi yang sebenarnya yang ada, tidak akn tidak ada untuk selamanya bahkan Dia akan selalu ada.[15]
Tuhan adalah pencipta yang maha kuasa dan pencipta yang maha bijak. Al-Kindi menetapkan bahwa (al-Bary) yaitu Tuhan punya sifat Dzat dan af’al dan negasi seperti yang disebutkan dalam asar dan apa yang dipegang oleh Mu’tazilah, tetapi ia mengembalikan itu semua kepada Dzat untuk mengemakan ide monoteisme, karena sifat-sifat itu bukan sesuatu yang bisa dibedakan dan dipisahkan dari Dzat.
Dalam konsep ini bisa dilihat pengaruh aristotelian, namun begitu konsep ini tidak keluar dari ruh akidah Islam yang berlandaskan pada tauhid dan mengokohkan kekuatan mutlak dan penciptaan pada Allah.

Mazhab Hikmah Muta’aliyah dan Asfar arba’ah

Hikmah Muta’aliyah[1] dan Sumber Asfar Arba’ah

Istilah ini, al-hikmah al-muta‘aliyah, telah digunakan jauh sebelum Mulla Shadra, oleh para sufi seperti al-Qaysari, bahkan terma ini telah muncul dalam karya-karya para filosof peripatetik. (lihat Seyyed Hossein Nasr, Sadr al-Din Syirazi and His Transcendent Theosophy (Tehran: 1978), h. 85). Ibn Sina menggunakan istilah ini dalam karyanya, Isyarat, ketika ia berbicara tentang jiwa dari makhluk-makhluk angkasa. Dia berkata bahwa hanya mereka yang memiliki kebijakan transendental (al-hikmah al-muta‘aliyyah) yang bisa memahaminya. Dalam komentarnya tentang hal ini dalam Isyarat, Thusi berkata: "Kebijakan peripatetik sepenuhnya diskursif, sedangkan permasalahan ini dan yang semacam ini hanya bisa dipecahkan sepenuhnya melalui diskusi dan penalaran yang disertai dengan penyingkapan (kasyf) dan intuisi (zawq); dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya adalah kebijaksanaan yang transendental, berlawanan dengan kebijaksanaan peripatetik.” Al-Isyarat wa al-Tanbihat ma‘ al-Syarh Thusi, (Tehran: A.H. 1403), Vol. 3, h. 401.

DEFENISI DAN KONSEP FILSAFAT DALAM ISLAM

Dalam al-Qur`an dan Hadits, kata al-hikmah sering kali ditemukan. Ulama Muslim yang tersebar mencoba mendefinisikan terma al-hikmah ini, dan juga istilah falsafah, yang telah masuk ke dalam bahasa Arab melalui terjemahan Yunani pada Abad ke-8 atau 9. Di satu sisi, apa yang disebut filsafat dalam bahasa Inggris, ternyata ditemukan pula dalam konteks peradaban Islam. Bahkan tidak hanya pada aliran-aliran filsafat, tetapi juga beberapa disiplin lain seperti kalâm, ma’rifah dan ushûl fiqh. Dan di sisi lain, dengan berbedanya latar belakang para ulama itu, maka berbeda juga pandangan dan pemahamannya tentang definisi dari hikmah dan falsafah. Tentunya hal ini menyisakan satu pertanyaan penting; sejauh manakah perhatian Islam terhadap filsafat?

Dalam sejarah Islam, istilah-istilah yang ada dalam kajian filsafat Islam acapkali diperdebatkan oleh para filosof, ulama kalam dan terkadang oleh kaum Sufi. Dari masa ke masa mereka membincangkan definisi terma-terma itu tanpa berhasil mencapai titik temunya. Pada perjalananya ini, istilah hikmah dan falsafah masih terus digunakan.

Sedangkan terma-terma derivatif seperti hikmah ilâhiyyah dan hikmah muta’âliyyah berkembang di aspek lain dan memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru, terutama dalam alirannya Mulla Sadra. Menariknya, hikmah, dalah satu terma yang masih diperdebatkan ini sering direbutkan oleh para sufi, mutakallimîn dan filosof.

