STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Filsafat (Pengantar). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat (Pengantar). Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Al-Suhrawardî dan Filsafat Illuminasi

Prolog
            Karya-karya  Syihâb al-Dîn Yahyâ Al-Suhrawardî—yang digelari sebagai Syaikh Al-Isyrâq (Master Filsafat Illuminasionis)– sampai sekarang mendapat posisi yang istimewa di berbagai sekte sufi (thuruq al-Shûfiyyah). Buah pemikiran Al-Suhrawardî membuka wacana pembaharuan pemikiran yang dilestarikan oleh banyak pemikir dan juru spiritual (al-rûhâniyyîn)  sampai sekarang[1]—terutama di Iran. Mempelajari epistemologi Al-Suhrawardî, sama dengan mempelajari sinkretisasi tiga displin ilmu sekaligus: kalâm (islamic theology), filsafat dan tashawwuf.[2]

Biografi
Mayoritas sejarawan sepakat bahwa Al-Suhrawardî (tidak boleh disamakan dengan tiga nama tokoh sufi lain: ‘Umar, Muhammad ibn ‘Umar dan Abu al-Najîb Al-Suhrawardî) bernama Abû al-Futûh Yahyâ ibn Habsy ibn Amîrik. Beliau lahir pada 549 H/1155 M  di Barat Laut Iran di kota Suhraward, kota di mana sering terjadi bentrokan peperangan. Sejak belia, beliau menuntut ilmu di Marâghah daerah Adzbijân. Kemudian menuju Ashbihân di pusat Iran. Di sana beliau menyaksikan rintisan-rintisan filsafat Ibn Sina dilestarikan. Kemudian menghabiskan beberapa tahun di Anâdlûl, menimba ilmu kepada banyak pejabat dinasti Saljukiyah dengan penuh antusias. Terakhir menuju Syiria dan tidak pernah kembali dari sana. Di daerah inilah beliau dituduh mengajarkan ajaran yang kontradiktif dengan ajaran mainstream sehingga—atas desakan Sholahuddin al-Ayyûbi kepada putranya, Al-Malik al-Dhâhir, yang jadi hakim di sana–difatwa sebagai  kafir dan sesat. Akhirnya beliau mati secara misterius (digantung, dipenjara, mogok makan, dibunuh dengan pedang atau dibakar?) pada 587 H/1191 M. Sehingga total umur beliau adalah 36 tahun (38 tahun Qomariyyah). Para sejarawan umumnya menjulukinya dengan al_syaikh al-Maqtûl, sedangkan para muridnya mengagungkannya dengan sebutan al-Syaikh al-Syahîd.[3]
***
            Al-Suhrawardî merupakan tokoh yang pertama kali berani menantang hegemoni filsafat Paripatetik pada abad enam Hijriyah. Kemudian berusaha membangun aliran filsafat baru yang bernama Falsafah Isrâqiyyah (Filsafat Illuminasi). Karir intelektual Al-Suhrawardî bermula sebagai seorang sufi, kemudian sebagai seorang filosof Paripatetik. Puncak dari ajaran filsafatnya berupa Hikmah Al-Isyrâq , dengan nama kitab master piecenya yang sama, yang merupakan gabungan anatar filsafat dan tashawwuf.  Hikmah Al-Isyrâq  dibangun atas dua hikmah: al-Hikmah al-Bahtsiyyah dan al-Hikmah al-Dzauqiyyah.  Al-Hikmah al-Bahtsiyyah (disebut juga Hikmah al-Falâsifah) dibangun atas dasar metodologi analisis, komposisi, istidlâl al-burhânî; dan bertujuan mencapai hakikat.  Sementara al-Hikmah al-Dzauqiyyah (disebut juga Hikmah Al-Isyrâqiyyîn) merupakan buah dari eksperimen spiritual menghampiri sang Mahatahu. Sejatinya tidak ada kontradiksi esensi antara satu sama lain. Yang terjadi hanya sebatas kontradiksi lahir. Karena puncak dari Hikmah Al-Isyrâq adalah eklektisasi antara al-Hikmah al-Bahtsiyyah dan al-Hikmah al-Dzauqiyyah, memperkokoh hikmah yang pertama sekaligus mempertajam aura hikmah yang kedua.[4]  

