STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label MKPAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MKPAI. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

METODE-METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL QUR'AN DAN HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang di beri kewajiban oleh Allah Swt berupa mencari dan mengumpulkan ilmu untuk bekal kehidupan di dunia dan akhirat. Dalam hal mencari ilmu Allah tidak hanya mengharuskan Manusia untuk mencari ilmu akhirat saja. Tetati allah juga memerintahkan hambanya untuk mencari bekal kehidupan dunia yang semuanya akan di peroleh dengan ilmu pula.
Oleh karena itu nabi saw menyebutkan dalam salah satu haditsnya yaitu :
اعمل لدنياك كانك تعيش ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غذا.
                                                        ( رواه ابن عساكر)

"Berbuatlah kamu untuk duniamu seakan-akan Kau akan hidup selamanya dan berbuatlah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok." (HR. Ibnu Asakir )[1]
Dari hadits diatas dapat di simpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua kehidupan yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Kamis, 29 November 2012

Telaah MPAI Al Qur'an Hadits

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam konteks madrasah, agar lulusannya memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, maka kurikulum Madrasah perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini dilakukan agar madrasah secara kelembagaan dapat merespon secara proaktif  berbagai  perkembagan informasi,  ilmu pengetahuan,  teknologi dan seni,  serta tuntutan desentralisasi. Dengan cara seperti itu, Madrasah tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya.
Selanjutnya basis kompetensi yang dikembangkan di Madrasah harus menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt,  pengusaan ketrampilan hidup, pengusaan kemampuan akademik, seni, dan pengembangan kepribadian yang paripurna. Dengan petimbangan ini, maka disusun kurikulum nasional Pendidikan Agama di Madrasah yang berbabasis kompetensi dasar yang mencerminkn kebutuhan keberagaman peserta didik Madrasah secara nasional.
Oleh karena itu, peranan dan efektifitas pendidikan agama di Madrasah sebagai landasan bagi  pengembangan  spiritual  terhadap kesejahteraan masyarakat mutlak harus ditingkatkan, karena asumsinya adalah jika pendidikan agama (Yang meliputi Al-Qur’an dan Hadist, Aqidah dan Aklaq, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam) yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.
Pendidikan Al-Qur’an dan Hadist di Madrasah Ibtidaiyah sebagai landasan yang integral dari pendidikan Agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik, tetapi secara substansial mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadist memiliki kontribusi dalam memberikan motifasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan  kegamaan (tauhid) dan Ahlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

Minggu, 14 Oktober 2012

KEMANDIRIAN BELAJAR PAI

A.    Pengertian Kemandirian Belajar PAI
Pada dasarnya pengertian mandiri itu dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pengertian secara etimologi (bahasa) dan pengertian secara terminologi (istilah).
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia kata "mandiri" mempunyai arti keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain.
Sedangkan pengertian mandiri secara istilah diartikan oleh beberapa ahli antara lain : J.L.G.M. Drost S.J, menyatakan bahwa kemandirian adalah keadaan kesempurnaan dan keutuhan kedua unsur (budi dan badan) dalam kesatuan pribadi. Dengan kata lain, manusia mandiri adalah pribadi dewasa yang sempurna.[1]
Enung Fatimah mendefinisikan mandiri (berdiri diatas kaki sendiri dengan kemampuan seseorang untuk tidak bergantung dengan orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.[2]
Menurut Zakiyah Daradjat, mandiri adalah : Kecenderungan anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya tanpa minta tolong kepada orang lain. Juga mengukur kemampuannya untuk mengarahkan kelakukannya tanpa tunduk kepada orang lain. Biasanya anak yang berdiri sendiri lebih mampu memikul tanggung jawab, dan pada umumnya mempunyai emosi yang stabil.[3]
Belajar secara umum diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungannya.[4]
Menurut Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid :
التعليم: هو تغيير فى ذهن المتعلم يطرأ على خبره سابقة فيحدث فيها تغييرا جديدا
"Belajar adalah proses perubahan dalam pemikiran siswa yang dihasilkan atas pengalaman terdahulu kemudian terjadi perubahan baru”.[5]