Senin, 22 April 2013

Perkembangan Filsafat Islam

A. Latar Belakang
Awalnya filsafat disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) sebab filsafat seakan-akan mampu menjawab pertanyaan tentang segala sesuatu atau segala hal, baik yang berhubungan dengan alam semesta, maupun manusia dengan segala problematika dan kehidupannya. Namun seiring dengan perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan berbagai disiplin ilmu baru dengan masing-masing spesialisasinya, filsafat seakan-akan telah berubah fungsi dan perannya.
Dewasa ini, peran dan fungsi filsafat mengalami perkembangan dalam posisi approach (pendekatan). Filsafat, dengan cara kerjanya yang bersifat sistematis, universal, dan radikal, yang mengupas sesuatu secara mendalam ternyata sangat relevan dengan problematika hidup dan kehidupan manusia serta mampu menjadi perekat kembali antara berbagai macam disiplin ilmu yang terpisah kaitannya satu sama lain. Dengan demikian, dengan menggunakan analisa filsafat, berbagai macam ilmu yang berkembang sekarang ini, akan menemukan kembali relevansinya dengan hidup dan kehidupan masyarakat dan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup manusia.
Filsafat pendidikan telah mengalami perubahan dan kemajuan yang cukup besar. Dulu filosof sebagai penguasa tunggal berwenang dalam merumuskan suatu filsafat tentang pendidikan yang sistematis sebagaimana idealisme, realisme, dan pragmatisme untuk menyimpulkan prinsip-prinsip umum filosofis tentang tujuan pendidikan. Namun sekarang hal itu tidak dapat dilakukan secara sepihak, sebab telah terdapat keragaman keahlian yang dimiliki masyarakat, ini berarti harus ada koherensi antara filosof dan perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat.

Selasa, 05 Maret 2013

Filsafat Islam : QADHIYYAH DAN MACAM-MACAMNYA

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Ilmu mantiq adalah ilmu yang berkaitan dengan pembicaraan yang masuk akal yang sesuai dengan keadaan dan kenyataan beserta argumentasi dan juga sesuai dengan dalil. Ilmu ini merupakan suatu metode dalam penelitian ilmiah sehingga dalam pembahasan Ilmu Mantiq tidak bisa dilepaskan dengan pembahasan sesuatu yang condong pada kebenaran dzatnya yang berlaku diantara manathiqah. Perkataan itu dipandang dari segi perkataan itu sendiri yang dapat condong kearah benar dan tidak benar, hal ini dalam ilmu mantiq disebut dengan “qadhiyah” atau “khobar”.
Sesuatu itu akan mengandung kemungkinan dua kemungkinan yakni benar dan salah, hal tersebut dibuktikan dengan suatu eksperimen untuk memastikan kebenarannya. Sebagaimana yang telah kita ketahui, tashdiqi adalah penilaian dan penghukuman atas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah; manusia itu bukan kera dan lain sebagainya). Atas dasar itu, tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu’ dan mahmul (“gunung” sebagai maudhu’ dan “indah” sebagai mahmul). Gabungan dari dua sesuatu itu disebut qadhiyyah (proposisi).

Selasa, 09 Oktober 2012

PEMIKIRAN FILUSUF MUSLIM ABAD PERTENGAHAN

I. PENDAHULUAN
Seorang filosof yang lahir dan di besarkan dalam keluarga muslim akan dinamakan seorang muslim, akan tetapi pandangan dan kepercayaannya mungkin saja Bid’ah, inilah yang disebut dengan “Filusuf Muslim”. Filusuf Islam adalah orang yang mengambil inspirasinya dari al-Qur’an dan Sunnah, serta pandangan-pandangan filsafatnya sesuai sepenuhnya dengan pandangan-pandangan yang diuraikan didalam al-Qur’an dan Sunnah tersebut.
Filusuf Muslim lahir berkat masuknya pemikiran Yunani ke dalam permikiran Arab, hanya melalui penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa kaum muslim dirangsang dan dipaksa untuk berfikir. Oleh karena itu banyak ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui karya-karya itu. Adapun karya-karya itu bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam.
Para filusuf muslim membedakan antara ilmu yang berguna dan ilmu yang tak berguna dan kedalam ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu-ilmu duniawi.
Adapun tujuan para filusuf muslim adalah untuk memberikan kepada dunia suatu teori lengkap mengenai kesatuan kosmos yang tidak hanya memuaskan akal pikiran, akan tetapi juga perasaan keagamaan.[1]
II. PEMBAHASAN
Adapun para filusuf muslim itu adalah : pada pemaparan makalah ini kami akan membahas beberapa para filusuf muslim abad pertengahan.
a. Al-Ghazali
Nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di Thus tahun 450 H / 1058 M.[2]
Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna.

