STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Kutub. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Kutub. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Bahtsul Kutub: 77 Cabang Iman

Image
Ibarat sebuah pohon, iman itu memiliki cabang-cabang. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan 'La ilaha illallah' (tauhid), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." [HR. Bukhari, Muslim]
Diantara yang bisa kita pahami dari hadits tersebut adalah, bahwasanya cabang-cabang iman itu amat banyak. Angka-angka dalam hadits tersebut bisa kita pahami - tentu saja - secara literal, namun bisa juga kita pahami dengan makna "banyak". Wallahu a'lam. Hal lain yang bisa kita pahami dari hadits diatas adalah, bahwa cabang-cabang iman itu bertingkat-tingkat. Ada yang tinggi dan ada yang rendah.
Imam Al-Baihaqi, salah seorang terkemuka, mendaftar 77 cabang iman. Anda tinggal mencocokkan apakah semuanya ada dalam diri Anda. Ataukah masih banyak yang belum melekat pada diri Anda. Mari kita lihat apa sajakah ketujuh puluh tujuh cabang tersebut.
  1. Iman kepada Allah Azza wa Jalla
  2. Iman kepada para rasul Allah seluruhnya
  3. Iman kepada para malaikat
  4. Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
  5. Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
  6. Iman kepada Hari Akhir
  7. Iman kepada Hari Berbangkit sesudah mati
  8. Iman kepada Hari Dikumpulkannya Manusia sesudah mereka dibangkitkan dari kubur
  9. Iman bahwa tempat kembalinya mukmin adalah Surga, dan bahwa tempat kembali orang kafir adalah Neraka
  10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah

Kamis, 28 Maret 2013

Bahtsul Kutub: Ta'lim Mutta'alim

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذى توحد بجلال ملكوته، وتفرد بجمال جبروته.  له الصفات المختصة بحقه. والآيات الدالة على أنه غير مشبه بخلقه. فسبحانه من إله أذهل العقول عن الوصول إلى كُنه ذاته الأبدية. وأدهش الخواطر عن الإحاطة بجليل صفاته السرمدية. وهو المعرف بالربوبية. والموصوف بالألوهية. من ذاق حلاوة أنسه رأى من لطفه العجائب. وظفر منه بنيل المَآَرِبِ . ومن أمّل سواه أبعده وأشقاه (أحمده) حمد عبد غرق في بحار نعمته (وأشكره) شكر عبد أخلص في طاعته فهام في محبته.
(وأشهد) أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له. المتعالى عن المشاركة والمشاكلة، شهادة أتخلص بها من النزغات. وأعلو بها إلى أرقى الدرجات (وأشهد) أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الذى بعثه الله بالبيان. فأظهر دينه القويم على سائر الأديان. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد إمام الأنبياء، وتاج الأصفياء، المبعوث بالأيات الباهرة، والمعجزات الفاخرة، إنسان عين الوجود، والسبب في كل موجود، وجازه اللهم عنا أفضل ماجازيت به نبيا عن أمته، وانفعنا اللهم بما انطوت عليه ضمائرنا، من محبته صلى الله عليه وأله وأصحابه، وأولاده وأزواجه وأحبابه، صلاة وسلاما لايعتريهما إنصرام، دائمين متلازمين على ممر الدهور والأيام.
(أما بعد) فيقول راجي عفو رب العالمين، عبده الفقير (محمد أمين) الكردي المنسوب إلى الحضرة النقشبندية، أيدها الله تعالى وأقام دولتها الجليلة العلية : مما لايخفى على عاقل، ولا يعزب عن لبيب كامل، أن أجل العباد قدرا وأعظمهم فضلا، وأرفعهم ذكرا أنفع عباد الله لعباده، وأدعاهم إلى طريق رشاده، وأجل هؤلاء نفعا، وأحسنهم صنعا، دعاة الخلق ومرشدوهم إلى الله، وهداتهم إلى سبيله والعمل بما فيه رضاه،كيف لا وذلك دأب أشرف الأنام والسادة المرسلين الكرام، فقد بعثهم الله بذلك وبه أمرهم، وعليه حرضهم وحثهم، وعليه تبعهم من تبعهم واقتدى بهم من ورثهم من العلماء العاملين، والأولياء والصالحين. ومن المعلوم أن المحققين من هذه الطائفة قد انقرض أكثرهم ولم يبق في زماننا منهم إلا أثرهم كما قيل:

Selasa, 29 Januari 2013

TA'LIM MUTA'ALIM

 Karya: Syekh Az-Zarnuji

Mukaddimah





بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذى فضل على بنى آدم بالعلم والعمل على جميع العالم، والصلاة والسلام على محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.
    Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
وبعد...فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،
    Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendo'akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu do'a saya dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.

Kamis, 29 November 2012

KONSEPSI AL-GHOZALI TENTANG ADAP MURID DAN GURU DALAM KITAB IHYA’ ULUMUDDIN JUZ I

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam pandangan islam,orang yang paling bertanggung jawab dalam perkembangan anak adalah orang tua,anak adalah bagian aset orang tua yang terpenting yang harus dirawat dan dijaga selama-lamanya.agama islam juga memandang pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan dan mengubah diri manusia.untuk itu, kewajiban terpenting bagi orang tua terhadap anaknya adalah pendidikan,hal ini melibatkan beragam usaha dalam pengertian bahwa seluruh sikap dan tingkah laku orang tua harus diarahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak secara tepat dan benar.jadi, anak adalah merupakan wujud dari sikap dan prilaku orang tua,namun bila orang tua tidak ada waktu dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,maka wajiblah orang tua memasrahkan kapada orang lain untuk mendidik anaknya,dalam hal ini adalah guru.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3(tiga) komponen yang tidak dapat dipisahkan diantara pendidikan bagi anak,yaitu Murid, Guru, dan orang tua. Dikatakan bahwa guru adalah Abu al-ruh atau abu fi ad-din bagi murid. Sedangkan orang tua adalah Abu al jasad bagi murid itu sendiri. Artinya bila seorang murid hendak mendapatkan ilmu manfaat derajat kemuliaan diakhirat, maka hendaknya berbakti sepenuhnya kepada guru,dan bila hendak mendapatkan kelapangan rizki maka hendaknya berbaktilah sepenuhnya kepada orang tua.[1]
Guru adalah wakil dari orang tua,yang telah memasrahkan kepadanya dan juga merupakan faktor terpenting atas berhasil dan tidaknya murid dalam menekuni pendidikannya,karenanya guru juga ikut bertanggung jawab dalam mengoptimalkan upaya perkembangan seluruh potensi murid,baik potensi kognitif,psikomotorik, maupun afektif. Sesuai dengan nilai-nilai islam. Sehingga selain sebagai pengajar, guru juga sebagai pendidik yang bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi murid dapat teraktualisasikan secara baik dan dinamis.[2]

