STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Forum Insan At-Taqwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Forum Insan At-Taqwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Keutamaan Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Takwa

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (Qs. Almaa’idah: 2)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr: 1-3)
Dari Abu Abdirrahman Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu’anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” (HR. Bukhari no.2843 dan Muslim no. 1895)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengutus pasukan tentara ke Bani Lihyan dari Kabilah Hudzail, beliau bersabda, “Hendaknya tiap dua orang dalam satu keluarga, yang satu keluar yang satu menjaga keluarganya, niscaya pahalanya dibagi antar keduanya.” (HR. Muslim no. 1896)

Penjelasan:

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam “Barangsiapa yang mempersiapkan diri untuk berperang dijalan Allah, maka ia akan berperang. Dan barangsiapa yang menggantikannya dalam keluarganya karena perang, maka ia telah perang.” Ini adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Ketika seseorang mempersiapkan diri untuk berperang yaitu mempersiapkan kendaraannnya, peralatannya dan senjatanya, maka ia telah berperang, yakni dituliskan baginya pahala berperang, karena ia telah mempersiapkan kebaikan. Demikian juga orang yang menggantikan sesuatu yang baik bagi keluarganya, berarti ia sudah berperang, karena jika seseorang ingin berperang, tetapi dia mendapatkan masalah dalam hal pemenuhan kebutuhan bagi keluarganya, kemudian dia mengutus salah seorang Muslim dan berkata “Saya akan menggantikan anda dalam keluargamu dengan kebaikan.” Maka orang yang menanggung keluarganya ini pahalanya seperti orang yang berperang karena membantunya.

Bagaimanakah Seharusnya Seorang Berbicara Berdasarkan Ilmunya?

Abdullah bin Mas’ud berkata,
يا أيها الناس من علم شيئا فليقل به ومن لم يعلم فليقل الله أعلم فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم
"Wahai manusia barangsiapa yang berilmu tentang sesuatu maka hendaklah ia berkata dengan ilmunya tersebut dan barangsiapa yang tidak berilmu (tidak mengetahui) maka hendaklah ia berkata “Allahu A’lam” (Allahlah yang labih mengetahui) karena sesungguhnya merupakan ilmu seseorang berkata “Allahu A’lam” tentang perkara yang ia tidak mengetahui ilmunya"[1]
Beliau juga berkata,
إن الذي يفتي الناس في كل ما يستفتونه فيه مجنون
((Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia pada setiap perkara yang mereka tanyakan maka ia adalah orang gila))[2]
Kenyataan Pahit dan Menyedihkan
Suatu hal yang sangat patut untuk disedihkan yang merajalela saat ini adalah banyak sekali para pemuda di negeri-negeri Islam yang semangat dalam berdakwah dan menjadi para aktivis dakwah, begitu besar ghiroh mereka terhadap agama mereka, namun mereka sangat jauh dari ilmu syar’i, mereka tidak memiliki semangat untuk menuntut ilmu. Mereka sangat jauh dari para ulama. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sikap mereka yang sangat berani dalam berfatwa tanpa ilmu (berbicara tentang agama Allah tanpa landasan ilmu).

Selasa, 06 Maret 2012

KEUNGGULAN MANUSIA KARENA TAQWA , BUKAN KARENA NASAB

QS al-Hujurat: 13: Manusia Dalam Asal Penciptaan dan Khaliqnya
ياأيها الناس,  إنّا خلقناكم, من ذكر وأنثى , وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا , إنّ أكرمكم عند الله أتقاكم , إنّ الله عليم خبير
“Wahai manusia, susungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar saling mengenal (satu sama lainnya). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling taqwa (kepada-Nya)” (Al Hujurat: 13).