Kamis, 04 Oktober 2012

AKTIVITAS BELAJAR PAI DAN KETAATAN BERIBADAH

I. PENDAHULUAN
Belajar adalah suatu usaha untuk mencari ilmu pengetahuan dengan cara mempelajari lewat buku-buku, menerima pelajaran di sekolah baik formal maupun non formal. Jadi dalam belajar ada suatu usaha untuk memperoleh kepandaian dan pemahaman, sehingga ada perubahan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang hal itu disebabkan oleh adanya pengalaman.
Aktivitas belajar merupakan sesuatu yang harus terjadi pada manusia, baik pada masa sekarang maupun masa lampau. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar sangat penting bagi manusia. Dan manusia tidak akan mempunyai pengetahuan dan keahlian jika mereka tidak pernah melakukan aktivitas belajar.
Dalam agama Islam, aktivitas belajar merupakan suatu yang wajib bagi insan, baik laki-laki maupun perempuan. Mengingat betapa pentingnya aktivitas belajar ini, sehingga wahyu yang pertama diturunkan oleh Allah Swt, kepada rasulnya adalah berkenaan dengan masalah aktivitas belajar, nabi pun baru melakukan aktivitas belajar dengan bimbingan malaikat Jibril yang berupa surat al-‘Alaq ayat 1-5 yang berbunyi :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. Al-‘Alaq : 1-5).[1]
Dalam pandangan Islam, pendidikan bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah anak didik melalui ajaran Islam menuju ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini berarti pendidikan Islam bertujuan menyiapkan anak didik agar menjadi generasi yang memiliki kepribadian dengan pola iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Senin, 01 Oktober 2012

INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

Hidup bersama antara manusia berlangsung di dalam berbagai bentuk perhubungan, dan di dalam berbagai jenis situasi. Tanpa adanya proses interaksi di dalam hidup manusia, tidak mungkin mereka dapat hidup bersama.
1.     Pengertian Interaksi Belajar Mengajar
Interaksi terdiri dari kata inter (antar), dan aksi (kegiatan).[1] Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik.
Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan.[2] Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama.[3]
Sardiman AM. mengatakan bahwa dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator. Hubungan komunikan dan komunikator biasanya menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message). Untuk menyampaikan pesan diperlukan saluran atau media. Jadi, di dalam komunikasi terdapat empat unsur yaitu: komunikan, komunikator, pesan, dan saluran atau media.[4]
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka interaksi adalah suatu hal saling melakukan aksi dalam proses belajar mengajar yang di dalamnya terdapat suatu hubungan antara siswa dan guru untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut adalah suatu hal yang telah disadari dan disepakati sebagai milik bersama dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan pengajaran. Belajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh individu (siswa), sedangkan mengajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin belajar. Kedua kegiatan tersebut menjadi terpadu dalam satu kegiatan manakala terjadi hubungan timbal balik (interaksi) antara guru dengan siswa pada saat pengajaran berlangsung.[5]

Senin, 13 Agustus 2012

KOMPETENSI PEDAGOGIK

I. Pendahuluan

Mutu pendidikan yang baik dapat mendorong terciptanya masyarakat yang berkualitas, kreatif dan produktif. Salah satu ciri dari mutu pendidikan yang baik adalah terciptanya proses pembelajaran yang baik pula (mulai dari perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi). Sebagai dampaknya Guru yang merupakan peran sentral dalam proses pembelajaran sudah sewajarnya dituntut untuk lebih professional dalam menjalankan fungsinya. Selain hal tersebut, perubahan dan perkembangan masyarakat yang semakin maju juga menuntut profesi guru menyesuaikan diri dengan perubahan dan kebutuhan masyarakat.

Seiring dengan hal diatas komitmen pemerintah untuk menciptakan pendidikan yang lebih bermutu dan berkualitas ditandai dengan lahirnya UU No 20 Th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 14 Th 2005 tentang UU Guru dan Dosen, dan PP No 19 Th 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam UU dan PP tersebut dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan kompetensi sesuai dengan bidangnya.