Sabtu, 12 Mei 2012

Kitab Mahaasin at-Ta’wiil Karya al-Qasimi

A. Pendahuluan
Di dunia Islam, kitab yang paling banyak memproduksi makna adalah kitab Al-Qur’an. Dari kitab induk Al-Qur’an ini telah lahir beribu kitab tafsir yang memenuhi khazanah intelektual Dunia Islam. Peristiwa ini merupakan hal yang sangat wajar. Mengingat, bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang bisu. Adalah tugas kita sebagai muslim untuk menyuarakannya. Hal ini jauh-jauh hari telah diisyaratkan oleh Imam Ali bin Abi Talib. Beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an di antara dua sampulnya tak bisa bersuara. Sang juru bicara itulah yang menyuarakannya.[1]
Dari sinilah tradisi penafsiran terhadap Al-Qur’an mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bukan hanya di dunia Islam dan dilakukan oleh muslim saja, bahkan di kalangan orientalis pun muncul beberapa ilmuwan yang mencoba mengelaborasi kandungan makna Al-Qur’an.[2]
Pada praktik selanjutnya, penafsiran terhadap Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari heterogenitas. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor internal (al-’awaamil ad-daakhiliyyah) saja, seperti kondisi objektif teks Al-Qur’an itu sendiri yang memungkinkan untuk dibaca secara beragam, tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal (al-’awaamil al-khaarijiyyah), seperti kondisi subjektif mufasir sendiri, dan yang terpenting, adalah faktor politik dan ideologis yang melingkupi kemunculan sebuah tafsir.[3] Bahkan, Michael Foucault menegaskan bahwa sebuah perkembangan ilmu pengetahuan, mazhab, atau pemikiran, apapun namanya (termasuk tafsir di dalamnya), tidak bisa dilepaskan dari relasi kekuasaan.[4]
Salah satu corak tafsir yang mewarnai pergulatan sejarah penafsiran Al-Qur’an adalah tafsir dengan tendensi ilmiah. J.J.G. Jansen menyebut kategori ini dengan nama tafsiir ‘ilmii.[5] Asumsi dasar tafsir ilmiah ini adalah keyakinan di kalangan cendekiawan muslim bahwa Al-Qur’an telah mengantisipasi ilmu-ilmu pengetahuan modern. Tafsir dengan corak yang satu ini mencoba memindahkan semua bidang pengetahuan kemanusiaan yang memungkinkan ke dalam penafsiran Al-Qur’an.[6] Adapun sarjana pertama yang menggambarkan perhatian pada keberadaan tafsir ilmiah adalah Amin al-Khuli.[7]

Rabu, 02 November 2011

KAMUS KECIL ISTILAH-ISTILAH ILMU HADITS

SbukhariAdil (dalam periwayatan):
Orang yang selalu melaksanakan segala perintah agama, dan menjauhi segala larangan dalam agama. Dan salah satu syarat hadis shahih ialah rowinya adil.
Ala Syartil Bukhari:
Hadis yang dianggap sah karena memenuhi syarat-syarat Imam Bukhari, maksudnya rowi-rowi pada hadis itu rowi-rowi yang dipakai oleh Imam Bukhari.
Ala Syartis Syaikhain:
Hadis yang dianggap sah karena memenuhi syarat-syarat dua syekh, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim. Maksudnya rowi-rowi pada hadis itu rowi-rowi yang dipakai oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Ahwali:
Hadis yang menceritakan hal ihwal Rasulullah, misalkan keadaan fisik, sifat, dan karakter Rasulullah Saw.
Atsar:
Sebagian ulama mengatakan bahwa atsar adalah hadis yang disandarkan kepada Sahabat Rasulullah Saw.
Aushatut Tabi’in:
Tabi’in pertengahan, yaitu Tabi’in yang tidak terlalu banyak menerima hadits dari Sahabat. Seperti: Kuraib dan Muhamad bin Ibrahim At-Taimi.
Aziz:
Hadis yang diriwayatkan melalui dua jalan sanad
Ahad:
Hadis yang jalan sanadnya kurang dari derajat Mutawatir, hadis ahad ada yang shahih, hasan, dan dhaif. Yang termasuk ke dalam hadis ahad ialah hadis masyhur, hadis aziz, dan hadis ghorib.
Bayan:
Menjelasakan, artinya hadis berfungsi untuk menjelaskan kandungan isi Al-Qur’an.
Bayan At-Taqrir:
Hadis berfungsi sebagai bayan at-taqrir, artinya hadis berfungsi untuk menetapkan dan memperkuat apa yang diterangkan didalam Al-Qur’an.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Tafsir Asy-Sya'rawi