Sekilas Tentang Asbab Nuzul Ayat ini Dan Komentar Para Mufassir:
1.      Abu Dawud meriwayatkan sbb: “Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hindun ketika Banu Bayadloh menolak untuk menikahkan dia, kemudian Rasulullah Saw memerintahkannya untuk menikahkan dia, seraya bersabda, “Nikahkanlah Abu Hindun dan merekaSpun kemudian bersedia menikahkannya” (Hadits no. 2103 jilid 4, dan juga Ibnu Jarir. Ibnu Abdil Barr menyebutkannya dalam biografi Abu Hindun. Juga dalam Tafsir Al Qurthubi, 16: 24)
2.     Dalam riwayat lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang hamba yang hitam kelam menderita sakit, lalu Rasulullah Saw mengunjunginya, lalu ia meninggal. Nabi pun memandikannya, mengafaninya dan memakamkannya. Ternyata sikap Nabi Saw tersebut membawa dampak bagi para sahabat, maka turunlah ayat ini. Dikatakan oleh Yazid bin Syajarah (Kata Ibnu Hajar dalam Takhrij al Ahadits al Khasysyaf 4/375, disebutkan oleh ats Tsa`labah dan al Wahidi tanpa sanad, lihat Zaad al Masir, 7/473).
3.     Berkenaan dengan Bilal bin Rabah, ketika Rasulullah Saw memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di atas dinding Ka`bah pada waktu Futuh Makkah, lalu ada diantara manusia mendapati sesuatu dari diri mereka sendiri, kemudian mereka menyampaikan protesnya: “Mengapa harus dia, bukankah yang lainnya lebih layak …. Lalu turunlah ayat ini. Seperti dikatakan oleh Muqatil dan Ibn u Abi Mulaikah, Tafsir Ad Durr   - al Mantsur,6/107, As Suyuthi, dengan menisbatkan kepada sumber asalnya Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al Baihaqi di dalam ad Dala’il. Lihat Dalail an nabuwwah al Baihaqi, 4/328, dan Ibnul Jauzi dalam Zaad al Masir, 7/473
4.     Bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Tsabit bin Qais dan seorang laki-laki yang tak memberikan keluasan tempat duduk buat Tsabit, lalu Tsabit mengucapkan kata-kata, “Engkau adalah anak si Fulanah” (Ibnu Hajar, Takhrijul Ahadits al Kasysyaf, 4/370, disebutkan dari Ibnu Abbas Ra tanpa ada sanad).

Senin, 05 Maret 2012

Ahlut Taqwa Adalah Wali Allah

2.7. Ahlut Taqwa Adalah Wali Allah.
            Allah Ta’ala berfirman:
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون  الذين آمنوا وكانوا يتقون (سورة يونس)
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.”(Yunus: 62-63)
والله ولي المتقين (سورة الجاثية)
 “Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (Al Jatsiyah: 19)
          Predikat ‘wali-wali Allah’ hanya layak bagi orang-orang yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah dan konsisten terhadap sunnah Nabi-Nya. Allah berfirman:
إن أولياءه إلا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون
“Oran-orang yang berhak menguasainya, hanyalah orang-orang yang bertaqwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al Anfal: 34)
          Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan taqwa sebagai mizzan kebenarn, yang sepatutnya dijadikan sebagai alat menimbang oleh manusia. Jangalah menjadikan kedudukan, keturunan, harta, dan popularitas sebagai mizan.
          Allah berfirman:
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
 “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujurat: 13)
          Syaikh Asy Syanqithi rahimahullah berkata, sesungguhnya keutamaan dan kemuliaan itu hanyalah dengan taqwa kepada Allah, dan tidak atas dasar selainnya, baik karena keturunana maupun kesukuan. Benarlah yang dikatakan orang;
فقد رفع الإسلام سلمانَ فارسٍ        ..........   وقد وضع الكفرُ الشريف أبا لهبٍ
“Sungguh, Islam telah meninggikan derajat Salman Al Farisi.
Dan sungguh, kekufuran telah menurunkan kemuliaan Abu Lahab.”
          Mereka menyebutkan, bahwa Salman radliyallahu ‘anhu berkata:
إذا افتخروا بقَيْسٍ أو تميم            ..........        أبي الإسلام لا أبَ لي سواه   
“Kalau mereka bebangga dengan suku Qais atau Tamim, maka ketahuilah, bahwa ayahku adalah islam bukan selainnya.”
فأكرم الناس وأفضلهم أتقاهم لله ....   ولا كرم ولا فضل لغير المتقى ، ولو كان رفيع النسب.
Jelaslah bahwa kemuliaan dan keutamaan manusia hanya bisa dilihat dari segi ketaqwaan mereka kepada Allah. Dan tidak ada orang yang utama dan mulia di dunia ini, sekalipun dia dari keturunan bangsawan.