A. Kompetensi Guru.

Pentingnya guru professional yang memenuhi standar kualifikasi diatur dalam pasal 8 Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen (UUGD) yang menyebutkan bahwa Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Senin, 25 Juni 2012

PENDIDIKAN AQIDAH DALAM KELUARGA

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa anak. Orang tua berperan untuk membentuk arah keyakinan anak-anak. Karena setiap bayi dilahirkan atas kefitrahan tauhid serta aqidah keimanan terhadap Allah s.w.t. dilahirkan bersih dan suci sehingga sudah memiliki potensi untuk beragama, namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan, pemeliharaan dan pengaruh kedua orang tua mereka.
Konsep dasar pendidikan keluarga islam dalam akhlak termasuk ketauhidannya masalah beribadah dan risalah maka konsep-konsep tauhid dalam keluarga karena sebagaimana risalah utama Nabi adalah “Tidaklah aku di utus melainkan untuk menyempurnakan akhlak”. Pendidikan awal seorang anak dimulai dari rumah, Peranan keluarga untuk mendidik anak-anak amat besar dan kesalahan dalam mendidik akan mendatangkan kesan yang tidak baik kepada kehidupan anak-anak. Apabila pendidikan dari rumahnya sudah baik, kemudiannya dibiarkan anak-anak itu bergaul dengan golongan yang baik-baik, orang mukmin yang terpelajar, kelak apabila ia dewasa, anak-anak ini akan menjadi insan yang berguna dan mempunyai keimanan yang kukuh, akhlak yang terpuji serta pendidikan yang baik, begitu pula sebaliknya.
Apabila kita membicarakan tentang pendidikan keagamaan, sudah pastilah kita akan membahas soal yang berkaitan dengan pendidikan keimanan anak. Sehingga dalam konteks ini, penyusun akan membahas tentang seberapa besar peranan keluarga dalam pendidikan aqidah sebagaimana firman Allah "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu" (QS. At Tahrim: 6).

Sabtu, 12 Mei 2012

Mengembangkan Materi Pembelajaran Al-Qur’an Selaras dengan Tuntutan Zaman

Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan pembelajaran bertumpu pada banyak hal. Di antaranya adalah peran dan profesionalisme pendidik, kelengkapan kurikulum, kesempurnaan materi pelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana, serta antusiasme peserta didik. Ketiadaan satu faktor saja dari beberapa faktor di atas dapat menyebabkan proses pembelajaran menjadi timpang dan tidak sempurna. Dengan demikian, terpenuhinya beberapa faktor di atas menjadi sebuh keniscayaan dalam kegiatan belajar-mengajar.
Salah satu instrumen penting yang ada dalam kegiatan belajar-mengajar adalah materi pelajaran atau bahan ajar. Boleh dikatakan, bahan ajar ini menempati urutan pertama dalam daftar instrumen pembelajaran. Tanpa guru, boleh jadi siswa dapat belajar dengan cara membaca bahan ajar. Akan tetapi, jika tidak tersedia bahan ajar yang cukup, walaupun guru sudah siap, sulit dipastikan kegiatan belajar-mengajar akan terlaksana dengan sukses. Dengan demikian, materi pelajaran atau bahan ajar perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Demikian juga dengan materi pembelajaran Al-Qur’an di madrasah.
Terkait dengan bahan ajar, penulis tergelitik dengan ungkapan sebagian orang yang menyatakan, “Sekolah di zaman sekarang itu banyak keluar uang. Sedikit-sedikit harus membeli buku pelajaran. Hal ini berbeda dengan sekolah di zaman dulu. Buku pelajaran bisa diwariskan kepada beberapa generasi, tetap ajek dan tidak mengalami perubahan.” Untuk alasan efisiensi, mungkin curhat ini ada benarnya. Akan tetapi, jika melihat perkembangan zaman dan derasnya arus informasi saat ini, pernyataan ini tidaklah tepat. Bagaimana tidak, zaman terus berubah dan dibutuhkan cukup banyak informasi untuk bisa menghadapinya. Benarlah salah satu pernyataan yang menyebutkan, “Ajarilah anak-anakmu dengan informasi yang cukup. Sebab, anak-anakmu akan hidup di masa yang berbeda dengan masamu.” Ungkapan ini menyiratkan satu pesan penting, bahwa generasi penerus kita harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup dan faktual untuk menghadapi masa depan mereka yang mungkin jauh berbeda dengan situasi dan kondisi saat ini.