Tafsir Sya'rawi merupakan salah satu dari beberapa tafsir yang lahir di era modern ini yang memuat semua ayat Al-Qur'an. Penamaan tafsir ini (Tafsir asy-Sya'rawi) adalah satu wujud kehati-hatian sekaligus tawadhu’ penulisnya.  Seperti dikatakan di dalam muqaddimahnya; “Bagaimanapun ini adalah penafsiran seorang anak manusia yang tidak luput dari kesalahan”.
Kitab tafsir ini pernah dimuat dalam majalah al-Liwa dari 1986 – 1989, volume 251-332, kemudian diterbitkan di Kairo oleh Idarat al-Kutub wa al-Maktabat pada tahun 1411 H/1991 M (Ali-Iyasi: 268).
Kitab ini merupakan tafsir modern yang cukup diperhitungkan. Hal ini terbukti setelah beliau merampungkan tulisannya, ia mendapat sambutan besar dari para ulama Mesir saat itu. Selain itu, ia pun menerima hadiah dari negara Kuwait hingga ribuan dollar,[1] yang dihibahkan untuk membantu para mahasiswa Thailand.

Selasa, 09 Agustus 2011

Kitab at-Tauhid

Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.


Tak ada penjelasan pasti dari para sejarawan tentang tahun kelahiran al-Maturidi. Tetapi menurut Dr. Ayyub Ali, al-Maturidi lahir sekitar tahun 238 H / 852 M. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa salah satu murid al-Maturidi, yaitu Muhammad bin Muqatil ar-Razi wafat pada tahun pada tahun 248 H / 862 M. [Ayyub Ali, A History of Muslim Philosophy, vol. I, h. 260].

Bada’i az-Zuhur fi Waqa’i ad-Duhur

Adalah Ibn Iyas sejarawan asal Mesir dan merupakan salah satu murid Jalaluddin as-Suyuthi. Nama lengkapnya ialah Abu al-Barakat Muhammad bin Ahmad bin Iyas, lahir di Kairo pada tahun 852 H / 1448 M dan meninggal pada tahun 930 H / 1524 M. Ia semasa dengan Ibn Taghri Baridi, penulis kitab an-Nujum az-Zahirah yang sangat terkenal itu.

Di antara karyanya adalah kitab Bada’i az-Zuhur fi Waqa’i ad-Duhur, yaitu sebuah kitab yang berisi tentang pelbagai kejadian dan kisah para nabi terdahulu. Dalam pengantarnya, Ibn Iyas mengatakan: “…maka saya menulis tentang kejadian dan kisah hidup para nabi ini, dan memilih kisah-kisah yang paling mengesankan…..”. Pilihan untuk memilih kejadian dan kisah perjalan para nabi terdahulu tersebut bukan tanpa alasan. Lantas, apa alasan yang melatarbelakanginya? Jawabnya adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal. [H. 2].

Di samping itu juga tidak mungkin semua kejadian dan kisah-kisah para nabi dipelajari semuanya. Sebagaimana dikatakan: “Tak ada seorang pun yang mampu menguasi seluruh ilmu, meski ia mempelajarinya selama seribu tahun. Sebab, ilmu itu laksana lautan yang bergelombang, karenanya ambil segala sesuatu yang bisa membuat kebaikan”. [H. 2].

as-Sirah an-Nabawiyyah

Tulisan awal mengenai perjalanan hidup (sirah) Rasulullah SAW yang sampai kepada tangan kita adalah kitab yang ditulis Ibn Ishaq yang bertitel as-Sirah an-Nabawiyyah. Melalui kitabnya, Ibn Ishaq dengan sangat baik telah mendokumentasikan riwayat hidup Rasulullah SAW kisah bergabungnya orang-orang lemah dan tokoh-tokoh besar clan Quraisy ke dalam barisan Islam, serta pelbagai pertikaian yang dialami oleh sang Rasul, sampai urusan rumah tangganya.