Taqwa Adalah Sebaik-baik Pakaian

2.5. Taqwa Adalah Sebaik-baik Pakaian.
          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
26. Hai anak Adam[530], Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. QS Al A’raf: 26
 [530] Maksudnya Ialah: umat manusia
[531] Maksudnya Ialah: selalu bertakwa kepada Allah.
          Allah Subhanahu wa Ta’al menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian penutup aurat (al libas) dan pakaian indah (ar risy) maka al libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar risy sebagai tambahan dan penyempurna. Artinya, Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memperindahnya, yaitu pakaian at taqwa.
          Imam Al Qurthubi megomentari tentang firman Allah (Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik), dengan menjelaskan bahwa taqwa adalah sebaik-baik pakaian, sebagaimana dikatakan oleh Abul Atahiyah dalam bait-bait syair ini:
          Jika seseorang tidak berpakaian dengan pakaian taqwa,
          sama halnya dengan tidak berpakaian,
          sekalipun pada lahirnya ia berpakaian.
          Sebaik-baik pakaian seseorang,
          adalah taat kepada Rabbnya.
          Tidak ada kebaikan sedikitpun,
          bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya.
          Qasim bin Mas’ud meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al Juhni berkata, maksud pakaian taqwa adalah ‘al hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat, bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.
          Adapun perkataan orang, bahwa yang dimaksud itu adalah pekaian kasar, karena hal ini lebih dekat kepada tawadlu’, tidaklah benar. Sebab, para ulama yang mulia memakai pakaian yang halus dengan disertai bukti ketaqwaan. (Al jami’ li Ahkamil Qur’an, III/2620-2621, dikutip secara ringkas)

TAQWA WASIAT PARA RASUL

2.3. Wasiat Seluruh Rasul Allah
Allah berfirman:
“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul, ketika saudara mereka, Nuh berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’.”(Asy Syur’ara’: 105-106).
“Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul, ketika saudara mereka, Hud berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’.”(Asy Syur’ara’: 123-124).
“Kaum Tsamud telah mendustakan para rasul, ketika saudara mereka, Shalih berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’.”(Asy Syur’ara’: 141-142).
“Penduduk ‘Aikah telah mendustakan para rasul, ketika saudara mereka, Syu’aib berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’.”(Asy Syur’ara’: 176-177).
“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu menyeru Musa (dengan firman-Nya) : ‘Datangilah kaum yang zhalim itu,(yaitu) kaum Fir’aun. ‘Mengapa mereka tidak bertaqwa?’.”(Asy Syur’ara’: 10-11).
Tidak diragukan lagi, bahwa seluruh rasul Allah adalah manusia yang paling suci. Seandainya mereka mengetahui bahwa ada satu sifat (lain) yang paling bermanfaat bagi mereka dibandingkan taqwa, niscaya mereka tidak akan menolaknya. Maka tatkala mereka bersepakat menerima sifat taqwa tersebut, yakinlah kita, bahwa begitu penting dan mulianya kedudukan taqwa itu.
Kita bermohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk ahlut taqwa yang bekerja dengan taqwa dan saling menolong atas dasar taqwa.