Menyajikan Pelajaran Al-Qur’an Hadis yang Menyenangkan dan Mencerahkan

Ketika mendengar nama salah satu pelajaran yang ada di madrasah ataupun di pesantren, yakni pelajaran Al-Qur’n Hadis, mungkin akan terbayang di benak kita sebuah pelajaran yang membosankan dan menjemukan. Ya, pantas saja kesan tersebut segera menyeruak dalam benak kita. Sebab, selama ini pelajaran tersebut memang disampaikan dengan cara dan metode yang membosankan. Dari dulu sampai sekarang, cara yang ditempuh oleh ustaz yang mengampu mata pelajaran tersebut hanya itu-itu saja, nyaris tidak ada perubahan sama sekali. Membaca ayat atau hadis, mendengarkan ceramah ustaz yang menjemukan dan membuat ngantuk, atau menghafal rangkaian ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang entah untuk apa gunanya. Itulah rangkaian rutinitas pembelajaran Al-Qur’an Hadis yang selama ini terjadi. Melihat tradisi pembelajaran Al-Qur’an Hadis yang barusan disebut, pantas dan sangat wajar jika murid-murid merasa jenuh dan bosan.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menyajikan pelajaran Al-Qur’an Hadis supaya lebih menyenangkan dan mencerahkan?
Jika mencermati dunia pendidikan Barat, kita akan dibuat terpana dan berdecak kagum. Bagaimana tidak, di sana setiap waktu muncul silih berganti aneka inovasi pembelajaran. Usaha yang ditempuh oleh para praktisi dunia pendidikan Barat ini bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, memberdayakan siswa, sekaligus mencerahkan. Berikut ini saya sebutkan di antara inovasi para praktisi pendidikan Barat: quantum learning temuan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki; quantum teaching temuan Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri; accelerated learning temuan Dave Meier; multiple intelligences temuan Howard Gardner, serta contextual teaching and learning (CTL) temuan Elaine B. Johnson. Ini hanyalah beberapa contoh. Di luar itu masih banyak teori-teori pembelajaran yang mencerahkan dan memberdayakan.

Jumat, 11 Mei 2012

Cabang-cabang Iman: Menelaah Materi Pelajaran Al-Qur’an Hadis Kelas 1 Madrasah Tsanawiyah Tentang Iman dan Ibadah

A.    Pengantar dan Deskripsi Materi Hadis di Madrasah Tsanawiyah
Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah terdiri atas empat mata pelajaran,  yaitu Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam, ditambah mata pelajaran bahasa Arab. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait dan saling melengkapi.[1] Akan tetapi, tentu saja mata pelajaran Al-Qur’an Hadis menjadi core inti mata pelajaran lainnya. Sebab, Al-Qur’an dan hadis Nabi merupakan sumber utama ajaran Islam. Artinya, Al-Qur’an dan hadis Nabi menjadi sumber akidah, akhlak, syari’ah atau fikih (ibadah, muamalah), bahkan sejarah dan peradaban Islam. Dengan demikian, kajian Al-Qur’an dan hadis selalu berada di setiap unsur pokok ajaran Islam tersebut.[2]
Lantas apa yang dimaksud dengan mata pelajaran Al-Qur’an Hadis yang akan menjadi bidikan utama kajian dalam makalah ini? Mata pelajaran Al-Qur’an Hadis adalah sebuah mata pelajaran di madrasah yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial, mata pelajaran Al-Qur’an Hadis memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.[3]
Sementara itu, tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadis, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah, adalah sebagai berikut.[4]
  1. Meningkatkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an dan hadis.
  2. Membekali siswa dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan.
  3. Meningkatkan kekhusyukan siswa dalam beribadah, terutama shalat, dengan menerapkan hukum bacaan tajwid serta isi kandungan surat atau ayat dalam surat-surat pendek yang mereka baca.