Minggu, 18 Maret 2012

NALAR DAN WAHYU

Filsafat dan agama berbicara tentang hal yang sama, yaitu manusia dan dunianya. Apabila yang satu membawa kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan dunianya itu, dan yang lainnya dari akal manusia yang selalu diliputi kekurang-jelasan dan ketidakpastian, mengapa lalu orang masih sibuk dengan agama? Itulah pertanyaan yang tidak jarang dikemukakan oleh orang bertakwa terhadap usaha para filosof. Itu memang ada benarnya. Pengetahuan mudah membuat orang menjadi sombong. Filsafat juga dapat membuat orang menjadi sombong, seakan-akan si filosof mengetahui segala-galanya, seakan-akan ia pasti lebih maju daripada orang yang saleh.
Akan tetapi, di lain fihak, orang yang bicara atas nama agama juga dapat berdosa karena sombong. Meskipun yang mau dibicarakan adalah wahyu Allah, namun ia dapat lupa bahwa ia sendiri tetap manusia, tetap terbatas dan tidak pasti dalam pengertiannya, juga dalam pengertiannya terhdap wahyu itu. Jadi, dengan cara mengadakan perhitungan, kita tidak akan maju jauh. Akan tetapi, pertanyaan di atas tetap perlu kita jawab. Apakah fungsi filsafat dalam berhadapan dengan agama yang menimba pengertiannya dari wahyu Allah?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu membicarakan hubungan antara wahyu dan akal budi.
A.Tiga pandangan ekstrem
Untuk membahas hubungan antara wahyu Ilahi dan akal budi manusia, sebaiknya kita bertolak dari tiga pandangan ekstrem tentang hubungan itu. Masing-masing pandangan hanya menekankan satu segi dan melalaikan segi-segi lainnya. Tiga pandangan itu adalah Rasionalisme, Fideisme dan Relativisme. Sikap rasional tidak menuntut agar segala sikap harus dibuktikan secara lengkap atau ilmiah. Sikap rasional justru menerima keterbatasan seseorang dalam memastikan kebenaran suatu masalah. Dalam hampir semua pengandaian hidup, kita tergantung kepada pengertian dan kepastian orang lain dan masyarakat.

Kedudukan Filsafat dalam Struktur Ilmu Agama Islam

A.Nisbab antara filsafat dan ilmu agama
Dalam jadwal kuliah madrasah besar pengajaran filsafat tidak masuk teras matakuliah pokok, tetapi digolongkan dalam 'ulum al-ajam (ilmu-ilmu asing). Artinya tidak langsung bertempat antara ulum al-din (ilmu-ilmu agama) yang berdasarkan tradisi dan disebut 'ulum al-naqliyyah. Dilihat dari segi lain, filsafat, bersama dengan ilmu mantik dan filologi (lughat, nahwat, sarf dan adab), dipergunakan sebagai ilmu alat ('aliyyah).
Kedudukan filsafat sebagai asing atau sebagai alat saja jelas berkaitan dengan takrif teologi. L. GARDET mendefinisikan teologi muslim sebagai apologi defensif. Teologi hanya perlu diperhatikan sewaktu-waktu, yaitu bila dalil-dalil agama diragukan oleh orang di dalam atau diserang dari luar . Karena itu AL-GHAZALI memperbandingkan teologi dengan obat untuk orang sakit, bukan dengan gizi untuk orang sehat. Pada ketika ajaran agama menjadi "quieta possessio" (milik aman tak terancam) teologi dapat dibebastugaskan, seperti ditulis oleh b. TAYMIAH. Definisi GARDET tersebut disetujui pada masa sekarang oleh FADLOU SHEHADI, ISMAIL FAROUQI dan a. HANAFI (Pengantar theology Islam, Yogyakarta 1967, 126-127).
Jadi terdapat perbedaan besar dengan faham katolik yang mengharapkan dari "intellectus quaerens fidem " (akal menyelidiki isi iman) suatu sumbangan substansiil untuk integrasi akal dan iman dan pembinaan sintese teologis spekulatif. Karena syarat untuk hidup filsafat dalam Islam itu, maka para filsuf harus merebut kedudukannya oleh membenarkan diri sebagai pendukung, pembela dan juru penerangan agama. Berkali-kali mereka mencoba hal itu, tetapi harapan tidak dipenuhi dan hasil pikiran mereka ditampik sebagai tidak memenuhi syarat.