Ibn Ishaq lahir pada tahun 80 H di Madinah, dan tumbuh dewasa dalam lingkungan intelektual yang sangat baik. Ayahnya bahkan merupakan salah satu perawi hadits yang tidak perlu diragukan validitasnya (tsiqah). Ibn Ishaq dikenal sebagai seorang sejarawan ulung. Di samping itu ia juga dikenal sebagai perawi hadits tepercaya. Dalam konteks ini, Syu’bah pernah berkata: “Ibn Ishaq adalah maestro (Amir al-Mu’minin) dalam bidang hadits. Sedang al-Madini memberikan jaminan kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkan Ibn Ishaq. Hal ini diketahui dari perkataannya: “Hadits yang diriwayatkan Ibn Ishaq dijamin otentitasnya (sahih)”.

Ushul as-Sarkhasi

Dalam kajian ushul al-fiqh nama Abu Bakr Muhammad bin Abi Sahl as-Sarkhasi adalah nama yang tidak asing lagi. Ia termasuk salah satu ulama cerdas yang berdiri di garda terdepan madzhab Hanafi. Kedigdayaan intelektual dan kezuhudan yang luar biasa telah menempatkan dirinya sebagai al-Imam al-Ajall az-Zahid Syam al-A`immah (Sang Imam Agung yang Zuhud dan Matahari Para Imam).

Tahun kelahiran as-Sarkhasi tidak diketahui secara pasti, bahkan tahun wafatnya pun diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan ia meninggal dunia di penghujung tahun 490 H. Riwayat lain mengatakan ia wafat pada tahun 483 H, bahkan ada yang mengatakan ia berpulang ke rahmatullah di penghujung tahun 500 H. Di antara warisan intelektual as-Sarkhasi yang dapat kita nikmati ialah kitab Syarh as-Siyar al-Kabir, al-Mabsuth, dan Ushul as-Sarkhasi. 

Tokoh yang satu ini merupakan pakar fiqh sekaligus ushul fiqh Madzhab Hanafi. Melalui kitabnya yang dikenal dengan nama Ushul as-Sarkhasi ia menuangkan pikiran-pikirannya mengenai ushul al-fiqh untuk membela keputusan-keputusan hukum dari kalangan madzhab-nya. Dengan demikian, corak ushl fiqh-nya mengikuti thariqah al-hanafiyyah bukan thariqah al-mutakallimin.

Qisshah Al Iman Bain Al Falsafah Wa Al 'Ilm Wa Al Qur’an

Sampai sekarang masih banyak orang Islam dan para ulama konservatif yang menolak keberadaan filsafat, terutama filsafat cabang metafisika sebagai jalan untuk mengenal Allah. Mereka menganggap bahwa filsafat dapat menyesatkan dan tidak diperlukan bahkan ada pula yang mengharamkan mempelajari filsafat metafisika karena ia dapat menjerumuskan seseorang menuju kekafiran.

Asumsi di atas menjadi semakin menemukan justifikasinya manakala mereka mendengar banyak atau ada beberapa mahasiswa IAIN atau UIN jurusan akidah filsafat yang tidak lagi mau mengerjakan shalat lima waktu karena  menganggap shalat tidak diperlukan lagi dan Tuhan tidak perlu disembah. Bahkan ada pula yang mulai ragu apakah tuhan benar-benar ada ataukah ia hanya hasil rekayasa atau ciptaan manusia.
Kitab yang ditulis oleh Syaikh Nadim al Jisr, mantan Mufti Tarabuls, Lebanon Selatan ini agaknya ditujukan untuk menghilangkan asumsi bahwa filsafat metafisika bertentangan dengan agama dan bisa menyebabkan kekufuran. Ia ingin menunjukan bahwa filsafat sebenarnya dapat menuntun seseorang untuk mengenal Allah dengan keyakinan yang mantap asalkan filsafat itu dikaji dengan mendalam dengan ungkapan yang jelas ia mengatakan bahwa filsafat itu lautan yang tidak sama dengan lautan yang lain. Seseorang akan menemukan  bahaya dan tersesat apabila ia dipinggirnya. Keamanan dan pencapaian iman justru terdapat ditengah kedalaman filsafat itu.