Jumat, 02 Maret 2012

KEMULIAAN TAQWA

2.1  Wasiat Allah kepada Ummat Terdahulu dan Kemudian
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah[360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. QS An Nisa' : 131
 [360] Maksudnya: kekafiran kamu itu tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikitpun kepada Allah, karena Allah tidak berkehendak kepadamu.
Imam Al Ghazali rahimahullah berkata, “Bukankah Allah Ta’ala paling mengetahui tentang kebaikan hamba, bukankah  Dia lebih berlaku sayang, dan lebih belas kasih daripada siapa pun dari makhluk-Nya?. Seandainya di dunia ini terdapat suatu sifat yang lebih baik bagi seorang hamba, lebih banyak mengumpulkan kebaikan, lebih besar mendatangkan pahala, lebih agung dalam hal ‘ubudiyyah, lebih besar  dalam qodar, lebih utama dalam hal ihwal, lebih sukses dalam hal tempat kembali, dibandingkan sifat taqwa, tentu sifat tersebut akan Allah perintahkan dan wasiatkan kepada hamba-hamba-Nya, karena kesempurnaan hikmah-Nya dan luasnya rahmah-Nya. 
Pada kenyataannya, Allah telah mewasiatkan sifat taqwa tersebut, dan memerintahkannya kepada seluruh ummat, baik yang terdahulu (sebelum ummat Muhammad) maupun ummat Muhammad. Jelaslah, bahwa (taqwa) ini merupakan satu-satunya tujuan yang diingikan Allah. Dan bahwasanya, Allah menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan dan pengajaran, dalam satu wasiat (perintah) yaitu taqwa, sesuai dengan hikmah dan rahmat yang dimiliki-Nya. Dan jelas pula, bahwa sifat taqwa ini dapat menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, dan sudah cukup mewakili seluruh tugas yang bisa mengantarkan kepada derajat paling tinggi.

MAKNA TAQWA.

Makna Taqwa Secara Bahasa:
          Ar Rafi’i menyatakan dalam Al Mishbahul Munir Fi Gharibisy Syahril Kabir, “Waqahullahus su’a” rtinya Allah menjaganya dari kejahatan. Al Wiqa’ (الوقاء) yaitu segala sesuatu yang digunakan sebagai pelindung.
          Abu  ‘Ubaid meriwayatkan dari Al Kisa’i, al wiqayah dan al wiqa’ juga bermakna sama. Ittaqaitullaha ittaqa’an (saya takut kepada Allah). Taqiyah dan taqwa adalah isim darinya, sedangkan ta’ adalah pengganti wawu, dan asal katanya adalah waqyun. (Hal : 669).

          Kata taqwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara pada satu pengertian, yaitu seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jala dan juga siksa-Nya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya.
          Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Asal taqwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang dapat melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti”.
          Ketaqwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah dia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan adzab-Nya, yaitu dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

Minggu, 25 September 2011

SESATNYA PEMUJA SYAITAN

SEKTE MISTIK PEMUJA SETAN
Kita mengenal banyak aliran mistik pemuja setan yang bisa digolongkan menjadi tiga aliran. Dengan mengetahui apa dan bagaimana praktik keyakinan mereka yang mengerikan, semoga kita tidak menjadi bagian di dalamnya.
Di dunia ini, manusia tidak hanya menyembah Tuhan. Namun juga ada yang menyembah kepada selain Tuhan. Misalnya penyembahan kepada setan atau biasa disebut dengan Setanisme. Penyembahan kepada setan ini untuk pertama kalinya dipopulerkan secara sistematis dan terorganisasi oleh Aleister Crowley (1875-1947).
Pengalaman dirinya mempelajari aliran kebatinan, khususnya tradisi mistik kuno Yahudi yang disebut Kabalah telah mengantarkan Crowley menjadi anggota Order of the Golden Dawn, sebuah organisasi yang mempelajari dan mengembangkan ajaran mistik dan ikut mengembangkan organisasi freemason sebagai organisasi “lelaki jantan” yang memilih dan mengembangkannya sebagai organisasi yang sangat ketat untuk membangun lelaki yang kuat, cerdas, dan mempunyai daya pikat. Crowley dianggap sebagai penggagas pertama lahirnya ajaran setanisme dan bertujuan untuk mempersatukan atau melebur semua agama yang ada di dunia.