B.Penolakan filsafat
Kontak pertama dengan dinamik filsafat Yunani mengobar-ngobarkan semangat besar untuk berfilsafat dan untuk memperluas cakrawala budi di luar batas-batas dari pelajaran hukum (fiqh). Para peminat filsafat yang pertama belum menyusun sistem, hanya memetik beberapa buah fikiran dari khazanah Yunani. Nafsu mereka untuk mengecap buah terlarang itu mengakibatkan kecurigaan pada fihak fuqaha. Dalam dua pernyataan, yang digabungkan dengan ahli fiqh ABU HANIF A (w. 767), yaitu FIQH AKBAR I dan AL-WASIYAT, dirumuskan 37 fasal yang tidak boleh diganggu-gugat oleh kaum filsuf . Gerakan MUTAZILA masuk lebih dalam istana filsafat. Maka dalam FIQH AKBAR II, di mana pengaruh AL-ASH' ARI menampak ( ± 935), dikeluarkan pernyataan resmi (29 fasal) yang membatasi penelitian bebas oleh kaum filsuf.

FILSAFAT MORAL ARISTOTELES

Aristoteles (384-322 SM) adalah murid terkemuka Plato (427-348 SM), seorang tokoh pemikir idealis. Meski demikian, ia tidak sependapat dengan gurunya yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea Yang Baik dan bahwa hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea Yang Baik tersebut. Menurut Aristoteles, kehidupan yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Dari realitas inderawi kongkret inilah akal budi manusia mengabstraksikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba empiris yang digunakan Aristoteles ini, kita akan mencoba membahas konsep-konsepnya tentang moral.

Teleologis
Pembahasan etika biasanya dibedakan antara etika deontologis dan teleologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah. Misalnya, bahwa dusta adalah tidak benar secara etis, entah baik atau buruk akibatnya.
Sebaliknya, teleologis menyatakan bahwa tindakan bersifat netral; baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik. Etika Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengkaitkan tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.
Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak Universalistik, tetapi bisa dikata egoistik, karena lebih menekankan dampak bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya. Idomonia Sebagai Ukuran Baik Buruk (pain) dan tidak adanya kesenangan. Sementara itu, menurut Agustinus, kebahagiaan adalah menyatunya rasa cinta kasih manusia dalam Tuhan. Dalam pandangan Agustinus, tujuan hidup manusia adalah persatuan diri dengan Tuhan. Sedang dalam pandangan Stoa, kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menahan dorongan nafsu (self sufficiency) dengan cara menyatukan diri dan tunduk pada hukum alam. Jelasnya, kebahagian Stoa terletak pada kemampuan seseorang untuk meminjam istilah Jawa “menerima ing pandum”. Menerima apa yang menjadi bagiannya.