Inshaf Al Khashm Fi Al Quran

"Adil kepada musuh berarti Anda memberi kebebasan berbicara kepadanya dan mengakui keistemewan yang dimilikinya"
Kajian tentang Al Quran serta kandungan ajarannya tampaknya tidak akan pernah selesai dan akan berlanjut sepanjang zaman. Keajaibannya akan senantiasa muncul kepermukaan bagaikan mata air yang tidak pernah kering dan akan selalu menjadi inspirasi kehidupan ummat Islam. Al Quran akan selalu hadir dalam kehidupan yang sarat dengan berbagai persoalan hidup yang dialami oleh umat Islam. Di sinilah letak salah satu keunikan Al Quran itu dan dari sini kita dapat memahami mengapa orang yang mempercayainya tidak akan pernah meragukan validitas ajarannya dan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak dan final meski dipihak lain orang yang meragukan dan tidak mempercayainya selalu berupaya untuk meruntuhkan kebenaran Al Quran baik dengan cara halus atau kasar, dibungkus dengan metode ilmiah yang mengandung distorsi atau bahkan hanya dengan hujatan, tanpa mengandung ilmiah yang layak dalam kajian akademis.
Sebagai tuntunan hidup, Al Quran akan mewarnai kehidupan umat Islam baik dalam hubungan mereka dengan Allah atau sesama manusia, antara sesama muslim bahkan dengan orang kafir yang tidak seiman dengan mereka, dengan kawan atau musuh sekalipun. Salah satu ajaran Al Quran itu adalah bersikap adil kepada musuh yang ditulis oleh Dr. Abdul Halim Hifni, seorang ulama kontemporer dari Mesir. Karya ini mengungkapkan kepada kita bahwa Al Quran adalah kitab yang paling adil bahkan terhadap musuhnya sekalipun.

Kitab ‘Inayah al-Muftaqir

Satu lagi sebagai bukti kedigdayaan intelektual Syaikh Mahfuzh adalah kitab ‘Inayah al-Muftaqir yang ditulis tahun 1327 H. Kitab ini merupakan sebuah kitab yang mencoba mengkupas tentang sosok Khadir mulai dari nama, nasab, umur, dan lainnya. Dengan piawinya Syaikh Mahfuzh menghadirkan kepada para pembaca pelbagai riwayat mengenai sosok Khadir.

Dari riwayat-riwayat yang dihadirkan Syaikh Mahfuzh tampak bahwa sosok Khadir ternyata adalah sosok yang diperselisihkan. Namun Syaikh Mahfuzh tidak hanya berhenti pada menghadirkan kepada kita perbedaan-perbedaan riwayat mengenai sosok Khadir. Tetapi ia juga berupaya untuk meneliti lebih lanjut kesahihan riwayat yang ada mengenai Khadir.
Rujukan primer Syaikh Mahfuzh adalah kitab al-Ishabah fi Tamziz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Perbincangan mengenai sosok Khadir dimulai dengan nasab-nya. Setidaknya ada sepuluh riwayat yang dihadirkan di hadapan pembaca. Di antaranya adalah riwayat yang mengatakan bahwa Khadir adalah anak Nabi Adam as. Ini adalah riwayat ad-Daraqutni melalui Rawwad ibn al-Jarah dari Muaqatil bin Sulaiman dari adh-Dhahak dari Ibn Abbas ra.