Garis Besar Materi Pembelajaran Al-Qur’an Kelas VIII Semester 2 dan Kelas IX Madrasah Tsanawiyah

Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan pembelajaran bertumpu pada banyak hal, di antaranya adalah peran dan profesionalisme pendidik, kelengkapan kurikulum, kesempurnaan materi pelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana, serta antusiasme peserta didik. Ketiadaan satu faktor saja dari beberapa faktor di atas dapat menyebabkan proses pembelajaran menjadi timpang dan tidak sempurna. Dengan demikian, terpenuhinya beberapa faktor di atas menjadi sebuh keniscayaan dalam kegiatan belajar-mengajar.
Di antara beberapa faktor yang menunjang keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, materi pelajaran termasuk hal yang cukup penting. Sebab, materi pelajaran merupakan substansi yang akan diajarkan kepada peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar. Bahkan, Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa bahan pelajaran atau materi pelajaran merupakan unsur inti dalam kegiatan belajar-mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh para siswa.[1] Adapun definisi materi pelajaran adalah salah satu sumber belajar yang berisi pesan dalam bentuk konsep, prinsip, definisi, gugus isi atau konteks, data dan fakta, proses, nilai, serta kemampuan dan keterampilan. Materi pelajaran yang akan dikembangkan oleh guru mengacu pada kurikulum atau terdapat dalam silabus yang penyampaiannya disesuaikan dengan kebutuhan dan lingungan peserta didik.[2]
Dalam makalah sederhana ini, penulis akan mencoba memetakan ruang lingkup materi pelajaran Al-Qur’an Hadis tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), terutama Kelas VIII Semester 2 dan Kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah melakukan pemetaan atas materi pelajaran, penulis mencoba menganalisisnya dengan menggunakan perspektif pilar-pilar ajaran Islam. Dari pembahasan sederhana ini, diharapkan akan diketahui garis besar materi pelajaran Al-Qur’an Hadis tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) untuk kemudian bisa diperoleh celah-celah untuk mengevaluasi dan mengembangkan bahan ajar materi pelajaran Al-Qur’an Hadis tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Evaluasi Materi Pembelajaran Al-Qur’an di Madrasah Tsanawiyah Kelas VII

Jika kita perhatikan, perkembangan pendidikan dan pengajaran yang akhir-akhir ini telah digulirkan oleh pemerintah, baik yang berada dalam tanggung jawab Departemen Agama (Depag) maupun Departemen Pendidikan dan Pengajaran Nasional (Depdiknas), maka kedua lembaga tersebut berupaya memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Untuk itu, pemerintah yang diwakili oleh Depag dan Depdiknas telah memprogramkan pembenahan sekaligus perubahan kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari sistem pendidikan dan pengajaran, sekaligus dijadikan acuan oleh pihak pengelola ataupun penyelenggara (guru dan kepala sekolah). Oleh karena itu, pemerintah pusat berupaya untuk membuat kurikulum secara sentralistik, yang selanjutnya diberlakukan bagi seluruh anak bangsa Indonesia, sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksana) ataupun juknis (petunjuk teknis) yang menyertai kurikulum.[1]
Salah satu tugas sekolah terkait dengan kurikulum adalah menjabarkan substansi atau materi pelajaran yang tercantum dalam satuan pelajaran, sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Dengan demikian, para pengelola dan penyelenggara harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk menjabarkan kurikulum dan melaksanakannya dalam pembelajaran. Sebagai dampak negatif yang dapat dirasakan oleh pengelola dan penyelenggara, khususnya kelompok guru bila tidak atau kurang memahami kurikulum adalah: (1) dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan urutan bab dalam buku teks, (2) menggunakan buku teks sebagai satu-satunya acuan dalam mengajar, (3) sering mengalami kekurangan waktu dalam mengajar, karena buku teks biasanya dirancang tidak lebih dari terget minimal sebuah kurikulum, sehingga guru dibutuhkan penyesuaian dalam pembelajaran antara materi yang harus diajarkan secara keseluruhan dan materi yang harus dikurangi bahkan diabaikan, (4) hasil belajar peserta didik mengalami kefatalan, khususnya dalam menghadapi Ujian Nasional, (5) guru akan mengalami ketakutan dan kelabakan, kalau-kalau peserta didiknya tidak bisa mengerjakan soal dan tidak lulus.
Untuk itu, maka pemerintah menetapkan standar kompetensi lulusan dan standar isi untuk dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum, yang harus diaplikasikan dalam pembelajaran setiap bidang studi, termasuk di dalamnya pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis di tingkat Madrasah Tsanawiyah, dan sejak tahun 2006 telah diberlakukan kurikulum 2006 atau lebih populer dengan istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Rabu, 07 Maret 2012