FILSAFAT ISLAM

Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Masedonia, tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti lskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di lran.
Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir , Suria serta Irak, dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Daerah-daerah ini, dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut, jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Tetapi penduduknya, sesuai dengan ajaran al-Qur'an, bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam han'ya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi, tidak dipaksa para sahabat untuk masuk Islam. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi.
Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin memajuhkan Islam. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Untuk itu mereka pelajari falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

ETIKA (FILSAFAT BIDANG MORAL) SEBAGAI CABANG FILSAFAT

Berawal dari filsafat yunani, yang dimulai dengan filsafat alam. Dilanjutkan dengan filsafat manusia. Pembahasan tentang manusia berkembang dari konteks keberadaannya, dan mulai mempertanyakan bagaimana manusia harus hdup agar hidupnya baik (Filsafat Moral). Sebagai filsafat, etika bertanya tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang yang baik dan yang buruk untuk dilakukan.
Pengertian Etika
Secara etimologis ‘ethos’(yunani) = adapt kebiasaan; cara bertindak.
Sebagai ilmu : Refleksi kritis, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia
Sifat fisiologisnya : Melampaui data daktual. Bertanya tentang yang harus dan tidak boleh, yang baik dan yang buruk.
Pembagian Etika
Etika deskriptif
Etika normative
  • Etika umum : prinsip mral dasar
  • Etika khusus : etika terapan
Fungsi Etika
Memberi orientasi kritis dan rasional dalammenghadapi pluralisme moral, yang diakibatkan oleh :
  • Adanya aneka pandangan moral
  • Adanya gelombang modernisasi
  • Munculnya bebagai ideologi

Rabu, 07 Maret 2012

Filsafat Islam

A. Pengertian Filsafat Islam
Menurut bahasa, Kata-kata filsafat diucapkan ‘falsafah’ dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti ‘cinta kepada pengetahuan’, dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “Philosophos” atau “Failasuf” dalam ucapan Arabnya. Mencintai pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan kepada pengetahuan.[1]
Dalam buku Filsafat Umum karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha ; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam. Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak Dari berbagai sumber yang penulis baca semua filosof sepakat bahwa filsafat atau philosophia terdiri dari dua kata seperti yang telah penulis uraikan di atas. Dengan demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau kebijaksanaan.
Perkataan “filsafat” memang berasal dari perkataan Yunani, yang digunakan oleh orang Arab dalam masa ke-emasan Islam, yang biasa dinamakan juga “zaman-terjemah”, yaitu antara tahun 878 – 950 M. Seperti yang dikatakan oleh al-Farabi seorang filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina, bahwa perkataan “filsafat” itu berasal dari bahasa Yunani, ia masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab. Perkataan asal ialah Philosophia, yang terdiri dari dua perkataan yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophia yang berarti hikma atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai seorang Philosophos (filosof) dalam pengertian seorang pencinta kebijaksanaan. Oleh karena itu kata falsafah merupakan hasil Arabisasi, suatu masdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh para filosof.

FISAFAT IBN SINA

Tentang Wujud
Dari Tuhanlah kemajuan yang mesti, mengalir intelegensi pertama sendirian karena hanya dari yang tunggal. Yang mutlak, sesuatu yang dapat mewujud. Tetapi sifat ontelegensi pertama tidak selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin dan kemungkinannnya itu diwujudkan oleh Tuhan. Berkat kedua sifat itu, yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, intelgensi pertama memunculkan dua kewujudan yaitu :
a. Intelegensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari adanya aktualitas.
b. Lingkungan pertama dan tertingi berdasarkan segi terendah adanya, kemungkinan alamiyah.
Dua proses pamancaran inii berjalan terus sampai kita mencapai intelegensi kesepuluh yang mengatur dunia ini, yang oleh kebanyakan filosuf muslim disebut sebagai malaikat Jibril.

Al Talfiq (rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat
Sebagaimana Al Farabi, Ibn Sina juga mengusahakan pemanduan antara agama dan filsafat. Menurutnya nabi dan filsof menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni malaikat Jibril yang disebut juga sebagai akal kesepuluh atau akal aktif. Perbedaannya hanya terletak pada cara memperolehnya. Bagi nabi, tejadinya hubungan dengan malaikat Jibril melalui akal materiil, yang disebut hads (kekuatan suci, qudsiyyat), sedangkan filosof melalui akal mustafad.

Emanasi
Emanasi Ibn Sina menghasilkan sepuluh akal dan sembilan planet, sembilan akal mengurusi sembilan planet dan akal kesepuluh mengurusi bumi. Berbeda dengan pendahulunya Al Farabi, masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak bisa langsung menggerakan planet yang bersifat materi. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal ke sepuluh adalah malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi beserta isinya.