Senin, 22 April 2013

Relevansi Antara Ilmu, Takdir dan Qadar

A. Pendahuluan
Salah satu ciri utama berpikir filsafat atau berfilsafat adalah bertanya dan terus mempertanyakan dalam upaya mencapai hakikat (kesejatian) sesuatu yang dipertanyakan dengan jawaban yang benar. Dalam filsafat sebuah pertanyaan melahirkan jawaban yang kembali dipertanyakan.
Karena obyek filsafat adalah semua jenis materi yang ada di alam ini, maka lahirlah suatu cabang filsafat yang disebut filsafat ilmu yang karakteristiknya terkait dengan logika dan metodologi. Kadang-kadang filsafat ilmu dikembangkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memerolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu adalah penyelidikan lainjutan. Akan tetapi, yang perlu untuk dipahami adalah bahwa filsafat ilmu itu pada dasarnya science of science.
Salah satu obyek kajian filsafat ilmu adalah membahas tentang esensi ilmu sendiri dan hal-hal yang terkait dengan taqdir dan qadar atau penentuan nasib. Pembahasan yang demikian itu, adalah termasuk masalah-masalah filosofis yang amat pelik dan rumit di kalangan para pemikir Muslim sejak abad pertama hijriah. Yang jelas, masing-masing ketiga masalah tersebut memiliki sistem kerja yang saling terkait satu dengan lainnya.
Untuk mengetahui esensi ilmu serta kaitannya dengan masalah taqdir dan qadar, maka pengkajiannya perlu ditinjau dengan pendekatan filosofis. Sehingga, masalah yang perlu dibahas di sini adalah apa yang dimaksud dengan ilmu, taqdir dan qadar serta bagaimana kerelevansiannya satu dengan lain.

Minggu, 07 April 2013

Pengertian Aksiologi

Pengertian aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa yunani "axios" yang berarti bermanfaat dan “logos” berarti ilmu pengetahuan atau ajaran (Salim, 1986:53). Secara istilah, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff, 1992:327). Sedangkan Sarwan (1984:22) menyatakan bahwa aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran). Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. Dengan kata lain, apakah yang baik atau bagus itu.
Definisi lain mengatakan bahwa aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian peserta didik (Jalaluddin, 1997:69).
Dengan demikian aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap suatu ilmu.

Kamis, 28 Juni 2012

Akal dan Hati pada Zaman Yunani Kuno

THALES
Thales (624-546 SM), orang miltus itu, digelari bapak filsafat karena dialah orang yang mula - mula berfisafat (bijaksana). Ia adalah seorang politikus, ahli geometri dan pemikir dipelabuhan miletus yang sangat ramai. Ia juga berjasa dengan meramalkan secara tepat gerhana matahari pada tahun 585 sm.ia tidak tertarik pada mitos tetapi pada pengetahuan mengenai dunia dan bintang, ia adalah pemikir praktis. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yang jarang diperhatikan orang, juga orang jaman sekarang : “what is the nature of the world stuff “?(mayer , 1950:18) “apa sebenarnya bahan alam semesta ini” ? Terlepas dari apapun jawabannya, pertanyaan ini saja telah dapat mengangkat namanya menjadi filosop pertama. Ia sendiri menjawab air. Jawaban ini sebenarnya amat sederhana dan belum tuntas. Belum tuntas karena dari apa air itu ? thales mengambil air sebagai alam semesta barang kali karena ia melihat nya sebagai sesuatu yang amat diperlukan dalam kehidupan, dan menurut pendapatnya bumi ini terapung di atas air (mayer,1950:18).
Lihatlah, jawabannya amat sederhana; pertanyaannya jauh lebih berbobot ketimbang jawabanyannya. Masih adakah orang yang beranggapan bahwa bertanya itu tidak penting? Thales menjadi filosof karena ia bertanya. Pertanyaannya itu jawabannya dengan menggunakan akal, bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Alasannya adalah karena air penting bagi kehidupan. Disini akal mulai digunakan lepas dari keyakinan.