Al-Minhah al-Khairiyyah

Pada tulisan pertama kita telah mencoba untuk merasakan bukti kedigdayaan intelektual syeikh Mahfuzd yang tertuang dalam anotasinya atas karya as-Suyuthi dalam bidang ilmu Hadits. Selanjutnya, kita akan melangkah dan membuktikan kedigdayaannya intelektual syeikh Mahfuzh dalam bidang hadits melalui kitab al-Minhah al-Khairiyyah dan syarh-nya yaitu kitab al-Khil’ah al-Khairiyyah

Kitab al-Minhah al-Khairiyyah merupakan kitab kumpulan hadits. Setidaknya ada 40 hadits yang dihimpun dalam kitab tersebut. Menurut pengakuan Syeikh Mahfuzh, ketika mendengar 22 hadits tsalatsiyat-nya al-Bukhari, yaitu hadits yang antara perawinya dan Nabi saw hanya tiga, yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ at-tabi’in, dari sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, ia pun kemudian menghimpun 18 hadits lainnya untuk menggenapkan menjadi 40 hadits. Dan semua hadits tersebut selesai dihimpun pada hari Ahad pagi tanggal 16 Ramadhan tahun 1313 H. [al-Minhah al-Khairiyyah, H. 18 dan 75]

Manhaj dzawi an-Nazhar syarh Manzhumah al-Atsar

Tradisi memberika anotasi (syarh) dalam dunia pemikiran Islam sudah mengakar kuat. Tradisi ini telah banyak melahirkan para intetektual tangguh dalam dunia Islam. Bahkan, bukan cuma karya-karya intelektual Muslim saja yang diberi anotasi tetapi juga non-Muslim Sebut saja misalnya, Ibn Rusyd yang banyak memberikan anotasi terhadap karya-karya Aristhoteles sehingga ia disemati gelar syarih al-akbar li aristha (komentator teragung Aristhoteles).

Tradisi tersebut telah menjadi jembatan penghubung pemikiran antara intelektual dulu dengan intelektual yang datang kemudian. Setidaknya, melalui anotasi, pikiran-pikiran para intelektual muslim terdahulu berusaha dihadirkan oleh sang anatator yang berusaha membaca pikiran-pikiran tersebut. Dengan demikian, posisi anatator adalah sebagai penjelasan bagi pikiran-pikiran yang ingin dikatakan atau bahkan yang takterkatan oleh sang pengarang.

Rasa`il al-Maqrizi

Mesir memang gudang intektual Muslim. Dari sekian banyak intelektual di antaranya adalah Ahmad bin Ali bin Abd al-Qadir Abu Abbas al-Husaini al-Abidi Taqiyyuddin al-Maqrizi. Ia lahir pada tahun 766 H / 1364 M dan wafat pada tahun 845 H / 1442 di Kairo. Al-Maqrizi dikenal sebagai seorang sejarawan Mesir. Ia adalah orang yang sangat baik ingatannya dalam soal sejarah, tetapi ia juga sebagai manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Di antaranya adalah minimnya pengetahuan al-Maqrizi terhadap tokoh-tokoh terdahulu. Ia juga tidak terlalu menguasai sejarah tokoh-tokoh Islam, ilmu jarh dan ta’dil.

Akibatnya, pandangan-pandangan al-Maqrizi acapkali diabaikan para ulama, bahkan tidak sedikit yang mengkritiknya. Karya-karya al-Maqrizi tehitung banyak, dan hal ini jelas menunjukkan produktifitasnya. Di antaranya adalah kitab Daur al-‘Uqud al-Faridah fi Tarajum al-A’yan al-Mufidah, Imtina’ al-Asma’ bima li ar-Rasul min al-Abna` wa Akhwal wa al-Hafdah wa al-Mata’, ‘Aqd Jawahir al-Isfath fi Muluk Mishr wa al-Fusthath, al-Auzan wa al-Akyal asy-Syar’iyyah, dan lain sebagainya.

Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam

Dalam disiplin ilmu ushul al-fiqh nama Saifuddin al-Amidi sudah tak asing lagi. Sebab, ia adalah salah satu rujukan penting dalam kajian ilmu ushul al-fiqh di samping al-Juwaini, Abu al-Husain al-Mu’tazili, dan al-Ghazali. Keempat ulama tersebut kemudian didaku sebagai para pakar ushul al-fiqh yang mengikuti thariqah asy-syafi’iyyah atau al-mutakallimin. Maksudnya ialah pandangan mereka mengenai ushul al-fiqh adalah pandangan yang yang tidak didorong oleh fanatisme madzhab, tetapi semata-mata murni untuk mengembangkan ushul al-fiqh yang telah dirintis Imam Syafi’i sebagai bapaknya (al-mu`assis al-awwal) ilmu ushul al-fiqh.

Nama lengkap Saifuddin al-Amidi ialah Ali bin Muhammad bin Salim bin Muhammad al-‘Allamah Saifuddin al-Amidi at-Taghlabi asy-Syafi’i. Saifuddin al-Amidi lahir di Amid tahun 551 H. Awalnya ia adalah pengikut Madzhab Hanbali, tetapi dalam perjalananya ia kemudian berpindah ke Madzhab Syafi’i. Saifuddin al-Amidi pernah bertemu dengan Suhrawadi al-Maqtul ketika mengujungi Halb. Di samping sebagai pakar ushul al-fiqh, ia juga dikenal sebagai pakar ilmu kalam pada zamannya, ahli logika, dan banyak mengusai pelbagai cabang ilmu rasional.

al-Maqashid asy-Syar’iyyah wa Atsaruha fi al-Fiqh al-Islamiy

Mayoritas ulama telah mencapai kata sepakat bahwa Allah tidak menetapkan hukum kecuali untuk kemaslahatan publik, yaitu menarik kemanfaatan, mencegah kerusakan, dan membersihkan dunia dari kejahatan atau dosa. Pengetahuan mengenai pelbagai tujuan ketetapan hukum Allah (maqashid asy-syari’ah) akan dapat membantu memahami teks-teks keagamaan (an-nushush asy-syar’iyyah) dan mengaplikasikannya dalam realitas. Di samping itu juga sangat berguna untuk men-istidâl-kan ketetapan suatu hukum yang tidak ditemukan nash-nya secara langsung.

Jadi, setiap orang yang ingin meng-isthimbath-kan suatu hukum dari dalil-dalil juz`iyyah-nya, sebelum melangkah, harus mememiliki pengetahuan komprehensif tentang maqâshid asy-syarî’ah yang menjadi tujuan utama syari’ dalam menetapkan hukum. Dalam konteks ini, urgensitas pengetahuan tentang maqashid asy-syari’ah tak dapat disangkal lagi.

Al-Muharrar

Di kalangan madzhab Syafi’i nama ar-Rafi’i sudah tidak asing lagi. Sebab, ia adalah salah satu tokohnya. Nama lengkapnya adalah Syeikh al-Islam Imâm ad-Dan Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim bin Muhammad bin al-Fadhl bin al-Husain bin al-Hasan ar-Rafi’i al-Qazwini asy-Syafi’i. Ia lahir 555 H dan wafat  dipenghujung tahun 623 H.

Penguasaan ar-Rafi’i atas ilmu fiqh, tafsir, dan hadits telah menghantarkan dirinya menjadi pakar (imâm) ketiga bidang tersebut. Di mata Muhyi ad-Din an-Nawawi, ar-Rafi’i adalah orang saleh dan memiliki karamah nyata. Ia juga termasuk intelektual Muslim yang produktif.
Di antaranya ialah kitab Fath al-‘Azîz fi Syarh al-Wajîz, sebuah syarh yang sangat bagus dan nyaris di kalangan madzhab Syafi’i tak ada buku yang menyamainya. Di samping itu ar-Râfi’i juga menulis kitab Syarh Musnad asy-Syâfi’i, at-Tadwîn fi Dzikr Akhbâr Qazwînî, al-Îjâz fi Akhthâr al-Hijâz, dan kitab al-Muharrar.