PEMBAHASAN METODE PROYEK

A.    Pengertian Metode Proyek (Project Method)
Kata proyek berasal dari kata latin yaitu: proyektum yang berarti maksud tujuan, rancangan, rencana. Jadi memproyeksikan berarti: merancang, merencanakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Mempunyai perencanaan yang baik di dalam kegiatan-kegiatan tahunan dan sebagainya.
Dengan kata lain, metode proyek yaitu cara mengajar dengan jalan memberikan kegiatan belajar kepada siswa, dengan memberikan kepada siswa untuk memilih, merancang dan memimpin pikiran serta pekerjaannya. Anak-anak dilatih agar berencana di dalam tugas-tugasnya.[1]
Selain itu metode ini disebut juga dengan teknik pengajaran unit. Anak didik disuguhi bermacam-macam masalah dan anak didik bersama-sama menghadapi masalah tersebut dengan mengikuti langkah-langkah tertentu secara ilmiah, logis dan sistematis. Cara demikian adalah teknik yang modern, karena murid tidak dapat begitu saja menghadapi persoalan tanpa pemikiran-pemikiran ilmiah.
Tujuan metode ini adalah untuk melatih anak didik agar berpikir secara ilmiah, logis dan sistematis. Sekolah pada hakikatnya berkewajiban mempersiapkan anak didiknya agar tidak canggung hidup di tengah-tengah masyarakat yang banyak sekali masalah-masalah yang akan ditemuinya. Oleh karenanya guru berkewajiban melatih anak didik untuk memberikan kemampuan teknik menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat.

JALAN PENGAJARAN

BAB I
 JALAN PENGAJARAN

Jalan pengajaran adalah cara yang di tempuh atau dilalui dalam mengatur dan menyusun urutan-urutan dari beberapa bagian bahan pelajaran yang akan disampaikan menjadi satu kesatuan yang utuh dan terpadu.
Jalan pengajaran mana dan apa yang akan dilalui oleh seseorang guru dalam menyampaikan bahan pelajaran kelas, adalah sangat menentukan sekali terhadap metode apa yang akan dipakai. Oleh sebab itu seorang guru harus direncanakan secara matang dan menetapkan terlebih dahulu jalan pengajaran yang akan dilalui/ditempuh.
Adapun jalan pengajaran itu adalah sebagai berikut:
1.      Jalan Pengajaran Progresif
Jalan pengajaran progresif atau disebut juga jalan pengajaran suksesif, yaitu jalan pengajaran dimana bahan dari suatu vak mata pelajaran tertentu yang disampaikan secara maju berkelanjutan (continous progress) dengan tanpa mengadakan pengulangan secara sengaja, akan tetapi dapat terjadi secara sambil lalu atau secara okasional.

Jumat, 06 Januari 2012

Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran

a. Pembelajaran sebagai Sistem
Sistem adalah kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990; Puxty, 1990). Bagian suatu sistem yang melaksanakan suatu fungsi untuk menunjang usaha pencapaian tujuan disebut komponen. Dengan demikian sistem terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing komponen mempunyai fungsi khusus. (Sadiman, dkk. 1988: 13).

Pendekatan sistem pada mulanya digunakan di bidang teknik mesin (engineering) untuk merancang sistem-sistem elektronik, mekanik dan militer. Kemudian pendekatan sistem melibatkan sistem manusia mesin, dan selanjutnya dilaksanakan dalam bidang keorganisasian dan manajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an mulai diterapkan dalam bidang pendidikan dan pelatihan. (Hamalik, 2002: 4)

Pendekatan sistem yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam psikologi belajar sistematik, yang dilandasi dengan prinsip-prinsip psikologi behavioristik dan humanistik. Aspek-aspek pendekatan sistem pembelajaran, meliputi aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis ialah pandangan hidup yang melandasi sikap si perancang, sistem yang terarah pada kenyataan. Sedangkan aspek proses ialah suatu proses dan suatu perangkat alat konseptual.