Minggu, 18 Maret 2012

FILSAFAT MORAL ARISTOTELES

Aristoteles (384-322 SM) adalah murid terkemuka Plato (427-348 SM), seorang tokoh pemikir idealis. Meski demikian, ia tidak sependapat dengan gurunya yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea Yang Baik dan bahwa hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea Yang Baik tersebut. Menurut Aristoteles, kehidupan yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Dari realitas inderawi kongkret inilah akal budi manusia mengabstraksikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba empiris yang digunakan Aristoteles ini, kita akan mencoba membahas konsep-konsepnya tentang moral.

Teleologis
Pembahasan etika biasanya dibedakan antara etika deontologis dan teleologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah. Misalnya, bahwa dusta adalah tidak benar secara etis, entah baik atau buruk akibatnya.
Sebaliknya, teleologis menyatakan bahwa tindakan bersifat netral; baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik. Etika Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengkaitkan tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.
Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak Universalistik, tetapi bisa dikata egoistik, karena lebih menekankan dampak bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya. Idomonia Sebagai Ukuran Baik Buruk (pain) dan tidak adanya kesenangan. Sementara itu, menurut Agustinus, kebahagiaan adalah menyatunya rasa cinta kasih manusia dalam Tuhan. Dalam pandangan Agustinus, tujuan hidup manusia adalah persatuan diri dengan Tuhan. Sedang dalam pandangan Stoa, kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menahan dorongan nafsu (self sufficiency) dengan cara menyatukan diri dan tunduk pada hukum alam. Jelasnya, kebahagian Stoa terletak pada kemampuan seseorang untuk meminjam istilah Jawa “menerima ing pandum”. Menerima apa yang menjadi bagiannya.

ETIKA (FILSAFAT BIDANG MORAL) SEBAGAI CABANG FILSAFAT

Berawal dari filsafat yunani, yang dimulai dengan filsafat alam. Dilanjutkan dengan filsafat manusia. Pembahasan tentang manusia berkembang dari konteks keberadaannya, dan mulai mempertanyakan bagaimana manusia harus hdup agar hidupnya baik (Filsafat Moral). Sebagai filsafat, etika bertanya tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang yang baik dan yang buruk untuk dilakukan.
Pengertian Etika
Secara etimologis ‘ethos’(yunani) = adapt kebiasaan; cara bertindak.
Sebagai ilmu : Refleksi kritis, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia
Sifat fisiologisnya : Melampaui data daktual. Bertanya tentang yang harus dan tidak boleh, yang baik dan yang buruk.
Pembagian Etika
Etika deskriptif
Etika normative
  • Etika umum : prinsip mral dasar
  • Etika khusus : etika terapan
Fungsi Etika
Memberi orientasi kritis dan rasional dalammenghadapi pluralisme moral, yang diakibatkan oleh :
  • Adanya aneka pandangan moral
  • Adanya gelombang modernisasi
  • Munculnya bebagai ideologi

AGAMA, FILSAFAT, DAN ILMU

Dalam Tahshîl al-sa'âfidah AI-Fârâbi dengan jelas menyatakan pandangannya tentang sifat agama dan filsafat serta hubungan antara keduanya:
Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan inteleknya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Tetapi jika gagasan-gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan atas mereka disebabkan oleh metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang memuat mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.
Al-Fârâbî menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip tertinggi wujud (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu,kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Fârâbî, filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama memaparkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.