Selasa, 20 September 2011

FILSAFAT HEDONISME

A. PENDAHULUAN
Salah satu aliran aksiolgis dalam filsafat adalah Hedonisme. Hedonisme erat kaitannya dengan Epicurus. Sebab dialah yang menggagas hedonisme.
B. MENGENAL EPICURUS
Greek philosopher who believed that the world is a random combination of atoms and That pleasure is the highest good (341-270 BC). (wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn ).
Fokus pemikirannya bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kenyamanan batin, dan kebebasan dari rasa sakit. Seluruh sensasi keinginan adalah fitrah, dan layak untuk di puaskan. Intinya, karena manusia akan mati, maka manusia harus senang. (http://mbethy.multiply.com/journal/item/12)
Pendapat Epicurus tentang agama dan Tuhan
“…Atau Tuhan mau menghapuskan keburukan, tetapi tidak mampu. Atau sebenarnya ia mampu, tetapi tidak mau. Atau ia tidak mampu dan tidak mau. Jikalau ia mau, tetapi tidak mampu, ia lemah…. Jikalau ia mampu, tetapi tidak mau, dia jahat…. Tetapi, jikalau Tuhan mampu dan mau menghapuskan kejahatan, … lantas bagaimana kejahatan ada di dunia?” (Lee Strobel, The Case for Faith, Zondervan, 2000:25. bdk. Teodice. (2006:230).

Filsafat Hati Nurani (Bag.3)

Tujuan pokok pembinaan hati nurani adalah hati nurani yang secara subyektif baik dan secara obyektif benar. Dengan hati nurani yang baik dan benar, seseorang akan selalu terdorong untuk bertindak melakukan kehendak Tuhan dan menuruti norma-norma moral obyektif. Pembinaan hati nurani tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang kebenaran dan nilai-nilai, ataupun kemampuan untuk memecahkan dilema moral, tetapi juga harus memasukkan ke dalamnya pembinaan karakter moral seseorang
secara lebih penuh. Pembinaan hati nurani merupakan upaya yang hakiki agar manusia lebih mampu hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan hati nurani yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Melalui pembinaan hati nurani, manusia diharapkan bisa terhindar dari kesesatan dalam pengambilan keputusan dan tindakan manusiawi.
Arti Virtualisasi
a. Virtualisasi artinya mengupayakan agar sesuatu benar-benar dekat dengan apa yang seharusnya, seideal-idealnya sebagaimana yang telah dirumuskan melalui berbagai pendekatan falsafati, keilmuan dan kebudayaan.
Alasan-alasan perlunya virtualisasi Hati Nurani.
a. Fakta-fakta menunjukkan bahwa masyarakat dunia sudah jenuh dengan konsep dan praktek matrealisme dan sekulerisme yang membuat mereka asing dengan kedalaman diri mereka sendiri.
b. Sejak masa reformasi bergulir, kita sering melihat berbagai kerusuhan yang melibatkan warga masyarakat umum lebih banyak berbau anarkis atau tindak kekerasan serta pengrusakan.
1. Mengenal Hati Nurani.
Siapapun memiliki hati nurani, dan menyadari akan keberadaannya. Akan tetapi, pengetahuan terhadap hati nurani perlu terus dikembangkan, dengan harapan, hati nurani itu dapat dikembangkan potensi-potensi menuju kualitas hidup yang lebih bermakna.

FILSAFAT HATI NURANI (Bag.2)