OBJEK FILSAFAT ISLAM

Telah disebutkan bahwa objek filsafat adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia. Ada beberapa persoalan yang biasa dikedepankan dalam mencari objek filsafat meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu, yaitu:

Dari apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan hidrogen menjadi air?

Apakah jaman itu yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara?

Apakah bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup?

Apakah ciri-ciri khas makhluk hidup itu?

Apa jiwa itu? Jika jiwa itu ada, apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah?

Dan masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Persoalan-persoalan tersebut membentuk ilmu fisika dan dari sini kita meningkat kepada ilmu yang lebih umum ialah ilmu metafisika, yang membahas tentang wujud pada umumnya, tentang sebab wujud, tentang sifat zat yang mengadakan. Dari sini kita bisa menjawab pertanyaan: Apakah alam semesta ini wujud dengan sendirinya ataukah ia mempunyai sebab yang tidak nampak?

Epistemologi dalam Filsafat Islam

Nampaknya, epistemologi bukan hal yang dikhawatirkan oleh para filosof muslim. Epistemologi bukan sebagai kajian utama dan inti dalam filsafat Islam. Persoalan-persoalan mendasar yang hadir dalam epistemologi secara implisit telah diulas dan dikaji di sela-sela pembahasan filsafat Islam. Karena itu, disepanjang evolusi pemikiran filsafat Islam tidak akan dijumpai satu karya yang secara terpisah membahas persoalan epistemologi. Akan tetapi, karena persoalan epistemologi sedemikian membengkaknya, para filosof Islam kontemporer menganggap urgen untuk mengkajinya secara mandiri dan terperinci serta memisahkan dari pembahasan filsafat.

Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishak Al-Kindi (Wafat 252 H)
Al-Kindi ialah filosof pertama dalam dunia Islam. Ia melihat bahwa penalaran akal dan pengamatan indriawi merupakan sumber pengetahun. Akal bertujuan untuk mempersepsi hal-hal universal dan realitas non-fisik, sementara panca indra yang berhubungan dengan perkara-perkara partikular dan benda-benda fisik. Ia beranggapan bahwa akal dan panca indra itu sebagai persepsi-persepsi yang nyata dan tidak bisa diragukan lagi. Sesungguhnya, menurut Al-Kindi, akal memiliki kemampuan untuk mengungkap, menyingkap, dan menggapai hakikat eksternal.

Abu Nashr Al-Farabi (257-329 H)
Al-Farabi berkesimpulan bahwa sumber pengetahuan adalah penalaran akal dan pengamatan indriawi. Namun, panca indra merupakan tahapan awal bagi lahirnya penalaran-penalaran rasional. Ia membagi ilmu itu menjadi yang gamblang dan teoritis. Dan orang tidak mengetahui bagaimana proses hadirnya ilmu-ilmu gamblang, maka tidak akan berakibat terhadap keyakinannya pada ilmu gamblang itu. Ia juga menerima konsep-konsep universal dan mendefinisikannya sebagai suatu konsep yang bisa meliputi dan mencakup individu-individu eksternal yang banyak.

Jumat, 02 Maret 2012

Filsafat Islam

BAB I
PENDAHULUAN
           
                Dalam kependidikan islam kita dianjurkan untuk mempelajari tentang filsafat. Dengan filsafat tersebut terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu filsafat dan sejarah awal dari filsafat.
            Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dbahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
            Perkembangan pemikiran filsafat sepanjang sejarah memperlihatkan sesuatu kesinambungan tertentu. Karena itu mustahil mempelajari filsafat dewasa ini tanpa mengetahui perkembangan filsafat sebelumnya. Sebab, maklumlah filsafat abad kita meneruskan problematika filosofis yang diwarisi dari zaman terdahulu. Memang tidak mudah untuk menemukan jalan dalam mengemukakan suatu filsafat secara singkat dan tepat untuk mencapai tujuan yang pertama, yakni menguraikan filsafat di abad 20 dengan mempelajari aliran-aliran para filosof dalam salah satu aliran tertentu.
            Suatu penguraian filsafat islam dalam bentuk lain yakni mempelajari pemikiran filosofis menurut berbagai tema yang dibicarakan di dalamnya. Seperti mengkaji pemikiran sofis itu dengan memakai pedoman pembagian atas cabang-cabang filsafat ; metafisika, logika, metodologi, epistemology, antropologi, estetika, dan etika. Melalui sistem ini kita akan menyodorkan deskripsi yang bercorak sistematis.