Senin, 12 Maret 2012

PENGERTIAN, SUBJEK/ OBJEK DAN PENTINGNYA FILSAFAT

BAB I
RINGKASAN MATERI
A. Pengertian Filsafat
1. Defenisi Filsafat
Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara hrfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan. Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Pada bagian lain Harold Tisus mengemukakan makna filsafat yaitu :
1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta
2. Filsafat adalah suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran
3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah
4. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.

Rabu, 07 Maret 2012

FILSAFAT DAN HAKEKAT MANUSIA (sebuah pengantar)

JIKA kita mendengar kata filsafat maka konotasi kita akan segera pada sesuatu yang besifat prinsip yang juga sering dikaitkan pada pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai dasar (Zuhairini, 1991: 3). Pada hakekatnya semua yang ada di alam ini sudah sejak awal menjadi pemikiran dan teka-teki yang tak habis-habisnya diselidiki dan inilah yang menjadi fundamen timbulnya filsafat.
Jadi, filsafat adalah hasil usaha manusia dengan kekuatan akal budinya untuk memahani secara radikal, integral dan universal tentang hakikat sarwa yang ada (hakekat Tuhan, alam dan hakekat manusia), serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensinya dari pemahamannya tersebut (Anshari, 19984: 12), dan manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan boleh dikatakan ia adalah teka-teki bagai dirinya sendiri, siapakah sebenarnya “aku” ini ? (Salam, 1988:12)
Kalau demikian maka jelaslah bahwa hal ini memerlukan perenungan yang mendalam dan meng-asas pada usaha akal dan pekerjaan pikiran manusia. Karenanya filsafat-lah yang bertugas untuk mencari jawaban dengan cara ilmiah, obyektif, memberikan pertanggungjawaban dengan berdasarkan pada akal budi manusia. Karenanya filsafat itu timbul dari kodrat manusia.
Manusia mempunyai keistimewahan dari makhluk-makhluk yang lain, ia diciptakan oleh Allah SWT begitu sempurna dan kesempurnaan ini manusia dapat meningkatkan kehidupannya. Dengan berpikir atau bernalar, merupakan satu bentuk kegiatan akan manusia melalui pengetahuan yang kita terima melalui panca indra diolag dan ditunjukan untuk diri sendiri dengan manifestasinya, ialah mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukan alasan-asalan, membuktukan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pemikiran, mencari kausalitasnya, membahas secara realitas dan lain-lain (Salam, 1988:1). Sesuai dengan makna filsafat, yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua yang timbul dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, maka berfilosofis memerlukan suatu ilmu dalam mewujudkan pemahaman tersebut.

PEMIKIRAN SOCRATES, PLATO DAN ARISTOTELES

BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan filsafat Yunani dalam paruh kedua dari abad ke-5 SM. Zaman ini meliputi aliran yang disebut Sofistik maupun fisafat Sokrates. Ternyata Sokrates tidak begitu bersahabat dengan kaum Sofis. Filsafat Sokrates sebagian dapat dimengerti sebagai reaksi serta kritik atas pendapat-pendapat kaum Sofis. Filsuf dan sastrawan Roma yang bernama Cicero akan mengatakan bahwa Sokrates telah memindahkan filsafat dari langit ke atas bumi. Maksudnya bahwa filsafat prasokratik, telah memandang alam semesta dengan rupa-rupa cara, sedangkan  Sokrates mencari objek penyelidikannya di bumi ini, yakni manusia. Tetapi hal yang sama dapat dikatakan juga tentang kaum Sofis. Mereka pun memusatkan seluruh perhatiannya kepada manusia. Ketika dalam mempelajari filsafat prasokratik, sudah beberapa kali dijumpai dengan persoalan-persoalan yang menyangkut manusia, tetapi hanya sepintas lalu. Dalam zaman ini manusia menjadi objek pertama dan utama untuk penyelidikan filsafat.[1]