Senin, 26 Desember 2011

Model dan Prosedur Penerapan Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning Strategy)

Berikut ini adalah beberapa metode / strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar (khususnya mata pelajaran pendidikan agama Islam), diantara metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran Terbimbing (Guided Teaching)
Dalam tehnik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan selingan yang mengasyikkan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang guru ajarkan. Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak. (Silberman, 1996: 137)

Prosedur:
1. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pernyataan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal “Bagaimana kamu menjelaskan seberapa cerdasnya seseorang?”.
2. Berikan waktu yang cukup kepada siswa secara berpasangan atau berkelompok untuk membahas jawaban mereka.

Metode Pengajaran Agama Islam

Pengertian Metode Pengajaran
Metode secara bahasa berarti cara, sedang dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen dan sebagainya.
Yang dimaksud dengan metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tardif, 1989). Dan bagian penting yang sering dilupakan orang adalah strategi mengajar yang sesungguhnya melekat erat dalam metode mengajar (Muhibbin Syah, 1999: 201).
Dalam kaitannya dengan materi pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Strategi Pengorganisasian
Yaitu suatu metode untuk mengorganisasi isi bidang studi pendidikan agama Islam yang dipilih untuk pembelajaran. Hal ini mengacu pada :
- Kegiatan pemilihan isi - Penataan isi
- Pembuatan diagram - Skema
- Format, Dsb.

Jumat, 23 Desember 2011

Efektifitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen utama yang saling berpengaruh dalam proses pembelajaran pendidikan Agama Islam, antara lain:
a. Kondisi pembelajaran PAI.
Kondisi pembelajaran PAI adalah semua faktor yang mempengaruhi penggunaan metode pembelajaran PAI. Karena itu berusaha mengidentifikasikan dan mendeskripsikan faktor-faktor yang termasuk kondisi pembelajaran, yaitu tujuan dan karakteristik bidang studi PAI, kendala dan karakteristik bidang studi PAI serta karakteristik peserta didik.
b. Metode Pembelajaran PAI.
Metode pembelajaran PAI dapat diklasifikasikan menjadi strategi pengorganisasian, strategi penyampaian dan strategi pengelolaan pembelajaran.

c. Hasil Pembelajaran PAI.
Hasil pembelajaran PAI diklasifikasikan menjadi keefektifan, efisiensi dan daya tarik. Keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan criteria: (1) Kecermatan penguasaan kemampuan atau perilaku yang dipelajari, (2) Kecepatan unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar, (3) Kesesuaian dengan prosedur kegiatan belajar yang harus ditempuh, (4) Kuantitas unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar, (5) Kualitas hasil akhir yang dapat dicapai, (6) Tingkat alih belajar, dan (7) Tingkat retensi belajar. Sedangkan efisiensi pembelajaran dapat diukur dengan rasio antara keefektifan dengan jumlah waktu yang digunakan atau dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dan daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan peserta didik untuk berkeinginan terus belajar.

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dengan disertai dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa (Kurikuluim PAI, 3: 2002)
Zakiyah Darajat (1987: 87) mengemukakan bahwa esensi pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai, pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda agar generasi muda mampu untuk hidup. Oleh karena itu ketika kita menyebut adanya pendidikan agama Islam, maka akan mencakup dua hal, yaitu:
1. Mendidik siswa untuk berprilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam
2. Mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam, berupa pengetahuan tentang Islam.
Munculnya anggapan-anggapan yang kurang menyenangkan tentang pendidikan agama seperti; Islam diajarkan lebih pada hafalan, padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus diperaktekkan. Pendidikan Islam lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara agama dengan Tuhan-Nya; penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat penekanan. Hal ini diukur dari penilaian kelulusan siswa dalam pelajaran agama diukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian tertulis di kelas yang dapat di demonstrasikan oleh siswa.

Tujuan dan Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (GBPP PAI, 1999).

Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh pembelajaran agama Islam, yaitu: dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam, dimensi pemahaman atau penalaran serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam; dimensi penghayatan dan pengamalan batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam, dimensi pengalaman, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah di Imani, dipahami, dan dihayati oleh peserta didik itu mampu diamalkan dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan dalam kehidipan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.