2. Pengertian hati nurani secara metafisika
Hati Nurani adalah kesadaran akan kewajiban berhadapan dengan sistuasi konkret yang saya hadapi kini dan disini. Berkaitan dengan adanya kesadaran (conscientia = bersama dengan, turut mengetahui) tentang perbuatan dan tentang pelaku (diri sendiri). Semacam instansi dalam bati kita, yang menilai dari segi moral perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Cara berfungsinya Sebagai vindex : menilai perbuatan yang telah berlangsung Sebagai index : menilai perbuatan yang akan datang Sebagai ludex : menilai perbuatan yang sedang dilakukan. Kemutlakan hati nurani, tuntutannya mutlak, tidak dapat di tawar-tawar. Memerintahkan tanpa syarat (imperatif kateoris). Mengikuti hati nurani merupakan hak dasar bagi setiap orang. Hati nurani adalah norma terakhir bagi perbuatan-perbuatan kita. Hati nurani bisa keliru tuntutannya mutlak tapi belum tentu benar (bisa benar bisa salah). Perlu dibedakan : saat sebelum keputusan diambil, Saat keputusan diambil. Sifat personal dan Adipersonal hati nurani; bersifat personal karena selalu berkaitan erat dengan pribadi yang bersangkutan dan hanya memberi penilaiannya tentang perbuatan saya sendiri. Bersifat Adipersonal, karena Hati nurani (Nur = cahaya) berarti hati yang diterangi, terhadap hati nurani seakan kita menjadi “pendengar”, mempunyai aspek transenden, yang melebihi pribadi kita, dan karena aspek adipersonal ini, hati nurani memiliki dimensi religius. Penentuan baik buruk , benar salah. Perbuatan yang dilakukan atas desakan hati nurani belum tentu secara objektif juga baik.Yang sebenarnya mau diungkapkan bukanlah baik buruknya perbuatan itu sendiri, melainkan bersalah tidaknya si pelaku. Maka kita tidak pernah boleh bertindak bertentangan dengan hati nurani kita. Akan tetapi manusia wajib juga mengembangkan hati nuraninya dan seluruh kepribadian etisnya samapi menjadi matang dan seimbang (yang subjektif dan objektif menjadi sama).

FILSAFAT HATI NURANI (Bag.1)

A.Pengantar
Filsafat sistematik memiliki tiga cabang utama: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Aksiologi memiliki cabang-cabang, diantaranya adalah: etika. Etika sebagai filsafat mempertanyakan: tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang yang baik dan yang buruk untuk dilakukan. Ada perbedaan antara etika dengan moralitas. Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional tentang nilai, ajaran dan pandangan-pandangan moral. Moralitas adalah ajaran yang berlaku di masyarakat, yang menjadi obyek kajian etika. Sumber moralitas macam-macam, ada yang berasal dari akal, dari agama, dari hukum, dan dari kebiasaan yang dikembangkan. Dan tak lepas pula peran hati nurani; hati nurani ikut serta menentukan wujud dan arah moralitas. Sebab itu hati nurani merupakan salah satu obyek kajian filsafat Etika.

Rabu, 06 Juli 2011

Menggapai Derajat Muttaqin


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102)
Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan selalu mentaati dan menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran dan keikhlasan hati karena Allah semata, merupakan tuntutan Ilahi dan keharusan bagi setiap manusia, karena dengannya setiap hamba Allah memperoleh peluang terbukanya berbagai pintu karunia Allah untuknya
Mengenai pengertian taqwa, oleh para ulama telah dirumuskan dalam beberapa definisi. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah berlindung dan taat kepada Allah dari hukuman-hukuman-Nya. Sebagian ulama yang lain merumuskan bahwa taqwa adalah menjaga diri dari segala hal yang mengandung hukuman Allah.

Takwa: Dasar Pokok Kedamaian dalam Islam

Didalam Al-Quranul Karim diantara semua hukum yang paling ditekankan dibanding dengan hukum-hukum lainnya, adalah tentang takwa dan menjaga diri sendiri. Sebabnya adalah takwa memberi kekuatan untuk menghindarkan diri dari setiap keburukan, dan takwa  memberi kekuatan kepada manusia untuk maju kedepan dalam amal kebaikan.
Dan latar belakang mengapa Tuhan memberi penekanan terhadap takwa, karena takwa adalah jaminan bagi manusia untuk mendapatkan keselamatan. Dan untuk terlindung dari setiap macam fitnah atau cobaan takwa adalah sarana kekuatan yang paling ampuh. Seorang yang bertakwa terlindung dari banyak sekali bahaya pertengkaran. Sedangkan yang lain, yang tidak bertakwa banyak terlibat di dalam pertengkaran dan perselisihan, sehingga kadang-kadang sampai membawa kepada kebinasaan. Dan disebabkan berbagai prasangka buruk dan sifat terburu-nafsu dapat menimbulkan perpecahan dikalangan bangsa, sehingga memberi kesempatan terhadap para penentang untuk melakukan serangan.