Jumat, 02 Maret 2012

Filsafat Modern Renaissance dan Aufklarung

A. PENDAHULUAN
Runtuhnya kebudayaan Abad pertengahan di susul oleh periode pertentangan pemisahan dan perubahan-perubahan mendalam dalam bidang politik, ekonomi dan agama. Periode Renaissance, Reformasi dan Rasionalisasi merupakan peralihan ke arah dan juga permulaan zaman modern. Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikirannya: antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal piker dan pengalaman.
Di atas telah di kemukakan bahwa munculnya Renaissance dan Humanisme sebagai awal masa abad modern. Di mana para ahli (filosof) menjadi pelopor perkembangan filsafat adalah para pemuka agama. Dan pemikiran filsafat masa modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi secara modern, serta membuka sistematika yang sifatnya logis-ilmiah. Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat diarahkan pada upaya manusia agar dapat menguasai lingkungan alam dengan menggunakan berbagai penemuan ilmiah.
Dan ketiga aliran di ataslah yang memberikan wajah baru pada kebudayaan Eropa Barat, yang lain dari kebudayaan Abad Pertengahan. Perubahan ini merupakan proses selama beberapa abad dan sangat lambat,sehingga para ahli sejarah masih belum sependapat, dimana akan menempatkan batas antara berbagai periode itu.

POSTMODERNISME

BAB I
PENDAHULUAN

Kesemarakan dan kegairahan kepada tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme.
Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu.
Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.1

Filsafat Abad Pertengahan

A.  a.   Pendahuluan
Sejarah filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya. [1]
Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada Abad Pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat Abad Pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.
Tuhan mencipta alam semesta serta waktu dari keabadian, gagasan penciptaan tidak bertentangan dengan alam abadi. Kitab suci mengajarkan bahwa alam semesta berawal mula, tetapi filsafat tidak membuktikan hal itu, seperti halnya filsafat juga tidak dapat membuktikan bahwa alam semesta tidak berawal mula.[2]
  Adapun istilah Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17) sesungguhnya hanya berfungsi membantu kita untuk memahami zaman ini sebagai zaman peralihan (masa transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting sesudah dan sebelumnya, yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.

PRAGMATISME

Pengertian Pragmatisme
            Kata Pragmatisme diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan (Encyclopedia Americana,15:683) dan guna. Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914), filosof Amerika yang pertama kali menggunakan Pragmatisme sebagai metode filsafat (Stroh,1968), tetapi pengertian pragmatisme telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles, Berkeley, dan Hume. Bila pragmatisme disangkutkan dengan Empirisme  maka sejarah pragmatisme berarti tersebar pada banyak filosof besar lainnya, satu di antaranya adalah John Locke.
            Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1900.  Pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide tidak “benar” atau “salah” melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis itu membawa akibat praktis yang bermanfaat.(Harun Hardiwijono, 1990.hlm 130)[1]
            William James mengatakan bahwa secara ringkas pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui. Pairce-lah yang membiasakan istilah ini dengan ungkapannya, “tentukan apa akibatnya, apakah dapat dipahami secara praktis atau tidak. Kita akan mendapat pengertian tentang objek itu, kemudian konsep kita tentang akibat itu, itulah keseluruhan konsep objek tersebut.”[2]

Senin, 14 November 2011

EPISTEMOLOGI

Istilah epistemologi terbangun dari kata "episteme" dan "logos"; "episteme" yang mengandung arti "pengetahuan atau ilmu" berasal dari bahasa Yunani; begitu juga "lolos" yang berarti "kata", "bahasa", "sabda", "firman", "ajaran", atau "teori". Dengan demikian, epistemologi secara pendekatan kebahasaan (etimologis) adalah teori ilmu.

Epistemologi yang menjadi suatu bidang garapan filsafat memperbincangkan teori pengatahuan, teori kebenaran, dan logika.