Minggu, 18 Desember 2011

FILSAFAT ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui bersama filsafat islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman yang meliputi segala sesuatu yang ada di alam fana dan baka, yang berkaitan dengan fisika, matematika, dan metafisika jembatannya. Al-Qur’an lah yang dijadikan landasan para filosuf Islam untuk menjawabnya. Sehingga dengan adanya jawaban ini, manusia (terutama muslim) akan memeperoleh kebahagiaan yang sempurna baik kebahagiaan didunia maupun kebahagiaan di akhirat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Fisafat Islam itu?
2. Apa hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat yang lain?
3. Apa saja aliran-aliran yang ada dalam Filsafat Islam?
4. Siapa saja tokoh filosof yang ada di dunia Timur dan Barat?

Minggu, 27 November 2011

Etika menurut Para Filosof Muslim

A.     Pengertian Etika dan Etika Islam
Etika adalah suatu cabang filsafat yang membicarakan tentang perilaku manusia. Atau dengan kata lain, cabang filsafat yang mempelajari tentang baik dan buruk.
Untuk menyebut etika, biasanya ditemukan banyak istilah lain : moral, norma dan etiket. Seperti halnya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah, istilah “etika” pun bersal dari Yunani kuno. Kata Yunani ethos merupakan bentuk tunggal yang bisa memiliki banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap dan cara berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta etha yang berarti: adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika” dalam filsafat. Dalam sejarahnya, Aristoteles (384-322 SM) sudah menggunakan istilah ini yang dirujuk kepada filsafat moral.
Istilah lainya yang memiliki konotasi makna dengan etika adalah moral. Kata moral dalam bahasa Indonesia  berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim; mos, moris, manner mores, atau manners, morals. Kata moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hatinurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika.

Rabu, 16 November 2011

TOKOH-TOKOH FILSUF ISLAM

AL-FARABI (870-950 M)
Dalam penciptaan alam menurut Al-farabi, Tuhan tidak mencipta alam, akan tetapi ia sebagai penggerak pertama dari segala yang ada. Singkatnya, Tuhan mencipta sesuatu dari yang sudah ada dengan cara pancaran atau Emanasi. Maka, dunia ini bersifat azali tanpa permulaan dan bukan ciptaan. Ini terjadi karena proses emanasi.
Dalam filsafat emanasi, al-Farabi mengatakan kalau Tuhan Pencipta alam semesta berhubungan langsung dengan ciptaannya, yang tak dapat dihitung banyaknya itu di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak, zat yang di dalam diriNya terdapat arti banyak, tidaklah sebenarnya esa. Yang Maha Esa, agar menjadi esa, hanya berhubungan dengan yang esa.
Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang esa.

Senin, 07 November 2011

PANDANGAN IMAM GHOZALI TENTANG ALAM

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam filsafat Islam, Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya ragu terhadap segala-galanya, terutama mengenai beberapa aliran dalam ilmu kalam yang saling bertentangan.sikap Al Ghozali terhadap filosof dapat dipahami melalaui bukunya Tahafut al Falasifah dan Al Munqidz min al Dlalal, al Ghozali menentang filosof-filosof Islam, bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga hal yaitu:
1. Pengingkaran kebangkitan jasmani
2. Membataskan ilmu Tuhan pada hal yang besar saja
3. Alam kekal dan tidak bermula (qidam)
Untuk hal yang ketiga, Ghozali tidak setuju karena dinilai bertentangan dengan nash Al Quran, yaitu alam diciptakan atau tidak qadim, karena alam ini diciptakan oleh sang kreator yaitu Tuhan. Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan dibahas tentang pendapat Al Ghozali tentang alam, yang dalam hal ini Ghozali lebih banyak mengomentari pendapat para filosof tentang alam.