Praktik Jarh Wa Ta’diil Membutuhkan Takwa dan Wara’

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad –hafizhahullaah- berkata, “Termasuk perkara yang sangat disayangkan terjadi di zaman ini adalah apa-apa yang terjadi di kalangan Ahlus Sunnah, berupa ketidakcocokan dan perpecahan, yang mengakibatkan mereka sibuk saling men-tajrih (melukai), men-tahdzir, dan meng-hajr. Yang wajib mereka lakukan adalah usaha mereka diarahkan kepada selain mereka, dari kalangan orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Hendaknya Ahlus Sunnah bersatu, saling menyayangi, dan saling mengingatkan di antara mereka secara halus dan lembut.” (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal 19)
Syaikh Al-Albani berkata, ((Wahai akhi.. aku nasehati engkau dan para pemuda yang lain yang berdiri di atas garis yang menyimpang –wallahu A’lam, inilah yang nampak padaku- janganlah kalian menyia-nyiakan waktu kalian untuk mengkritik antara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Engkau berkata, “Si fulan mengatakan demikian.., si fulan bilang demikian…”.  Karena pertama hal ini sama sekali bukanlah ilmu dan yang kedua uslub (cara) seperti ini membuat hati menjadi marah, dan menimbulkan hasad dan permusuhan pada hati-hati (kalian).

Pelajaran Seputar Takwa

Pengertian Takwa
Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)

Iman dan Taqwa landasan mencapai kesuksesan

Kita diciptakan didunia ini untuk satu hikmah yang agung dan bukan hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main. Tujuan dan himah penciptaan ini telah dijelaskan dalam firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. 51:56-58)
Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa tujuan asasi dari penciptaan manusia adalah ibadah kepadaNya saja tanpa berbuat syirik.

Hakekat Takwa

Takwa sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim. Namun masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jum’at para khotib menyerukan takwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang kali. Namun yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan pas. 
Pengertian Takwa
Untuk mengenal hakekat takwa tentunya harus kembali kepada bahasa Arab, karena kata tersebut memang berasal darinya. Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى) yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa.Dengan demikian maka bertakwa kepada Allah adalah rasa takut kepadaNya dan menjauhi kemurkaanNya. Seakan-akan kita berlindung dari kemarahan dan siksaanNya dengan mentaatiNya dan mencari keridhoanNya. 

Selasa, 05 Juli 2011

CIRI-CIRI ORANG YANG BERTAKWA

Takwa adalah sebaik-baiknya bekal bagi kehidupan orang mu’min baik dalam mengarungi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana terdapat dalam firman Allah swt. surat Al Baqarah ayat 197,“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” Dengan bertakwa insya Allah kita akan memperoleh kebahagiaan bukan hanya kebahagiaan hidup di dunia melainkan juga di akhirat nanti. Meskipun kata takwa berasal dari terminologi yang dipakai agama Islam, tetapi khusus di Indonesia ini kata takwa digunakan juga sebagai terminologi oleh umat non muslim, meskipun kalau ditanya apa itu takwa mungkin mereka menggunakan kata-kata ini sebatas ucapan saja tanpa memahami makna yang sebenarnya. Tetapi sebagai umat Islam, tentunya memahami benar apa yang dimaksud dengan takwa. Takwa mengandung arti yang bervariasi di kalangan ulama. Namun ada beberapa ulama fiqh mendefinisikan takwa adalah menjalankan semua perintah Allah swt. dan menjauhi semua larangan-larangan Allah swt. Jadi takwa di sini ada indikasi bahwa dia takut di dalam perilakunya ini menerjang batas-batas yang sudah digariskan oleh Allah swt., sehingga kita tidak sampai melakukan suatu perbuatan yang melampaui batas-batas yang sudah ditetapkan oleh Allah swt. Seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah swt dari adzab-Nya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.