Teori pengetahuan mencakup pembahasan objek atau sasaran pengetahuan, sumber pengatahuan, dan aliran filsafi mengenai hakikat pengetahuan, cara memperoleh pengetahuan, dan nilai pengetahuan.

Paling tidak, ada tiga objek atau sasaran pengetahuan, yaitu objek indriah, objek non-indriah, dan objek di luar jangkauan kemampuan manusia.

Objek indriah disebut juga objek manifes, real, dan konkret. Objek indriah ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan indera; dan indera itu sendiri menjadi sumber pengetahuan (Al-Hawwasu Abwabu 'l-'Ulum: Panca indera itu merupakan pintu-pintu segala pengetahuan).

Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang inderalah satu satunya sumber pengetahuan adalah empirisme. 

PROSEDUR PENUNTUN BERPIKIR FILSAFI

Prosedur tentu mengandung langkah-langkah teknis segaligus pelaksanaan yang tak begitu saja muncul; namun justeru merupakan penjabaran dari manual yang mengacu kepada praktek; dan praktek itu sendiri merupakan aplikasi dari unsur teoritis, sehingga tidak ada teori yang paling baik kecuali praktek itu sendiri sebagai penerapan dari teori. 

Paulo Freire lebih senang menggunakan istilah praksis. Di mana praksis tersebut merupakan penerapan secara penuh, padu, dan utuh dari Kata (word) dan Kerja (work), yang keduanya merupakan yang terkonstruk secara terstruktur dari dialektika aksi dan refleksi. Pertautan terus menurus antara aksi (tindakan, perbuatan) dengan refleksi (teori) menunjukkan bahwa praksis itu merupakan aplikasi teori kepada praktek secara sekaligus koresponden - konsisten - intuitif.

Karena itu praktek merupakan turunan dari ilmu; sedangkan ilmu itu sendiri menjadi penjabaran dari suatu teori; dan teori itu sendiri tidak muncul begitu saja, namun merupakan buah dari filsafat; filsafat dari kitab kitab suci (agama dalam artian potentia, tidak sekedar actus), yang penghujungnya agama dari wahyu; akhir dan awalnya kita tahu bahwa wahyu itu dari Sang Tuhan. Dengan demikian "prosedur penuntun berpikir filsafi" berujungpangkal kepada/dari Sang Tuhan. Apa yang kepada/dari Sang Tuhan itu, secara tafshili (perincian)nya? ialah manakala kita hendak tahu, mau, dan mampu berpikir filsafi:

Selasa, 08 November 2011

Filsafat etika

A. Riwayat tokoh-tokoh filsafat “Etika”
a. Plato
Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal disana pada tahun 347 SM dalam usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga aristokrasi yang turun menurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Ia pun bercita-cita sejak mudanya untuk menjadi orang negara. Tetapi perkembangan politik dimasanya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkan itu. Sejak berumur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pelajaran itulah yang memberi kepuasan baginya. Pengaruh Socrates makin hari makin mendalam padanya. Ia menjadi murid Socrates yang setia. Sampai pada akhirnya Socrates tetap menjadi pujaannya.
Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asalnya yaitu api, udara, air, dan tanah.
b. Aristoteles
Aristoteles lahir pada tahun 384SM di kota Stagira (Macedonia) dekat kota modern Salonika. Ia berangkat dari keturunan penasihat Raja Macedonia. Ayahnya Nicomacus, adalah seorang penasihat Raja Amyntas, dan Aristoteles muda dilingkungan istna Macedonia bersama Philip, putra raja. Dipercaya pada tahun 367SM, dalam usia 18 tahun, Aristoteles memasuki akademik Plato di Athena, tempat ia belajar dan mengajar selama dua puluh tahun, sampai saat meninggalnya Plato pada tahun 347 SM. Aristoteles wafat pada usia 62 tahun Khalkit.

Senin, 07 November 2011

HUBUNGAN FILSAFAT, AGAMA DAN ISLAM

 Rumusan tentang makna filsafat
• Al-Farabi  mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan mencari aau menyelidiki helelat yang sebenarnya.
• Karl Jespers  berpendapat bahwa makna filsafat itu adalah mengenal apa yang dikatakan “ titk nol yang mutlak “ seperti ilmu alam, ia tidak dimulai secara polos dengan membuka selembar buku yang masih kosong, yang selalu berurusan dengan manusia yang sudah berangkat pada perjalanan.
• Imanuel kant  filsafat adalah pengetahuan mengenai segala pengetahuan dan prilaku.
• Plato  berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu yang berminat mencapai titk kebenaran.
• Dr. Fuad hasan  guru besar psikologi di universitas Indonesia dapat enyimpulkan nahwa filsafat adalah suatu ikhtiar yang mengajarkan untuk berfikir radikal, satu hal yang hendak dimasalahkan dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha sampai kepada kesimpulan yang universal.
• Aristoteles  Pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya menafsirkan logika, retorika, ekonomi, politik dan estitika.
• Poedjawijata (1974:11)  Sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pemikiran belaka.

FILSAFAT

1) Filsafat:
Ilmu yang mengkaji objek melalui objek tersebut. Filsafat ingin tahu lebih mendalam suatu objek tersebut dan dimana filsafat yang menganaliskan suatu masalah tidak hanya dengan Al-Qur’an namun memakai penalaran yang lebih menggunakan rasional untuk memecahkan suatu masalah tersebut.

2) - Ontologi:
Pemikiran-pemikiran yang membicarakan suatu permasalahan dengan asas-asas rasional dari sesuatu yang ada.
- Komsologi:
Suatu pemikiran yang membicarakan suatu permasalahan dengan menggunakan asas-asas rasional dari sesuatu yang ada tetapi teratur.

3) - Analisis:
Suatu perkataan yang disesuaikan secara analisa atau bisa disebut juga suatu perincian dimana di dalamnya bagian-bagiannya, kita dapat melakukannya. Suatu penelitian atau pemeriksaan atas makna yang dikandungnya.
Contoh: “Lemari itu nyata” bila digunakan dalam hubungannya dengan sebuah lemari mempunyai makna yang sama dengan perkataan “Nyata” bila digunakan terhadap impian.
- Sintesis:
Suatu kumpulan pengetahuan yang didapatkan atau dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan pada dunia.
Contoh: Ilmu tauhid adalah kumpulan pendapat atau teori-teori untuk menentukan Islam yang sesungguhnya.
- Dialektika:
suatu dialog antara dua orang atau lebih untuk memecahkan suatu masalah agar membuahkan suatu jawaban yang diinginkan.
Contoh: Ahli ulama dan ahli filsafat berdialog untuk meyakini dengan benar, dengan adanya Tuhan, ahli ulama menguatkan pikirannya dengan dasar al-Qur’an dan hadits sedangkan ahli filsafat lebih menggunakan rasio dan akal nalarnya.

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

1. Ilmu dan Filsafat
Filsafat dimulai dari rasa ingin tahu dan rasa ragu-ragu, sehingga filsafat berbeda dengan pengetahuan, karena pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu saja. Semua pengetahuan sekarang dimulai dengan spekulasi. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka pengetahuan tidak mungkin berkembang atas dasar kebenaran.
Sedangkan cabang-cabang filsafat antara lain mencakup:
(1) Epistemologi, (2) Etika, (3) Estetika, (4) Metafisika, (5) Politik, (6) Filsafat Agama, (7) Filsafat Ilmu, (8) Filsafat Pendidikan (9) Filsafat Hukum (10) Filsafat Sejarah (11) Filsafat Matematika. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan (Epistemologi) yang berspesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).

BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir bukan perasaan. Jadi penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
3. Logika
Logika merupakan pengkajian untuk berfikir secara sahih. Penarikan kesimpulan baru dianggap valid bila proses penarikan kesimpulan dilakukan menurut cara tertentu yang disebut logika.